Monthly Archives: November 2012

Bupati Garut Aceng Fikri Nikahi Fani Oktora Gadis 18 Tahun Untuk Temani Umroh dan Dicerai 4 Hari Kemudian Setelah Digauli 1 Kali


Bupati Garut Aceng HM Fikri angkat bicara soal pernikahan dan perceraiannya dengan Fani Oktora (18). Ia tidak membantah telah menikah dan menceraikan Fani. Berikut penjelasan lengkapnya.

“Saya tidak mau menanggapi. Ini ranah pribadi. Apalagi ini sudah diselesaikan 5 bulan lalu,” kata Aceng kepada wartawan di Pendopo Pemkab Garut, Rabu (28/11/2012) petang.

Aceng enggan menjelaskan secara detail proses pernikahan dan perceraiannya dengan Fani. Ia juga menjawab diplomatis saat ditanya seputar alasan menikahi dan menceraikan gadis berusia 18 tahun tersebut.

“Saya lebih baik diam. Yang penting, saya masih bisa berdinas seperti biasa, menghadiri berbagai kegiatan dan mengunjungi masyarakat,” kata Aceng.

Mantan pasangan Dicky Chandra ini mengaku terganggu dengan pemberitaan mengenai dirinya dan menduga hal itu dikembangkan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak menyukainya. Meski demikian, ia tidak akan menanggapi dan bertugas seperti biasa.

“Yang jelas, kalau ada perceraian, pasti ada pernikahan. Saya menceraikan secara lisan, pakai kata-kata halus. SMS hanya penegasan saja,” katanya tanpa merinci kata-kata yang dimaksud.

Aceng menikahi Fani pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Saat menikah, sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Bupati Garut Aceng Fikri tengah menjadi sorotan. Semuanya berawal dari tindakannya yang menikahi Fani Oktora (18) secara siri. Tapi, yang menjadi pergunjingan tak lain karena sikap Aceng yang menceraikan Fani, hanya 4 hari setelah dinikahi!

Aceng mengaku dikenalkan kepada seorang gadis yang berasal dari Limbangan, Garut. Dia bermaksud menikah lagi karena rumah tangganya sedang dirundung masalah. Dia sudah pisah ranjang dengan istrinya hampir 2 tahun.

“Saya menikah di rumah pribadi, disaksikan orang tua dan keluarga Fani,” cerita Aceng yang kini berusia 40-an ini.

Aceng hendak menikah lagi karena tidak ingin terjebak dalam perzinahan. Nikah siri diambil karena status pernikahan dengan istrinya masih menggantung. Atas saran seorang ustad dia pun menikahi Fani pada Juli 2012. Oleh mak comblang, Fani disebut perawan.

“Tapi ternyata sudah tidak perawan,” cerita Aceng.

Akhirnya dia memberi talak tiga kepada Fani yang artinya bercerai lewat SMS. Fani hanya dinikahi selama 4 hari dan digauli sebagai istri hanya satu kali. “Saya merasa dibohongi,” jelasnya.

Namun pengakuan ini dibantah oleh Fani. Sang bupati dianggapnya mencemarkan nama baiknya dan keluarganya. Sebab sudah tersebar di masyarakat, dia dicerai karena saat dinikahi sudah tidak perawan. Alasan dia tidak perawan dianggap Fani hanya mengada-ngada.

“Saya masih perawan, saya tidak pernah bergaul dengan lelaki lain,” tegas Fani yang menuntut permintaan maaf dari sang bupati. Pernikahan 4 hari Bupati Garut Aceng Fikri tak hanya jadi perbincangan di masyarakat. Di kalangan politisi Garut, di DPRD pun jadi isu hangat. Mereka, awalnya menebak-nebak, apa iya bupati seperti itu.

“Ya itu jadi omongan, pembicaraan,” kata anggota DPRD Garut Jajang Ismail saat berbincang, Kamis (29/11/2012). Jajang mengaku, sejak awal pekan lalu, kalangan DPRD Garut memang membicarakan soal ulah Bupati Aceng yang menikahi Fani Oktora (18), tapi kemudian menceraikannya 4 hari kemudian. “Itu juga kan ramai, jadi pembicaraan di media dan masyarakat,” jelasnya.

Tapi, Jajang mengaku dirinya pun hanya sebatas mendengar dari media. Hingga pada Rabu (28/11) Aceng muncul dan buka-bukaan soal kasusnya itu. “Memang hak dan kewajiban seseorang untuk menikah lagi atau tidak, tapi jangan seperti itu,” jelas politisi PDIP yang duduk di Komisi B DPRD Garut ini.

