Monthly Archives: August 2013

Identitas Pelaku Teror Penembakan Polisi Di Jakarta Terungkap


Tim khusus Polda Metro Jaya telah berhasil mengidentifikasi pelaku penembakan anggota polisi yang terjadi di 3 lokasi di Jakarta dan sekitarnya. Kedua pelaku bernama Nurul Haq alias Jeck dan Hendi Albar.

“Dari kesimpulan yang didapat tim khusus, merekalah pelaku penembakan anggota polisi di tiga lokasi, baik yang berperan sebagai eksekutor maupun pengendara motor Yamaha Mio,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (30/8/2013).

Rikwanto menyebut, Nurul Haq, pria kelahiran Jakarta, 16 September 1985 dengan status menikah dan mempunyai satu orang anak. Pendidikan terakhir Akademi Diploma III. Sementara Hendi Albar kelahiran Kendal, 7 Juli 1983 dengan status menikah dan mempunyai 3 orang anak.

“Pendidikan terakhir Hendi adalah SLTA,” kata Rikwanto.

Rikwanto mengatakan, keduanya dipastikan melakukan penembakan terhadap anggota Polri yang terjadi di Cirendeu, Ciputat dan Pondok Aren selama satu bulan terakhir. Berikut 4 insiden penembakan yang meneror anggota polisi di wilayah hukum Polda Metro Jaya yang terjadi selama dua pekan terakhir.

1. Aipda Patah Saktiyono ditembak oleh 2 orang pria misterius, saat melintas tepat di depan Sekolah Al-Path, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (27/7/2013) subuh lalu. Saat itu, Patah hendak melakukan apel pagi di kantornya di Polsek Gambir. Anggota Polantas Gambir ini ditembak dari belakang oleh pelaku. Korban pun tersungkur, tepat di depan sebuah masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penembakan. Tembakan pelaku mengenai punggung korban dan tembus hingga ke dada kirinya. Beruntung korban bisa terselamatkan setelah dilarikan ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Saat ini, kondisi korban berangsur membaik.

2. Kemudian, peneror juga menembak Aiptu Dwiyatno di depan RS Sari Asih, Tangerang Selatan, pada Rabu (7/8/2013) subuh lalu. Saat itu, anggota Binmas Polsek Cilandak hendak mengisi kegiatan ceramah di Lebak bUlus, Jaksel. Korban tertembak di bagian kepala oleh pelaku yang berboncengan menggunakan sebuah motor. Korban pun tewas seketika di lokasi kejadian.

3. Selanjutnya, rumah milik AKP Tulam di Perum Banjar Wijaya Blok B49 No 6 RT 02/07 Cluster Yunani, Kelurahan Cipete, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, pada Selasa (13/8/2013) ditembak oleh orang mistrerius. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Pelaku menembaki rumah korban dengan menggunakan senjata airgun. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kaca-kaca di pintu rumah korban mengalami kerusakan akibat peristiwa ini. Belum diketahui pelaku, maupun motif penembakan terhadap anggota reserse Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya ini

4. Yang terakhir, dua anggota polisi Aiptu Kus Hendratna dan Bripka Ahmad Maulana, juga tewas ditembak oleh 2 orang pria misterius di depan Masjid Bani Umar, Jalan Graha Raya Bintaro, Kelurahan Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/8/2013) lalu. Peristiwa bermula ketika Aiptu Kus hendak melakukan pengamanan peringatan Hari Kemerdekaan RI, dipepet oleh 2 pelaku yang menggunakan motor Yamaha Mio. Korban kemudiakn ditembak di bagian kepala, tepatnya 500 meter sebelum Polsek Pondok Aren.

Di saat bersamaan, Bripka Ahmad Maulana bersama 3 anggota lainnya melintas di lokasi, hendak melakukan apel di Polsek Pondok Aren, melihat kejadian penembakan Aiptu Kus tersebut. Keempat anggota yang menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam, kemudian mengejar pelaku penembakan tersebut dan langsung menabrak pelaku dari belakang.

