Categories
Transportasi

Bus Giri Indah Masuk Jurang 18 Orang Tewas … Sopir Cukup Cekatan dan Selamat Karena Lompat Begitu Bus Tak Terkendali


Untuk sementara, korban tewas kecelakaan bus di Cisarua, Bogor, berjumlah 18 orang dan 37 terluka. Sopir bus selamat, tidak ikut jadi korban. “Sopir ada di RS Polri Kramatjati,” kata Kasat Lantas Polres Bogor AKP Muhammad Chaniago di lokasi kejadian, Rabu (21/8/2013). Tak dijelaskan secara rinci bagaimana sopir bisa selamat dalam kecelakaan itu. Polisi belum bisa menginterogasi karena sopir terluka serius. Di RS, ia dijaga polisi.”Masih dirawat, belum bisa diperiksa,” jelasnya.

Berdasarkan identifikasi polisi, sopir bus maut itu bernama Moh Amin (49) berasal dari Brebes, Jawa Tengah. Diduga, ia selamat setelah meloncat saat bus menabrak sepeda motor, pikap, dan warung, lalu terjun ke sungai. Sebelum kecelakaan di Cisarua, Bogor, bus Giri Indah ‘menyapu’ mobil pikap, sepeda motor, dan warung. Bagaimana detik-detik kecelakaan tersebut? Seperti apa situasinya? Berikut keterangan penjaga warung yang berada di dekat lokasi.

Dani (23), penjaga warung itu, menceritakan sekitar pukul 08.15 WIB, di dekat warungnya ada pikap pengangkut tabung gas tengah parkir. Sopir dan kernetnya baru saja keluar, merapikan muatannya. Seorang warga nongkrong di warung. Tak berapa lama, dari arah Puncak (Sukabumi) sebuah bus muncul. “Di sini kan tikungan. Bus terlihat melaju dari atas. Langsung nyelonong, menabrak orang yang nongkrong, pikap, dan warung,” kata Dani.

Dani menambahkan saat melaju, bus sudah dalam kondisi oleng dan tak terkendali. Bus menyapu segala yang di depannya, kemudian terjun ke sungai. “Sopirnya (pikap) berhasil menghindar, sepertinya kernet kena. Kejadiannya cepat sekali,” katanya.

Bus terjun ke sungai. Posisinya terbalik. Beberapa bagian bus ringsek. Hingga pukul 12.30 WIB, bus yang mengangkut jemaat gereja menuju Jakarta itu belum dievakuasi. Tidak semuanya jemaat GBI Rahmat Emmanuel ikut dalam rombongan bus Giri Indah yang jatuh ke jurang di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Salah satunya, Oli, yang ikut kegiatan doa bersama di Kota Bunga, Cipanas bersama rombongan bus namun memilih balik Jakarta dengan kendaraan pribadi.

Sesampainya di Jakarta, bersama dua rekannya langsung menuju RS Paru Cisarua, Bogor, ikut membantu melakukan identifikasi teman-temannya yang menjadi korbaan kecelakaan maut itu. “Saya kembali lagi ke sini. Saya mau identifikasi teman-teman saya di dalam,” ujar Oli di RS Paru Dr M Goenawan Partowidigdo, Cisarua, Rabu (21/8/2013).

Menurut Oli, dirinya tiba lebih cepat di Jakarta dari teman-temannya yang menggunakan bus. Namun setelah mendapatkan kabar kecelakaan maut itu, dirinya bersama dua rekannya memutuskan kembali ke Cisarua untuk memberikan pertolongan. “Waktu berangkat enggak ada apa-apa. Harusnya baik tapi saya enggak tahu kenapa,” kata Oli dengan nada sedih.

Ali menjelaskan para jemaat gereja berangkat menuju Jakarta pada pukul 07.00 WIB. Diperkirakan jumlah penumpang yang naik bus naas tersebut sekitar 50 orang. Mereka berada di Kota Bunga sejak hari Minggu (18/8) kemarin. “Jadi kami tiap bulan mengadakan doa bersama,” ucapnya. Pantuan di RS Paru Dr M Goenawan Partowidigdo, Cisarua, ambulans masih terlihat hilir-mudik untuk membawa para korban. Rumah sakit itu ramai dipadati oleh warga sekitar. Belum terlihat keluarga korban yang datang ke rumah sakit tersebut.

Dua sopir bus Giri Indah yang terjerumus ke sungai di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, berhasil selamat dari kecelakaan maut itu. Kepada polisi, sopir cadangan bus Giri Indah mengakui rem kendaraannya blong. “Itu kan turunan. Dia bilang blong,” kata Kanit Lantas Polsek Cisarua AKP Mashudi. Mashudi menanyakan penyebab kecelakaan tersebut kepada Toto Harsono yang merupakan sopir cadangan bus Giri Indah, Rabu (21/8/2013).

Toto Harsono dan Amin (40), yang merupakan sopir utama bus Giri Indah, saat ini mendapatkan perawatan di RS Paru Cisarua. Keduanya mengalami luka-luka. Amin merupakan sopir yang mengemudikan bus Giri Indah saat terjadi kecelakaan. “Sopir selamat dan mengalami kuka-luka. Dia (sopir) dibawa ke sini dan perlu perawatan,” kata Mashudi. “Perlu perawatan. Sudah diamankan,” imbuhnya.

Amin direncanakan akan dirujuk menuju RS Sentra Medika Bogor bersama beberapa penumpang lainnya. Sementara Toto akan dirawat di RS Paru. “Itu tadi ada di sini,” kata seorang polisi lainnya yang memberikan informasi soal keberadaan Toto. Bus Giri Indah mengalami kecelakaan di Cisarua, Bogor. Belum diketahui penyebabnya. Ini foto dahsyatnya kecelakaan tersebut.

Posisi bus berwarna putih ini terbalik dan menggantung, Rabu (21/8/2013). Sebagian badannya berada di atas sungai. Sebagian lainnya ‘nyantol’ di tepi sungai. Bagian atas bus remuk di beberapa bagian.Air di sungai dangkal dan tak terlalu deras. Terlihat jelas, kursi-kursi bus berwarna biru berada di sungai. Kondisinya berserakan.

Sungai tersebut berada sekitar 7 meter di bawah jalan utama Cisarua. Lebar sungai 3-4 meter. Airnya gemericik. Di selanya bebatuan terlihat menonjol ke permukaan. Bus itu jadi tontotan ratusan warga. Aparat kepolisian dan TNI serta Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) datang dan mengamankan lokasi. Hingga pukul 12.00 WIB, bus masih belum bisa dievakuasi. Informasi dari warga dan saksi, sebelum masuk sungai, bus menabrak mobil dan warung. Berdasakan data sementara, 18 orang tewas dan 37 orang terluka dalam kecelakaan tersebut.

Selain 18 korban tewas, ada juga 35 penumpang bus Giri Indah lainnya yang luka. Mereka masih menjalani perawatan di IGD RS Paru DR M Goenawan Partowidigdo. Ini daftarnya.

Data ini dipajang di depan ruang IGD, Rabu (21/8/2013), sekitar pukul 12.30 WIB. Total korban di rumah sakit tersebut ada 18 tewas dan 35 luka-luka. Korban luka lainnya dirujuk ke RS Sentra Medika.