Pernikahan Bupati Garut Aceng HM Fikri dengan Fani Octora (18) tersebar luas di masyarakat dan jadi sorotan. DPRD tak bersikap, hanya berkomentar. Berikut komentar ketua dan salah satu anggota DPRD. “Saya belum menerima masukan dari para anggota DPRD, sehingga jujur kami belum bisa memberikan komentar,” ujar ketua DPRD Garut, Ahmad Bajuri, kepada wartawan di kantor DPRD Garut, Kamis (29/11/2012).

Salah seorang anggota DPRD Garut, Juju Hartati mengatakan, persoalan pernikahan bupati harus dirunut dari awal perkenalan dengan Fani hingga perceraian. Juga, harus diungkap kemungkinan adanya konflik keluarga. “Jangan asal berkomentar. Kita harus tahu dulu bagaimana proses pernikahan bupati,” jelas anggota Fraksi PDI Perjuangan ini.

Dikatakan Juju, banyaknya komentar melalui jejaring sosial Facebook, Twitter serta media online lainnya, mengakibatkan citra kedua belah pihak buruk. Keduanya bisa dianggap sebagai korban. “Sekarang nama bupati jelas sudah hancur. Kemudian pihak perempuannya, Fani, jelas sudah tercemar,” ucapnya.

Juju menjelaskan dirinya belum mau memberikan komentar terkait kasus bupati sebelum mengetahui duduk persoalan sebenarnya. “Maaf komentar lebih jauh, saya no comment,” imbuhnya. Aceng menikahi Fani pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Saat menikah, sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Salah satu anggota keluarga Fani Octora, Ayi Rohimat, menyebut Fani menandatangani surat pernyataan tidak akan memperpanjang persoalan pernikahan dengan Bupati Garut Aceng HM Fikri. Fani terdesak karena butuh uang perbaikan rumah yang roboh.

“Waktu itu kita sedang butuh uang karena rumah Fani roboh dan harus diperbaiki,” ujar paman Fani, Ayi Rohimat kepada wartawan di Kampung Cukang Galeuh, Desa Dunguswiru, Kecamatan Limbangan Garut, Jawa Barat, Rabu (28/11/2012).

Meski uang Rp 20 juta tak mencukupi, namun keputusan tersebut terpaksa dilakukan agar Fani bisa membangun kembali rumahnya. Saat itu, kedua orangtua Fani belum mengetahui perceraiannya.

“Orangtua Fani sebenarnya belum mengetahui perceraian saat itu. Kami bersadiwara. Salah satunya alasannya, Fani harus segera membantu orangtua membangun rumahnya kembali,” ungkap Ayi.

Menurut Ayi, kini kedua orang tua Fani sudah mengetahui perceraiannya dengan orang nomor satu di Garut. Keduanya masih shock atas peristiwa tersebut. “Namanya orangtua pasti akan merasa kecewa,” pungkasnya.

Fani, dinikahi Aceng pada pertengahan Juli lalu. Dia dikenalkan oleh seorang ustaz sebuah pesantren di dekat rumahnya. Sang bupati mengaku duda dan mencari istri untuk menemaninya umroh.

Gerhana Bulan Penumbra Tampak di Langit Kupang


Kupang – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Klas IA Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu, 28 November 2012, memantau gerhana bulan penumbra yang tampak di langit Kupang.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kupang, Margiono, mengatakan tahun 2012 terjadi empat kali gerhana yakni dua gerhana matahari dan dua gerhana bulan. Gerhana matahari cincin terjadi pada 21 Mei 2012, gerhana matahari total pada 14 November 2012.

Sedangkan, gerhana bulan sebagian terjadi pada 4 Juni 2012 dan gerhana bulan penumbra, 28 November 2012. “Yang terjadi malam ini adalah gerhana bulan penumbra,” katanya.

Gerhana bulan penumbra ini mulai tampak pada pukul 20.16 Wita. Puncak gerhana terjadi pada pukul 22.33 Wita dan berakhir pukul 24.53 Wita. “Durasi gerhana bulan penumbra ini berlangsung selama 4,40 jam,” katanya.

Gerhana bulan penumbra ini juga bisa disaksikan di Amerika bagian utara, Samudra Pasifik, Australia, Eropa dan sebagian besar Afrika bagian timur laut. “Di Indonesia dapat mengamati gerhana secara keseluruhan,” katanya.

