Categories
Kriminalitas Terorisme

Identitas Pelaku Teror Penembakan Polisi Di Jakarta Terungkap


Tim khusus Polda Metro Jaya telah berhasil mengidentifikasi pelaku penembakan anggota polisi yang terjadi di 3 lokasi di Jakarta dan sekitarnya. Kedua pelaku bernama Nurul Haq alias Jeck dan Hendi Albar.

“Dari kesimpulan yang didapat tim khusus, merekalah pelaku penembakan anggota polisi di tiga lokasi, baik yang berperan sebagai eksekutor maupun pengendara motor Yamaha Mio,” jelas Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (30/8/2013).

Rikwanto menyebut, Nurul Haq, pria kelahiran Jakarta, 16 September 1985 dengan status menikah dan mempunyai satu orang anak. Pendidikan terakhir Akademi Diploma III. Sementara Hendi Albar kelahiran Kendal, 7 Juli 1983 dengan status menikah dan mempunyai 3 orang anak.

“Pendidikan terakhir Hendi adalah SLTA,” kata Rikwanto.

Rikwanto mengatakan, keduanya dipastikan melakukan penembakan terhadap anggota Polri yang terjadi di Cirendeu, Ciputat dan Pondok Aren selama satu bulan terakhir. Berikut 4 insiden penembakan yang meneror anggota polisi di wilayah hukum Polda Metro Jaya yang terjadi selama dua pekan terakhir.

1. Aipda Patah Saktiyono ditembak oleh 2 orang pria misterius, saat melintas tepat di depan Sekolah Al-Path, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (27/7/2013) subuh lalu. Saat itu, Patah hendak melakukan apel pagi di kantornya di Polsek Gambir. Anggota Polantas Gambir ini ditembak dari belakang oleh pelaku. Korban pun tersungkur, tepat di depan sebuah masjid yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi penembakan. Tembakan pelaku mengenai punggung korban dan tembus hingga ke dada kirinya. Beruntung korban bisa terselamatkan setelah dilarikan ke RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur. Saat ini, kondisi korban berangsur membaik.

2. Kemudian, peneror juga menembak Aiptu Dwiyatno di depan RS Sari Asih, Tangerang Selatan, pada Rabu (7/8/2013) subuh lalu. Saat itu, anggota Binmas Polsek Cilandak hendak mengisi kegiatan ceramah di Lebak bUlus, Jaksel. Korban tertembak di bagian kepala oleh pelaku yang berboncengan menggunakan sebuah motor. Korban pun tewas seketika di lokasi kejadian.

3. Selanjutnya, rumah milik AKP Tulam di Perum Banjar Wijaya Blok B49 No 6 RT 02/07 Cluster Yunani, Kelurahan Cipete, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, pada Selasa (13/8/2013) ditembak oleh orang mistrerius. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Pelaku menembaki rumah korban dengan menggunakan senjata airgun. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kaca-kaca di pintu rumah korban mengalami kerusakan akibat peristiwa ini. Belum diketahui pelaku, maupun motif penembakan terhadap anggota reserse Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya ini

4. Yang terakhir, dua anggota polisi Aiptu Kus Hendratna dan Bripka Ahmad Maulana, juga tewas ditembak oleh 2 orang pria misterius di depan Masjid Bani Umar, Jalan Graha Raya Bintaro, Kelurahan Perigi Baru, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Jumat (16/8/2013) lalu. Peristiwa bermula ketika Aiptu Kus hendak melakukan pengamanan peringatan Hari Kemerdekaan RI, dipepet oleh 2 pelaku yang menggunakan motor Yamaha Mio. Korban kemudiakn ditembak di bagian kepala, tepatnya 500 meter sebelum Polsek Pondok Aren.

Di saat bersamaan, Bripka Ahmad Maulana bersama 3 anggota lainnya melintas di lokasi, hendak melakukan apel di Polsek Pondok Aren, melihat kejadian penembakan Aiptu Kus tersebut. Keempat anggota yang menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam, kemudian mengejar pelaku penembakan tersebut dan langsung menabrak pelaku dari belakang.

Dua pelaku tersungkur setelah ditabrak anggota dari belakang. Sementara mobil yang ditumpangi anggota dan rekannya, terperosok ke got. Di saat itulah, dua pelaku langsung menghampiri mobil korban dan menembaki mobil korban, hingga terjadi baku tembak.

Korban Bripka Ahmad Maulana tertembak di bagian kepala dan punggung dalam insiden itu. Ahmad Maulan tewas, sebelum dilarikan ke RS Polri. Sementara pelaku melarikan diri dengan merampas motor Honda Supra Fit B 6620 SFS, milik seorang sekuriti yang sedang melintas di lokasi.

Categories
Transportasi

Cara Mengatasi Kemacetan Di Jakarta


Henniko Okada, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Sosekling) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pekerjaan Umum mengatakan, kemacetan Jakarta ada hubungannya dengan tata guna lahan dan transportasi.

Demikian dia sampaikan pada acara kolokium yang diselenggarakan Puslitbang Sosekling Dinas Pekerjaan Umum di Jakarta, Rabu (28/8/2013). Seusai presentasinya, Henniko mengungkapkan potensi gridlock tersebut dia dapatkan berdasarkan kajian 2012 dari Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dia mengakui, penelitian berbasis studi pustaka yang dia presentasikan hari ini masih merupakan kajian awal. Namun, kajian awal tersebut setidaknya bisa mencetuskan ide-ide dan tantangan pemikiran baru di antara peserta kolokium.

Untuk menjawab masalah di Jakarta, Henniko membandingkan kondisi kemacetan dan kemungkinan solusinya dari Kota Curitiba dan Sao Paolo di Brazil, Bogota di Kolombia, dan Seoul di Korea Selatan. Hasilnya, tampak bahwa kota-kota tersebut memiliki pola yang berbeda dari Ibukota Indonesia ini.

Menurut Henniko, pemimpin negara dan pemimpin regional di lokasi-lokasi tersebut masing-masing memiliki cita-cita besar di balik berbagai kebijakannya. Dia mencontohkan, visi pemimpin Bogota berorientasi untuk memanusiakan penduduknya. Alhasil, berbagai kebijakan berorientasi pada kepentingan dan kenyamanan masyarakat. Fokus dari segala keputusannya mengarah pada kebutuhan publik.

“Siapa pun pemimpinnya, sang pemimpin berbagi visi dengan pemimpin sebelumnya untuk mewujudkan hal yang sama,” ujar Henniko.

Namun, lanjut Henniko, untuk mencapai hal tersebut dan mengurai kemacetan Jakarta, kota ini membutuhkan lebih dari satu solusi.

“Solusi yang berpotensi mengatasi kemacetan di Jakarta terdiri dari pembangunan perkotaan yang berorientasi kebutuhan masyarakat, integrasi moda transportasi, lembaga transportasi (yang ideal), penegakkan arah tata guna lahan, dan penegakkan hukum,” kata Henniko.

Menurutnya, pemerataan pusat-pusat kegiatan merupakan salah satu hal penting mengurangi kemacetan.

“Pergerakan manusia akan menentukan titik-titik di mana pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya.

Harus tersebar

Henniko juga mengungkapkan hal mendasar lainnya, bahwa kemacetan ada hubungannya dengan tata guna lahan dan transportasi. Pembangunan kota multi-guna (mixed use) berbasis transportasi dan adanya sistem transportasi terintegrasi juga dapat menjadi salah satu jalan keluar.

