Categories
Transportasi

Karena Kaya Konvoi Mobil Mewah Pelanggar Aturan Ditol Jagorawi Hanya Diberi Peringatan


Konvoi mobil sport mewah diberhentikan polisi di Tol Jagorawi. Mereka ngebut di bahu jalan. Tapi sayangnya polisi hanya melakukan pengarahan saja. Walau melanggar aturan, mereka tak ditilang. Informasi yang dikumpulkan, Senin (30/9/2013), konvoi mobil sport yang terdiri dari berbagai macam merek mulai dari Porsche, Lamborghini, hingga Ferrari itu melakukan konvoi di Jagorawi pada Minggu (29/9) pagi.

Mereka ngebut di bahu jalan. Saat itu, aksi mereka dilihat seorang pejabat Mabes Polri yang tengah melintas. Pejabat itu segera melakukan koordinasi dengan PJR Mabes Polri. Rombongan mobil sport mewah itu akhirnya berhasil ditemui petugas di pom bensin. Petugas tak melakukan penilangan hanya melakukan pengarahan saja.

“Ya saya dilapori secara umum saja. Intinya penindakan itu tidak harus ditilang. Kan ada preventif dan represif,” ujar Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Metro Jaya, AKBP Jazari, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (29/9).

Jazari menegaskan, yang melakukan penanganan bukan Polda Metro Jaya tetapi Mabes Polri. Dia meminta agar soal konvoi ini ditanyakan ke PJR Korlantas Polri. Yang menjadi pertanyaan juga, siapa mereka yang melakukan konvoi itu? Adakah pejabat atau orang terkenal sehingga tak ditilang?

Konvoi 10 mobil mewah di tol Jagorawi dihentikan oleh petugas Patroli Jalan Raya (PJR). Gara-garanya pengendara mobil-mobil mahal tersebut ngebut di jalanan. “Ya memang tadi kita tertibkan, ada 10 mobillah, kami berikan arahan,” ujar petugas PJR Jagorawi, Briptu Ardiono, ketika dikonfirmasi, Minggu (29/9/2013).

Berdasarkan informasi yang didapatkan, mobil-mobil tersebut ngebut dan menggunakan bahu jalan tol saat melaju dari Jakarta ke Bogor pagi ini. Seorang petugas polisi melihat hal ini dan melapor ke PJR. Lalu, rombongan disetop dan diberi pengarahan di rest area Km 21, tepatnya di pom bensin Shell. “Ya informasinya mereka ngebut,” kata Ardiono.

Dari foto yang didapatkan detikcom, mobil-mobil mewah tersebut sebagian besar merupakan Lamborghini Aventador. Ada juga jenis Porsche Spyder.

Polisi menyetop konvoi mobil sport mewah di Tol Jagorawi. Ada di antara mobil itu yang dilaporkan mengebut hingga akhirnya ditertibkan. Namun, tak ada tindakan penilangan. Apa alasannya?

“Ya saya dilapori secara umum saja. Intinya penindakan itu tidak harus ditilang. Kan ada preventif dan represif,” ujar Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Metro Jaya, AKBP Jazari, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (29/9/2013).

Menurut Jazari, justru sebetulnya yang perlu dilakukan pertama kali adalah memberi peringatan kepada pengendara. Namun jika di lain waktu mengulangi lagi, akan dilakukan tindakan represif. “Kalau mengulangi lagi baru besok ditilang,” kata Jazari. Mengenai alasan mengapa konvoi mobil sport tersebut, ditertibkan, Jazari membenarkan bahwa ada informasi mereka mengebut.

“Yang jelas kami nggak asal dong memberi peringatan. Masa orang nggak salah apa-apa kami beri arahan, nanti kan orang marah,” kata Jazari. Dari foto yang diperoleh detikcom, sedikitnya ada 10 mobil sport mewah yang diberhentikan polisi tepat di pom bensin Shell. Mobil itu terdiri dari Lamborghini, Ferrari, dan Porsche.

Saat dikonfirmasi, salah satu pengendara mobil Lamborghini yang berada dalam rombongan mengaku tak ditertibkan. Mereka menuding pengemudi dari kelompok lain yang melanggar lalu lintas. Sedangkan mobil Lamborghini yang berada di pom bensin tadi sedang mengisi bahan bakar.

Petugas Patroli Jalan Raya (PJR) Jagorawi menertibkan konvoi mobil-mobil sport karena ngebut di jalanan tol. Komunitas Lamborghini angkat bicara.