Gerhana penumbra ini, katanya, merupakan seri saros anggota ke-11 dari seri Saros 145 yang jumlah anggotanya sebanyak 71. Gerhana sebelumnya berorasi dengan gerhana ini dalam gerhana bulan penumbra 18 November 1994, sedangkan gerhana yang berorasi sesudahnya yakni gerhana bulan penumbra yang baru akan terjadi 9 Desember 2030.

Usai memantau gerhana bulan penumbra yang hampir mencapai puncak, BMKG El Tari Kupang juga memfoto gerhana tersebut.

Bisnis Prostitusi Berkedok Salon Kecantikan


Penyebaran pekerja seks komersial (PSK) di Kolaka, Sulawesi Tenggara semakin tidak terkendali. Bisnis yang dinilai menggiurkan oleh sebagian kalangan ini pun sudah memanfaatkan wadah salon kecantikan sebagai ajang prostitusi secara terselubung.

Hampir sepuluh tahun praktik ini dijadikan modus jitu bagi penggunanya, baik itu PSK maupun lelaki hidung belang. Bayangkan saja, di Kolaka sangat banyak salon kecantikan yang ternyata menyediakan jasa “plus” bagi pelanggannya. Hal ini pun seakan sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan penikmat seks di kota ini.

“Bekerja di salon kecamtikan itu memang adalah tujuan utama kami untuk mencari uang. Tapi kalau ada yang mau dilayani lebih juga boleh asalkan orangnya bersih dan harganya cocok,” ungkap SN salah satu karyawan salon di Kolaka.

Biasanya, PSK yang berkedok sebagai karyawan salon kecantikan memang terlihat menarik. Selain penampilan mereka yang bersih, caranya pun relatif halus untuk mengajak ‘calon klien’ berkencan.

“Kalau ada yang mau biasanya kami ajak bercanda dulu, sambil bicara yang sedikit berani dan berbuat centil. Karena tidak semua orang yang datang ke salon kecantikan untuk berbuat seperti itu. Kalau ada respon dari mereka barulah kami memperpanjang pembicaraan. Kalau harga cocok tinggal calon pelanggan saja yang menentukan tampat di mana dan kapan mereka mau,” cetus SN.

PSK yang bekerja di salon kecantikan biasanya mendapat bantuan dari pihak lain untuk mendapatkan pelanggan. “Kami kan tidak mungkin dapat terus pelanggan dari para tamu salon tempat kami bekerja. Kan tidak semuanya tamu yang datang mau berbuat begitu, biasanya ada orang yang kami percayakan untuk carikan kami pelanggan. Itu biasanya disebut Bunda. Bunda inilah yang kami percayakan dan kalau dapat pasti kita bagi hasil,” tegasnya.

Sementara itu, wanita yang biasa berprofesi sebagai “bunda” menjelaskan bahwa memang betul “bunga-bunganya” (sebutan bagi PSKnya-red) itu kebanyakan bekerja di salon kecantikan dan beberapa tempat hiburan yang ada di Kolaka. “Kalau saya itu cukup menghubungi mereka lewat telepon kalau ada pelanggan. Yang bicarakan harga saya juga, kalau permintaannya yang cantik harganya bisa mencapai satu juta, kalau mau yang standar biasa sampai Rp 700 ribu. Pakoknya tergantung pesanan lah,” cerita HD, sang “bunda”.

HD menambahkan, “bunga-bunganya” bukan dari wilayah Kolaka saja, tapi ada dari wilayah luar yang tentunya memiliki tubuh menarik. “Pokoknya yang dari luar Kolaka itu tidak kalah lah dengan yang dari Kolaka. Harga tetap sama, dan kalau mereka sudah akrab dengan pelanggan masing-masing, biasanya saya tidak menjadi perantara lagi. Mereka yang langsung berkomunikasi kalau ada niat, saya biasanya tinggal tunggu bonus dari mereka,” tutur HD.

Lebih jauh, dia menjelaskan kenapa harus memakai wadah salon kecantikan ketimbang menyediakan tempat khusus. Menurutnya, jika lewat salon kecantikan bisa relatif aman. “Bedalah kalau kota-kota besar yang secara terang-terangan. Mereka itu (PSK) banyak yang tidak diketahui sama keluarganya kalau bekerja sebagai pemuas hidung belang. Kalau di salon kecantkan itu bisa relatif aman dan kita bisa bermain ‘cantik’. ‘Bunga-bunga’ saya juga malu kalau ketahuan sama orang banyak tentang profesi asli mereka, karena kita ini tinggal dan bergaul di tengah-tengah masyarakat. Jadi harus pintar sembunyikan identitas, yang pokok janganlah terlalu nampak,” kata HD.