Berikut daftar lengkap para korban luka di RS Paru DR M Goenawan Partwidigdo:

1. Bona Sudrajat – (Rawat Anggrek)
2. Natan – (Rawat Mawar)
3. Toto H – (Pulang)
4. Vonny – (Rawat Anggrek)
5. Sarah – (Rawat Mawar)
6. Hesron
7. Mardianah
8. Soara
9. Kimta
10. Kornelius (Rawat mawar)
11. Sri Suhardo (Rawat Melati)
12. Heson
13. Nita
14. Steven
15. Su’yen
16. Sony Purbo
17. Murniati Ginting – (Rawat Mawar)
18. Harry – (Rawat Mawar)
19. Iing
20. Nimpan Tarigan – (Rawat Anggrek)
21. Merry
22. Yuliani – (Rujuk RS Sentra Medika)
23. Lili – (Rujuk RS Sentra Medika)
24. Louse – (Rujuk RS Sentra Medika)
25. Vivi Novianti
26. Elsye – (Rawat Melati Lantai 2)
27. Amin – (Rawat Melati Lantai 2)
28. Berta – (48) (Rawat Melati Lantai 2)
29. Liana
30. Ciing (60)
31. Koimun (Rujuk RS Sentra Medika)
32. Eman (Rujuk RS Sentra Medika)
33. Martin (Rujuk RS Sentra Medika)
34. Meryana
35. Nurdin

Categories
Lain Lain

Gedung Kampus Institut Kesenian Jakarta IKJ Cikini Terbakar


Kebakaran terjadi di gedung kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Cikini, Jakarta Pusat. 16 unit mobil pemadam kebakaran (damkar) dikerahkan untuk menjinakkan api.

“Yang terbakar gedung IKJ,” ujar salah seorang petugas Suku Dinas Damkar Jakarta Pusat yang enggan menyebutkan namanya saat dihubungi, Selasa (20/8/2013).

Api diketahui mulai membakar gedung sekitar pukul 17.30 WIB. Diduga kebakaran disebabkan karena korsleting listrik.

“Sekitar jam 17.30 tadi. Petugas sudah di lokasi kejadian,” katanya.

Belum diketahui apakah ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini. Saat ini petugas masih di lokasi kejadian untuk menjinakkan api.

Kebakaran terjadi di Jalan Asofa Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat akhirnya padam. Akibat kebakaran tersebut, 2 toko mebel dan atap rumah kontrakan hangus terbakar.

Menurut Kasie Ops Damkar Jakarta Barat, kebakaran padam sekitar pukul 09.30 WIB. Kebakaran terjadi dikarenakan arus pendek dari toko mebel.

“Sudah padam dan kebakaran karena arus pendek,” ujar Agus Surya Mandala, Selasa (20/8/2013).

Agus juga mengatakan, tidak ada korban meninggal dalam peristiwa ini. Namun, ada beberapa orang yang terluka karena pecahan kaca.

“Tadi satu orang luka karena mau ngambil barang-barangnya nggak hati-hati. Tapi sudah dalam penanganan petugas,” imbuh Agus.

Categories
Pencinta Lingkungan

Taman Nasional Gunung Merapi Selidiki Informasi Adanya Macan Tutul di Sawah


Empat kambing milik warga Dusun Kopeng, Kepuharjo, Cangkringan, Sleman ditemukan mati, Selasa (20/08/2013) pagi. Diduga kematian empat hewan ternak milik Margoto (42) itu disebabkan oleh macan yang turun dari hutan di lereng Merapi.

Margoto mengatakan, sekitar pukul 06.30 WIB, tetangganya yang bernama Suminem melintas di dekat kandang. Saat itu, ia melihat ada satu kambing tewas di luar kandang. Lalu Suminem memberitahukan peristiwa itu kepada Margoto. “Tiga (kambing, red) ditemukan mati di dalam kandang dan satu sudah di luar, kira-kira berjarak empat meter dari kandang. Dua kambing masih berusia dua bulan dan dua lagi usianya satu tahun,” jelas Margoto, Selasa (20/08/2013).

Berdasarkan jejak yang ditemukan di sekitar kandang dan bekas cakaran di tubuh empat kambing yang mati, warga memperkirakan kematian hewan ternak tersebut disebabkan serangan macan. “Satu kambing mati dengan kondisi usus keluar. Sementara beberapa kambing ada bekas cakaran di bagian punggung,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kepuharjo Heri Suprapto menegaskan, kuat dugaan empat ternak yang ditemukan mati disebabkan serangan macan, karena hewan buas itu pernah terlihat melintas di Daerah Jambu. “Tiga bulan yang lalu ada warga Jambu pernah melihat macan melintas di kebun. Bulunya kuning kecoklatan,” jelasnya.

Akibat serangan tersebut, Margoto mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 3 juta. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menurunkan tim investigasi guna memastikan informasi warga Dusun Bawukan, Balerante, Klaten yang melihat tiga ekor macan berjalan di area persawahan pada Kamis (6/6/2013) kemarin. Namun demikian, berdasarkan sifat dasar binatang karnifora itu, TNGM meyakini apa yang dilihat warga bukanlah macan.

Koordinator pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Gunung Merapi ( TNGM) Asep Niakurnia mengatakan, pihaknya sudah melakukan komunikasi dan berkoordinasi dengan Polisi Hutan setempat. Tim juga sudah ke lokasi untuk melakukan investigasi. Dari hasil awal, warga mengaku selama ini belum pernah melihat adanya macan di wilayahnya.
“Macan itu sifat dasarnya menjauhi manusia, karena itu kemungkinan yang dilihat warga bukan macan, melainkan kucing hutan,” terangnya, Jumat (7/6/2013).

Ia menjelaskan, saat ini rumput di lereng Merapi sudah tumbuh subur sehingga kesediaan makanan untuk hewan herbifora sudah cukup melimpah. Dari fakta itu kecil kemungkinan hewan karnifora sejenis macan turun ke desa untuk mencari makan.
“Indikasi macan turun untuk mencari makan jelas persentasenya kecil. Kecuali warga tersebut terlalu masuk ke dalam hutan,” ujarnya.

Di sisi lain, kata Asep, kemunculan hewan jenis macan bisa menjadi indikator bahwa habitat ekosistem di lereng Merapi sudah kembali normal pascahancur akibat erupsi Merapi 2010 lalu. “Sebelum Erupsi 2010, di lereng Merapi memang terdapat beberapa jenis hewan termasuk macan tutul dan kumbang,” katanya.

Categories
Kreatif

Pemkab Klaten Luncur Balon Wi-Fi Pertama Di Indonesia


Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menjadi daerah pertama di Indonesia yang meluncurkan balon udara untuk menyebarkan akses Wi-Fi gratis.

Langkah ini termasuk dalam program Klaten Go Online yang diprakarsai Kelompok Pengguna Linux Indonesia Klaten (KPLI Klaten), juga didukung sepenuhnya oleh Pemerintah Kabupaten Klaten dan Telkom Kandatel Klaten.

Operations Vice President Public Relations Telkom, Arif Prabowo mengonfirmasi, bahwa akses internet balon udara tersebut didukung oleh Grup Telkom, meliputi Telkom dan Telkomsel.