Menanggapi presentasi tersebut, Staf Ahli Menteri Sosial Budaya dan Peran Serta Masyarakat Waskito Pandu mengungkapkan, bahwa memang harus ada berbagai institusi yang menangani masalah (kemacetan) ini.

“Tidak semua orang harus bergerak ke ‘gula-gula’ yang ada di satu titik. Seharusnya tersebar, tidak semuanya ke pusat kota,” kata Waskito.

Sementara itu, Nuzul Achyar dari LPEM UI menanggapi masalah kemacetan di Jakarta dengan sudut pandang lebih mendasar. Menurut dia, kuncinya secara konseptual, kemacetan menyebabkan eksternalitas negatif.

“Bukan pada satu-dua individu, tapi masyarakat. Ketika terjadi kemacetan, maka yang tinggi tidak hanya biaya lagi. Polusi juga bertambah. Itu sebabnya, ada kaitan antara land use policy dengan lebar jalan. Repotnya, bangsa kita tidak punya zoning regulation. Kalau pun punya zoning, itu buatan Belanda,” ujarnya.

“Yang kedua dengan zoning. Zoning ini mampu melindungi heritage juga. Karena itu, land use-nya dibatasi,” lanjutnya. Belum lagi para pejabat yang korup dan suka merubah tata kota seenaknya.

Ia mengatakan, mengurangi kemacetan juga harus dengan instrumen. Khususnya instrumen makro. “Di Jepang orang enggan pakai kendaraan pribadi karena tersedia infrastrukturnya. Di Singapura, kendaraan dibatasi agar orang mau berinvestasi di sana,” terang Nuzul.

Menurut Nuzul, salah satu kunci utamanya adalah ketersediaan transportasi publik. Namun, para peneliti dan akademisi sepakat, masalah kemacetan merupakan masalah multi dimensi. “Kemacetan Jakarta masalahnya bukan hanya soal transportasi. Jauh lebih kompleks,” tandas Soenjoto Usman dari PIPM UGM, menutup diskusi.

Categories
Kriminalitas

Kisah Korban Copet Yang Berusaha Menangkap Copet Namun Gagal Karena Nomor Telepon Polisi Tidak Ada Yang Aktif


Pencopet di Jakarta punya banyak modus mengembat harta sasaran. Bandit jalanan ini bekerja berkelompok untuk mengelabui korban. Namun kali ini komplotan pencopet ini kena batunya dan malah dikerjai target.

Peristiwa ini berawal ketika Indra, seorang pekerja di kawasan Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, berangkat kerja dengan menggunakan bus TransJ pada 27 Agustus 2013. Seperti biasa Indra turun di halte busway Sarinah kemudian berjalan ke luar koridor dengan menyusuri tangga jembatan penyeberangan di kawasan bisnis tersebut.

Saat turun dari tangga jembatan, pekerja ini melihat ada seorang pria yang bersandar di tangga. Pria bertubuh kurus yang mengenakan pakaian kemeja dan tas ala orang bekerja ini sepertinya dikenalnya.

“Saya perhatikan kok sepertinya saya kenal. Setelah diperhatikan lagi ternyata orang ini pernah mencopet di kawasan itu,” kata Indra kepada detikcom, Rabu (28/8/2013).

Indra kemudian berjalan ke arah pria tersebut. Namun dia sudah bersiap-siap jika pria tersebut mencopetnya. Pencopet itu mencoba menghadang Indra bersama seorang pencopet lain yang mendekati dari arah belakang. Copet itu kemudian menaruh korek api di kaki kanannya dan menepuk-nepuk kaki Indra.

“Dia berharap konsentrasi saya berpindah ke bawah, tapi saya sudah tahu trik ini,” kata Indra.

Karena sudah hapal modus pengutil, Indra itu tidak memperhatikan korek di kaki pencopet tapi lebih berkonsentrasi pada tas yang sedang dia bawa. Dia juga terus memperhatikan gerak-gerik dua orang itu. Begitu dua pria itu hendak mencopet, Indra langsung berteriak ‘Copet ya lo’

Mengetahui aksinya terbongkar, duo copet ini panik. Mereka mengelak. “Siapa yang copet, situ yang menendang korek saya. Kamu seenaknya menuduh kita copet!” kata copet itu seperti ditirukan Indra.

Indra kemudian menelepon nomor polisi untuk melaporkan kedua copet itu. “Kalau kamu bukan copet diam di sini, saya telepon polisi dulu,” katanya kepada pencopet.

Indra mencoba menelepon 110 tapi tidak tersambung. Kemudian dia mengontak nomor telepon 112 tapi tidak diangkat. Indra kemudian mencoba mengontak 108 untuk meminta nomor telepon polisi terdekat.

“Saya kontak-kontak tapi tak diangkat juga nomornya, padahal saya mau laporan ada copet. Ini kalau begini mau laporan ke mana lagi,” sesalnya.

Pencopet yang ada di depannya mulai gelisah. Begitu Indra sibuk mengontak polisi, kedua pencopet itu lari dan naik ke bus yang lewat. Indra mengejar pencopet itu dan memberi tahu sopir bus yang dinaiki si copet. Sopir itu kemudian berhenti, namun copet itu kabur lagi.

“Sopirnya sudah berteriak ‘copet’ tapi pelakunya tetap bisa kabur,” tutup Indra.

Categories
Demokrasi

Pendemo Lurah Susan Ternyata Banyak Yang Ikutan Karena Hanya Ingin Melihat dan Mengagumi Lurah Susan Dari Dekat


Tak semua pendemo benar-benar menolak Susan sebagai Lurah Lenteng Agung, Jaksel. Buktinya ibu-ibu yang ikut unjuk rasa malah mengagumi Susan yang kerap blusukan dan menyapa warga. “Saya cuma diajak-ajak. Kalau menurut saya sih Ibu Susan baik-baik saja,” kata Rini warga RT 10 Lenteng Agung, Jaksel yang ditemui di depan kantor kelurahan, Rabu (28/8/2013).

Rini diajak tetangganya untuk ikut demo. Dia mengaku tak tahu kalau ternyata demonya menolak Susan sebagai lurah di Lenteng Agung. “Ibu itu sering blusukan datang ke tempat warga. Saya pribadi nggak ada masalah,” jelas Rini.

Tak hanya Rini, seorang ibu yang lain bernama Oni juga menyampaikan hal serupa. Malah bagi dia Susan itu ramah dan kerap menyapa warga. “Ibu itu waktu puasa kemarin bagi-bagi takjilan. Terus kalau banjir juga datang menengok, bagi-bagi sembako. Waktu ada kartu Jakarta pintar juga kita diberi tahu,” terang Oni yang warga asli Lenteng Agung. Dia ikut demo karena hanya diajak warga yang lain.

Unjuk rasa ini digelar puluhan orang yang mengatasnamakan warga Lenteng Agung. Menurut salah seorang pimpinan aksi H Nawi, aksi ini sebagai bentuk reaksi atas penempatan Susan Jasmine di Lenteng Agung. Susan dipersoalkan karena perbedaan keyakinan. “Ini hanya aksi damai saja,” jelas Nawi yang mengaku belum pernah bertemu Susan.

