Monthly Archives: March 2013

BNPT: Ada Tempat Pelatihan Teroris di Sulawesi Selatan


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai, mensinyalir ada tempat pelatihan teroris di perbatasan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Hal itu diungkapkan Ansyad saat berdiskusi dengan wartawan di warung kopi Phoenam, Jalan Bouleevard, Makassar, Rabu (6/3/2013).

“Wilayah perbatasan Sulsel diduga sudah ada tempat pelatihan teroris. Namun, setelah kabar itu beredar, mereka berpindah dan masuk ke hutan. Tidak mudah mendeteksi keberadaan teroris, mengingat banyaknya hutan lebat di Sulsel dan Sulbar,” katanya.

Ansyaad mengatakan, fakta keberadaan jaringan teroris di Sulsel tidak dapat dimungkiri. Mulai dari pelemparan bom pipa di acara HUT Partai Golkar di Makassar, pelemparan bom di lima gereja, hingga penangkapan sejumlah teroris di Makassar ataupun Enrekang. Teroris yang dicokok di Sulsel, kata Ansyad, masih berkaitan dengan jaringan di Poso, Bima, Ambon, Aceh, dan Solo.

“Saya sudah meminta pemerintah mewaspadai aksi teror lanjutan di Sulawesi Selatan. Pasalnya, letak geografis wilayah yang dipimpin Syahrul Yasin Limpo berada tidak jauh dari Poso, Sulawesi Tengah, yang kini gencar diobok-obok aparat dalam mengejar kelompok radikalisme tersebut. Peringatan ini saya sampaikan ke gubernur dan wakil gubernur sejak lima bulan lalu,” paparya.

Sulawesi Selatan dianggap sebagai daerah yang tergolong rawan dengan aksi terorisme. Badan Penanggulangan Teroris (BNPT) pun membentuk Forum Komunikasi Pencegahan Teroris (FKPT) terkait kerawanan tersebut.

Deputi 1 Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Agus Surya Bakti dalam rapat koordinasi pencegahan terorisme di Provinsi Sulsel di Makassar, Selasa (5/3/2013) mengungkapkan, dengan terbentuknya FKPT di Sulsel, berarti sudah terbentuk 18 FKPT di Indonesia.

Diharapkan, seluruh wilayah di Indonesia sudah memiliki FKPT. “FKPT ini merupakan gabungan dari berbagai kalangan, seperti tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, mahasiswa pelajar dan sebagainya. Jadi tugas-tugas FKPT nantinya, meluruskkan pemahaman agama tentang aksi teroris. Kita dari BNPT betul-betul memberdayakan masyarakat,” tandas mantan anggota Kopasus ini.

Agus menambahkan, FKPT menjadi perpanjangan tangan BNPT di daerah-daerah. “FKPT adalah mitra BNPT. Dalam mengatasi aksi teroris, bukan hanya tugas TNI-Polri saja. Melainkan tugas kita semua. Di mana saat ini, banyak faham-faham baru yang bermunculan,” ungkapnya.

Kasus Mutilasi Yang Mayatnya Dibuang Di Jalan Tol Cikampek Berhasil Diungkap Polisi


BS (35), pelaku mutilasi istrinya yang berinisial DS, menyewa satu angkutan umum untuk membuang potongan tubuh istrinya di Tol Cikampek, Km 1, Makasar, Jakarta Timur. Hal itu terungkap dari pengakuan BS kepada petugas. “Saya sewa angkutan umum subuh-subuhnya buat buang mayat,” akunya kepada petugas kepolisian, saat ditangkap, Rabu (6/3/2013).

BS menyewa sebuah angkutan umum 03 bernomor polisi B 2312 PG jurusan Cililitan-Kampung Rambutan dengan biaya sebesar Rp 250.000 hingga pukul 07.00 WIB. Untuk membuang potongan mayat sang istri, ia meminta bantuan pembantunya, T. Namun, hingga Selasa sore, pelaku tak kunjung memulangkan angkutan umum tersebut hingga pemilik angkutan tersebut menaruh curiga. Dari situlah awal mula terungkapnya kasus penemuan potongan tubuh di Tol Cikampek.