Seperti dikutip dari situs resmi Pemerintah Kabupaten Klaten, balon udara Wi-Fi ini sudah beroperasi pada akhir Juli 2013 ini, bertepatan dengan HUT Klaten ke-209 tahun.

Balon udara itu kini ditempatkan di halaman kantor Pemkab Klaten dan alun-alun pusat kota Klaten. Pengguna dapat menikmati internet gratis dengan username: klaten, dan password: gooonline.

Proyek balon udara W-Fi di Klaten ini mirip dengan Project Loon yang diprakarsai Google. Pada 15 Juni 2013, Google melepas 30 balon udara pemancar Wi-Fi di wilayah Christchurh, Selandia Baru.

Categories
Berbudaya Taat Hukum

Karena Gadis Karaoke Dua Polisi Baku Hantam dan Cabut Senjata Di Bone


Ulah 2 petugas polisi ini tak patut dijadikan contoh. Mereka sebagai anggota kepolisian bukannya menjaga keamanan warga, malah saling baku hantam dan cabut pistol. Gara-garanya karena urusan cewek di tempat hiburan. Ada-ada saja!

Peristiwa ini terjadi pada Senin (19/8/2013) pukul 03.00 Wita di depan rumah bernyanyi di kawasa Jl HOS Cokroaminoto, Bone. Perkelahian melibatkan oknum Buser Polres Bone berinisial AB dan Polantas Maros berinisial AS. Dan perempuan yang menjadi pemicu keributan berinisial FN (23) yang bekerja di rumah bernyanyi itu.

Peristiwa keributan ini bermula saat AS cekcok dengan FN (23), yang juga mahasiswi. Polisi yang sedang berpatroli sempat datang ke tempat itu, ikut didalamnya AB. Saat AS dan FN cekcok, AB melerai, hingga akhirnya pasangan itu pergi meninggalkan rumah bernyanyi.

Tak lama berselang AS dan FN kembali ke rumah bernyanyi tersebut. Salah satu anggota buser AB, yang melerai cekcok AS dan FN, kini malah terlibat cekcok dengan AS. AB memukul bagian mulut juniornya tersebut.

Tak diketahui apakah AB juga menyimpan rasa pada FN. Tapi, AS yang terus mengalah dan meminta maaf terus di desak AB. Hingga akhirnya AS mencabut senjata jenis Softgun miliknya yang tersimpan dipinggangnya. Ada juga rekan AB, SL yang mencabut pistolnya.

“Itu abang saya, mana mau saya melawan. Biar saya dibabak belur saya tidak akan melawan, masa karena itu cewek kita sesama coklat mau berkelahi, malu sama orang yang melihat kita,” kata AS sambil terus memegang bagian bibirnya yang bengkak dan berdarah.

Hingga akhirnya ketika suasana semakin tegang, beberapa orang pengunjung mencoba mendamaikan. AS kemudian kembali meminta maaf, tapi AB yang masih terbakar emosi terus mendorong AS. 4 Rekan AB meringkus AS yang memegang softgun.

AB kemudian bergerak maju dan memukuli wajah AS. Hingga akhirnya setelah sekian lama, rekan-rekan AB memisahkan keributan. AS pergi meninggalkan lokasi, demikian juga AB.

Sementara FN yang terus menangis mengancam akan melapor ke polisi atas perlakuan AS yang memukul dan membenturkan kepalanya di kaca mobil saat keduanya berada di dalam mobil.

Kepala Unit (Kanit) Propam Polres Bone Aiptu Andi Zainuddin membenarkan kejadian yang melibatkan dua oknum polisi berpangkat Brigadir tersebut. Dia menuturkan sementara ini pihaknya telah mengidentifikasi kedua oknim tersebut dam melakukan komunikasi bersama Polres Maros untuk menindak lanjuti kasus tersebut.

“Kami sudah menghubungi Polres Maros, sementara kasus ini masih dalam proses penyelidikan,” singkat Zainuddin.

Categories
Kriminalitas Terorisme

Kronologi Penembakan Dua Polisi Hingga Tewas Dalam Baku Tembak Di Pondok Aren Bintaro


Penembakan terhadap anggota kepolisian kembali terjadi. Kali ini pelaku beraksi di Jalan Graha Bintaro, Kelurahan Parigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Jumat (16/8/2013).

Peristiwa itu bermula ketika anggota Binmas Pondok Kacang Aiptu Kus Hendratma hendak menuju Polsek Pondok Aren untuk mengikuti apel persiapan operasi cipta kondisi pada pukul 21.30.

Dalam perjalanannya, Kus yang mengendarai sepeda motor dipepet dua orang yang mengendarai motor Yamaha Mio berwarna hitam. Saat itu Kus ditembak pada bagian belakang kepala. Kus langsung terjatuh dan tewas di tempat, dekat Masjid Bani Umar, Pondok Aren.

Saat itu ternyata ada tim buser yang hendak melintas menggunakan mobil Toyota Avanza. Melihat kejadian itu, tim buser yang berjumlah empat orang langsung mengejar dan menabrak motor tersebut.

Namun, pengemudi mobil itu, anggota Polsek Pondok Aren Bripka Ahmad Maulana, kehilangan kendali kendaraan. Mobil itu terguling hingga ke tanggul Jalan Graha Raya Bintaro. Mobil berwarna hitam itu menghantam pohon.

Tim buser pun berusaha ke luar dari mobil yang terbalik. Namun pelaku kemudian menghampiri dan langsung menembak Maulana yang saat itu akan ke luar dari mobil.

Tiga orang dalam mobil berhasil selamat dan tidak mengalami luka parah. Mereka juga sempat berusaha melumpuhkan pelaku. Baku tembak pun terjadi sekitar hampiir 15 menit.

“Indikasi yang nodong itu satu orang tangannya berdarah. Apakah karena dia jatuh (dari motor) atau tertembak. Itu belum tahu,” ujar Wakapolri Komjen Oegroseno di Polsek Pondok Aren, Sabtu (17/8/2013).

Pelaku langsung meninggalkan motor Mio di lokasi dan kabur dengan motor milik satpam yang saat itu sedang melintas. Satpam sempat ditodong senjata oleh pelaku.

“Saksi dari masyarakat melihat pelaku ada yang terluka dan ada yang memegang pistol,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie saat dihubungi.

Sekitar pukul 22.30, kepolisian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memasang garis polisi. Warga pun langsung mengerumuni lokasi kejadian yang berada sekitar 100 meter dari Polsek Pondok Aren.

Kedua korban, Aipda Kus Hendratma dan Bripka Ahmad Maulana dilarikan ke RS Premier Bintaro, sebelum dibawa ke RS Polri, Jakarta Timur, untuk diotopsi.

Polisi juga mengerahkan dua anjing pelacak untuk mencari jejak pelaku. Satu anjing pelacak bernama Scott menemukan bercak darah pada daun yang diduga darah pelaku. Bercak itu berada di dekat tembok setinggi sekitar 2 meter.

Belum dapat dipastikan apakah pelaku sama dengan penembakan polisi di Ciputat dan Cirendeu, Tangerang Selatan yang terjadi beberapa waktu lalu. Sampai saat ini pelaku masih diburu, dengan fokus pencarian di Tangerang, Depok, hingga Bogor.