Dari foto penertiban yang didapatkan detikcom, terdapat setidaknya tiga Lamborghini Aventador yang ikut ditertibkan oleh petugas PJR. Penertiban dilakukan di Rest Area KM 21 tol Jagorawi. Tiga petugas berdiri di depan mobil-mobil premium tersebut. Lalu beberapa orang dari pemilik mobil terlihat berbicara dengan polisi.

Pihak komunitas Lamborghini Jakarta membenarkan pada pagi tadi melakukan acara konvoi ke Bogor dan kembali lagi ke Jakarta.

“Kami ada acara sarapan bersama dengan Kapolres Bogor. Ini acara rutin, kadang ke Bekasi, kadang ke Tangerang,” kata Koordinator Humas Lamborghini Jakarta, Andrys Ronaldi, saat dihubungi detikcom, Minggu (29/9/2013).

Andrys membenarkan bahwa rombongannya yang berjumlah 18 mobil berhenti di Rest Area KM 21. Namun dia membantah rombongannya ditertibkan oleh petugas kepolisian.

“Kami berhenti untuk isi bahan bakar di Shell. Kalau memang kami bertemu dengan polisi ya tegur sapa saja, hubungan kami memang baik dengan kepolisian. Kami pergi ke Kapolres Bogor, sebelum berangkat saja kami berkomunikasi dengan Kakorlantas,” kata Andrys.

Andrys menduga ada komunitas mobil sport lainnya yang mengebut dan menggunakan bahu jalan tol. Menurut Andrys, kebetulan pada pagi tadi ada acara dari komunitas mobil lain di sekitaran Sentul.

“Mungkin di depan kami ada yang lain dan melanggar. Kemudian dikiranya dari Lamborghini. Yang jelas bukan kami,” ujarnya.

Categories
Tokoh Indonesia

Lima Misteri Pembunuhan Yang Berhasil Diungkap Oleh Paker Forensik Mun’im Idries


Mun’im Idries kini telah tiada. Namun selama hidupnya, dia telah membongkar sejumlah kasus pembunuhan yang menyisakan misteri. Apa saja ceritanya?

Mun’im memang kerap dilibatkan dalam sejumlah kasus pembunuhan oleh polisi sebagai ahli forensik. Dia jadi tokoh sentral dalam proses autopsi hingga identifikasi jenazah. Tak heran, dia punya segudang cerita soal kasus-kasus tersebut.

Berikut lima misteri pembunuhan yang diungkap Mun’im dalam bukunya ‘Indonesia X Files’:

Marsinah
Kematian pejuang buruh PT Catur Putra Surya, Marsinah masih menjadi tanda tanya besar. Pakar forensik Abdul Mun’im Idries menemukan berbagai kejanggalan visum saat diminta jadi saksi ahli meringankan kasus tersebut di persidangan.

Meski sempat dilarang oleh koleganya, Mun’im saat itu tetap ngotot bersaksi. Bersama kuasa hukum bos PT CPS Judi Susanto, Trimoelja D Soerjadi, Mun’im menemukan banyak kejanggalan dalam visum. “Visum dari RSUD Nganjuk sangat sederhana karena hanya 1 halaman,” terang Mun’im di halaman 27. Meski jenazah Marsinah sudah dibedah, tapi tidak dijumpai laporan keadaan kepala, leher dan dada korban. Di dalam visum juga disebutkan Marsinah tewas akibat pendarahan dalam rongga perut.

“Padahal yang seharusnya diutarakan pembuat visum adalah penyebab kematian (tusukan, tembakan, cekikan), bukan mekanisme kematian (pendarahan, mati lemas),” papar Mun’im. Fakta persidangan juga menyebut Marsinah ditusuk kemaluannya dalam waktu yang berbeda. Tapi dalam visum, hanya ada 1 luka, pada labia minora. “Kejanggalan makin jelas ketika barang bukti yang dipakai menusuk kemaluan korban ternyata lebih besar dari ukuran luka,” sambungnya lagi.

Beberapa visum lainnya juga terus disoroti oleh Mun’im. Ia menduga pembuatan visum atau lazim disebut visum et repertum itu dilakukan di luar kelaziman. “Kematian Marsinah seperti selalu ada yang kurang,” tandasnya.