Informasi yang dihimpun, pelaku dan korban mutilasi adalah pasangan suami istri. Pria berkepala botak dan berjenggot tersebut tega membunuh dan memotong istrinya lantaran menduga sang istri memiliki hubungan dengan pria lain. BS dibawa ke Mapolres Metro Jakarta Timur, Rabu sekitar pukul 20.50 WIB. Dengan mengenakan kaus coklat dan celana hitam, pelaku masuk ke kantor polisi didampingi beberapa anggota Buser. Sebelumnya diberitakan, enam potongan tubuh wanita ditemukan di Tol Cikampek, Makasar, Jakarta Timur, arah Bekasi, Selasa subuh. Polisi memastikan wanita malang tersebut adalah korban pembunuhan dengan cara mutilasi.

Potongan tubuh wanita ditemukan di beberapa lokasi. Potongan kaki kanan ditemukan di jalur darurat Km 0,200; potongan tangan kanan ditemukan di jalur satu Km 1,200; potongan tangan kiri ditemukan di jalur satu Km 2.200, potongan potongan kaki kiri ditemukan di jalur satu Km 2,300; potongan badan ditemukan di jalur satu Km 2,400; dan potongan kepala terbungkus plastik hitam di jalur dua Km 3,800. Adapun bagian kelamin, bokong, dan jantung korban belum diketahui keberadaannya.

Korban diduga masih berusia antara 25 dan 30 tahun, berkulit sawo matang, dan memiliki tinggi badan sekitar 160 sentimeter. Rambutnya tampak panjang sebahu, memiliki wajah bulat, dan memiliki jempol kaki kiri yang diwarnai cat kuku berwarna hitam.

Kasus mutilasi yang dilakukan BS (35) alias Impus kepada istri sendiri, Darna Sri Astuti (32), dipicu oleh rasa cemburu. BS tidak terima sang istri diduga menjalin hubungan asmara dengan pria selain dirinya.

“Tersangka menduga istrinya itu selingkuh,” ujar Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jendral Putut Eko Bayuseno kepada wartawan di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Kamis (6/3/2013) malam.

Rasa cemburu tersebut menyebabkan pasangan suami istri yang telah menjalin hubungan selama 10 tahun itu bertengkar. Namun, dalam setiap pertengkaran adu mulut, BS selalu kalah oleh sang istri yang dikenal cerewet.

Sabtu (3/3/2013) menjadi puncak pertengkaran pasangan itu. Pada saat sang istri tidur, pelaku membekap mulutnya, memukul kemaluan korban, dan melakukan sejumlah kekerasan lainnya hingga sang istri mengembuskan napas terakhir. Hal tersebut, menurut Kapolda, adalah langkah sia-sia lantaran tuduhan BS tak terbukti.

“Sampai dengan malam kejadian itu, si istri tidak mengakui bahwa dirinya selingkuh dengan pria lain,” lanjut Putut.

Mendapati sang istri tak bernyawa, BS sempat takut dan kebingungan hingga ia mengambil sebilah parang untuk memotong-motong istrinya menjadi tujuh bagian. Dua hari kemudian, ia pun menyewa satu angkutan kota T03 jurusan Kampung Rambutan-Cililitan dengan biaya Rp 250.000 untuk membuang potongan mayat istrinya di Tol Cikampek.

“Selain BS, ada tersangka lain, yakni T (39). Dia pembantu tersangka. Perannya membantu membuang potongannya dari angkot,” lanjutnya. BS beserta T ditangkap Buser gabungan dari Polsek Metro Makasar dan Polres Metro Jakarta Timur pimpinan AKP Sutono dari sebuah warung soto miliknya di wilayah Terminal Kampung Rambutan, Rabu sekitar pukul 19.00 WIB tanpa perlawanan. Di depan petugas, BS mengakui semua perbuatan sadisnya.

Pantauan Kompas.com, BS dibawa ke Mapolres Metro Jakarta Timur, Rabu sekitar pukul 20.50 WIB. Dengan mengenakan kaus coklat dan celana hitam, pelaku masuk ke kantor polisi didampingi beberapa anggota Buser.