Dua pelaku tersungkur setelah ditabrak anggota dari belakang. Sementara mobil yang ditumpangi anggota dan rekannya, terperosok ke got. Di saat itulah, dua pelaku langsung menghampiri mobil korban dan menembaki mobil korban, hingga terjadi baku tembak.

Korban Bripka Ahmad Maulana tertembak di bagian kepala dan punggung dalam insiden itu. Ahmad Maulan tewas, sebelum dilarikan ke RS Polri. Sementara pelaku melarikan diri dengan merampas motor Honda Supra Fit B 6620 SFS, milik seorang sekuriti yang sedang melintas di lokasi.

Advertisements

Cara Mengatasi Kemacetan Di Jakarta


Henniko Okada, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Sosekling) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum mengatakan, kemacetan Jakarta ada hubungannya dengan tata guna lahan dan transportasi.

Demikian dia sampaikan pada acara kolokium yang diselenggarakan Puslitbang Sosekling Dinas Pekerjaan Umum di Jakarta, Rabu (28/8/2013). Seusai presentasinya, Henniko mengungkapkan potensi gridlock tersebut dia dapatkan berdasarkan kajian 2012 dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dia mengakui, penelitian berbasis studi pustaka yang dia presentasikan hari ini masih merupakan kajian awal. Namun, kajian awal tersebut setidaknya bisa mencetuskan ide-ide dan tantangan pemikiran baru di antara peserta kolokium.

Untuk menjawab masalah di Jakarta, Henniko membandingkan kondisi kemacetan dan kemungkinan solusinya dari Kota Curitiba dan Sao Paolo di Brazil, Bogota di Kolombia, dan Seoul di Korea Selatan. Hasilnya, tampak bahwa kota-kota tersebut memiliki pola yang berbeda dari Ibukota Indonesia ini.

Menurut Henniko, pemimpin negara dan pemimpin regional di lokasi-lokasi tersebut masing-masing memiliki cita-cita besar di balik berbagai kebijakannya. Dia mencontohkan, visi pemimpin Bogota berorientasi untuk memanusiakan penduduknya. Alhasil, berbagai kebijakan berorientasi pada kepentingan dan kenyamanan masyarakat. Fokus dari segala keputusannya mengarah pada kebutuhan publik.

“Siapa pun pemimpinnya, sang pemimpin berbagi visi dengan pemimpin sebelumnya untuk mewujudkan hal yang sama,” ujar Henniko.

Namun, lanjut Henniko, untuk mencapai hal tersebut dan mengurai kemacetan Jakarta, kota ini membutuhkan lebih dari satu solusi.

“Solusi yang berpotensi mengatasi kemacetan di Jakarta terdiri dari pembangunan perkotaan yang berorientasi kebutuhan masyarakat, integrasi moda transportasi, lembaga transportasi (yang ideal), penegakkan arah tata guna lahan, dan penegakkan hukum,” kata Henniko.

Menurutnya, pemerataan pusat-pusat kegiatan merupakan salah satu hal penting mengurangi kemacetan.

“Pergerakan manusia akan menentukan titik-titik di mana pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya.

Harus tersebar

Henniko juga mengungkapkan hal mendasar lainnya, bahwa kemacetan ada hubungannya dengan tata guna lahan dan transportasi. Pembangunan kota multi-guna (mixed use) berbasis transportasi dan adanya sistem transportasi terintegrasi juga dapat menjadi salah satu jalan keluar.

Menanggapi presentasi tersebut, Staf Ahli Menteri Sosial Budaya dan Peran Serta Masyarakat Waskito Pandu mengungkapkan, bahwa memang harus ada berbagai institusi yang menangani masalah (kemacetan) ini.

“Tidak semua orang harus bergerak ke ‘gula-gula’ yang ada di satu titik. Seharusnya tersebar, tidak semuanya ke pusat kota,” kata Waskito.

Sementara itu, Nuzul Achyar dari LPEM UI menanggapi masalah kemacetan di Jakarta dengan sudut pandang lebih mendasar. Menurut dia, kuncinya secara konseptual, kemacetan menyebabkan eksternalitas negatif.