“Belum tertangkap pelakunya. Terjadi baku tembak tapi bisa melarikan diri dengan motor satpam yang dirampas,” terang Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Sutarman saat dikonfirmasi, Sabtu pagi. Mobil Avanza tim Buser Polsek Pondok Aren terperosok ke got saat mengejar dua pelaku penembakan Aipda Kus Hendratna. Mobil berwarna hitam itu kini telah dievakuasi. Pantauan, Sabtu (17/8/2013) mobil Avanza itu telah diderek, dan kini terparkir di depan Polsek Pondok Aren, jalan Graha Raya Bintaro, No 3. Kondisinya ringsek berat, dan penuh darah.

Tim Puslabfor Polri kemudian memeriksa Avanza tersebut. Bagian roda depan mobil itu bengkok, bampernya terlepas. Kaca depannya juga retak, dan terlihat bolong hampir setengah bagian. Bagian dashboard, dan jok mobil itu juga hancur berantakan. Saat pintu belakang mobil dibuka tim Puslabfor, banyak darah melumuri sisi kiri bagian dalam mobil. Darah segar itu bahkan masih terlihat menetes.

Sebelumnya, setelah Aiptu Kus tewas ditembak, tim Buser Polsek Pondok Aren mengejar pelaku menggunakan mobil Avanza. Mobil itu sempat menabrak pelaku yang kemudian membalas tembakan. Avanza menghindar, dan masuk ke got. Saat tim buser keluar dari mobil, pelaku menembak Bripka Ahmad hingga tewas. Lalu, terjadi baku tembak antara pelaku dengan tim Buser lainnya. Pelaku berhasil kabur dengan sepeda motor rampasan warga. Saat ini petugas tengah melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku.

Titik terang pengejaran pelaku penembakan polisi di Pondok Aren mulai terungkap. Polisi menemukan motor Supra B 6620 SFS yang digunakan pelaku, di Margonda Depok. “Motor Supra itu ditemukan di Margonda Depok,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu (17/8/2013). Ronny mengatakan motor tersebut merupakan hasil rampasan dari seorang satpam yang melintas di Jl Graha Raya Pondok Aren. Petugas saat ini tengah melakukan pencarian.

“Mengenai perkembangan selanjutnya saya belum diberi tahu lagi,” kata Ronny. Dua orang tak dikenal yang berboncengan menggunakan Mio warna hitam, menembak anggota Mapolres Pondok Aren, Aiptu Kus Hendratna yang saat itu tengah berpatroli dengan sepeda motor. Lokasi penembakan di Jl Graha Raya, dekat Mapolsek Pondok Aren, Jumat (16/8) pukul 21.30 WIB.

Tak jauh dari arah belakang terdapat tim buser yang menggunakan mobil Avanza. Tim buser lantas melakukan pengejaran. Dan sekitar 500 meter dari lokasi penembakan, Bripka Ahmad Maulana yang mengendarai Avanza tersebut menabrak pelaku.

Dua orang pelaku jatuh. Sedangkan mobil Avanza yang dikemudikan Bripka Maulana terperosok ke parit. Namun salah satu pelaku segera bangkit dan menembak Bripka Maulana. Kedua pelaku lantas merampas motor seorang satpam yang kebetulan melintas. Mereka kabur ke arah Pamulang. Sedangkan Aiptu Kus dan Bripka Ahmad Maulana meninggal.

Aiptu Kus Hendratna ditembak orang tak dikenal di depan Masjid Raya Bani Umar, Bintaro, Tangerang, Jumat (16/8/2013) malam, hingga akhirnya meregang nyawa. Entah kebetulan atau bukan, Aiptu Kus dalam status blackberry messengger terakhirnya juga menyinggung soal kata ‘mati’.

detikcom mendapatkan foto blackberry messenger terakhir Aiptu Kus. Di situ, ia menuliskan sebuah kalimat. “Merdeka. Yes mati mengko disit.” Dalam profile BBM-nya, Aiptu Kus memasang display picture bersama salah seorang anaknya. Dalam bahasa Indonesia arti dari status tersebut kurang lebih berarti “Merdeka. Yes mati nanti dulu.”

Jika kata ‘merdeka’ merujuk pada hari kemerdekaan 17 Agustus, kenyataan tentunya berkata lain bagi Aiptu Kus. Hanya 2,5 jam menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, ia tewas bersimbah darah. Usai ditemukan tewas, jenazah Aiptu Kus dibawa ke RS Polri Kramatjati, Jakarta Timur, Sabtu (17/8/2013) untuk diautopsi. Kini telah dibawa ke rumah duka di daerah Pondok Kacang Timur, Bintaro.

Almarhum Aiptu Kus meninggalkan 3 orang anak dan 1 istri. Menurut sang paman, Budi Rianto, jenazah akan dimakamkan di Wates, Yogyakarta. Jenazah Bripka Ahmad Maulana, polisi yang ditembak hingga tewas di Pondok Aren, telah dibawa ke rumah duka. Tetangga dan kerabat berbondong-bondong datang untuk melayat.

Jenazah Ahmad telah datang di rumah duka sekitar pukul 07.00 WIB, Sabtu (17/8/2013). Jenazah dibawa menggunakan mobil ambulans dari RS Polri Kramat Jati. Rumah duka berada di Jl Musawarah RT 06 RW 04 Kelurahan Sawah, Ciputat, Tangsel. Untuk dapat mencapai rumah tersebut, harus melalui sebuah gang.

Di gang tersebut, kursi-kursi untuk para pelayat sudah ditata. Sekitar 40 pelayat yang terdiri dari kerabat dan tetangga sudah hadir di lokasi. Di bagian belakang, terdengar beberapa pelayat dengan lirih membicarakan mengenai peristiwa penembakan Bripka Ahmad. Mereka tak menyangka, sang tetangga tewas ditembak orang tak dikenal ketika sedang melaksanakan tugas.

Pihak Mapolres Depok membantah informasi dari pihak Mabes Polri mengenai penemuan motor pelaku penembakan di Pondok Aren. Belum ada penemuan apapun. “Motor sudah saya cek, tidak ada di wilayah Depok,” kata Kasat Reskrim Polres Depok Kompol Ronald Purba ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu (17/8/2013).

Ronal mengatakan begitu mendapat informasi pelaku penembakan di Depok kabur, pihaknya langsung melakukan pencarian. Sejumlah petugas dikerahkan untuk menyisir kemungkinan jejak-jejak pelaku di wilayah Depok. “Sejauh ini belum ada,” kata Ronald.

Sebelumnya Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie menyatakan polisi menemukan motor Supra B 6620 SFS yang digunakan pelaku, di Margonda Depok. “Motor Supra itu ditemukan di Margonda Depok,” ujar Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Sompie ketika dikonfirmasi detikcom, Sabtu (17/8/2013). Ronny mengatakan motor tersebut merupakan hasil rampasan dari seorang satpam yang melintas di Jl Graha Raya Pondok Aren. Petugas saat ini tengah melakukan pencarian. “Mengenai perkembangan selanjutnya saya belum diberi tahu lagi,” kata Ronny.

