Kasus Perceraian Indonesia Meningkat, Indramayu Rekor Tinggi

Kasus perceraian yang divonis majelis hakim Pengadilan Agama Indramayu dinilai tertinggi se-Indonesia. Dalam setahun jumlah pasangan suammi-istri yang bercerai alias kandas membina rumah tangga mencapai 8 ribu hingga 9 ribu pasangan.
Tingginya angka perceraian itu kata Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Indramayu Ilham Abdullah menempatkan Kabupaten Indramayu menduduki peringkat 1 se=Indonesia. Peringkat 2 dan 3 diraih Kabupaten Malang dan Banyuwangi. Dan peringkat 4 disandang PA Surabaya.

Ilham mengemuakan, tingginya perkara perceraian yang disidang di PA Indramayu bukan disebabkan karena kesadaran masyarakat terhadap hukum meningkat, tapi karena masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan gonta ganti suami atau istri itu sebagai sesuatu yang biasa. Pernikahan sudah tidak dianggap sebagai sesuatu yang sakral dalam kehidupan masyarakat. Pada gilirannya mengganti suami atau istri sebagai sesuatu yang biasa.

Untuk menekan angka perceraian PA Indramayu bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama melaksanakan sosialisasi ke masyarakat desa tentang pentingnya menjaga keutuhan rumah tangga sehingga mudah mudahan ke depan angka perceraian di Indramayu bisa lebih ditekan sekecil mungkin. Perceraian atau perpisahan di Indonesia tergolong paling tinggi. Pada tahun 2009 perceraian mencapai 250 ribu kasus. Angka tersebut meningkat dari tahun 2008 sebanyak 200 ribu kasus.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Bimas Islam Kementerian Agama RI tahun 2010, dari dua juta orang yang menikah setiap tahun di Indonesia, ada 285.184 pasangan suami istri yang berakhir dengan perceraian. Artinya 10 persen rumah tangga berakhir dengan perpisahan menyakitkan. Ketua Yayasan Rumah Amalia, Agus Syafi’i mengakui, tren perceraian di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Ironisnya, dengan peningkatan kasus perceraian hanya akan membuat semakin bertambahnya anak yang menjadi korban keluarga tidak harmonis.

”Perceraian disebabkan berbagai faktor. Mulai dari selingkuh, ketidakharmonisan, ekonomi morat marit bahkan persoalan sepele. Tapi yang jadi korban justru anak-anak,” katanya di sela outbond anak-anak yatim piatu, korban perpisahan dan pengenalan global warming di Godong Ijo Garden, Sawangan, Depok, Minggu (5/2). Agus Syafi’i mengatakan, sejak Rumah Amalia yang didirikan lima tahun lalu, telah banyak membina dan merangkul anak-anak korban keluarga tidak harmonis, bermasalah, perpisahan dan dan anak yatim piatu.

”Tahun lalu anak asuh kami hanya sekitar 50an anak. Sekarang menjadi 80 anak. Mereka yang berada di sini adalah korban orangtua bermasalah dan perceraian. Selebihnya anak-anak yatim atau tidak punya orang tua. Mereka ada yang diantarkan saudaranya, tetangganya atau ibunya yang tidak sanggup mengasuh,” kata Agus. Agus merasa prihatin, perceraian banyak terjadi di kalangan menengah ke bawah. Kasus anak korban perceraian, lanjutnya, hanya akan mengganggu psikologis anak. “Orangtua tidak sadar bahwa anak merasa kehilangan harapan saat orangtuanya berpisah,” cetusnya.

Dari pengalamannya mengasuh anak-anak tersebut, dia mengakui, justru anak-anak korban perceraian lebih sulit dibina dibandingkabn anak-anak yatim piatu atau kehilangan orangtua. “Anak-anak korbsn perpisahan merasa kehilangan harapan,” katanya. Bahkan lanjut dia, anak secara tidak sadar akan keluar keringat dingin ketika bertemu lawan jenis, psikologis akan terganggu, bisa berkepribadian ganda. ”Saat ini perceraian sudah dianggap bukan hal yang sakral bagi pasangan, sehingga perceraian sudah menjadi hal biasa,” katanya. Ia berharap pemerintah ikut peduli dengan berkampanye bahwa perceraian itu hanya akan membawa korban kepada anak-anak.

Tren perceraian di Indonesia terus meningkat. Berdasarkan data Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama pada 2010, dari 2 juta orang nikah setiap tahun se-Indonesia, ada 285.184 perkara berakhir dengan perceraian per tahun. “Penyebab perceraian banyak hal, mulai dari selingkuh, ketidak harmonisan, sampai karena persoalan ekonomi. Faktor ekonomi menjadi penyebab terbanyak dan yang unik adalah 70 persen yang mengajukan cerai adalah istri, dengan alasan suami tidak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga,” ucap mantan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Prof Dr Meutia Hatta di Jakarta, Selasa.