“Bukan pada satu-dua individu, tapi masyarakat. Ketika terjadi kemacetan, maka yang tinggi tidak hanya biaya lagi. Polusi juga bertambah. Itu sebabnya, ada kaitan antara land use policy dengan lebar jalan. Repotnya, bangsa kita tidak punya zoning regulation. Kalau pun punya zoning, itu buatan Belanda,” ujarnya.

“Yang kedua dengan zoning. Zoning ini mampu melindungi heritage juga. Karena itu, land use-nya dibatasi,” lanjutnya. Belum lagi para pejabat yang korup dan suka merubah tata kota seenaknya.

Ia mengatakan, mengurangi kemacetan juga harus dengan instrumen. Khususnya instrumen makro. “Di Jepang orang enggan pakai kendaraan pribadi karena tersedia infrastrukturnya. Di Singapura, kendaraan dibatasi agar orang mau berinvestasi di sana,” terang Nuzul.

Menurut Nuzul, salah satu kunci utamanya adalah ketersediaan transportasi publik. Namun, para peneliti dan akademisi sepakat, masalah kemacetan merupakan masalah multi dimensi. “Kemacetan Jakarta masalahnya bukan hanya soal transportasi. Jauh lebih kompleks,” tandas Soenjoto Usman dari PIPM UGM, menutup diskusi.

Kisah Korban Copet Yang Berusaha Menangkap Copet Namun Gagal Karena Nomor Telepon Polisi Tidak Ada Yang Aktif


Pencopet di Jakarta punya banyak modus mengembat harta sasaran. Bandit jalanan ini bekerja berkelompok untuk mengelabui korban. Namun kali ini komplotan pencopet ini kena batunya dan malah dikerjai target.

Peristiwa ini berawal ketika Indra, seorang pekerja di kawasan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, berangkat kerja dengan menggunakan bus TransJ pada 27 Agustus 2013. Seperti biasa Indra turun di halte busway Sarinah kemudian berjalan ke luar koridor dengan menyusuri tangga jembatan penyeberangan di kawasan bisnis tersebut.

Saat turun dari tangga jembatan, pekerja ini melihat ada seorang pria yang bersandar di tangga. Pria bertubuh kurus yang mengenakan pakaian kemeja dan tas ala orang bekerja ini sepertinya dikenalnya.

“Saya perhatikan kok sepertinya saya kenal. Setelah diperhatikan lagi ternyata orang ini pernah mencopet di kawasan itu,” kata Indra kepada detikcom, Rabu (28/8/2013).

Indra kemudian berjalan ke arah pria tersebut. Namun dia sudah bersiap-siap jika pria tersebut mencopetnya. Pencopet itu mencoba menghadang Indra bersama seorang pencopet lain yang mendekati dari arah belakang. Copet itu kemudian menaruh korek api di kaki kanannya dan menepuk-nepuk kaki Indra.

“Dia berharap konsentrasi saya berpindah ke bawah, tapi saya sudah tahu trik ini,” kata Indra.

Karena sudah hapal modus pengutil, Indra itu tidak memperhatikan korek di kaki pencopet tapi lebih berkonsentrasi pada tas yang sedang dia bawa. Dia juga terus memperhatikan gerak-gerik dua orang itu. Begitu dua pria itu hendak mencopet, Indra langsung berteriak ‘Copet ya lo’

Mengetahui aksinya terbongkar, duo copet ini panik. Mereka mengelak. “Siapa yang copet, situ yang menendang korek saya. Kamu seenaknya menuduh kita copet!” kata copet itu seperti ditirukan Indra.

Indra kemudian menelepon nomor polisi untuk melaporkan kedua copet itu. “Kalau kamu bukan copet diam di sini, saya telepon polisi dulu,” katanya kepada pencopet.

Indra mencoba menelepon 110 tapi tidak tersambung. Kemudian dia mengontak nomor telepon 112 tapi tidak diangkat. Indra kemudian mencoba mengontak 108 untuk meminta nomor telepon polisi terdekat.

“Saya kontak-kontak tapi tak diangkat juga nomornya, padahal saya mau laporan ada copet. Ini kalau begini mau laporan ke mana lagi,” sesalnya.