Sebelumnya diberitakan, enam potongan tubuh wanita ditemukan di Tol Cikampek, Makasar, Jakarta Timur, arah Bekasi, Selasa subuh. Polisi memastikan wanita malang tersebut adalah korban pembunuhan dengan cara mutilasi.

Potongan tubuh wanita ditemukan di beberapa lokasi. Potongan kaki kanan ditemukan di jalur darurat Km 0+200; potongan tangan kanan ditemukan di jalur satu Km 1+200; potongan tangan kiri ditemukan di jalur satu Km 2+200, potongan potongan kaki kiri ditemukan di jalur satu Km 2+300; potongan badan ditemukan di jalur satu Km 2+400; dan potongan kepala terbungkus plastik hitam di jalur dua Km 3+800. Adapun bagian kelamin, bokong, dan jantung korban belum diketahui keberadaannya.

BS (35) telah diringkus tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polrestro Jakarta Timur karena menganiaya sang istri, DS, hingga meninggal dunia, serta memutilasi tubuhnya. Namun, polisi masih belum bisa mengungkap penyebab utama kematian DS. “Sampai saat ini jenazah korban masih dalam proses visum, jadi kami masih menunggu hasil visum et repertum dari dokter,” kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayuseno dalam konferensi pers di Polrestro Jakarta Timur, Rabu (6/3/2013) malam.

Selain menemukan penyebab utama kematian DS, polisi juga akan mencocokkan waktu kematian berdasarkan keterangan dokter dengan keterangan yang diperoleh dari tersangka BS. Dalam pemeriksaan awal, BS mengaku menghabisi nyawa sang istri dan melakukan mutilasi pada hari Minggu (3/3/2013). BS baru membuang potongan mayat DS tersebut di jalan tol pada hari Selasa (5/3/2013) dini hari, menggunakan angkot yang disewanya.

Alasan BS menganiaya istrinya ialah cemburu karena menduga DS terlibat perselingkuhan, serta sikap DS yang menolak mengakui tuduhan tersebut. Atas perbuatannya, BS diancam Pasal 340 KUHP juncto Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman penjara minimal 20 tahun atau hukuman mati.

Adapun T, pembantu rumah tangga pasangan BS dan DS, diancam Pasal 55 KUHP juncto Pasal 57 KUHP juncto Pasal 340 karena turut membantu BS membuang potongan mayat tersebut di jalan tol. BS (35) memutilasi istrinya, DS, setelah terlebih dulu menganiaya perempuan malang tersebut, Minggu (3/3/2013). Tindakan BS ini dilakukan atas dasar kebingungan setelah mendapati DS tidak lagi bernapas.

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Putut Eko Bayu Seno, Rabu (6/3/2013) di Polrestro Jakarta Timur. “Gagasan memutilasi ini karena pelaku berpikir bahwa akan lebih mudah untuk dibawa dan dibuang,” kata Putut.

Dalam menjalankan rencana tersebut, BS dibantu oleh T (39) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah BS. Tugas T adalah mendampingi BS saat membuang potongan tubuh DS di Tol Cikampek, Makasar, Bekasi, Selasa (5/3/2013) sekitar pukul 05.00 WIB. Akan tetapi, Putut belum dapat memastikan alasan T bersedia membantu BS.

BS dan T ditangkap di rumah BS pada hari Rabu sekitar pukul 19.00. Adapun motif pembunuhan yang dilakukan BS adalah rasa cemburu karena dugaan perselingkuhan yang dilakukan sang istri, yang segera dibantah oleh DS.

Dalam penangkapan tersebut, penyidik menyita barang bukti berupa sebilah parang yang masih tertempel bercak darah DS, dua bilah pisau dapur, dan satu mobil angkutan umum yang disewa BS untuk membawa dan membuang potongan tubuh sang istri.