Warga Lenteng Agung (LA) mendemo dan meminta Lurah Susan Jasmine Zulkifli untuk mundur. Lalu apa tanggapan lurah cantik ini? “Wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan itu kan sepenuhnya ada di tangan gubernur dan wagub. Karena mereka yang mengangkat saya,” ujar Susan di ruang kerjanya di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2013).

Jebolan Fisipol UI ini hanya fokus pada pekerjaannya. Pekerjaannya yakni melayani masyarakat. Peserta demo dalam rilisnya yang dibagi ke wartawan menyebutkan, warga merasa risih terhadap Susan. Hal ini karena pada bulan Ramadan, Susan sulit diajak silaturahmi karena perbedaan agama.

“Kalau saat Ramadan saya nggak bisa datang, saya kan punya wakil. Misalkan saya tidak datang karena saya non Muslim, saya kan punya wakil, saya punya staf yang bisa wakili saya,” kata wanita 43 tahun ini. Sementara itu di Balaikota, Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) juga telah memberikan jaminan terhadap posisi Susan. Jokowi tidak berniat mencari pengganti Susan.

Lurah Lenteng Agung (LA) Susan Jasmine Zulkifli tidak begitu terganggu dengan demo sejumlah warganya yang menolak kehadirannya. Lurah cantik itu tetap bekerja seperti biasa. “Mengenai mereka demo, itu aspirasi. Jadi biarkan saja,” ujar Susan kepada wartawan di ruang kerjanya di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Rabu (28/8/2013).

Sarjana Fisipol UI berumur 43 tahun itu tetap mengutamakan pekerjaannya melayani masyarakat meski ada demo di depan kantornya. Susan yang terpilih berkat lelang jabatan yang dilakukan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) dan Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu mempersilakan demo yang dilakukan warganya.

“Yang penting saya laksanakan tugas saya sesuai SK,” tutur lurah yang suka blusukan ini. Lurah Susan didemo puluhan warganya karena perbedaan agama. Pendemo meminta Lurah Susah diganti.

Categories
Korupsi

Gaji PNS dan Pejabat Ternyata Tidak Cukup Untuk Biayai Hobi Main Golf


Pejabat yang hobi main golf, patut dipertanyakan. Bukan apa-apa, golf tergolong olahraga mewah. Mulai dari peralatan sampai sewa lapangan, hingga sewa caddy tergolong butuh biaya besar.

“Gaji PNS atau penyelenggara negara sesungguhnya tak akan mungkin membiayai hobi atau olahraga mahal seperti golf,” kata pegiat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho saat berbincang, Rabu (28/8/2013).

Karenanya, kalau ada pejabat yang bermain golf patut dipertanyakan, dari mana uang mereka untuk membiayai golf. Belum lagi ongkos menjadi anggota perkumpulan golf.

“Karenanya pejabat mesti dilarang main golf,” imbuhnya.

Emerson menjelaskan, setiap kali bergolf ria, pasti ada lawan tanding, mulai dari pengusaha atau orang tertentu yang seharusnya tak boleh bedekatan. “Rawan suap,” imbuh Emerson yang melihat kasus Rudi Rubiandini.

Senada dengan Emerson, pegiat antikorupsi Oce Madril dari PukaT UGM menyampaikan, bahwa sudah diakui secara umum kalau lobi lewat golf lebih tokcer. Banyak conflict of interest yang terjadi kala pejabat bermain golf.’

“Kasus Rudi contoh kecil saja. Beberapa fakta menunjukkan lewat golf, ada lobi-lobi yang membuat pejabat negara terjebak gratifikasi,” terangnya.

Oce menyarankan alangkah baiknya kalau pejabat memakai kode etik seperti KPK, yang kini tegas melarang pejabatnya bermain golf. “Kode etik itu sebaiknya diikuti penyelenggara negara lain seperti hakim, birokrat, dan SKK Migas,” tutupnya.

Categories
Kriminalitas

Tawuran Di Kompleks TNI Menzikon … 1 Orang Tewas Ditembak


Tawuran antar-kelompok pemuda terjadi di depan Kompleks Menzikon (Resimen Zeni Konstruksi) TNI Angkatan Darat, Jalan Raya Bogor, Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Ahad dinihari, 25 Agustus 2013, pukul 02.00. Tawuran ini diduga melibatkan pemuda warga Kompleks Menzikon dengan warga dari Ciracas dan Cipayung.

Dari informasi yang diperoleh Tempo, penyebab tawuran ini bermula saat seorang pria bernama Valentino bersama tiga teman wanitanya mengantarkan Danang pulang ke rumahnya di Kompleks Menzikon TNI AD, sekitar pukul 01.00, Ahad dinihari. Namun, saat mereka melintas di Pos RW 01 Kompleks Menzikon, beberapa anak muda yang nongkrong menggoda rekan wanita Valentino.

Saat Valentino pulang dari rumah Danang, ia dicegat dan dikeroyok sekelompok pemuda tersebut. Kemudian, Valentino, Danang, dan tiga rekan wanitanya diamankan di pos jaga Kompleks Menzikon.

Lalu, sekitar pukul 02.00, ada sekitar 20 pemuda yang merupakan teman Valentino mendatangi Kompleks Menzikon untuk balas dendam. Tapi dihadang warga Kompleks Menzikon di jembatan pintu gerbang Menzikon.

Penghadangan itu berujung tawuran antara kelompok pemuda dan warga. Hal itu membuat anggota jaga di Markas Menzikon meletuskan tembakan senjata api untuk membubarkan tawuran tersebut. Para pemuda itu langsung lari dan dikejar warga sampai depan Polsek Pasar Rebo. Hingga akhirnya anggota Polsek Pasar Rebo berhasil membubarkan tawuran tersebut.

Dalam tawuran itu, seorang remaja bernama Muhamad Saefullah, 15 tahun, warga Cipayung, meninggal dunia karena luka tembak. Dua orang lainnya juga mengalami luka tembak dan luka senjata tajam. Keduanya yakni Muh. Rizky, 19 tahun, warga Ciracas, yang mengalami luka tembak pada paha kanan, dan Zulham Harahap, 38 tahun, warga Kompleks Menzikon TNI AD, yang terluka pada kaki sebelah kiri akibat senjata tajam.

Ayah angkat Saefullah, Mat Ali, 38 tahun, tidak mengetahui pasti apakah anaknya itu terlibat dalam tawuran di depan Kompleks Menzikon. “Temen-temennya enggak ada yang cerita. Yang saya tahu, dia abis magrib atau isya hanya pamit ingin menonton panggung 17-an. Dia pergi sama temennya, diboncengin naik motor,” kata Mat Ali saat ditemui Tempo di rumahnya di Cipayung, Senin, 26 Agustus 2013.

Namun, ia dan ibu kandung Saefullah, Dian Nurnaningsih, 40 tahun, mengaku sudah mengikhlaskan kepergian anak bungsu dari tiga bersaudara itu. “Kami ikhlas dan sudah menyerahkan (kasusnya) ke polisi. Kami serahkan ke pihak berwajib,” ujarnya. Saefullah yang masih bersatus sebagai pelajar kelas 1 di SMK Kaula Jakarta, jurusan otomotif, itu tewas dengan luka tembak pada punggung sebelah kanan.

Categories
Korupsi Kriminalitas

Ketika Lapangan Golf Menjadi Ajang Lobi dan Korupsi Para Pejabat Indonesia


Semua berawal dari golf. Dari golf pula suami Matahari (bukan nama sebenarnya, red) mulai berubah gaya hidupnya, keluarga tak lagi menjadi prioritas. Perempuan lain mulai berseliweran dalam kehidupan rumah tangganya, hingga menceraikan Matahari tanpa alasan yang jelas.