Misteri Kematian Mahasiswa Trisakti
Suasana di Jakarta di malam penembakan mahasiswa Trisakti sangatlah mencekam. Pakar forensik dr. Abdul Mun’Im Idries yang ikut mengautosi menceritakan bagaimana menakutkannya keadaan saat tertembaknya empat mahasiswa itu. Saat kejadian, Mun’im mendapat telepon dari Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat Idham Aziz, untuk mengautopsi jenazah korban penembakan. Ia disuruh menunggu di pos polisi Terminal Grogol.

Selama menunggu Mun’im dihubungi oleh Kapolres Jakarta Barat, Timur Pradopo dan Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata. Ia disuruh menunggu sebelum diperintahkan melakukan autopsi. kemudian Mun’Im pun berangkat menuju RS Sumber Waras dengan membonceng motor petugas. Di tengah perjalanan Mun’Im merasakan keanehan. Petugas yang membawanya memilih untuk melalui jalan tikus, padahal saat itu keadaan tengah sepi dan seharusnya mereka bisa langsung lurus menuju RS Sumber Waras

“Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter,” ungkap si petugas kepolisian yang mengantarnya. Sesampainya di rumah sakit Mun’im bertemu dengan mahasiswa dan keluarga korban. Mereka semua menolak untuk diadakanya pemeriksaan bedah mayat.

Setelah Mun’im berusaha meyakinkan keluarga, akhirnya pemeriksaan pun dimulai. Setelah melakukan pemeriksaan sekitar 90 menit, Mun’im mendapatkan hasil. Masing masing mendapat luka tembak pada daerah mematikan, bukan untuk melumpuhkan. Usai pemeriksaan, Mun’im kembali ke ruang administrasi, di sana, Mun’im bertemu dengan Marzuki Darusman dan Amaral yang pada saat itu menjabat sebagai ketua dan sekretaris jenderal Komnas HAM.

Saat bertegur sapa dengan Marzuki Darusman, dia menerima SPVR (surat permintaan Visum et Repertum) dari
kepolisian. Anehnya SPVR yang diterimanya sebanyak 6 buah sedangkan korbannya hanya ada 4. Selain itu tidak ada identitas para korban dan yang tertera hanya tanda tangan penyidik. “Maaf pak dokter, kami tidak tahu berapa korban yang tewas dan kami juga tidak tahu nama para korban” jawab petugas Polres Jakarta Barat.

Seusai jumpa pers, pukul 4 pagi Mun’im sudah dijemput oleh petugas dari Polres Jakarta Barat. Saat Mun’im meminta untuk diantar pulang, petugas Kasat Serse Polres Metro Jakatra Barat malah mengantarnya menuju Polda. Setibanya di Polda, di lantai pertama Mun’im berjumpa dengan Sudi Silalahi dari Kodam V jaya, kemudian dia menuju ruang Kapolda.

Saat itu dia hanya berdua dengan Hamami Nata, kemudian Mun’im membuka pembicaraan dengan menyampaikan hasil autopsi. “Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampa yang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?” Ungkap Hamami. Di situ Mun’im berpikir kalau Kapolda dikerjain.

Misteri Peluru Nasrudin
Kematian pengusaha Nasrudin Zulkarnaen juga tidak luput dari autopsi pakar forensik Abdul Mun’im Idries. Dalam proses penyelidikan, polisi ternyata pernah meminta agar Mun’im menghapus data penjelasan jenis peluru yang menewaskan Nasrudin. “Saya pernah menjelaskan bahwa jenis peluru yang bersarang di Nasrudin memiliki diameter 9 mm, kaliber 0,38 tipe S & W, tapi saat itu diminta dihapus oleh polisi,” tulis Mun’im di halaman 74.

Usai ditembak, Nasrudin memang sempat mendapat pertolongan ke RS Mayapada Tangerang da RSPAD Gatot Subroto. Inilah yang membuat Mun’im menegaskan adanya manipulasi jasad korban. Untuk mengautopsi jenazah Nasrudin, Mun’im juga mengaku ditelepon oleh tiga polisi. Yang terakhir seseorang berpangkat Komjen untuk meminta kesediaanya melakukan autopsi. Mun’im yang mengikuti seluruh proses persidangan sembilan terdakwa sebagai saksi ahli mengaku awalnya tidak tahu ada nama Rani. “Tidak lama kemudian baru nama Rani keluar. Dari situ saya mengerti tentang pola permainan ini,” tandasnya.