Atas perbuatannya, BS diancam Pasal 340 KUHP juncto Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman penjara minimal 20 tahun atau hukuman mati. Adapun T diancam Pasal 55 KUHP juncto Pasal 57 KUHP juncto Pasal 340. Tim Buru Sergap Kepolisian Sektor Makasar dan Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Rabu (6/3/2013) malam, berhasil menangkap seorang pria pelaku mutilasi di Tol Cikampek, Jakarta Timur, Selasa (5/3/2013) pagi. Pria berinisial BS (35) itu ditangkap di Terminal Kampung Rambutan, Jaktim.

“Dia (pelaku) ditangkap di Terminal Kampung Rambutan pukul 19.00 WIB,” ujar Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Makasar Ajun Komisaris Sutono kepada Kompas.com, Rabu malam. Pantauan Kompas.com, BS dibawa ke Mapolres Metro Jakarta Timur sekitar pukul 20.50 WIB.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, pelaku dan korban mutilasi adalah pasangan suami-istri. Pria berkepala botak dan berjanggut panjang tersebut diduga membunuh dan memotong tubuh istrinya karena cemburu terhadap korban yang memiliki hubungan dengan pria lain. Polisi masih belum memberikan keterangan lengkap mengenai kronologi penangkapan BS. Selain BS, polisi juga turut membawa dua orang saksi atas kasus pembunuhan tersebut.

BS diduga melakukan tindakan mutilasi terhadap sang istri dan menebar bagian tubuhnya di sepanjang Tol Cikampek ke arah Bekasi, Makasar, Jakarta Timur, Selasa kemarin. Tercatat ada enam potongan tubuh korban yang ditemukan di beberapa lokasi terpisah. Korban diduga berusia 25-30 tahun, berkulit sawo matang, dan bertinggi sekitar 160 cm. Rambutnya tampak panjang, berhidung pesek, wajah bulat, dan jempol kaki kiri diwarnai cat kuku hitam.

Kepala Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Mulyadi Kaharni membenarkan penangkapan terduga pelaku mutilasi di Tol Cikampek, Makasar, Jakarta Timur. Mulyadi mengatakan, pria berinisial BS (35) tersebut adalah suami korban.

“Motifnya sementara karena cemburu, istrinya berselingkuh,” kata Mulyadi di Mapolrestro Jakarta Timur, Rabu (6/3/2013) malam. Mulyadi menjelaskan bahwa BS tertangkap pada Rabu petang. Mulyadi belum bersedia mengungkapkan kronologi penangkapan karena tersangka masih menjalani proses interogasi.

Selain BS, polisi juga turut membawa dua orang saksi atas kasus pembunuhan tersebut. BS diduga melakukan tindakan mutilasi terhadap sang istri dan menebar bagian tubuhnya di sepanjang Tol Cikampek arah Bekasi, Makasar, Jakarta Timur, Selasa (6/3/2013). Tercatat ada enam potongan tubuh korban yang ditemukan di beberapa lokasi. Korban diduga berusia 25-30 tahun, berkulit sawo matang, dan bertinggi sekitar 160 cm. Rambutnya tampak panjang, berhidung pesek, wajah bulat, dan jempol kaki kiri diwarnai cat kuku hitam.

Entah apa yang terlintas di benak BS (35). Usai membunuh dan memutilasi sang istri, Darna Sri Astuti (32), tersangka nekat menyimpan jasadnya selama dua hari di dalam kamar tidurnya sendiri hingga akhirnya memutuskan untuk membuangnya.

“Setelah membunuh, pelaku masih bingung, ditaruh dalam kantong plastik dan disimpan di kamar rumahnya,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan di Markas Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, Rabu (6/3/2013) malam. Berdasarkan keterangan tersangka, pria botak serta berjenggot tersebut membunuh sang istri pada Minggu (3/3/2013) sore. Sementara itu, pelaku memutuskan untuk membuangnya dua hari kemudian, yakni Selasa (5/3/2013) pagi dengan dibantu pembantunya, T (39).

Rikwanto menjelaskan, sepanjang dua hari itu, tersangka diketahui menjalankan aktivitas seperti biasa. Tersangka beserta sang istri diketahui berprofesi sebagai pedagang soto di area Terminal Kampung Rambutan, Ciracas, Jakarta Timur. Tak ada rasa gelisah sedikit pun yang ditampakkan secara khusus dari tersangka. “Kan tersangka memiliki dagangan soto. Ia tetap jualan seperti biasanya. Warungnya juga tetap buka,” lanjut Rikwanto.