Jenazah Aiptu Kus Hendratna tiba di rumah duka Jl Manggis II, Pondok Kacang, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Istri dan anak-anak almarhum menangis menyambut kedatangan jenazah. Diantar mobil ambulance, jenazah tiba di rumah duka pukul 06.10 WIB, Sabtu (17/8/2013). Jenazah yang ditaruh di peti mati dan dibungkus bendera merah putih itu langsung dibawa ke ruang keluarga rumah duka.

Istri almarhum dan ketiga anaknya bersimpuh di atas peti mati dan menangis. Tetangga yang melihat pun tak kuasa menahan haru dan ikut meneteskan air mata. Saat ini tetangga mulai berdatangan ke rumah duka. Rencananya jenazah akan diberangkatkan ke Wates, Kulonprogo, DIY, untuk dimakamkan.

Aiptu Kus ditembak pria tak dikenal di Jl Graha Raya, Pondok Aren, Tangsel, saat hendak menuju Mapolsek Pondok Aren untuk mengikuti apel Cipta Kondisi, Jumat (16/8) kemarin malam. Dia ditembak di kepala bagian belakang dan tewas di tempat.

Categories
Lain Lain

Rumah Mewah Polisi AKP Andreas Tulam Ditembak Orang


Polda Metro Jaya mengaku tidak tahu menahu mengenai rumah mewah AKP Andreas Tulam yang berada di Perumahan Banjar Wijaya, Cipondoh, Tangerang. Sebagaimana diketahui rumah tersebut sempat menjadi sasaran tembak orang tak dikenal Selasa (13/8) pagi lalu.

“Enggak tahu saya soal itu, ya rezekinya dia,” kata Kombes Nugroho Aji Wijayanto di Direktorat Tindak Pidana Narkotika, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Jumat (16/8/2013).

Nugroho merupakan atasan langsung Andreas Tulam di Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya. Dia mengakui bila Tulam selain bekerja di kepolisian memiliki sampingan atau usaha. Namun dia tidak mengetahui usaha apa yang digeluti anak buahnya tersebut.

“Ada usaha,” katanya. (Baca juga: Pegawai Negeri Dilarang Berusaha atau Memiliki Usaha Sampingan

Andreas berdinas sebagai Kepala Unit (Panit) 3 Unit 2 Direktorat Narkotika Polda Metro Jaya. Nugroho mengenal Andreas sebagai perwira yang cakap dalam menjalankan tugas. Dia menegaskan peristiwa penembakan rumah anak buahnya itu tidak terkait dengan kasus yang ditangani Polda Metro Jaya.

“Memang perkara yang ditanganinya itu besar-besar, tapi enggak ada kaitannya dengan perkara,” ujar Nugroho. Dia mencontohkan kasus besar itu adalah kasus 350 kg sabu yang mana melibatkan warga negara asing. “Tapi kasus itu kan sudah selesai di pengadilan dan para tersangkanya sudah divonis mati,” kata Nugroho.

Rumah Tulam diduga ditembak dengan menggunakan airsoft gun. Kaca pintu dari rumah berwarna coklat ini pecah akibat tembakan ini. Saat itu AKP Tulam baru saja meninggalkan rumahnya untuk bertugas sekitar pukul 06.00 WIB. Penembakan itu terjadi setelah 15 menit kemudian.

Polisi telah memeriksa 3 saksi baru terkait penembakan rumah AKP Andreas Tulam pada Selasa (13/8) lalu di Cipondoh, Tangerang. Para saksi tersebut merupakan satpam yang menjaga kompleks Banjar Wijaya kluster Yunani itu.

“Sudah ada 3 saksi baru yakni Wandi, Mahmud dan Nursalim. Ketiganya adalah satpam kompleks,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakpus, Kamis (15/8/2013).

Menurutnya, ketiga satpam ini diperiksa terkait pengamatan mereka terhadap aktivitas warga dan orang-orang mencurigakan yang berkeliaran di sekitar rumah AKP Tulam. “Mereka kami periksa sebagai saksi, terkait lalu lintas orang yang lalu lalang di sana. Apakah ada yang mencurigakan dan membawa air soft gun,” jelas Rikwanto.

Hingga saat ini, kepolisian masih menyelidiki motif penembakan yang menyebabkan rusaknya kediaman anggota Dit Narkoba Polda Metro Jaya tersebut. “Permasalahan apa yang dihadapi oleh AKP Tulam, masih kami selidiki. Bisa jadi ada kemungkinan dia bermasalah dengan seseorang atau ada yang dendam terkait pekerjaannya. Itu masih kami identifikasi,” tuturnya.

Penembakan rumah AKP Andreas Tulam terjadi pada Selasa (13/8) pada 06.15 WIB pagi atau 15 menit setelah AKP Andreas Tulam berangkat kerja. Penembak diduga menggunakan airsoft gun karena tidak ditemukan proyektil di TKP. Beruntung, tembakan tersebut hanya mengenai pintu dan tidak melukai siapapun. Sebelumnya pada Rabu (14/8/2013), polisi telah memeriksa saksi bernama Mawir. Dia adalah kepala satpam kompleks.

Polisi kembali memeriksa saksi terkait penembakan di rumah megah AKP Andreas Tulam di Cipondoh, Tangerang. Saksi yang diperiksa adalah kepala satpam perumahan.

“Hari ini diperiksa kepala satpam kompleks atas nama Mawir di Polres Tangerang,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (14/7/2013). Rikwanto mengatakan, belum ada perkembangan terkait hasil pemeriksaan tersebut. Pihaknya juga kembali melakukan olah TKP di waktu yang sama dengan kejadian.

“Tadi pagi kembali olah TKP lanjutan sekitar pukul 05.30-06.00 WIB di sekitar kediaman AKP Tulam,” katanya. Menurutnya, hasil olah TKP menunjukkan jalanan di rumah AKP Tulam pada pukul tersebut sudah mulai ramai. Banyak pengguna jalan seperti pejalan kaki, pengguna sepeda, pengguna motor maupun mobil yang melintasi kompleks Banjar Wijaya kluster Yunani tersebut. “Jadi siapa pun pelakunya bisa naik kendaraan bermotor maupun jalan kaki,” terangnya.

Belum diketahui motif penembakan tersebut, sebab tidak ada barang milik AKP Tulam yang hilang. Menurut Rikwanto, tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Kriminal Umum, Intelijen dan Direktorat Narkoba masih terus berupaya untuk mengungkap kasus tersebut. “Mereka (tim gabungan) mengolah informasi yang ada, kemudian membagi tugasnya masing-masing,” tutur Rikwanto.

Penembakan di rumah AKP Andreas Tulam, anggota Dit Narkoba Polda Metro Jaya, terjadi pukul 06.15 WIB, Selasa (13/8) atau 15 menit setelah AKP Andreas Tulam berangkat kerja. Penembak diperkirakan menggunakan airsoft gun karena tidak ditemukan proyektil di TKP. Tembakan hanya mengenai pintu.

Categories
Lain Lain

FPI Bentrok Dengan Warga Lamongan Karena Ada Warga Yang Meludah Sembrangan


Lurah Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan, Toha Mansyur, mengatakan bentrok warga dengan kelompok Front Pembela Islam Lamongan pada Minggu malam dan Senin dinihari kemarin dipicu oleh kejadian sepele, yaitu orang meludah. “Dari meludah di sembarang tempat itulah yang memunculkan aksi berubah jadi rentetan kejadian,” kata Toha kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013.