Munir dan Arsenik
Ahli forensik RSCM, Abdul Mun’im Idries ikut membantu autopsi jenazah pejuang HAM, Munir Said Thalib. Mun’im yang juga ditugaskan untuk membantu membongkar kasus itu pun membeberkan sejumlah fakta menarik. Mun’im saat itu sempat terkejut mengetahui Munir tewas akibat diracun arsenik. Cara pelaku membunuh dengan arsenik dianggap sangat pintar.

“Kasus keracunan semacam itu terjadi tidak sampai 10 persen,” tulis Mun’im di halaman 85. Mun’im sempat menolak ajakan polisi ke Belanda untuk memastikan kematian Munir. Hasil autopsi di Belanda sudah cukup dijadikan bukti penyebab kematian Munir. “Yang belum diketahui sampai saat ini ialah cara kematiannya (manner of death),” kenang Mun’im.

Di sinilah banyak ditemukan fakta mengejutkan. Tim polisi sempat berkesimpulan arsenik dituangkan dalam jus. Namun kesimpulan itu ditolak Mun’im karena arsenik bakal mengendap di air dingin. Ia juga memastikan kerja arsenik hanya itu bisa dirasa hanya dalam 30 menit. Mun’im juga menduga TPF bentukan Presiden SBY tidak serius menangani kasus ini. Rapat pertama tim ini malah dipimpin oleh Wakil Direktur Tipikor.

Mun’im dan polisi kemudian mengadakan sejumlah pertemuan di Hotel Nikko untuk membahas TKP. Pencari lokasi kejadian ini merujuk analisa 30 menit miliknya. Radar saat itu mengarah ke Cafe Bean yang ada di Bandara Changi. Sejumlah pelajar juga melihat Pollycarpus bersama Munir di situ. Dalam perjalanan penyelidikan itu, Mun’im mengaku pernah dipanggil Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri. Percakapan dengan Bambang itu dituangkan secara detail.

“Dokter, ini untuk merah putih,” kata Bambang saat itu.

“Loh kenapa Pak?” tanya Mun’im.

“Kalau kita tidak bisa memasukan seseorang ke dalam tahanan sebagai pelaku, dana dari luar negeri tidak cair. Karena dia tokoh HAM. Kemudian obligasi kita tidak laku Dok,” papar Bambang.

Mun’im yakin, gejala maag yang dirasakan Munir di dalam pesawat adalah awal racun bekerja. Proses bekerjanya racun hingga akhirnya Munir ditemukan tewas di atas langit Rumania match dengan TKP di Cafe Bean. Mun’im juga membagi TKP dalam tiga bagian: perencanaan, eksekusi dan saat wafat. Kejanggalan utama adalah penunjukan Pollycarpus yang ditugas Dirut Garuda saat itu, Indra Setiawan untuk mencari tahu penyebab insiden Boeing 747 Singapura-Amsterdam beberapa waktu sebelum Munir tewas.

Aneh karena seorang pilot Airbus 330 ditugasi untuk mengecek kenapa roda pendaratan pesawat saat itu macet. Jika urusan roda yang ingin diselidiki, kenapa bukan mekanik yang dikirim. Hal lain, CCTV Bandara Soekarno-Hatta saat itu hanya dua saja yang aktif. Pesawat yang ditumpangi Munir ke Changi juga terus mengalami delay. Belakangan diketahui delay itu karena sedang menunggu pesawat Garuda dari Singapura.

“Pesawat tersebut berisi Pollycarpus,” tegas Mun’im. Pollycarpus memang sudah dipenjara. Namun Mun’im sendiri menuliskan masih banyak misteri dalam kasus ini.

Detik-detik Kematian Bung Karno
Mun’im Idries punya versi sendiri perihal meninggalnya Presiden Soekarno. Masa pengasingan Soekarno diduga kuat menjadi penyebab turunnya terus kesehatan sang proklamator kawakan tersebut. “Kondisi kesehatan yang jelek dan tidak mendapat perawatan yang seharusnya, tidak adanya atensi, serta pudarnya eksistensi merupakan penjelasan yang rasional,” tulis Mun’im di halaman 46.

Dalam bukunya itu, Mun’im memang mengutip pernyataan dari istri Soekarno, Ratna Sari Dewi. Ratna saat itu menyebut Bung Karno meninggal karena terus menerus diberi obat tidur. “Beliau (Ratna) bukan dokter sehingga secara keilmuan beliau tidak memiliki otoritas,” kata Mun’im menanggapi pernyataan Ratna.

