Panwaslu Miliki Bukti Rhoma Irama Ceramah Salat Tarawih Berbau SARA dan Memojokan Joko Widodo-Basuki Tjahaja


Panitia Pengawas Pemilu akan memanggil Rhoma Irama dan menggelar perkara terkait isi ceramah penyanyi dangdut itu, yang dinilai berbau SARA, pada Jumat, 3 Agustus 2012. “Kami akan gelar perkara apakah masuk tindak pidana pilkada atau bukan,” ujar Ketua Panwaslu Ramdansyah di kantornya, Kamis, 2 Agustus 2012.

Ahad malam lalu, 29 Juli 2012, Rhoma memberi ceramah dalam salat tarawih di Masjid Al Isra, Tanjung Duren, Jakarta Barat. Dalam ceramah itu, Rhoma melakukan kampanye terselubung sekaligus memojokkan pasangan calon lain, Joko Widodo-Basuki Tjahaja, dengan isu SARA.

Seorang jemaah melaporkan kejadian tersebut kepada Panwaslu. Laporan tersebut juga disertai dengan rekaman video berdurasi tujuh menit. “Kami sudah punya videonya, durasi tujuh menit, akan kami jadikan barang bukti,” katanya.

Berdasar bukti tersebut, Rhoma dianggap berpotensi melanggar sejumlah pasal dalam Undang-Undang Pilkada. “Akan kami lengkapi dengan memanggil sejumlah saksi,” ujarnya. Panwaslu hanya memiliki waktu 14 hari sejak kejadian untuk merampungkan perkara ini.

Atas kasus ini, Rhoma dianggap melanggar ketentuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Ia melanggar pasal 116 ayat 1 tentang kampanye di luar jadwal dan pasal 78 ayat 2 tentang penghinaan dengan isu SARA. Ia terancam dijerat hukuman penjara tiga sampai 18 bulan.

Dua aparat Polda Metro Jaya dan dua jaksa Kejaksaan Tinggi Jakarta hadir dalam gelar perkara yang dilakukan tertutup ini. Kegiatan yang dilakukan di lantai 9 gedung Persada Sasana Karya, Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat ini, baru dimulai pukul 11.00.

Rhoma sendiri ketika dihubungi menyatakan akan memenuhi panggilan tersebut. Tapi dia menyanggah jika dibilang sebagai juru kampanye dari Foke-Nara. “Tidak benar itu, saya bukan juru kampanye,” ujarnya ketika dihubungi Tempo, Kamis, 2 Agustus 2012.

Sebanyak 53 spanduk misterius berisi dukungan namun bernuansa SARA, untuk pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Joko Widodo-Basuki Tjahaja, diturunkan paksa. “Ada 51 spanduk di Jakarta Utara dan 2 di Jakarta Selatan,” ujar Ketua Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta Ramdansyah di kantornya, Kamis, 2 Agustus 2012.

Selain sarat unsur kesukuan dan agama, spanduk juga diturunkan karena dipasang di luar jadwal kampanye. Terlebih pihak Joko-Basuki juga merasa terganggu dan mengaku tidak berada di balik pemasangan spanduk-spanduk tersebut. “Mereka juga ikut menurunkan,” kata Ramdan.

Namun, pihak Panwaslu mengatakan tidak akan mengusut dalang di balik pemasangan spanduk tersebut. Spanduk-spanduk putih itu bertuliskan “Warga Tionghoa dan Umat Kristiani bangga menjadi pendukung setia Jokowi-Ahok”.

“Yang penting sudah dicopot,” ujar Ramdan sambil menambahkan, “Kami khawatir ada potensi adu domba SARA.”

Basuki alias Ahok sebelumnya telah menyesali kemunculan spanduk-spanduk itu. Menurut dia, spanduk dan isinya tersebut sengaja dibuat oleh beberapa pihak untuk menjatuhkan kubunya.

Dia sendiri menegaskan tidak pernah berpikir untuk memasang spanduk seperti itu. “Kami ini bersih dan nasionalis,” kata Ahok ketika dihubungi Tempo, Rabu, 1 Agustus 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s