Keesokan harinya, BS menyewa angkutan umum 03 dengan nomor polisi B 2312 PG jurusan Cililitan-Kampung Rambutan dengan biaya sebesar Rp 250.000 hingga pukul 10.00 WIB. Dengan dibantu T, potongan tubuh sang istri dibawa dan disebar di Tol Cikampek. Informasi tentang pelaku mutilasi pun berawal dari informasi yang diberikan oleh pengguna jalan Tol Cikampek tentang angkutan kota yang digunakan pelaku. Polisi yang mengembangkan kasus pun menemukan kedua tersangka di warung di Terminal Kampung Rambutan, Rabu sekitar pukul 19.00 WIB. Keduanya kemudian digelandang ke Polres Metro Jakarta Timur.

Sebelumnya diberitakan, enam potongan tubuh wanita ditemukan di Tol Cikampek, Makasar, Jakarta Timur, arah Bekasi, Selasa subuh. Polisi memastikan wanita malang tersebut adalah korban pembunuhan dengan mutilasi. Potongan tubuh wanita ditemukan di beberapa lokasi. Potongan kaki kanan ditemukan di jalur darurat Km 0,200; potongan tangan kanan ditemukan di jalur satu Km 1,200; potongan tangan kiri ditemukan di jalur satu Km 2.200, potongan potongan kaki kiri ditemukan di jalur satu Km 2,300; potongan badan ditemukan di jalur satu Km 2,400; dan potongan kepala terbungkus plastik hitam di jalur dua Km 3,800. Adapun bagian kelamin, bokong, dan jantung korban belum diketahui keberadaannya.

Gunung Tangkuban Parahu Akhirnya Meletus …. Kawasan Wisata Ditutup


Setelah melepas letusan abu pada 21 Februari 2013 lalu, Gunung Tangkuban Parahu kembali meletus lagi. Letusan pertama terjadi 4 Maret 2013 pukul 17.43 WIB, lalu esoknya, pada 5 Maret 2013, terjadi dua kali letusan, yakni pukul 01.37 WIB dan pukul 07.45 WIB. Dan letusan selanjutnya terjadi hari ini, 6 Maret 2013.

“Hari ini terjadi letusan sejak pukul 05.59 WIB sampai 06.08 WIB, sekitar 8 menit letusan itu,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian ESDM, Dr Surono, di kantornya di Bandung, Rabu, 6 Maret 2013.

Gunung Tangkuban Parahu menghasilkan letusan abu pada 21 Februari 2013 dinihari, dan hari itu, pada malamnya, PVMBG menaikkan status gunung itu menjadi waspada atau level II. Setelah hampir dua pekan tidak meletus, gunung itu kembali menghasilkan letusan setelah terpantau melonjaknya aktivitas gempa vulkanik dalam gunung itu. “Ternyata letusan masih tejadi, kekuatan letusannya lebih besar dari (letusan) 21 Februari 2013,” kata Surono.

Letusan pertama pada 21 Februari 2013 terjadi dinihari. PVMBG kala itu menyimpulkan telah terjadi letusan dengan temuan sebaran abu tipis putih di seputaran Kawah Ratu, kawah utama gunung itu. Tapi untuk letusan kali ini tak hanya bukti sebaran abu. PVMBG mendapat rekaman video yang diambil oleh petugas BPBD Bandung Barat. “Sangat pendek rekamannya,” kata Surono.

Di ruang kerjanya, Surono memutar rekaman video berdurasi kurang dari 10 detik yang diambil di bibir Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu saat gunung itu mulai meletus pada 4 Maret 2013 pukul 17.73 WIB. Dalam rekaman itu terlihat semburan material hitam muncrat dari dasar Kawah Ratu yang menyerupai lembah, di sela asap putih yang keluar dari mulut kawah. “Letusannya bukan hanya asap, tapi sudah mengeluarkan material padat. Sekarang ada pasirnya, bukan material halus lagi,” kata Surono.