Jubir Front Pembela Islam (FPI) Munarman Dikeroyok Massa Karena Bunyikan Klakson Terus Menerus Saat Macet


Jubir Front Pembela Islam (FPI) Munarman dikeroyok sekelompok massa di Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan. Pengeroyokan itu diketahui dipicu karena Munarman membunyikan klakson di tengah kemacetan.

“Alasannya ya gara-gara pada saat itu (Minggu sore) macet, Munarman ini membunyikan klakson mobil. Ya wajar kan kalau macet,” ujar Sekjen Front Umat Islam (FUI) Muhammad Al Khata ketika dikonfirmasi detikcom, Senin (26/11/2012) pagi.

Selain aktif di FPI, Munarman juga selama ini dikenal aktif di FUI. Al Khata mengatakan, ketika Munarman membunyikan klakson itu, tiba-tiba ada lima orang tak dikenal mendekat ke mobil Munarman.

“Mereka protes. Tapi Munarman menjelaskan bahwa dai tidak berniat mengklakson orang-orang itu. Terus terjadi pengeroyokan,” terang Al Khata.

Munarman, lanjut Al Khata, lantas melaporkan hal ini ke Polres Jaksel. Namun menurut Al Khata, tak lama kemudian Munarman menarik laporan itu.

“Sudah ditarik, ya agar polisi tahu saja bahwa sudah ada kejadian pemukulan itu,” terang Al Khata. Munarman ketika dikonfirmasi, telepon selulernya tidak aktif. Peristiwa pemukulan terhadap Jubir FPI, Munarman di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, ternyata akibat Munarman yang membunyikan klakson ke beberapa pengendara motor di sekitar lokasi tersebut. Munarman pun disebut sempat agak dongkol, karena dia sedang terburu-buru.

“Jadi itu kejadian pada minggu (25/11) sekitar pukul 17.00 WIB. Dia agak dongkol dan kecewa karena dia merasa lagi buru-buru kok nggak dikasih jalan. Akhirnya dia klakson-klakson,” ujar Kapolsek Pamulang, Kompol Mohamad Nasir, kepada detikcom, Senin (26/11/2012).

Menurut Nasir, dalam peristiwa tersebut yang terjadi hanyalah kesalahpahaman. Munarman menurutnya juga, hanya menganggap peristiwa tersebut sebagai kejadian yang sepele.

“Dia bilang ini masalah kecil,” terang Nasir.

Sebelumnya, Sekjen FUI Al Khathath mengatakan Munarman dikeroyok lima orang di Pondok Cabe pada Minggu sore. Saat itu Munarman tengah terjebak kemacetan dan membunyikan klakson agar kendaraan yang ada di depannya maju ke depan.

Namun tiba-tiba saja mendekat lima orang ke arah mobil Munarman. Setelah terlibat adu mulut, mereka lantas memukuli Munarman. Menurut Al Khathath, ketika Munarman membunyikan klakson, tanda itu tidak ditujukan kepada lima orang ini.

Sampai saat ini Munarman belum dapat dikonfirmasi. Nomor handphone-nya, tidak bisa dihubungi. Jubir FPI Munarman dikeroyok massa di Pondok Cabe, Pamulang, Tangsel. Munarman diketahui menderita luka lebam dan juga kaca mobilnya pecah.

“Kata teman yang sudah bertemu dia, mukanya lebam. Ya siapa yang tidak lebam sih dikeroyok lima orang begitu,” ujar Sekjen FUI, Muhammad Al Khathath kepada detikcom, Senin (26/11/2012) pagi.

Selain aktif di FPI, Munarman selama ini juga aktif dalam kegiatan FUI. Dua ormas ini sebelumnya juga cukup sering terlibat kolaborasi dalam menggelar aksi.

Selain menderita luka lebam, lanjut Al Khathath, Munarman juga harus menerima kenyataan kaca mobil miliknya dipecah oleh para pengeyoroknya itu. “Kaca mobilnya juga dipecah. Yang mengeroyok dia itu preman,” paparnya.

Sebelumnya, Al Khathath mengatakan Munarman dikeroyok lima orang di Pondok Cabe pada Minggu sore. Saat itu Munarman tengah terjebak kemacetan dan membunyikan klakson agar kendaraan yang ada di depannya maju ke depan.

Namun tiba-tiba saja mendekat lima orang ke arah mobil Munarman. Setelah terlibat adu mulut, mereka lantas memukuli Munarman. Menurut Al Khatath, ketika Munarman membunyikan klakson, tanda itu tidak ditujukan kepada lima orang ini.