Pencopet yang ada di depannya mulai gelisah. Begitu Indra sibuk mengontak polisi, kedua pencopet itu lari dan naik ke bus yang lewat. Indra mengejar pencopet itu dan memberi tahu sopir bus yang dinaiki si copet. Sopir itu kemudian berhenti, namun copet itu kabur lagi.

“Sopirnya sudah berteriak ‘copet’ tapi pelakunya tetap bisa kabur,” tutup Indra.

Pendemo Lurah Susan Ternyata Banyak Yang Ikutan Karena Hanya Ingin Melihat dan Mengagumi Lurah Susan Dari Dekat


Tak semua pendemo benar-benar menolak Susan sebagai Lurah Lenteng Agung, Jaksel. Buktinya ibu-ibu yang ikut unjuk rasa malah mengagumi Susan yang kerap blusukan dan menyapa warga. “Saya cuma diajak-ajak. Kalau menurut saya sih Ibu Susan baik-baik saja,” kata Rini warga RT 10 Lenteng Agung, Jaksel yang ditemui di depan kantor kelurahan, Rabu (28/8/2013).

Rini diajak tetangganya untuk ikut demo. Dia mengaku tak tahu kalau ternyata demonya menolak Susan sebagai lurah di Lenteng Agung. “Ibu itu sering blusukan datang ke tempat warga. Saya pribadi nggak ada masalah,” jelas Rini.

Tak hanya Rini, seorang ibu yang lain bernama Oni juga menyampaikan hal serupa. Malah bagi dia Susan itu ramah dan kerap menyapa warga. “Ibu itu waktu puasa kemarin bagi-bagi takjilan. Terus kalau banjir juga datang menengok, bagi-bagi sembako. Waktu ada kartu Jakarta pintar juga kita diberi tahu,” terang Oni yang warga asli Lenteng Agung. Dia ikut demo karena hanya diajak warga yang lain.

Unjuk rasa ini digelar puluhan orang yang mengatasnamakan warga Lenteng Agung. Menurut salah seorang pimpinan aksi H Nawi, aksi ini sebagai bentuk reaksi atas penempatan Susan Jasmine di Lenteng Agung. Susan dipersoalkan karena perbedaan keyakinan. “Ini hanya aksi damai saja,” jelas Nawi yang mengaku belum pernah bertemu Susan.

Warga Lenteng Agung (LA) mendemo dan meminta Lurah Susan Jasmine Zulkifli untuk mundur. Lalu apa tanggapan lurah cantik ini? “Wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan itu kan sepenuhnya ada di tangan gubernur dan wagub. Karena mereka yang mengangkat saya,” ujar Susan di ruang kerjanya di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2013).

Jebolan Fisipol UI ini hanya fokus pada pekerjaannya. Pekerjaannya yakni melayani masyarakat. Peserta demo dalam rilisnya yang dibagi ke wartawan menyebutkan, warga merasa risih terhadap Susan. Hal ini karena pada bulan Ramadan, Susan sulit diajak silaturahmi karena perbedaan agama.

“Kalau saat Ramadan saya nggak bisa datang, saya kan punya wakil. Misalkan saya tidak datang karena saya non Muslim, saya kan punya wakil, saya punya staf yang bisa wakili saya,” kata wanita 43 tahun ini. Sementara itu di Balaikota, Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) juga telah memberikan jaminan terhadap posisi Susan. Jokowi tidak berniat mencari pengganti Susan.

Lurah Lenteng Agung (LA) Susan Jasmine Zulkifli tidak begitu terganggu dengan demo sejumlah warganya yang menolak kehadirannya. Lurah cantik itu tetap bekerja seperti biasa. “Mengenai mereka demo, itu aspirasi. Jadi biarkan saja,” ujar Susan kepada wartawan di ruang kerjanya di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2013).

Sarjana Fisipol UI berumur 43 tahun itu tetap mengutamakan pekerjaannya melayani masyarakat meski ada demo di depan kantornya. Susan yang terpilih berkat lelang jabatan yang dilakukan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dan Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu mempersilakan demo yang dilakukan warganya.