Pada malam Lebaran, tepatnya Rabu malam 7 Agustus, puluhan orang pawai keliling kampung dengan takbiran menyambut hari raya. Di saat bersamaan di Jalan Raya Blimbing, Paciran, juga tengah digelar malam takbiran, yang di antaranya diikuti sejumlah pemuda, organisasi kemasyarakatan dan anak-anak kampung, dari beberapa desa di Kecamatan Paciran dan Kecamatan Brondong.

Di antara kerumunan itu, terdapat belasan anak-anak muda duduk-duduk di pinggir Jalan Raya Blimbing, tak jauh dari ada rental play station (PS) yang dikelola Eko. Tak berapa lama, ada rombongan yang diduga anggota FPI, lewat di Jalan Raya Blimbing.

Saat itu, di antara kerumunan pemuda di pinggir jalan itu tiba-tiba ada yang meludah ke arah belasan anak muda yang lewat. Ludah yang muncrat itu diketahui oleh para pemuda yang beriring-iringan di jalan yang kemungkinan juga anggota FPI.

Rupanya, ludahan itu membuat marah. Salah satunya lalu menanyakan siapa yang meludah. Akan tetapi, pemuda di pinggir jalan tidak ada yang mengaku dan sempat terjadi cekcok mulut. Setelah tidak ada pengakuan perihal yang meludah, para anggota FPI pergi meninggalkan kerumunan.

Tak selesai sampai di situ, berapa jam kemudian, sekitar pukul 21.00, belasan anggota FPI datang lagi beriring-iringan ke Jalan Raya Blimbing. Di tempat itu, sudah tidak ada pemuda yang dicari. Belasan pemuda itu, lalu mendatangi rental PS yang tak jauh dari lokasi. Di sana mereka kemudian, menanyakan soal aksi meludah.

Singkatnya, begitu tiba di lokasi, pintu masuk ke rental PS digedor-gedor. Ada lima orang masuk di ruangan. Dua menggunakan helm, dua orang bercadar dan satu lagi tanpa penutup muka dan melengkapi dengan senjata tajam.

Di tempat rental PS, mereka bertemu sejumlah orang dan langsung menganiaya. Belakangan, diketahui tiga orang korban penganiayaan bernama Agus Langgeng, Sampurno dan Zaenul Efendi. Mereka mengalami luka senjata tajam dan lebam akibat dipukul dan ditendang. Penganiayaan itu berimbas menjadi balas dendam dan saling serang kelompok warga dan FPI.

Demi keamanan, 42 anggota Front Pembela Islam yang melakukan pengrusakan dan penganiayaan di Dusun Dengok, Desa Kandangsemangkon, Kecamatan Paciran, Lamongan ditangani Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Atas perintah Kapolda, 41 pelaku (pengrusakan dan penganiayaan) digeser penanganannya ke Mapolda demi keamanan,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Awi Setiyono, Senin, 12 Agustus 2013.

Sementara itu, sampai pukul 16.30 WIB petang ini, warga yang ditangkap karena diduga sebagai pelaku penganiayaan di rumah Zaenuri, bertambah menjadi 8 orang. Sebelumnya, polisi telah mengamankan Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya diduga melakukan penganiayaan terhadap isteri Zaenuri, Sundari, 30 tahun dan Riyan, 20 tahun di rumah Zaenuri pada Ahad, 11 Agustus 2013 pukul 23.30 WIB.

Dari pengembangan kasus, polisi akhirnya menangkap 6 orang lainnya atas nama Adi Susanto, 29 tahun, Nur Yaqin, 41 tahun, Farid Yulianto, 24 tahun, Fikri, 22 tahun, Rakum, 38 tahun yang semuanya warga Sidoarjo dan Sampurno, 19 tahun warga Blimbing Kecamatan Paciran, Lamongan.

Versi polisi, kasus ini berawal dari penganiayaan terhadap Zaenul Efendi, Agus Langgeng dan Sampurno di sebuah rental play station milik Eko di Gowa, Kelurahan Blimbing, Paciran, Lamongan pada 8 Agustus 2013 pukul 00.10 WIB. Dalam penganiayaan itu, polisi menetapkan Zaenuri alias Zen, Viki dan Gondok yang diketahui merupakan anggota Front Pembela Islam sebagai tersangka.

Peristiwa tersebut memancing amarah Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya ingin membalas perlakuan Zen. Tidak bertemu Zen, Raden dan Said melukai istri Zen, Sundari dan Riyan di rumahnya pada Ahad, 11 Agustus 2013, pukul 23.30 WIB.

Selang beberapa jam, sekitar pukul 01.30 WIB, Senin, 12 Agustus 2013, peristiwa di rumah Zen memicu kemarahan anggota FPI. Dipimpin Umar Faruk, 42 orang anggota FPI mencari pelaku penganiayaan terhadap istri Zen. Mereka menuju ke rumah Muklis di Dusun Denhok, Desa Kandang, Semangkon, Kecamatan Paciran. Karena yang bersangkutan sudah kabur, mereka merusak rumah, televisi dan 6 unit sepeda motor.

Setelah di rumah Muklis, kelompok FPI menyasar sebuah rumah di Jalan Daendels, Paciran. Di lokasi, mereka melakukan sweeping untuk mencari pelaku penganiayaan di rumah Zen. Anggota FPI kemudian menganiaya Hamzah Soleh, 18 tahun hingga mengalami luka bacok di punggung dan telinga kirinya.

Awi mengatakan polisi masih terus mendalami dan mengembangkan kasus ini untuk memastikan keterkaitan 4 peristiwa penganiayaan tersebut dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Juru bicara Kepolisian Resor Lamongan, Jawa Timur, Ajun Komisaris Umar Dami, mengatakan 42 orang anggota Front Pembela Islam Lamongan yang terlibat pengrusakan dan penganiayaan di Kecamatan Paciran Lamongan, Senin dinihari kemarin itu sudah diperiksa penyidik Kepolisian Resor Lamongan.

Mereka sempat ditahan di Markas Polres Lamongan mulai Senin pagi dan sudah menjalani periksaan selama 24 jam. Selanjutnya, mereka dipilah-pilah sesuai perannya. Namun, 42 orang itu belum resmi ditetapkan sebagai tersangka.

Alasannya, kata Umar Dami, penentuan statusnya akan diserahkan ke Kepolisian Daerah Jawa Timur. “Dari kami belum ditetapkan tersangka. Kami serahkan ke Polda Jatim,” kata Umar Dami kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013.

Selain memeriksa, Kepolisian Lamongan juga menyita puluhan jenis senjata tajam. Mulai dari badik 4 biji, pedang 9 biji, parang 10 biji, celurit 4 biji, sangkur 4 biji, pisau belati 8 biji, betel besi 1 biji, kayu balok ujuran 1,5 meter 5 batang dan besi batangan 2 biji. Barang bukti itu, kini disimpan di penyidik Polres Lamongan.