Pihak Polsek Pamulang juga sudah membenarkan mengenai insiden ini. Sampai saat ini Munarman belum dapat dikonfirmasi, nomor handphone-nya tidak aktif.

1000 Rumah Di Bekasi Kebanjiran Hingga 2 Meter


Sedikitnya 1.000 rumah warga di tiga kecamatan di Kota Bekasi, hingga Selasa (20/11) masih terendam banjir.
Ketua Forum Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Bekasi, Engkus Kustara, mengungkapkan ketiga lokasi yang terendam banjir itu ialah Kelurahan Margajaya, Bekasi Selatan, Kelurahan Sepanjang Jaya, Kecamatan Rawalumbu, dan Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

Adapun wilayah yang terkena dampak paling parah ialah RT 5 RW 1 Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bekasi Selatan. “Daerah ini paling parah terendamnya karena lokasinya sangat dekat dengan Kali Bekasi. Air yang menggenang pun hampir mencapai dua meter,” katanya.

Ketua RT 005, RW 01, Kelurahan Margayaja, Kecamatan Bekasi Selatan, Yadi, mengatakan jumlah warga yang menjadi korban banjir di wilayahnya mencapai 251 kepala keluarga (KK). Pemkot Bekasi mengakui kesulitan mengatasi banjir di wilayah setempat. Alasannya karena anggaran yang tersedia terbatas.

Kepala Bidang Tata Air Dinas Bina Marga dan Tata Air Kota Bekasi, Nurul Furqon, mengatakan, saat ini ada 20 titik yang terendam bajir. “Ada beberapa wilayah yang terkena banjir, di antaranya Kompleks IKIP, Perumnas III, Perumnas Rawalumbu, Rawa Tembaga, Perumnas I, Perumahan Taman Century, dan beberapa lainnya,” jelas Furqon.

Dia berargumentasi, jumlah titik banjir di Kota Bekasi terus mengalami penurunan. Dari 52 saat ini tinggal 20. Namun pihaknya mengakui, dalam satu tahun Pemkot Bekasi hanya mampu menangani 5 titik banjir.

Hal ini disebabkan karena minimnya anggaran yang tersedia. Menurut Furqon, pembagian antara pembuatan drainase dan jalan masih diangka 20 banding 80 persen dari total APBD. “Dari total anggaran yang ada, alokasi untuk pembangunan drainase hanya 20 persen. Padahal pembangunan di Bekasi berkembang pesat,” katanya.

Menurutnya, penanganan banjir harus terintegrasi dengan seluruh instansi terkait, termasuk dengan daerah lain, seperti Bogor. Selain itu, diperlukan penambahan anggaran pemeliharaan dan pembuatan siphon di beberapa titik rawan banjir di Kota Bekasi.

Banjir yang merendam rumah di tiga kecamatan di Kota Bekasi, mulai surut. Rabu pagi (21/11) warga sudah mulai beraktivitas lagi. Warga mengaku pasrah saat musim hujan seperti ini. “Memang banjir di sini nggak tergantung hujan, tapi kiriman dari Bogor. Kalau hujan saja sih, ngga banjir. Tapi kalau sudah ada kiriman air, Kali Bekasi ini meluap ke rumah-rumah warga,” kata Ny. Siti.

Menurutnya, banjir akan datang lagi dengan cuaca seperti ini, ditambah dengan adanya pembangunan siphon, yang membuat aliran kali Bekasi tersendat dan mengalami penyumbatan sehingga air kiriman Bogor semakin meningkat. Meski sudah surut, namun sebagian warga di Bekasi Selatan, Bekasi Timur dan Margajaya Kota Bekasi masih belum berani memindahkan barang-barangnya yang masih ada di tempat pengungsian.

“Takutnya banjir lagi, mending ditaruh di tempat pengungsian saja. Jadi kalau air Kali Bekasi meluap lagi, saya nggak repot mindahin barang,” kata Yono, warga Margajaya. Ketua RT 005, RW 01, Kelurahan Margayaja, Kecamatan Bekasi Selatan, Yadi, mengungkapkan warganya yang terkena banjir ada 250 KK. “Waktu banjir kemarin sempat mengungsi karena ketinggian air mencapai hampir 2 meter. Tapi karena sejak Selasa malam mulai surut, mereka kembali ke rumah masing-masing,” katanya.