“Yang penting saya laksanakan tugas saya sesuai SK,” tutur lurah yang suka blusukan ini. Lurah Susan didemo puluhan warganya karena perbedaan agama. Pendemo meminta Lurah Susah diganti.

Gaji PNS dan Pejabat Ternyata Tidak Cukup Untuk Biayai Hobi Main Golf


Pejabat yang hobi main golf, patut dipertanyakan. Bukan apa-apa, golf tergolong olahraga mewah. Mulai dari peralatan sampai sewa lapangan, hingga sewa caddy tergolong butuh biaya besar.

“Gaji PNS atau penyelenggara negara sesungguhnya tak akan mungkin membiayai hobi atau olahraga mahal seperti golf,” kata pegiat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho saat berbincang, Rabu (28/8/2013).

Karenanya, kalau ada pejabat yang bermain golf patut dipertanyakan, dari mana uang mereka untuk membiayai golf. Belum lagi ongkos menjadi anggota perkumpulan golf.

“Karenanya pejabat mesti dilarang main golf,” imbuhnya.

Emerson menjelaskan, setiap kali bergolf ria, pasti ada lawan tanding, mulai dari pengusaha atau orang tertentu yang seharusnya tak boleh bedekatan. “Rawan suap,” imbuh Emerson yang melihat kasus Rudi Rubiandini.

Senada dengan Emerson, pegiat antikorupsi Oce Madril dari PukaT UGM menyampaikan, bahwa sudah diakui secara umum kalau lobi lewat golf lebih tokcer. Banyak conflict of interest yang terjadi kala pejabat bermain golf.’

“Kasus Rudi contoh kecil saja. Beberapa fakta menunjukkan lewat golf, ada lobi-lobi yang membuat pejabat negara terjebak gratifikasi,” terangnya.

Oce menyarankan alangkah baiknya kalau pejabat memakai kode etik seperti KPK, yang kini tegas melarang pejabatnya bermain golf. “Kode etik itu sebaiknya diikuti penyelenggara negara lain seperti hakim, birokrat, dan SKK Migas,” tutupnya.

Tawuran Di Kompleks TNI Menzikon … 1 Orang Tewas Ditembak


Tawuran antar-kelompok pemuda terjadi di depan Kompleks Menzikon (Resimen Zeni Konstruksi) TNI Angkatan Darat, Jalan Raya Bogor, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Ahad dinihari, 25 Agustus 2013, pukul 02.00. Tawuran ini diduga melibatkan pemuda warga Kompleks Menzikon dengan warga dari Ciracas dan Cipayung.

Dari informasi yang diperoleh Tempo, penyebab tawuran ini bermula saat seorang pria bernama Valentino bersama tiga teman wanitanya mengantarkan Danang pulang ke rumahnya di Kompleks Menzikon TNI AD, sekitar pukul 01.00, Ahad dinihari. Namun, saat mereka melintas di Pos RW 01 Kompleks Menzikon, beberapa anak muda yang nongkrong menggoda rekan wanita Valentino.

Saat Valentino pulang dari rumah Danang, ia dicegat dan dikeroyok sekelompok pemuda tersebut. Kemudian, Valentino, Danang, dan tiga rekan wanitanya diamankan di pos jaga Kompleks Menzikon.

Lalu, sekitar pukul 02.00, ada sekitar 20 pemuda yang merupakan teman Valentino mendatangi Kompleks Menzikon untuk balas dendam. Tapi dihadang warga Kompleks Menzikon di jembatan pintu gerbang Menzikon.

Penghadangan itu berujung tawuran antara kelompok pemuda dan warga. Hal itu membuat anggota jaga di Markas Menzikon meletuskan tembakan senjata api untuk membubarkan tawuran tersebut. Para pemuda itu langsung lari dan dikejar warga sampai depan Polsek Pasar Rebo. Hingga akhirnya anggota Polsek Pasar Rebo berhasil membubarkan tawuran tersebut.