“Saya tahu sekali, pejabat seperti Rudi Rubiandini itu tak cuma satu, tapi banyak sekali. Ini semua berawal dari golf lho,” ujar Matahari. Dalam suratnya, Matahari membagikan pengalamannya bagaimana jerat-jerat itu dimulai dari lapangan golf.

“Suami saya seorang pejabat tinggi, rumah tangga kami sedang di ujung tanduk. Sikap bapaknya anak-anak berubah semenjak dia memegang jabatan tinggi, memiliki kekuasaan, materi dan fasilitas. Salah satunya dari golf. Di golf itulah ‘setan’ berdatangan, yang awalnya hanya laki-laki semua, nanti berikutnya datang perempuan-perempuan, dilanjut makan-makan, main di luar negeri, taruhan, dsb,” tulis Matahari.

Dirinya yang mengasuh beberapa buah hati dari suaminya, sesekali pernah menemani. “Ya paling kalau diajak hanya driving-driving aja. Atau sesekali diajak kalau ada acara kenegaraan,” imbuhnya. Lama-kelamaan, suaminya beralasan main golf hingga ke luar negeri itu hanya untuk ‘ketemu teman’. Matahari makin lama mendapati ‘teman’ itu adalah perempuan yang akhirnya menjadi orang ketiga dari suaminya.

“Semua ini terus berlanjut, sampai suatu waktu saya digugat cerai tanpa sebab, saya dan anak-anak yang masih kecil-kecil ditelantarkan, tidak dinafkahi, dan sebagainya,” tuturnya. Menurutnya, selalu ada ‘perempuan’, baik di lapangan golf maupun di jamuan makan. Dan ‘perempuan’ itu, menurutnya, berasal dari instansi atau perusahaan di mana suaminya menghadiri acara.

“Semuanya fasilitas lho itu. Istilahnya mau main di mana, di dalam atau luar negeri, tinggal pilih saja,” tuturnya.

Pihaknya sempat melaporkan kelakukan suaminya ini ke atasan sang suami langsung agar ditegur. Namun hasilnya nihil. Atasan dan rekan suaminya, menurutnya saling melindungi karena memiliki kepentingan sendiri.

“Begitu saya kecewa terhadap sikap para pejabat di Indonesia, yang ternyata semua ‘saling’ melindungi satu sama lain. Sedangkan bagaimana nasib penerus bangsa ini, anak-anak yang saya perjuangkan nasibnya, sama sekali tidak menjadi perhatian mereka. Semua bagi mereka hanya demi nama baik, kekuasaan, jabatan, materi, sanjungan perempuan-perempuan, jamuan, fasilitas,” tuturnya kecewa.

“Saya tahu banyak pejabat seperti Pak Rudi itu. Istri-istri pejabat yang glamour itu, semua kehidupannya palsu. Di balik itu semua, negara ini akhirnya hanya menunggu detik-detik kehancuran. Krisis akhlak tidak menjadi perhatian,” sesalnya. Matahari bersyukur, kehidupannya kini menjadi lebih damai. Hikmah di balik itu semua, dirinya merasa dijauhkan Allah SWT dari kehidupan gemerlap dunia yang dinilainya palsu itu.

“Kini saya lebih tenang. Saya larinya lebih ke agama ya,” tutur perempuan yang kini berusaha menghidupi dan merawat anak-anaknya dari keterampilan yang dipelajarinya sejak masih gadis di bidang seni ini. “Semoga kisah saya ini bisa menjadi perhatian untuk para petinggi dan bahan renungan, bagaimana bahayanya golf yang bukan hanya sekedar olahraga, tapi golf adalah “pintu” masuk menuju kemaksiatan,” tutupnya.

Golf bagi segelintir pejabat pemerintah sudah menjadi gaya hidup. Tak bonafid kalau tak main golf. Bahkan bisa sampai ditertawakan. Karenanya tak sedikit, banyak diantara mereka yang bersusah payah memenuhi berbagai peralatan golf yang mahal.

“Saya kira kode etik pimpinan KPK perlu dicontoh yang melarang pimpinan KPK bermain golf,” kata mantan anggota Satgas Pemberantasan Mafia Hukum, Mas Achmad Santosa saat berbincang, Selasa (27/8/2013). Pria yang akrab disapa Ota ini tak melarang olahraga golf. Silakan saja siapapun main. Tapi khusus pejabat atau penyelenggara negara, baiknya memikirkan masak-masak.

“Pertama, peralatan golf dan keanggotaan mahal dan membuat pejabat negara dan pejabat pemerintah tidak terjangkau secara ekonomis. Dan eksklusifitas ini membuka peluang gratifikasi dan suap secara terselubung,” terang Ota yang pernah menjadi Plt pimpinan KPK ini.

Golf juga dikenal masyarakat sebagai olahraga kelas atas. Seorang penyelenggara negara yang gajinya dibayari rakyat sepertinya tak etis bila enak-enakan mengayun stik golf di lapangan. “Kedua, karena eklusifitas arena golf yang hanya dinikmati high end class, maka pada umumnya ajang ini digunakan lobi-lobi antara pengusaha, makelar proyek, dan pejabat pengambil keputusan,” tutupnya.

Golf ini kembali menjadi perbincangan. Adalah Rudi Rubiandini yang menjadi tahanan KPK yang buka suara. Mantan Kepala SKK Migas ini mengaku kasusnya dimulai karena golf. Soal golf ini diungkapkan Rudi Rubiandini. Dia mengaku kasus suap yang dijerat kepadanya bermula dari lapangan golf. Tak dirinci memang apa yang terjadi di lapangan golf itu, tapi salah satu yang ditangkap KPK sebagai perantara suap dari Kernel Oil itu Deviardi yang juga pelatih golf Rudi.

Sebelumnya Peneliti MTI, Jamil Mubarok juga menyatakan bahwa memang banyak transaksi dilakukan di lapangan golf. Selain itu modal untuk bermain golf yang mahal membuat permainan ini hanya bisa dimainkan kalangan kelas atas.

“Golf seringkali terdapat lobi-lobi, termasuk transaksi-transaksi, jika penyelenggara negara ada pada arena tersebut sangat besar kemungkinannya mendapat desakan untuk lakukan abuse terhadap kekuasaan yang disandangnya,” ujarnya saat diwawancarai secara terpisah.

Categories
Kriminalitas

Pembuat Senjata Rakitan Di Lubuklinggau Ditangkap Polisi … Para Pembelinya Masih Diburu


Jajaran Polres Kota Lubuklinggau, Sumsel, terus mengembangkan penyelidikan dan membidik pembeli senjata api rakitan buatan setempat.

“Kami sudah mengantongi nama-nama pembeli senjata rakitan, namun masih kesulitan menemukan barang buktinya,” kata Kapolres Lubuklinggau AKBP Dover Cristian melalui Kasat Reskrim AKP Karimun Jaya, Senin.

Ia mengatakan, senjata api rakitan yang dibuat salah seorang pengrajin Doni (36) pada salah satu bengkel di Kota Lubuklinggau, digerbek Kamis (22/8) malam yang diduga kuat sudah beredar, namun peredarannya masih dalam proses penyelidikan.