Ia dan warga lainnya berharap agar Pemkot Bekasi menyediakan pompa untuk mengatasi banjir. “Memang kondisi rumah-rumah di sini dekat dengan bantaran Kali Bekasi, jadi kalau aada kiriman air dari Bogor, ya terpaksa terima banjir,” kata Yadi lagi

Rusunawa Buddha Tzu Chi Bisa Jadi Model Jokowi Untuk Bangun Kampung Karena Telah Terbukti Sukses Sejahterakan Warga Miskin


Apa jadinya Jakarta tanpa kehadiran para pedagang sayur, buah, dan bumbu, para sopir, pemilik warung Tegal, atau para pengasong nasi pecel? Apa jadinya Jakarta tanpa para pemulung, pembantu rumah tangga, penggali tanah, petugas kebersihan, kuli panggul di pasar-pasar, atau para pekerja dan pemodal informal lainnya? Indeks biaya hidup Jakarta bakal tak terjangkau lagi oleh kalangan kelas menengah. Hal ini akhirnya berimbas pada kalangan atas juga.

Bayangkan bila semua barang dan jasa harus dibeli di mal-mal, rumah-rumah makan, atau kantor-kantor biro jasa. Biaya produksi bakal membengkak. Membiarkan masyarakat kelas bawah kian rapuh sama saja dengan membiarkan kalangan kelas menengah ikut rapuh. Dan itu artinya, membuat kalangan atas pun rapuh.

Dengan asumsi seperti itulah, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama, mengawali pembenahan Jakarta dengan menertibkan dan memberdayakan “kaum informal” (kalangan kelas bawah yang umumnya bekerja di sektor informal). Fokus mereka, meremajakan dan membangun rumah susun sederhana sewa (rusunawa), penertiban dan pemberdayaan pedagang kakilima, serta kombinasi di antara keduanya—membangun pasar berusunawa.

Meski demikian, ada batas pertumbuhan yang bakal sampai pada piramida sosial dan ekonomi ideal. Setelah itu, tak ada cara lain selain menggalakkan kembali kegiatan transmigrasi sampai ketimpangan ekonomi pusat dan daerah, berakhir.

Tak berpenghuni

Pengalaman tiga tahun terakhir sejak 2007 menunjukkan, pembangunan rusunawa dinilai lebih tepat ketimbang pembangunan rumah susun sederhana hak milik (rusunami) bagi kaum informal. Bagi mereka, biaya sewa rusunawa Rp 60.000-Rp 160.000 per bulan lebih terjangkau ketimbang mengangsur rusunami yang harga per unitnya kini sudah mencapai Rp 145 juta.

Langkah peremajaan diawali dengan kunjungan Joko Widodo ke Rusunawa Marunda, Cilincing, Jakarta Utara (Jakut), Rabu (24/10/2012) lalu. Tampak sejumlah fasilitas rusunawa rusak. Tak ada yang bertanggung jawab siapa yang memelihara dan mengamankan rusunawa tersebut. Sebab, kata Kepala Unit Pengelola Teknis Rusunawa Jakut Kusnindar, rusunawa yang dibangun pemerintah pusat belum diserahkan pengelolaannya ke Pemprov DKI.

Hal serupa terjadi di rusunawa Karyawan Dinas Kebersihan di RT 005 dan RW 05, Cengkareng Barat, Jakarta Barat (Jakbar). Sejak rusunawa ini didirikan tahun 2006, bangunan yang terdiri dari 200 unit hunian ini belum dihuni meski sudah dua kali diperbaiki. Kali ini alasannya, salah urus Pemprov.

Di Jakut dan Jakarta Timur, 2.430 unit rusunawa belum dihuni. Di Jakut, 1.080 unit di rusunawa Marunda, 600 unit di rusunawa Jalan Komarudin, dan 400 unit di Jalan Pinus Elok. Di Jaktim, 150 unit di rusunawa Cakung Barat, dan 200 unit di rusunawa Cipinang Besar Selatan.

Menurut Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemprov DKI Novizal, jumlah rusunawa yang belum dihuni di seluruh Jakarta mencapai 4.180 unit atau sekitar sepertiga dari seluruh rusunawa yang ada di Jakarta.

Sementara itu, dua pertiga rusunawa di Jakarta yang berpenghuni justru minim pemeliharaan. Rusunawa di Tambora dan rusunawa Bulak Wadon di Cengkareng, Jakbar, misalnya. Pipa-pipa air kotor yang sudah sebagian rusak merembes ke dinding, menimbulkan bau tak sedap.

Ideal

Karut-marut pengelolaan rusunawa oleh Pemprov DKI sebenarnya tak perlu terjadi jika Pemprov DKI sejak awal membangun mau konsisten mencontoh kehadiran rusunawa Buddha Tzu Chi di RW 17 Cengkareng Timur, Cengkareng, Jakbar. Rusunawa ini mulai dihuni 5 Juli 2003, sementara sebagian besar rusunawa di Jakarta dibangun tahun 2005.