Menurut dia, kemungkinan semburan yang terjadi menjangkau ketinggian hampir 500 meter. Dia beralasan, kedalaman lembah mati, sebutan bagian dalam Kawah Ratu itu, dari bibir hingga dasar mendekati 300 meter. “Material letusan sampai di parkiran kendaraan (di seputaran bibir Kawah Ratu), pasti tinggi itu barang (meletusnya),” kata Surono.

Karena meletus, Gunung Tangkuban Parahu yang terletak di utara Bandung mulai hari ini ditutup bagi pengunjung. “Kita khawatir debu yang diembuskan oleh gunung dalam beberapa kali terjadi letusan bisa mengakibatkan iritasi (mata),” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Barat, Maman Sulaiman, saat dihubungi Tempo, Rabu, 6 Februari 2013.

Spanduk larangan memasuki kawasan ini pun sudah dipasang. Kawasan wisata alam itu akan dibuka lagi menunggu rekomendasi PVMBG. BPBD menyiagakan posko di pintu masuk utama kawasan wisata alam gunung itu. Selain petugas BPBD dan sukarelawan, penjagaan juga dibantu oleh aparat TNI dan Polri. “Posko itu berada di titik 2,2 kilometer dari Kawah Ratu,” kata Mamang.

Selain pengunjung, pedagang pun dilarang berjualan di sana. Menurut dia, evakuasi ratusan pedagang yang hendak mengambil barangnya di jongko-jongko di seputaran Kawah Ratu dilakukan sejak Selasa sore, 5 Maret 2013.

Maman mengatakan, letusan yang sempat terekam, 4 Maret 2013, pukul 17.43 WIB itu, ketinggian semburan awan hitamnya mencapai lebih dari 75 meter dari bibir Kawah Ratu gunung itu. “Abunya itu bertebaran di seputaran lokasi,” kata Maman.

Direktur Utama PT Graha Rani Putra Persada, Putra Kaban, pengelola kawasan wisata alam gunung itu, mengatakan, pihaknya sudah melarang warga naik ke lokasi kawah gunung itu sejak dari pintu gerbang. Walaupun PVMBG mensyaratkan lokasi yang terlarang didekati dalam radius 1,5 kilometer di seputaran Kawah Ratu.

Kaban mengatakan, kendati sudah ditutup, masih saja ada wisatawan yang datang ke gunung itu. Petugas pun harus menjelaskan kondisi gunung tersebut. Bagi yang ingin melihat langsung kondisi gunung itu, petugas akan mengantar menuju Pos Pengamatan Gunung Api milik PVMBG, yang berjarak tak jauh dari gerbang masuk gunung itu. “Mereka bisa lihat langsung seismografnya,” kata dia.

Kepala PVMBG Badan Geologi, Dr Surono, mengatakan, lembaganya menetapkan kawasan yang tidak boleh didekati dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Ratu, kawah utama gunung itu. Selain bahaya terkena lontaran material panas saat letusan terjadi, juga bahaya gas beracun. “Sekarang masih diuntungkan angin kencang di puncak, gasnya gampang terbuang. Tapi, kalau angin tenang, gas bisa menyebar dengan lambat di luar kawah,” kata dia.

Menurut Surono, erupsi yang terjadi saat ini masih terhitung kecil dibandingkan erupsi gunung lain yang berstatus sama, yakni waspada, seperti Gunung Marapi di Sumatera Barat. Dari data yang ada saat ini, kecil kemungkinan gunung itu bakal menghasilkan letusan yang hebat, hingga gunung itu harus dipatok statusnya di level IV atau awas. “Letusannya bukan lagi asap, tapi mengeluarkan material padat, pasirnya cukup besar, tidak halus lagi,” ujarnya.

Catatan PVMBG, letusan freatik seperti yang terjadi saat ini sempat terjadi di Gunung Tangkuban Parahu pada 1992. Letusannya menghasilkan awan abu yang membumbung tinggi hingga 159 meter di atas Kawah Ratu.