Dokter nyentrik ini justru lebih setuju dengan dokter yang merawat Soekarno, dr Hartanto dan Rachmawati Soekarnoputri. Keduanya kompak mengatakan Soekarno memiliki masalah dengan ginjal. Bahkan Soekarno sendiri sudah melakukan operasi pengangkatan ginjal di Wina tahun 1960. Fungsi ginjal Soekarno hanya tinggal 25 persen saja.

Mun’im menilai perlakuan yang diterima Soekarno dalam masa sakitnya itulah menjadi penyebab kematiannya. Mulai dari pengucilan, dijadikan tahanan rumah hingga menghilangkan eksistensi Soekarno adalah contohnya. “Dengan kata lain, perlakuan orde baru terhadap Bung Karno sedikit banyak mempunya andil – kalau tidak dapat dikatakan bertanggung jawab – atas kematian penggali pancasila tersebut,” tandasnya.

Categories
Kriminalitas

Analisis Mun’im Idries: Autopsi Sisca Yovie Ternyata Dilakukan Oleh Dokter Umum dan Bukan Dokter Ahli


Sebagai dokter ahli forensik, sepak terjang dr Mun’im Idries dikenal memiliki analisis yang sangat mumpuni. Salah satu analisisnya yang cukup mengejutkan adalah terkait kasus pembunuhan manajer cantik Sisca Yovie (34) di Bandung, bahwa visumnya dilakukan oleh dokter umum. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh dr Mun’im Idries saat diundang dalam acara bincang-bincang Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan secara langsung oleh televisi nasional, tvOne pada 27 Agustus lalu. Dengan melihat visum jenazah Sisca yang tewas dibunuh, ahli forensik dari Universitas Indonesia ini menemukan fakta mengejutkan tersebut.

Menurutnya, visum seharusnya dilakukan oleh dokter ahli. Namun dalam kasus ini ternyata dilakukan oleh dokter umum. dr Mun’im Idries menilai hal ini sangat menyalahi aturan.

Demikian potongan pernyataan lengkap yang disampaikan dr Mun’im Idries dalam acara tersebut, seperti dikutip, Jumat (27/9/2013):

Mun’im Idries (MI): Bisa dibuat gampangnya. Ini kasus mau dibawa ke mana? Kalau sebagai, pembunuhan ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan, katakanlah mengambil tasnya, cukup di situ. Tapi kalau pembunuhan untuk pelampiasan tindak emosional urusannya panjang. Ini bisa dari pemeriksaan mayatnya bisa dilihat. Kalau yang satu lukanya sederhana, yang satu sangat maasif sekali. Kemudian ada yang membuat kaget saya ini. Kenapa visumnya ancur-ancuran begini?

Karni Ilyas (KI): Visumnya?

MI: Kalau di tempat saya itu kalau seperti itu, nggak lulus saya pak. Ternyata dibuat oleh dokter umum

KI: Visumnya dibikin oleh dokter umum?

MI: Oleh dokter umum. Dokter ahlinya hanya mengetahui. Tidak boleh begitu, di kita tidak ada seperti itu. Jadi yang membuat, yang menandatangani. Kalau dokter departemen lain mengetahui itu kalau surat-menyurat mau dikirim ke polisi, dia mengetahui boleh. tapi nggak dilampirkan di visumnya yang tadi.

KI: Visum di rumah sakit apa?

MI: Hasan Sadikin.

KI: Nah di situ kan ada pakar forensik juga?

MI: Cuma satu. Di sekitar situ banyak dokter polisi pintar-pintar pak. Kenapa nggak dikirim ke sana? Jadi, jadi pertanyaan saya juga waktu itu. Biasanya kasus-kasus diambil Rumah Sakit Bhayangkara. Kok ini tumben dikasih ke Hasan Sadikin. Ada apa ini? Nah kemudian yang lebih mempertegas lagi. Di sini disebut sebab matinya pendarahan. Itu salah. Pendarahan itu mekanisme kematian. Ditusuk berdarah. Ditembak berdarah. Digebuk berdarah. Nggak menjawab. Jadi saya ngerti, karena yang buat (visum) dokter umum. Kemudian dalam visum itu harus tampil identitasnya siapa. Saat kematiannya, untuk kaitan dengan alibi, ini tidak ada. Sebab kematian, pendarahan yang salah tadi. Kalau cara kematian jelas tidak wajar itu sudah bisa diatasi di situ.