Rusunawa Buddha Tzu Chi memiliki 55 blok yang masing-masing berlantai lima. Setiap lantai memiliki empat unit berukuran masing-masing 6 meer x 6 meter yang terdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang keluarga, dapur, dan ruang cuci. Jumlah seluruh unit, 1.100.

Sebanyak 150 unit di antaranya digunakan untuk mes, kios, gudang, dapur operasional, tempat tinggal pengelola, dokter, karyawan rumah sakit dan guru yang bekerja di sekolah dan rumah sakit Budha Tzu Chi yang masih berada di kompleks rusunawa ini. Kompleks bangunan ini juga dilengkapi pemulasaraan jenazah, mushola, lapangan sepak bola, futsal, basket, voli, badminton, dan tenis meja.

Rusunawa yang dibangun di atas lahan 5,1 hektar ini menghabiskan dana 8,5 juta dollar AS atau Rp 70 miliar dengan penyandang dana, Nyonya Liu Su Mei, Sugianto Kusuma atau A Guan, dan Franky Ongko Widjaja.

Sudiyono dari bagian humas rusunawa Buddha Tzu Xhi menjelaskan, penghuni pertama rusunawa ini adalah warga DKI yang tergusur dari bantaran Kali Angke. Total yang dipindahkan 850 kepala keluarga (KK).

“Sebelum dipindahkan ke rusunawa, setiap KK mendapat uang saku Rp 500.000 untuk hidup selama setahun di ‘pengungsian’. Jumlah penghuni saat ini ada 3.500 jiwa dari 692 KK. Penghuni susulan yang masuk ke rusunawa ini adalah warga DKI yang telah mendapat rekomendasi dari lurah dan camat, menyangkut batas tingkat kesejahteraan mereka yang boleh menghuni rusunawa ini,” tutur Sudiyono yang ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Jujur, tertib

Ia menjelaskan, pengelola sangat mengutamakan kejujuran, ketertiban, dan disiplin para penghuni. “Yang tertangkap mengalihkan rusunawa pada pihak lain, atau tersangkut kejahatan, angkat kaki dari rusunawa,” ujar Sudiyono.

Untuk masalah ketertiban dan disiplin penghuni, pengelola mengandalkan pendampingan ratusan relawan Buddha Tzu Chi. Para relawan inilah yang mengawasi, menegur, serta membimbing para penghuni yang melanggar tata tertib rusunawa. “Kami menempel selebaran tata tertib di setiap pintu unit rusunawa para penghuni,” ujar Sudiyono.

Setelah perilaku hidup tertib dan bersih para penghuni terbentuk, jumlah relawan pendamping secara bertahap dikurangi. “Sekarang jumlah pengelola rusunawa ini hanya sembilan orang. Kami tidak kerepotan lagi mengontrol ketertiban dan kebersihan rusunawa ini karena masing-masing penghuni sudah sadar pentingnya ketertiban dan kebersihan rusunawa ini,” jelas Sudiyono.

Setiap bulan, lanjutnya, yayasan memberi subsidi pengelolaan sebesar Rp 100 juta. Dengan demikian, para penghuni hanya ditarik sewa Rp 70.000-Rp 90.000 per bulan. “Kami menyebutnya bukan sewa, tetapi iuran pengelolaan lingkungan,” kata Sudiyono.

Ia menjelaskan, untuk memberdayakan para penghuni, pengelola mengadakan kegiatan jahit menjahit, membuat kue, belajar komputer, serta kejar Paket C. Sayang, kegiatan ini hanya berjalan dua tahun karena terbatasnya dana subsidi dari yayasan. Meski demikian, para pengurus lingkungan rusunawa melanjutkan kegiatan pemberdayaan ini secara mandiri.

Tahun 2003, lewat divisi hasta karya rusunawa, diadakan tawaran kerja bekerjasama dengan perusahaan lain. Lagi-lagi hanya bertahan beberapa tahun saja. “Tapi setidaknya kami pernah melakukan dan menjadi inspirasi para pengurus lingkungan melanjutkan kegiatan ini,” ucap Sudiyono.

Kini, sejumlah penghuni bisa hidup layak dari jasa mencuci, menyeterika, serta penitipan anak. Sebagian lain membuka warung di ruang terbuka kompleks rusunawa. Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama akhirnya memenuhi tuntutan warga Kampung Baru, Muara Angke, Jakarta Utara, terkait kasus penggusuran yang menimpa 50 rumah di wilayah tersebut. Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi DKI akan merelokasi warga yang menjadi korban penggusuran ke Rumah Susun Buddha Tzu Chi, Muara Angke.