Saat ini pihaknya masih menetapkan satu orang tersangka yaitu Hambali (28) warga Kecamatan Rawas Ilir, sedangkan Agus (17) warga Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I saat ini masih diperiksa sebagai saksi.

Keduanya ditangkap di Tempat Kejadian Perkara (TKP) saat dilakukan penggrebekan pada salah satu Bengkel di Jalan Bukit Sulap, Kelurahan Jawa Kiri, Kecamatan Lubuklinggau Timur II.

Bengkel milik Pan (61) kesehariannya bergerak dibidang pembuatan teralis ini, diduga dijadikan tempat pembuatan senjata api (Senpi) rakitan.

Dari tempat kejadian perkara (TKP) polisi mengamankan barang bukti belasan Senpi rakitan laras panjang dan pendek berbagai jenis, selain itu polisi juga mengamankan Doni (35) anak Pan selaku pengelola bengkel.

“Kami terus melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap saksi serta tersangka mengenai sejauh mana tersangka terlibat dalam pembuatan dan melakukan peredaran Senpi tersebut. Saya yakin bahwa tersangka mempunyai jaringan lain,” ujarnya.

Saat dilakukan penggeledahan polisi menemukan satu buah kamar berukuran dua kali tiga meter dalam keadaan terkunci dan disamping kiri kanan pintu terdapat CCTV.

Setelah pintu dibuka polisi menemukan lima pucuk Senpi, peralatan pembauatan senjata, amunisi, laptop untuk mengawasi tamu yang datang, mesin kompresor, angkup penjepit besi, serta satu bong alat hisap shabu-shabu, jelasnya.

Categories
Perekomonian dan Bisnis

Database Lengkap Para Pengusaha Indonesia Untuk Keperluan Marketing


Menjamurnya situs atau blog penjualan database di internet karena kelonggaran peraturan dan belum diketahuinya larangan oleh pelaku. Alasan utama pelaku berani menjual database di internet karena tujuan membantu bukan untuk menipu.

Seperti diungkapkan salah seorang perintis usaha ini, NA, dengan situs yang khusus dibikinnya untuk menjual database. Detikcom berpura-pura meneleponnya sebagai pembeli untuk mengetahui sepak terjang NA. Pria yang berdomisili di Jepara, Jawa Tengah, ini melakukan penjualan database di internet sudah tiga tahun terakhir.

Di tengah perbincangan, ia mengaku tidak tahu sama sekali kalau memang ada peraturan khusus yang melarang penjualan data privasi karena bersifat rahasia. “Aku malahan belum tahu sih aturannya. Belum ketemu juga mesti bagaimana peraturannya, aku juga enggak tahu. Sekarang saja sudah bejibun di internet,” kata NA saat dikonfirmasi detikcom, Kamis pekan lalu.

Selama menjalankan bisnis ini, ia mengaku peminatnya cukup banyak. Hal ini dilihat banyak pembeli yang mencari database kontak untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). NA juga mengaku punya pelanggan dari berbagai kalangan seperti orang asuransi, partai politik, sampai staf pejabat.

Untuk sumber kontak di Jabodetabek atau luarnya, ia mendapatkan dari berbagai relasinya. NA mengklaim menjamin untuk data kontak kelas atas memiliki data lengkap mencakup nama, alamat, dan nomor ponsel.

Menurutnya, ia memperoleh data dari relasinya di perusahaan asuransi hingga event organizer yang sering menyelenggarakan acara berbagai seminar komunitas pengusaha. Adapun data nasabah diperoleh dari relasinya yang punya link kuat di perbankan. Saat ini, ia mengaku ada 90 ribu data nasabah kartu kredit yang sebagian besar ada di Jabodetabek.

Soal harga kontak Jabodetabek kelas atas, NA menjamin murah dengan garansi 100 persen. “Seribu nama Rp 100 ribu saja. Satu nomor harga Rp 100 sampai Rp 1000. Kenapa murah, karena Jabodetabek banyak data dan banyak yang cari. Saya di internet sudah tiga tahun. Insya Allah amanah. Garansi, saya ganti kalau tidak ada yang bisa,” ujarnya.

Sementara, NA juga punya 1 juta lebih database masyarakat umum di berbagai daerah. Namun, 60 persen tidak ada nama dan hanya nomor ponsel saja. Meski demikian, peminat nomor ini juga banyak di antaranya orang partai politik untuk kepentingan Pilkada.

Begitu juga para staf pejabat yang memesan daftar database masyarakat umum ini untuk kampanye program-program tertentu. “Ini Rp 1 per nomor. Kenapa harganya murah karena tanpa nama,” katanya menjelaskan.

Lanjutnya, dalam transaksi pembayaran, biasanya pelanggan NA melakukan transfer ke rekening. Bila uang sudah ditransfer, database akan segera dikirim ke alamat e-mail pemesan dalam waktu 30 menit setelah informasi uang sudah ditransfer. “Yang gampang-gampang saja via transfer,” ujarnya.

“Halo selamat siang, dengan Ibu Githa? Ibu saya mau verifikasi data, ini ibu mengajukan kartu kredit. Kebetulan kita lagi promo, kalau mengajukan sekarang bisa langsung diaproval,” suara seorang wanita itu mengagetkan Githa, 31 tahun.

Penulis lepas yang tinggal di Bekasi itu mengernyitkan kening tanda bingung dengan panggilan telepon tersebut tiga tahun lalu. “Ha? Sejak kapan, gua enggak punya rekening di bank itu, saya enggak mau mbak!” kata ibu satu anak ini sedikit meninggi saat menceritakan ulang kejadian itu kepada detikcom, Jumat (23/8) lalu.

Dia ingat tak pernah membuka rekening atau menjadi nasabah di salah satu bank swasta tersebut. Tapi sebelumnya Githa mengaku pernah mendaftar di salah satu penyedia asuransi pendidikan, meski akhirnya ia batalkan.

Dia pun menduga data yang didapat tenaga penjual bank swasta itu berasal dari data yang sempat ia berikan saat daftar asuransi. Karena itu ia tak lagi bertanya kepada si wanita di ujung telepon. “Kalau ditanyakan (darimana dia tahu data tentang kita) pasti dia akan jawab dari temannya dan kita enggak tahu siapa temannya jadi ya percuma,” kata Githa.

Githa sadar data yang sudah sempat ia berikan saat pernah mengajukan kartu kredit dan asuransi bakal sulit dijaga keamanannya. Pasalnya dari pengalamannya kerja di sebuah bank swasta, ia tahu bagaimana sistem peredaran data antartenaga pemasaran.

“Setahu gue memang marketing itu nakal-nakal, kan tenaga marketing itu berasal dari berbagai macam background dan bukan karyawan tetap, kadang yang kerja di bank A juga kerja di bank B. Jadi data customer bisa dimasukkan di bank A, kalau ditolak, ya sudah ditawarkan ke bank B,” ujar Githa membeberkan. “Jadi ada semacam jual beli data oleh oknum marketingnya, itu sudah sudah lama, sudah busuk.”

Adanya klausul bahwa bank menjamin keamanan data nasabah, menurut Githa, hanya sebatas data transaksi dan berlaku untuk tabungan. Adapun untuk kredit, keamanan database nasabah tidak terjamin. “Ada teman gua yang sudah senior di marketing dia bilang ‘kalau kita sudah pernah sekali saja memasukan data pribadi kita di kartu kredit pasti (data itu) akan ke mana-mana’,” kata dia.