Menurut Meutia, komunikasi merupakan kunci utama dalam menjalin hubungan erat pasangan. Dalam sebuah keluarga, komunikasi menjadi sangat penting untuk menjaga keharmonisan. Dengan diluncurkan gerakan sosial Romantic Hour pada Mei lalu, Meutia menyepakati upaya membina keluarga sangat penting guna meningkatkan kualitas komunikasi dalam keluarga.

“Sebagian besar suami istri di Indonesia sibuk dengan karirnya, sehingga kesempatan untuk saling berkomunikasi, padahal komunikasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas romantisme dalam keluarga. Gerakan sosial Romantic Hour harus selalu dilakukan oleh keluarga Indonesia agar menjadi kebiasaan yang baik,” tutur Meuthia Hatta.
Gerakan sosial Romantic Hour sudah dicanangkan sejak Mei lalu. Ia mengajak pasutri meningkatkan komunikasi dengan menyisihkan waktu satu jam tanpa gadget, membangun komunikasi yang lebih berkualitas di rumah. “Ini demi memperkuat ketahanan rumah tangga dan keluarga,” katanya, Selasa. Dalam rangka memperingati Hari Keluarga 2012 setiap tanggal 29 Juni, SariWangi kembali mengajak keluarga Indonesia menyisihkan satu jam setiap harinya untuk meningkatkan kualitas komunikasi dan keharmonisan antar anggota keluarga.

Ia menilai, komunikasi bagi mereka yang sudah lama menikah sangat penting agar satu sama lain tidak merasa asing dan jauh. Bahkan lanjutnya, setiap pasangan itu memiliki kesetaraan gender agar dapat saling menghormati dan menghargai.
Jangan sampai dengan kemajuan teknologi, munculnya bermacam-macam gadget justru menganggu komunikasi dalam keluarga. Interaksi suami istri perlu dijaga agar rumah tangga berjalan dengan baik. Merencanakan masa depan, satu jam saja sudah sangat berguna,” tuturnya.

Fiona Anjani Foebe, Marketing Manager Beverages PT Unilever Indonesia mengatakan sesuai dengan kampanye SariWangi tahun ini, “Nikmatnya SariWangi, Hangatkan Malammu!” gerakan Romantic Hour yang dilaksanakan pada 12 Mei 2012 lalu merupakan ajakan terhadap pasangan suami istri untuk menyingkirkan gadget, berhenti flirting lewat gadget selama satu jam dan memiliki komunikasi berkualitas bersama pasangan. “Gerakan ini diharapkan dapat membantu program pemerintah dalam upaya mengurangi angka perceraian yang meningkat setiap tahunnya,” kata Fiona.

Kasus perceraian di Kota Bekasi, Jawa Barat terus meningkat setiap tahunnya. Selama 2012 ini, sebanyak 77 akta cerai sudah diterbitkan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bekasi. Akta cerai yang diterbitkan tersebut terdiri dari akta perceraian umum 49 kasus dan istimewa 28 kasus.

Kepala Disdukcapil Kota Bekasi, Mochamad Kosim, menjelaskan, perceraian umum adalah kasus yang segera didaftarkan untuk memperoleh akte, setelah putusan cerai dikeluarkan pengadilan. Sedangkan istimewa adalah, bila kasus tidak segera didaftarkan untuk memperoleh waktu. Waktu tenggat biasanya dalam hitungan tahun. Pada tahun 2010 telah tercatat 196 kasus perceraian. Tahun 2011 jumlah tersebut semakin meningkat menjadi 212 kasus. Namun, tahun 2012 sampai akhir Mei, tercatat sebanyak 35 kasus yang sedang dalam proses.

Humas Pengadilan Agama Kota Bekasi Ismet Ilyas, mengatakan mayoritas yang mengajukan perceraian adalah pasangan muda atau usia produktif antara 23-40 tahun. Pemicunya beragam, namun kebayakan disebabkan karena perselingkuhan. Biasanya usia perkawinan di bawah lima tahun. “Selain perselingkuhan, masalah ekonomi juga banyak. Rata-rata istri mengajukan gugatan cerai karena tidak diberikan nafkah selama berumah tangga. Biasanya karena suaminya tidak bekerja,” kata dia.
Untuk itu, pihak PA Kota Bekasi juga tidak serta merta menjatuhkan vonis perceraian pada pasangan yang mengajukan. Paling tidak, lanjut Ismet, sedapat mungkin disatukan kembali melalui mediasi. “Jadi memang terkesan untuk mengurus perceraian memang dipersulit, tapi itu semua demi kebaikan sebuah keluarga,” tegasnya

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s