Dalam tawuran itu, seorang remaja bernama Muhamad Saefullah, 15 tahun, warga Cipayung, meninggal dunia karena luka tembak. Dua orang lainnya juga mengalami luka tembak dan luka senjata tajam. Keduanya yakni Muh. Rizky, 19 tahun, warga Ciracas, yang mengalami luka tembak pada paha kanan, dan Zulham Harahap, 38 tahun, warga Kompleks Menzikon TNI AD, yang terluka pada kaki sebelah kiri akibat senjata tajam.

Ayah angkat Saefullah, Mat Ali, 38 tahun, tidak mengetahui pasti apakah anaknya itu terlibat dalam tawuran di depan Kompleks Menzikon. “Temen-temennya enggak ada yang cerita. Yang saya tahu, dia abis magrib atau isya hanya pamit ingin menonton panggung 17-an. Dia pergi sama temennya, diboncengin naik motor,” kata Mat Ali saat ditemui Tempo di rumahnya di Cipayung, Senin, 26 Agustus 2013.

Namun, ia dan ibu kandung Saefullah, Dian Nurnaningsih, 40 tahun, mengaku sudah mengikhlaskan kepergian anak bungsu dari tiga bersaudara itu. “Kami ikhlas dan sudah menyerahkan (kasusnya) ke polisi. Kami serahkan ke pihak berwajib,” ujarnya. Saefullah yang masih bersatus sebagai pelajar kelas 1 di SMK Kaula Jakarta, jurusan otomotif, itu tewas dengan luka tembak pada punggung sebelah kanan.

Ketika Lapangan Golf Menjadi Ajang Lobi dan Korupsi Para Pejabat Indonesia


Semua berawal dari golf. Dari golf pula suami Matahari (bukan nama sebenarnya, red) mulai berubah gaya hidupnya, keluarga tak lagi menjadi prioritas. Perempuan lain mulai berseliweran dalam kehidupan rumah tangganya, hingga menceraikan Matahari tanpa alasan yang jelas.

“Saya tahu sekali, pejabat seperti Rudi Rubiandini itu tak cuma satu, tapi banyak sekali. Ini semua berawal dari golf lho,” ujar Matahari. Dalam suratnya, Matahari membagikan pengalamannya bagaimana jerat-jerat itu dimulai dari lapangan golf.

“Suami saya seorang pejabat tinggi, rumah tangga kami sedang di ujung tanduk. Sikap bapaknya anak-anak berubah semenjak dia memegang jabatan tinggi, memiliki kekuasaan, materi dan fasilitas. Salah satunya dari golf. Di golf itulah ‘setan’ berdatangan, yang awalnya hanya laki-laki semua, nanti berikutnya datang perempuan-perempuan, dilanjut makan-makan, main di luar negeri, taruhan, dsb,” tulis Matahari.

Dirinya yang mengasuh beberapa buah hati dari suaminya, sesekali pernah menemani. “Ya paling kalau diajak hanya driving-driving aja. Atau sesekali diajak kalau ada acara kenegaraan,” imbuhnya. Lama-kelamaan, suaminya beralasan main golf hingga ke luar negeri itu hanya untuk ‘ketemu teman’. Matahari makin lama mendapati ‘teman’ itu adalah perempuan yang akhirnya menjadi orang ketiga dari suaminya.

“Semua ini terus berlanjut, sampai suatu waktu saya digugat cerai tanpa sebab, saya dan anak-anak yang masih kecil-kecil ditelantarkan, tidak dinafkahi, dan sebagainya,” tuturnya. Menurutnya, selalu ada ‘perempuan’, baik di lapangan golf maupun di jamuan makan. Dan ‘perempuan’ itu, menurutnya, berasal dari instansi atau perusahaan di mana suaminya menghadiri acara.

“Semuanya fasilitas lho itu. Istilahnya mau main di mana, di dalam atau luar negeri, tinggal pilih saja,” tuturnya.

Pihaknya sempat melaporkan kelakukan suaminya ini ke atasan sang suami langsung agar ditegur. Namun hasilnya nihil. Atasan dan rekan suaminya, menurutnya saling melindungi karena memiliki kepentingan sendiri.