Githa hanya salah satu contoh dari sekian banyak orang yang mengalami hal serupa.
Di Bekasi, Meir Situmorang, 27 tahun, pun tak kalah direpotkan dengan panggilan-panggilan di nomor telepon pribadinya. Karyawati di sebuah perusahaan elektronik di Jakarta ini tiga bulan lalu terkejut saat ada panggilan dari orang yang mengaku kerja di sebuah bank swasta dan menawarkan aplikasi kartu kredit.

Sambil memanggil namanya, si penelepon berusaha membujuk Meir dengan rupa-rupa rayuan. “Dia bilang ‘selamat Anda terpilih untuk bisa memenangkan 1 set lock and lock dengan apply kartu kredit’. Katanya kartunya enggak digunain juga gak apa-apa, gak ada biaya, bahkan mau dianterin ke rumah,” ungkap Meir kepada detikcom, Kamis (22/8) lalu.

Tawaran-tawaran semacam itu terus berdatangan sekali dalam dua hari sehingga dirasanya sangat mengganggu. Meir pun tak habis pikir dari mana si penelepon mendapat datanya. Ia sangat yakin tak pernah memberikan data pribadi ke bank tersebut.
“Aku tanya mereka tahu dari mana, jawabnya cuma dapat data saja, aku bilang ‘wah kalian kerja sama jual data ya’ terus mereka ada yang ngaku bilang ‘iya, dikasih dari bank lain’,” tuturnya kesal.

*****

Panggilan telepon dari para tenaga pemasaran yang mencoba mendekati Maringan Harianja, 25 tahun, rupanya sangat sering hingga membuatnya kesal. Menurutnya, setelah datanya tersebar seusai membuat aplikasi kartu kredit di sebuah bank, banyak penelepon yang menawarkan aneka rupa produk mulai dari asuransi hingga kartu kredit tambahan.

Pengalaman tersebut juga dirasakan oleh empat teman sekantor Maringan sesama pegawai negeri sipil di Pemerintah Daerah Binjai, Sumatera Utara, yang sama-sama mengajukan kartu kredit. “Lucunya kami bisa berbarengan ditelepon. Mereka juga agresif, kalau ditolak halus dengan “sore aja ya’, mereka pasti hubungi lagi sorenya,” kata Maringan ketika bercerita kepada detikcom, Kamis (22/8) lalu.

“Pernah juga ada teman kantor yang beralasan sedang rapat, besoknya ditolak lagi dengan alasan yang sama, eh yang nelepon itu nyindir bilang ‘hebat juga Bapak ya, tiap hari rapat mulu’,” ungkap Maringan melanjutkan.

Awalnya ia pun sering mengangkat telepon dan menolak tawaran dengan halus. Tapi jika jengkel, ia menandai nomor para penelepon dan memilih me-rejectnya tanpa basa-basi. “Biasanya kelihatan tuh mereka pakai nomor dengan kode di awal 022 XXXXX atau pakai nomor ponsel, di mana nomor ponselnya banyak nomor kembarnya seperti 08XXX9666XXX. Ya sudah, kalau udah nomor mencurigakan kayak gitu, langsung reject,” tuturnya.

Sementara Githa ogah perang urat syaraf atau menghabiskan energi dengan marah pada si penelepon yang tak pernah bosan menghubunginya. “Dulu untuk menghindar biar enggak ditelepon lagi ya gua bohong dan kasih data palsu. Pas dia verifikasi, gua bilang saja ‘wah alamatnya sudah ganti, kerjanya juga’, pokoknya gua bikin keder,” ungkapnya.

Sayangnya, telepon itu tak kunjung berhenti meski ia sudah kasih data dan alamat palsu. Saking kesal karena terlalu sering menerima telepon yang menawarkan kartu kredit, Githa akhirnya memilih membuang kartu telepon selular lamanya. “Akhirnya aku ganti kartu saja.”

Memegang tiga jenis brosur dan pulpen, wajah Nur Aini, 21 tahun, penuh harap menggaet calon nasabah yang bersedia membuat kartu kredit untuk salah satu bank swasta. Namun, hari itu memang sepi karena sejak pagi dirinya baru dapat satu pengunjung mal yang mau bikin kartu kredit.

Bertempat di dekat Atrium India, Mal Artha Gading, Jakarta Utara, Aini bersama lima rekannya berlomba mencari pengunjung mal yang baru turun dari eskalator. Sejumlah nasabah yang hadir bersama keluarganya untuk sekadar jalan-jalan juga tidak lepas dari incaran penawarannya.

Dia mengeluarkan jurus rayuan hingga tawaran hadiah boneka gantungan kunci kepada yang bersedia. Tapi, sebagian besar pengunjung mengacuhkan. Kadang, tidak mempedulikan kehadiran Aini dan teman-temannya sama sekali. “Sepi Bang sampai jam 4 sore. Baru berdua aja yang dapat. Itu juga satu-satu,” kata Aini mengungkapkan ketika ditemui detikcom, Jumat pekan lalu.

Aini mengaku mendapat tugas dari atasannya, koordinator area Jakarta Utara, ditempatkan di Mal Artha Gading selama tiga hari. Ia menceritakan tugasnya tidaklah mudah karena setiap sales ada target sehari harus mendapatkan delapan nasabah kartu kredit.

Bila dapat delapan nasabah dalam sehari, bonus siap menanti dengan fee sekitar Rp 350 ribu. Adapun kalau hitungan satu nasabah mendapatkan fee Rp 40 ribu. “Susah bisa dapat delapan, target bikin stres. Sehari dapat empat aja udah syukur. Itu juga udah ditawarin macam-macam hadiah,” ujar perempuan yang baru setahun menggeluti sales kartu kredit ini.

Dalam kerjanya, Aini juga tidak menampik kalau ia pernah menyebarkan satu data nama ke beberapa teman sales dan atasannya. Tapi, itu berdasarkan instruksi teman-teman yang lebih senior. Ia hanya mengetahui kalau data itu sudah dikumpulkan dan banyak, akan dicarikan “link” yang membutuhkan.

Biasanya hal ini dilakukan kalau sepi fee dari pembuat kartu kredit. “Kalau sudah laku, biasanya kita-kita yang kasih data dapat uang jajan makan bakso lah. Dipakai buat apa, saya kurang ngerti,” ujarnya.

Namun, untuk sekarang, kebiasaan itu sudah berkurang karena kerap mendapat peringatan langsung dari perusahaan outsourcing maupun bank bersangkutan. Menurut Aini, berbeda dengan setahun lalu yang masih longgar karena sesama teman sales kartu kredit bisa saling menukar data nasabah.

Bahkan, kata Aini meneruskan, seorang temannya lima bulan lalu pernah menjual daftar nama baru kepada marketing surat kabar untuk dijadikan referensi pelanggan medianya.

Untuk harga, ia tidak mengetahui karena bisa negosiasi. Tapi, biasanya misalkan 300 nama serta nomor ponsel yang aktif bisa dijual Rp 100 ribu. Cara lain, dulu kalau setiap sales ada data 20 nama yang baru dalam seminggu itu bisa jadi duit misalkan ada sales lain di lapangan yang membutuhkan.

Tapi, itu juga pilih-pilih teman dan asal tidak ketahuan sama perusahaan ataupun bank langsung. “Sekarang kalaupun ada itu hati-hati. Yang udah kenal-kenal saja. Soalnya agak ketat sekarang. Duitnya enggak seberapa, tapi kan sanksinya bisa dipecat kan, Bang,” katanya.