“Solusi awalnya warga akan tinggal di Rusun Buddha Tzu Chi. Ada 200 kamar di rusun itu,” kata koordinator Konsorsium Kemiskinan Kota, Edi Saidi, seusai bertemu dengan Basuki, Kamis (1/11/2012) siang, di Balaikota DKI Jakarta.

Para warga menempati Rusun Buddha Tzu Chi sementara waktu, setidaknya sampai tempat relokasi yang baru selesai dikerjakan. Basuki pun sudah berjanji akan membangun rumah susun sewa murah di dekat lokasi penggusuran.

Meski begitu, rusun itu baru akan dibangun pada 2013. Pembagiannya pun dilakukan merata dan tanpa diundi. Namun, verifikasinya akan dilakukan dengan ketat karena hanya diprioritaskan untuk 147 warga yang rumahnya masuk area yang akan digusur.

“Solusinya akan dibangun rumah susun sewa sangat murah dan terjangkau di sekitar lokasi, tetapi tahun depan. Nanti akan dicek sebelumnya dan diperbolehkan tinggal tanpa batas waktu. Sampai anak cucu tak boleh diperjualbelikan,” ujarnya.

Sebelumnya, perwakilan warga Kampung Baru, Muara Angke, menemui Gubernur DKI Joko Widodo pada Kamis pagi tadi. Mereka menuntut diberikan pembagian lahan untuk tempat tinggal di area lokasi. Sebab, seluruh keluarga dan usaha mereka berada di sekitar lokasi yang rencananya akan dijadikan kampung terpadu.

ABG Malang Hilang 2 Bulan Ditemukan Dilokalisasi Kutai Kartanegara


Seorang ABG berusia 15 tahun asal Malang yang dilaporkan hilang ditemukan di sebuah lokalisasi di Kutai Kartanegara, Kaltim. Polisi mengamankan seorang yang diduga menjerumuskannya ke tempat tersebut.

Keterangan diperoleh detikcom, cewek tersebut ditemukan sekitar pukul 11.00 WITA. Ia dilaporkan hilang oleh orangtuanya sekitar bulan September-Oktober 2012 lalu dan disinyalir berada di Kalimantan.

“Kami menemukannya di lokalisasi di Kecamatan Tenggarong Seberang. Ia dilaporkan hilang ke Polres Malang sekitar September-Oktober lalu,” kata Kasubbag Humas Polres Kutai Kartanegara Iptu Suwarno, ketika dihubungi detikcom, Jumat (23/11/2012).

Selain mengamankan korban, aparat Polres Kutai Kartanegara juga mengamankan lelaki berinisial AD, pembawa korban dari Malang ke Kabupaten Kutai Kartanegara. Selain itu, pemilik sebuah wisma di lokalisasi yang mempekerjakan korban, juga turut digelandang ke Mapolres Kutai Kartanegara.

“Ada 3 orang yang kita amankan, yakni korban sendiri, pembawa korban dan pemilik wisma di lokalisasi itu. Sekarang masih dimintai keterangan penyidik,” ujar Suwarno.

Dari keterangan korban, sambung Suwarno, diperoleh keterangan kepergiannya dari Malang, dengan iming-iming mendapatkan pekerjaan di Kalimantan. Setelah berada di lokalisasi di Kecamatan Tenggarong Seberang, korban kemudian sadar telah dijebak pelaku.

“Korban dijanjikan pekerjaan di Kalimantan dengan dalih utang. Korban mengaku dijebak pelaku setelah tahu diperdagangkan di lokalisasi,” sebut Suwarno.

“Korban berada di lokalisasi kurang lebih sudah 1 bulan ini. Sesuai dengan waktu pelaporan hilangnya korban ke Polresta Malang,” tambah Suwarno.

Mengenai status AD, Suwarno menegaskan pihaknya masih berkoordinasi dengan kepolisian di Malang untuk proses hukum lebih lanjut.

“Kita koordinasikan dengan Polres Malang dan sekarang masih menginterogasi pelaku dan pemilik wisma. Karena merasa dijebak, korban mengaku ingin segera dipulangkan dengan orangtuanya di Malang,” jelas Suwarno.

“Mengingat korban masih di bawah umur, pelaku (AD) kemungkinan besar akan dijerat pasal 83 UU No 23/2012 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun kurungan penjara,” tutup Suwarno.