Tak hanya anggota FPI, Polres Lamongan juga masih menahan dua orang atas nama Slamet Badiono alias Raden dan Said. Dua orang yang disangka melakukan penganiayaan atas nama Sundari, istri dari Zainul ini, masih ditahan di Kantor Kepolisian Sektor Paciran.

Umar Dami mengatakan jumlah tersangka bakal bertambah, mengingat tidak hanya kasus penganiayaan, tapi juga perusakan rumah yang terjadi di Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran, Lamongan, Minggu, 11 Agustus, lalu.

Versi polisi, kasus ini berawal dari penganiayaan terhadap Zaenul Efendi, Agus Langgeng, dan Sampurno di sebuah rental play station milik Eko di Desa Blimbing pada 8 Agustus 2013 pukul 00.10 WIB oleh Zainuri alias Zen, Viki, dan Gondok. Ketiga anggota FPI ini langsung ditetapkan tersangka.

Peristiwa tersebut memancing amarah Slamet Badiono alias Raden, 35 tahun dan Said, 16 tahun. Keduanya bersama 20-an warga ingin membalas perlakuan Zen. Tidak bertemu Zen, Raden dan Said—yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka–melukai istri Zen, Sundari, dan Riyan di rumahnya pada Ahad, 11 Agustus 2013, pukul 23.30 WIB.

Penganiayaan terhadap Sundari memicu kemarahan anggota FPI. Senin pukul 01.30 dinihari, dipimpin Umar Faruk, 42 anggota FPI mencari penganiaya istri Zen. Mereka merangsek ke rumah Muklis di Kandang Semangkon, yang dianggap sebagai pimpinan kelompok Raden dan Said. Karena Muklis sudah kabur, mereka merusak rumah, televisi, dan enam unit sepeda motor. Sweeping mereka berlanjut ke sebuah rumah di Jalan Daendels, Paciran. Di situ mereka menganiaya Hamzah Soleh, 18 tahun.

Mantan aktivis pembela perjuangan warga Afganistan dan Moro, Ali Fauzi, mengaku pernah membina anggota Front Pembela Islam di Paciran, Lamongan. Bahkan, mereka juga pernah meminta untuk diajari merakit bom.

“Tapi saya menolak,” ujar lelaki berumur 43 tahun itu kepada Tempo, Selasa, 13 Agustus 2013. Ali Fauzi, adik dari terpidana mati Bom Bali I, yaitu almarhum Amrozi dan Ali Ghufron ini, menolak mengajari karena dia menganggap kondisi umat Islam di Lamongan dan sekitarnya sudah kondusif sehingga tidak diperlukan berjuang dengan meledakkan bom. “Ya, saya tolak. Dan mereka memahami argumen saya.”

Merakit bom, kata Ali Fauzi lagi, bisa dipelajari dan diajarkan jika kondisinya memungkinkan. Misalnya, ketika dia menjadi aktivis di Afganistan dan di Moro. Tujuannya jelas, yakni membela agama dari ancaman musuh. “Tetapi, ketika kondisi masyarakat aman dan kondusif, tidak perlu belajar merakit bom. Jadi, peruntukannya jelas,” ujarnya.

Maka yang dia lakukan terhadap anggota FPI hanya pembinaan mental dan agama. Dia mengajarkan pelajatan ketauhidan, hadis, tarikh (sejarah Islam), dan peningkatan beribadah. Aktivitas belajar mengaji anggota FPI Paciran berjalan antara 2008 hingga tahun 2009. Bahkan, para anggota FPI Paciran ini dikenal militan. Ali Fauzi merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al Islam, Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan.

Di antara para aktivis FPI itu, terdapat teman-temannya dari Pondok Pesantren Yayasan Taman Pengetahuan di Kertosono, Nganjuk, yaitu dua bersaudara bernama Anshor dan Umar Farouk (keduanya aktivis FPI Lamongan), yang tercatat sebagai teman dan adik kelas saat belajar di pondok pesantren. (Baca: Bentrok FPI Lamongan Ramai di Linimasa Twitter)

Ali Fauzi berpendapat keberadaan FPI di Kecamatan Paciran dan Brondong, Lamongan, sebenarnya bisa bermanfaat yakni bisa menjadi penyeimbang maraknya prostitusi, peredaran narkotik dan minuman keras di daerah tersebut. Hanya, Ali Fauzi juga tidak setuju dengan tindakan keras seperti perusakan, penganiayaan, dan sweeping.

Dukungan yang sama disampaikan Lurah Blimbing, Kecamatan Paciran, Toha Mansyur, bahwa ada sisi lain yang positif untuk gerakan organisasi kemasyarakatan seperti memerangi penjualan minuman keras, peredaran obat-obat terlarang, dan seterusnya. “Positifnya di sana,” katanya yang dihubungi Tempo, Senin sore, 12 Agustus 2013.

Categories
Lain Lain

Tarif Dakwah Ustad Solmed Di Hongkong Adalah 10 Juta Dollar


Selain diduga menaikkan tarif dakwah secara tiba-tiba, ustad Solmed menurut pimpinan majelis Thoriqul Jannah, Khalifah yang mengundangnya untuk berceramah di Hong Kong juga meminta fasilitas lain. Khalifah menyebut, Solmed juga meminta penginapan bagus.

Namun, sebenarnya bukan hal itu yang membuat Khalifah kemudian keberatan, dan membatalkan penampilan Solmed. Melainkan, menurut Khalifah, Solmed juga meminta bagian ‘infak’ alias ‘tiket’ untuk pengajian tersebut.

“Pengajian itu diadakan infak. Infak itu penjualan tiket, dia minta (bagian) juga. Minta transportasi selama di Hong Kong, lalu juga minta penginapan juga yang bagus,” jelas Khalifah lewat pernyataan yang diungah di YouTube, Kamis (15/8/2013).

Khalifah juga menjelaskan, pihaknya menyesalkan Solmed yang sebelumnya menyatakan bahwa dirinya merasa dipermainkan oleh pihak Thariqul Jannah. Padahal, menurut Khalifah, Solmed-lah yang mengubah tarif dakwah yang tadinya hanya sebesar HK$ 6000 menjadi HK$ 10 juta.

“Ada perubahan permintaan dari yang awalnya seihklasnya yakni HK$ 6000 Uustad Solmed berubah pikiran dengan menaikkan tarif HK$ 10 Juta dan awalnya dua tiket lalu minta empat tiket pesawat,” rinci Khalifah mengklarifikasi. Ustad Solmed mengatakan bahwa dirinya batal mengisi ceramah di Hong Kong karena panitia penyelanggara menjadikan acara yang dibisniskan, karena menjual tiket. Kini, tudingan itu pun mendapatkan tanggapan.

Khalifah selaku pimpinan majelis Thoriqul Jannah yang mengundang Solmed merasa difitnah atas tudingan tersebut.

“Kalau disebut bisnis ini suatu Fitnah yang harus diluruskan. Saya dan Ustad Solmed berasal dari dunia dakwah dan syiar harusnya juga paham. Ini harus diluruskan,” ujar Khalifah lewat jejaring YouTube, Kamis (15/8/2013).

Sebelumnya, Solmed juga mengaku merasa seperti dipermainkan karena adanya penjualan tiket dalam acara ceramahnya di Hong Kong. Karena itu Solmed membatalkan untuk kerja sama tersebut.