*****

Abdi Adirengsa, 31 tahun, terlihat tegang karena perintah bosnya mengharuskan dirinya mendapatkan data terbaru untuk pencarian pelanggan. Koordinator telemarketing di salah satu perusahaan media ini mengaku relasi yang dikontaknya hanya punya daftar nama lama dan belum ada yang baru.

“Iya nih, bro. Gue sudah kontak tiga orang yang langganan, mereka belum ada yang baru. Nah, kan anak-anak ingin telepon-telepon cari pelanggan,” kata Abdi kepada detikcom, Kamis pekan lalu.

Dia mengakui biasanya dapat data baru sebulan sekali dari relasinya divisi marketing, marketing komunikasi, dan sirkulasi. Sekali dapat, daftar nama kontak bisa mencapai 500–800 lengkap dengan nomor ponselnya. Untuk harga, biasanya 500 nama dibeli Rp 200 ribu. Sementara, untuk 800-1000 nama serta kontak bisa dibanderol Rp 300 ribu. Harga tersebut masih bisa negosiasi karena sudah menjadi langganan.

Disinggung asal sumber data, Abdi hanya mengetahui biasanya dari database sales bank. “Itu urusan orang lapangan yang sudah kenal. Gue juga udah kenal sih, cuma biasanya mesan sama yang sekalian jalan. Nanti kan bisa dikirim email atau di simpan di flash disk,” ujar pria kelahiran Banten ini.

Menurut dia, meski di internet semakin menjamur mempromosikan penjualan database, tapi tidak menjamin validasi data. Memang kalau dari harga, jauh lebih murah. Tapi, tidak ada garansi karena penjual tidak pernah menggunakan.

Ia menyebut, nasabah kartu kredit diminati datanya karena dianggap royal dan doyan belanja. “Nyari yang pasti-pasti saja. Ada juga sih database asuransi. Tapi, lebih bagus yang kartu kredit,” katanya.

Categories
Lain Lain

Ledakan Besar Di Mangga Besar … Listrik Langsung Padam


Pipa bawah tanah di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, dilaporkan meledak pada Rabu (21/8/2013) malam. Usai ledakan, aliran listrik di sekitar lokasi padam. Informasi yang beredar di Twitter pada Rabu malam ini menyebutkan ledakan diduga dari pipa gas. Namun, inof lainnya menyebutkan ledakan tersebut berasal dari kabel listrik bawah tanah yang terbakar.

“Kabel Bawah Tanah di Jl. Mangga Besar Raya 7 terbakar. 1 unit mobil dinas pemadam kebakaran Jakarta Barat diluncurkan ke lokasi,” kicau akun Twitter ‏@SonoraFM92. Informasi dari akun @lewatmana, ledakan tersebut terjadi persis di depan Hotel Astika Mangga Besar. Arus lalu lintas ke arah Rumah Sakit Husada pun menjadi padat merayap.

Satu dari empat korban ledakan di kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat, adalah anggota DPRD Bengkulu Selatan, Bengkulu. Dia adalah Haidar Saito (44). “Benar, dia anggota DPRD Bengkulu Selatan. Dia kena luka bakar di muka,” kata Kepala Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat, Komisaris Hadi Vivi, Kamis (22/8/2013) dini hari.

Haidar berada di Jakarta dalam rangka kunjungan kerja. Saat ledakan terjadi, dia tengah mencari makan malam di kawasan tersebut. Kepala Polres Jakarta Barat Kombes M Fadil Imran mengatakan, ledakan di kawasan Mangga Besar ini terjadi karena hubungan pendek arus listrik. Ledakan pertama terjadi pada Rabu (21/8/2013) pukul 20.30 WIB, dan ledakan susulan terjadi di salah satu titik pada Kamis (22/8/2013) pukul 00.20 WIB.

Pada peristiwa pertama, ledakan terjadi di beberapa titik, yakni:
1. Satu titik di depan Hotel Astika di Jalan Mangga Besar Raya.
2. Dua titik di depan Oasis Spa di Jalan Mangga Besar Raya.
3. Satu titik di depan Biliard Utama di Jalan Mangga Besar Raya.
4. Dua titik di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7.

Dalam ledakan pertama, empat orang mengalami luka bakar. Mereka adalah Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Para korban dirawat di Rumah Sakit Husada. Saat ini polisi juga tengah meminta keterangan dari para saksi ledakan ini di Polsek Metro Taman Sari, Jakarta Barat. Setelah meminta keterangan saksi, kepolisian berencana meminta keterangan dari PLN.

Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran mengatakan, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) malam, bukan akibat dari pipa gas bawah tanah. Ledakan terjadi akibat hubungan pendek arus listrik bawah tanah di empat tempat di sekitar jalan tersebut lebih kurang pukul 20.30. Fadil mengatakan, total ada enam titik ledakan di sepanjang jalan tersebut. Satu titik ledakan berada di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar Raya. Satu titik lagi terjadi di depan Biliard Utama di jalan yang sama. Sementara empat ledakan lain terjadi di dua titik di depan Oasis Spa, Jalan Mangga Besar Raya; dan dua titik di depan Madonna Club, Jalan Mangga Besar 7.

Pantauan pada pukul 22.55, arus lalu lintas tersendat di Jalan Mangga Besar Raya mengarah ke Gajah Mada dan sebaliknya. Warga yang penasaran dengan kejadian itu berkerumun di dekat lokasi kejadian. Lokasi kejadian masih dijaga ketat oleh aparat Polsek Taman Sari, Jakarta Barat. Ledakan yang terjadi di Mangga Besar, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) sekitar pukul 20.30 WIB bukan berasal dari pipa gas seperti diberitakan sebelumnya, melainkan kabel listrik bawah tanah yang terbakar. Kabel terbakar di empat titik.

Selain mengakibatkan kebakaran, ledakan juga mencederai empat orang. Empat orang itu kini dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta, sementara kebakaran sudah dipadamkan pada sekitar pukul 21.30 WIB. “Jadi bukan gardu, melainkan rangkaian kabel,” ujar Kepala Polsek Metro Tamansari Komisaris Adri Vivid, Rabu. Saat ini, petugas sedang melakukan perbaikan terhadap kabel-kabel tersebut. Sampai berita ini diturunkan, listrik di sekitar lokasi kejadian masih padam.

Arus lalu lintas di sekitar kawasan Jalan Mangga Besar, Jakarta Pusat, Rabu (21/8/2013) malam ini, macet parah akibat terjadinya insiden ledakan keras dari pipa bawah tanah. Selain karena lokasi titik ledakan yang memakan sedikit badan jalan, kemacetan diperparah dengan banyaknya warga yang berkumpul dan berkerumun di sekitar titik ledakan. Ledakan dilaporkan terjadi di 6 titik sekitar Jalan Mangga Besar mulai wilayah Taman Sari sampai Sawah Besar, Rabu (21/8/2013) malam pukul 20.30 WIB.

Ledakan ini mengakibatkan 4 orang mengalami luka bakar, yakni Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Ledakan juga mengakibatkan permukiman warga di sekitarnya mengalami mati lampu. Zandre Badak (27), seorang pengendara mobil yang melintas di Jalan Mangga Besar menuju Jalan Gunung Sahari, mengaku tertahan hampir satu jam di Jalan Mangga Besar.