“Begitu saya kecewa terhadap sikap para pejabat di Indonesia, yang ternyata semua ‘saling’ melindungi satu sama lain. Sedangkan bagaimana nasib penerus bangsa ini, anak-anak yang saya perjuangkan nasibnya, sama sekali tidak menjadi perhatian mereka. Semua bagi mereka hanya demi nama baik, kekuasaan, jabatan, materi, sanjungan perempuan-perempuan, jamuan, fasilitas,” tuturnya kecewa.

“Saya tahu banyak pejabat seperti Pak Rudi itu. Istri-istri pejabat yang glamour itu, semua kehidupannya palsu. Di balik itu semua, negara ini akhirnya hanya menunggu detik-detik kehancuran. Krisis akhlak tidak menjadi perhatian,” sesalnya. Matahari bersyukur, kehidupannya kini menjadi lebih damai. Hikmah di balik itu semua, dirinya merasa dijauhkan Allah SWT dari kehidupan gemerlap dunia yang dinilainya palsu itu.

“Kini saya lebih tenang. Saya larinya lebih ke agama ya,” tutur perempuan yang kini berusaha menghidupi dan merawat anak-anaknya dari keterampilan yang dipelajarinya sejak masih gadis di bidang seni ini. “Semoga kisah saya ini bisa menjadi perhatian untuk para petinggi dan bahan renungan, bagaimana bahayanya golf yang bukan hanya sekedar olahraga, tapi golf adalah “pintu” masuk menuju kemaksiatan,” tutupnya.

Golf bagi segelintir pejabat pemerintah sudah menjadi gaya hidup. Tak bonafid kalau tak main golf. Bahkan bisa sampai ditertawakan. Karenanya tak sedikit, banyak diantara mereka yang bersusah payah memenuhi berbagai peralatan golf yang mahal.

“Saya kira kode etik pimpinan KPK perlu dicontoh yang melarang pimpinan KPK bermain golf,” kata mantan anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Mas Achmad Santosa saat berbincang, Selasa (27/8/2013). Pria yang akrab disapa Ota ini tak melarang olahraga golf. Silakan saja siapapun main. Tapi khusus pejabat atau penyelenggara negara, baiknya memikirkan masak-masak.

“Pertama, peralatan golf dan keanggotaan mahal dan membuat pejabat negara dan pejabat pemerintah tidak terjangkau secara ekonomis. Dan eksklusifitas ini membuka peluang gratifikasi dan suap secara terselubung,” terang Ota yang pernah menjadi Plt pimpinan KPK ini.

Golf juga dikenal masyarakat sebagai olahraga kelas atas. Seorang penyelenggara negara yang gajinya dibayari rakyat sepertinya tak etis bila enak-enakan mengayun stik golf di lapangan. “Kedua, karena eklusifitas arena golf yang hanya dinikmati high end class, maka pada umumnya ajang ini digunakan lobi-lobi antara pengusaha, makelar proyek, dan pejabat pengambil keputusan,” tutupnya.

Golf ini kembali menjadi perbincangan. Adalah Rudi Rubiandini yang menjadi tahanan KPK yang buka suara. Mantan Kepala SKK Migas ini mengaku kasusnya dimulai karena golf. Soal golf ini diungkapkan Rudi Rubiandini. Dia mengaku kasus suap yang dijerat kepadanya bermula dari lapangan golf. Tak dirinci memang apa yang terjadi di lapangan golf itu, tapi salah satu yang ditangkap KPK sebagai perantara suap dari Kernel Oil itu Deviardi yang juga pelatih golf Rudi.

Sebelumnya Peneliti MTI, Jamil Mubarok juga menyatakan bahwa memang banyak transaksi dilakukan di lapangan golf. Selain itu modal untuk bermain golf yang mahal membuat permainan ini hanya bisa dimainkan kalangan kelas atas.

“Golf seringkali terdapat lobi-lobi, termasuk transaksi-transaksi, jika penyelenggara negara ada pada arena tersebut sangat besar kemungkinannya mendapat desakan untuk lakukan abuse terhadap kekuasaan yang disandangnya,” ujarnya saat diwawancarai secara terpisah.