Kemudian dalam sistem pelaporan itu tidak sesuai standar kalau bisa dibilang. Contohnya terdapat luka ukuran 2 x 8 cm. Ini duanya, dua apa? Dua meter. Harusnya kan 2 cm x 8 cm. Seperti surat-surat yang untuk kepentingan hukum kan begitu. Nggak ngerti juga, ternyata dokter umum yang buat.

KI: Jadi?

MI: Jadi kalau menurut saran saya supaya tegas. Digali lagi aja pak, baru sebentaran juga dikubur. Digali lagi, periksa lagi.

KI: Dokter Mun’im meminta agar mayat digali lagi dan diperiksa secara detail.

MI: Di sana banyak ahli forensik kok.

KI: Dokter sudah terima gambar?

MI: Nggak. Saya diperlihatkan visumnya oleh pak Kabbag Humas, baru tadi dikasih liat. Saya kaget.

Menanggapi pernyataan dr Mun’im Idries ini, pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah menyampaikan bantahannya. Kepada sejumlah media, pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin menegaskan bahwa visum jenazah Sisca dilakukan oleh dokter ahli forensik dan bukan dokter umum seperti yang pernah disampaikan dr Mun’im Idries.

Categories
Korupsi

Ahmad Fathanah Ternyata Pernah Nikahi Pramugari


Perempuan di sekitar terdakwa kasus suap penambahan kuota impor daging sapi, Ahmad Fathanah, kembali terungkap. Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pindana Korupsi, teman dekat Fathanah yang menjadi saksi, Ahmad Maulana, mengatakan salah satu mantan istri Fathanah berprofesi sebagai pramugari.

Awalnya, jaksa Muhibbudin bertanya kepada Maulana soal hubungan antara Fathanah dan perempuan bernama Surtini Gulyanti yang bekerja sebagai pramugari. Menurut Maulana, Surtini adalah mantan istri Fathanah.

“Itu mantan istri terdakwa,” kata Maulana ketika bersaksi untuk Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 23 September 2013.

Ketua majelis hakim, Nawawi Pomolango, meminta Muhibuddin menjelaskan kaitan pertanyaan tersebut dengan perkara Fathanah. Menurut Muhibuddin, ada aliran dana kepada pramugari itu.

Dalam surat dakwaan, Fathanah disebut pernah menikah empat kali. Ia pertama kali memperistri Siti Fatimah pada 1993. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai 3 orang anak. Siti diceraikan pada 1999.

Fathanah kemudian menikahi Dewi Kirana pada 1999. Dari pernikahannya itu, mereka mendapatkan seorang anak. Dewi diceraikan pada 2006.

Dua tahun setelah berpisah dari Dewi, Fathanah menikahi Surtini Gulyanti. Dari pernikahan itu, mereka tak memiliki anak.

Terakhir, ia menikahi penyanyi dangdut Sefti Sanustika secara siri pada Desember 2011. Anak mereka baru lahir pada Maret lalu.

Ihwal aliran dana ke Surtini, Fathanah pernah berulang kali mengirim uang kepadanya. Dalam surat dakwaan ditulis, ia mentransfer uang ke rekening Surti 25 kali yang totalnya Rp 374,250 juta pada 2012, dan lima kali transfer senilai Rp 138 juta pada 2013.

Categories
Beragama

Komnas HAM Kecam Penyegelan Gereja St. Bernadette


Ketua Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siti Noor Laila mengecam penyegelan gereja St. Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013. Ia menilai kasus penyegelan rumah ibadah berulang akibat ketidaktegasan aparat penegak hukum. “Para pelaku intoleransi beragama itu tak pernah mendapat hukuman yang membuat jera, kejadian serupa kerap berulang,” katanya kepada Tempo, Senin 23 September 2013.

Kasus terakhir melanda Gereja Pariko St Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan. Gereja itu didemo massa yang mengatasnamakan warga sekitar pada Ahad 22 September 2013, sekitar pukul 8.00 hingga 11.00 WIB. Massa lalu menggembok gereja tersebut dari luar dan meminta pembangunan gereja dihentikan. Ini bukan kali pertama kalinya ada penolakan pembangunan tempat ibadah. Sejumlah tempat peribadatan lain juga beberapa kali mendapat perlakuan serupa. “Penegakan hukumnya masih tidak tegas, seharusnya tidak boleh ada bias penegak hukum kepada kelompok mayoritas,” kata Siti.