“Macet parah, banyak orang berkerumun, katanya ada ledakan. Selain itu lampu di sekitarnya mati,” kata Zandre. Menurut Zandre, kemacetan berdampak sampai lampu merah Olimo di Jalan Hayam Wuruk. “Pantas dari Olimo, Mangga Besar, dan Kartini gelap semua. Katanya karena ledakan ini,” kata Zandre.

Ia mengatakan, beberapa petugas kepolisian yang mengatur lalu lintas tidak dapat berbuat banyak dengan adanya kemacetan ini. “Karena selain warga yang bekerumun, banyak pengendara berhenti mau melihat lokasi ledakan,” kata Zandre. Diberitakan sebelumnya, ledakan akibat hubungan pendek arus listrik di bawah tanah atau gorong-gorong terjadi sedikitnya di 6 titik di sekitar Jalan Mangga Besar Raya, Rabu (21/8/2013) pukul 20.30. Akibat peristiwa ini, 4 orang mengalami luka bakar dan dilarikan ke RS Husada, Jakarta Barat.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto menuturkan, 6 titik lokasi ledakan akibat hubungan pendek arus listrik bawah tanah di Jalan Mangga Besar itu adalah di depan Hotel Astika (satu titik), di depan Oasis Spa (dua titik), di depan Bilyard Utama (satu titik), dan dua titik ledakan di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7.

Dari penyelidikan sementara, kata Rikwanto, penyebab ledakan bukan pipa gas, melainkan hubungan pendek arus listrik bawah tanah. “Penyebabnya arus pendek listrik,” kata Rikwanto. Menurutnya pula, seorang saksi mata saat ini masih diperiksa di Polsek Taman Sari untuk penyelidikan lebih lanjut. Ledakan besar kembali terjadi di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat, Kamis (22/8/2013) dini hari. Ledakan pada pukul 00.20 WIB ini terjadi di lokasi yang beberapa saat sebelumnya meledak. “Tiba-tiba terjadi suara letukan keras. Untung kondisi sudah sunyi,” kata Kalwi, Babinsa Koramil dari Taman Sari, Jakarta Barat, kepada wartawan, Kamis (22/8/2013) dini hari. Dia yang mengaku baru hendak mencari makan dikagetkan dengan suara ledakan tersebut.

Menyusul terjadinya ledakan kedua ini, Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, ditutup dan arus lalu lintas dialihkan ke Jalan Mangga Delapan. Warga pun diminta menjauh dari lokasi ledakan. Garis polisi sudah dipasang pula. Adapun arus lalu lintas dari Jalan Gunung Sahari menuju Jalan Mangga Besar tetap diizinkan melintas.

Sebelumnya, akibat ledakan di Jalan Mangga Besar Raya, empat korban yang mengalami luka bakar dilarikan ke Rumah Sakit Husada. Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran MSI mengatakan, ledakan diduga dipicu hubungan pendek arus listrik di bawah tanah yang kemudian memunculkan ledakan di beberapa titik, Rabu (21/8/2013) pukul 20.30 WIB.

Lokasi-lokasi ledakan pertama adalah:
1. Satu titik di depan Hotel Astika di Jalan Mangga Besar Raya.
2. Dua titik di depan Oasis Spa di Jalan Mangga Besar Raya.
3. Satu titik di depan Biliard Utama di Jalan Mangga Besar Raya
4. Dua titik di depan Madonna Club di Jalan Mangga Besar 7

Empat orang yang menjadi korban luka dalam ledakan pertama diidentifikasi sebagai Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Saat ini polisi juga tengah meminta keterangan dari para saksi ledakan, di Polsek Metro Tamansari, Jakarta Barat. “Kami minta keterangan saksi dulu, baru (kemudian) kami akan meminta keterangan kepada PLN (yang menangani) wilayah Taman Sari,” kata Kepala Polsek Taman Sari Komisaris Hadi Vivid, Rabu (21/8/2013) malam.

Empat orang mengalami luka bakar akibat ledakan di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu (21/8/2013) malam.
Keempat korban tersebut adalah Heru Kurniawan (23), Haidar Saito (44), Arsyad (37), dan Saeful Junandar (29). Para korban tengah dilarikan ke Rumah Sakit Husada. Polisi masih memeriksa saksi-saksi yang mengetahui ledakan di enam titik tersebut. Kasus ini tengah ditangani Polsek Metro Taman Sari.

“Yang jelas kita memeriksa saksi-saksi dulu yang mengetahui terjadinya ledakan, baru kami akan meminta keterangan kepada PLN wilayah Taman Sari,” kata Kepala Polsek Metro Taman Sari Komisaris Hadi Vivid kepada Kompas.com di lokasi kejadian, Rabu. Kepala Polres Metro Jakarta Barat M Fadil Imran mengatakan, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, Rabu malam, bukan akibat dari pipa gas bawah tanah. Ledakan diakibatkan oleh hubungan pendek arus listrik bawah tanah di empat tempat di sekitar jalan tersebut, lebih kurang pada pukul 20.30.

Fadil mengatakan, secara total terdapat enam titik ledakan di sepanjang jalan tersebut. Satu titik ledakan berada di depan Hotel Astika, Jalan Mangga Besar Raya. Satu titik lagi di depan Biliard Utama di jalan yang sama. Sementara itu, empat ledakan lain terjadi di dua titik di depan Oasis Spa, Jalan Mangga Besar Raya; dan dua titik di depan Madonna Club, Jalan Mangga Besar 7. Berdasarkan pantauan Kompas.com pada pukul 22.55, arus lalu lintas tersendat di Jalan Mangga Besar Raya mengarah ke Gajah Mada dan sebaliknya. Warga yang penasaran dengan kejadian itu berkerumun di dekat lokasi kejadian. Lokasi masih dijaga ketat oleh aparat Polsek Metro Taman Sari.

Menteri BUMN Dahlan Iskan membantah, ledakan yang terjadi di Jalan Mangga Besar Raya, Jakarta Barat, pada Rabu (21/8/2013) malam disebabkan adanya program pembaruan kabel bawah tanah 1.000 kilometer yang dilakukan PT PLN (Persero).

Dahlan menegaskan, ledakan terjadi karena adanya hubungan arus pendek listrik bawah tanah pada kabel lama, di mana disekitar lokasi terdapat galian.

“Biasanya kalau ada gangguan, gardunya dimatikan meskipun berakibat pemadaman yang luas. Tetapi kemarin itu gardunya tidak mati, wilayah pemadaman kecil, ya akibatnya terjadi ledakan itu,” jelas Dahlan kepada KONTAN di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2013).
Mantan Direktur Utama PT PLN (Persero) tersebut menambahkan, gardu listrik juga memiliki fungsi seperti sekering listrik yang mencegah menjalarnya dampak gangguan arus listrik.

Dahlan bilang, pemadaman dampak ledakan kemarin dilakukan selama empat jam. “Tapi itu tidak semua. Penormalan dilakukan per wilayah. Ada juga yang dalam dua jam, jaringan listrik sudah pulih,” ucapnya.

Sebagaimana diberitakan, Rabu kemarin tadi terjadi ledakan cukup keras yang menggegerkan warga sekitar Mangga Besar, Jakarta Barat. Ledakan tersebut bersumber dari kabel bawah tanah yang ditanam di sepanjang Jalan Mangga Besar Raya