“Saya bilang ‘catatannya saya mau ceramah asal Anda gratisin, Anda nggak usah bayar saya, saya akan dakwah’ ternyata mereka nggak mau. Itu bisnis mereka. Nggak mau saya, saya batalin,” demikian bantahan Solmed beberapa waktu lalu.

Namun Khalifah menegaskan justru pihaknya yang merasa dirugikan atas kejadian ini. “Dari pihak Ustad Solmed yang ada perubahan kata dan permintaan,” tegas Khalifah. Ustad Solmed sepertinya memang sudah enggan menanggapi kontroversi soal tarif dakwahnya di Hong Kong yang makin panas. Menurut Solmed, harusnya dari awal pihak yang mengundangnya itu melaporkannya ke polisi daripada terus mengeluarkan pernyataan.

“Harusnya sejak awal mereka lakukan itu (lapor polisi) jika mereka berada di pihak yang benar,” ucap Solmed kepada detikHOT, Jumat (16/8/20130.

“Bukannya malah berkoar-koar seperti ini,” lanjut suami April Jasmine itu. Solmed sepertinya memang sudah lelah dengan masalah tausiah di Hong Kong. Ia pun merasa, bila menanggapi pernyataan ketua majelis Thoriqul Jannah, Khalifah, pihak pengundangnya.

“Tidak menyelesaikan masalah malah akan makin lebar,” bilang Solmed. Khalifah membeberkan mengenai undangan sang ustad ke Hong Kong melalui situs YouTube. Di situ, Khalifah menyebut pihaknya awalnya mencapai kata sepakat dengan Solmed dengan bayaran ceramah sebesar HK$ 6000.

Namun menurut Khalifah, Solmed merubah permintaan bayaran dan meminta fasilitas akomodasi lebih dari perjanjian awal. Pihak Khalifah pun keberatan dan membatalkan tausiah bersama Solmed. Ustad Solmed mencoba tetap dingin menghadapi terpaan masalah tarif dakwah di Hong Kong yang memanas. Ia juga mengaku masalah itu tak mengganggu kehidupan rumah tangganya.

Pria bernama lengkap Soleh Mahmud itu bahkan mengatakan, istrinya selalu mendoakan dan memberikan dukungannya. Terlebih saat diterpa masalah seperti ini. “Sama sekali tidak (terganggu). April baik-baik saja. Dia selalu mendoakan dan mendukung saya,” ucap Solmed saat dihubungi detikHOT, Jumat (16/8/2013).

Ustad muda yang sebelumnya bikin kontroversi dengan aksinya sahur on the road bermobil lamborghini itu kini enggan membahas masalah batalnya tausiah di Hong Kong. Dengan tegas ia enggan diungkit lagi kasus tersebut. Solmed berucap, dirinya lebih terima bila masalah itu dilaporkan ke ranah hukum daripada terus beradu argumen yang membuat kasus tersebut makin panas.

Lantas benarkah Solmed meminta bayaran menjadi HK$ 10 Juta untuk tausiahnya itu? “Saya pokoknya sudah closed, maaf,” tepis Solmed saat disinggung menganai nominal ‘wah’ itu. Pimpinan majelis Thoriqul Jannah, Khalifah selaku pengundang ustad Solmed untuk tausiah di Hong Kong angkat bicara dan menangkis semua pernyataan sang ustad. Khalifah bahkan menegaskan Solmed memang menaikkan tarif tausiah.

Solmed yang dihubungi detikHOT menekankan, dirinya sudah tak ingin lagi menyinggung soal kejadian di Hong Kong itu. Ia enggan berpanjang lebar lagi soal masalah itu.

“Saya sudah closed soal Hong Kong. Saya tidak akan mau wawancara lagi soal itu, maaf banget ya,” tepis Solmed, Jumat (16/8/2013).

Solmed merasa masalah batalnya ia berceramah di Hong Kong sudah tak harusnya dipermasalahkan lagi. Suami April Jasmine itu pun sama sekali tak ingin menggubris pernyataan dari pihak Khalifah.

Solmed juga merasa bahwa jika dirinya menanggapi pernyataan pihak pengundang, justru akan menambah kisruh lantaran perbedaan argumen.

“Tidak menyelesaikan masalah, malah melebarkan masalah,” kilah dia.

Melalui YouTube, Khalifah membeberkan mengenai undangan sang ustad ke Hong Kong. Ia menegaskan pihaknya memang keberatan setelah Solmed dan manajemennya merubah permintaan mengenai masalah tarif dan fasilitas akomodasi selama berceramah di sana.

Categories
Korupsi

Rudi Rubiandini Pecahkan Rekor Korupsi Indonesia Senilai 7,2 Milyar Rupiah


Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini, ternyata memecahkan rekor. Rudi Rubiandini disangka menerima uang suap senilai US$ 700 ribu (sekitar Rp 7,2 miliar).

Rekor operasi tangkap tangan ini mengalahkan rekor yang sebelumnya dipegang Artalyta Suryani. Dalam operasi tangkap tangan itu, KPK menyita uang US$ 660 ribu (Rp 6,8 miliar). Artalyta atau Ayin adalah seorang pengusaha Indonesia yang dikenal karena keterlibatannya dalam kasus penyuapan jaksa kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Artalyta dinyatakan bersalah oleh Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta dan dijatuhi vonis 5 tahun penjara pada tanggal 29 Juli 2008 atas penyuapan terhadap Ketua Tim Jaksa Penyelidik Kasus BLBI Urip Tri Gunawan.

Penangkapan Rudi Rubiandini itu juga mengalahkan operasi tangkap tangan lainnya, seperti penangkapan Ahmad Fathanah. Fathanah ditangkap di Hotel Le Meridien seusai menerima uang Rp 1 miliar dari importir daging, PT Indoguna Utama.

Penangkapan Rudi itu mengejutkan banyak kalangan, dari mulai pejabat hingga DPR. Saat dilantik, Rudi Rubiandini menjadi tumpuan banyak orang untuk membenahi SKK Migas. Namun, Selasa, 13 Agustus, pukul 22.30, mantan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Rubiandini ditangkap di rumahnya, Jalan Brawijaya Nomor 8, Jakarta, tanpa perlawanan.

Rudi ditangkap bersama dua koleganya dari sebuah perusahaan swasta. “Ada tiga orang yang ditangkap. Yakni R dan S serta E. Kedua orang itu dari swasta,” kata juru bicara KPK, Johan Budi S.P. Johan menjelaskan, status ketiga orang itu masih terperiksa, belum tersangka.

Saat ditangkap, tak ada perlawanan sedikit pun. Rudi yang mengenakan baju lengan pendek warna putih tampak tersenyum kepada para penangkapnya. Rudi disangka menerima suap sebanyak dua kali, yakni US$ 300 ribu pada bulan Ramadan dan US$ 400 ribu setelah Lebaran. Totalnya US$ 700 ribu. Uang ini dari sebuah perusahaan asing.

Penyidik KPK juga menahan beberapa orang lainnya. Di antaranya sopir Rudi Rubiandini. Dalam penangkapan itu, KPK juga memboyong tas hitam, sejumlah kardus, dan sepeda motor gede BMW