Dia meminta aparat penegak hukum seperti polisi dan jaksa menegakkan aturan yang seimbang. “Peraturan kan hanya ada satu, jangan malah mendukung tirani mayoritas,” ujar Siti. Apalagi, saat ini semakin banyak kelompok fanatik yang muncul dan pada akhirnya main hakim sendiri. Siti menyayangkan berulangnya kasus penyegelan terhadap rumah ibadah di Indonesia. Komnas HAM akan terus memantau kasus ini dan mencari tahu penyebab konflik.

Gereja Paroki St Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, didemo oleh ratusan warga sekitar pada Ahad 22 September 2013. “Mereka datang minta gereja ditutup,” kata Pastor Paroki St Bernadet, Paulus Dalu Lubur CICM, ketika dihubungi Tempo, usai kejadian. Para pengunjukrasa lalu menggembok pintu masuk gereja dari luar, sebagai tanda bahwa gereja itu tidak boleh lagi digunakan.

Romo Paulus mengatakan para pendemo datang dengan mengenakan pakaian berwarna putih dan ikat kepala berwarna merah. “Seperti mau berperang saja,” ucap Romo Paulus. “Mereka mengatasnamakan warga sekitar,” tambahnya. Demo itu, ucap Romo Paulus, terjadi pada pagi hari dan berlangsung sekitar tiga jam. “Demo dari jam 8 sampai 11 siang lewat,” ucap Romo Paulus. Ini bukan kali pertama Paroki St Bernadette dilarang menjalankan kegiatan ibadah. Ketika masih di Ciledug, paroki ini harus berpindah-pindah lokasi karena warga menutup akses ke Sekolah Sang Timur, yang menjadi tempat jemaah beribadah.

Romo Paulus mengatakan, dia belum tahu apakah Paroki St Bernadette akan kembali mencari lokasi baru untuk tempat ibadah selanjutnya. Untuk saat ini, ujarnya, pihak paroki akan berdialog dengan warga sekitar terkait tuntutan mereka.

Wakil Ketua I Komnas HAM Imdadun Rahmat mengatakan, apabila pembongkaran rumah ibadah mengacu pada IMB (izin mendirikan bangunan), akan ada banyak rumah ibadah yang bisa dibongkar.

“Perlu kalian ketahui, 85 persen rumah ibadah di Indonesia itu tak berizin. Mayoritas adalah masjid dan musala. Kalau pakai IMB sebagai acuan, siapin saja buldozer yang banyak,” kata Imdadun kepada Tempo, Selasa, 9 April 2013.

Imdadun mengatakan, kebanyakan rumah ibadah dibangun tanpa IMB karena mengacu pada kebutuhan umat beragama di wilayah terkait. Jika dirasa perlu ada rumah ibadah sesegera mungkin, rumah ibadah itu langsung dibangun. Imdadun sendiri menambahkan, apabila mengacu pada Surat Keterangan Bersama Tiga Menteri (Agama, Dalam Negeri, dan Hukum-HAM), rumah ibadah tanpa IMB bisa dipertahankan. Asal, memang diperlukan umat beragama di daerah tersebut.

“Kalau punya unsur historis, juga bisa tak dibongkar. Jadi, rumah ibadah itu tak bisa disamakan dengan bangunan biasa, tanpa IMB langsung dibongkar,” ujar Imdadun. Kalaupun sebuah rumah ibadah tanpa IMB tetap ingin dibongkar, ada sejumlah langkah yang harus dilakukan, seperti musyawarah warga, mediasi oleh pemda, hingga menyerahkannya pada putusan pengadilan.

“Hal ini berlaku untuk kasus HKBP Setu di Bekasi,” ujar Imdadun. Sebagaimana diketahui, tanggal 22 Maret 2013 lalu, HKBP Setu di Bekasi disegel karena tak memiliki IMB. Selengkapnya soal berita penyegelan gereja klik di sini.

Categories
Transportasi

Atasi Kemacetan Di Jakarta Sistem Jalan Berbayar ERP Akan Diberlakukan


Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan sistem Electronic Road Pricing (ERP) alias jalan berbayar yang akan diterapkan di Ibu Kota adalah gabungan dari Singapura dan Stockholm, Swedia. Pristono menuturkan saat ini Dinas masih mengkaji bentuk paling pas untuk Jakarta.

“Masing-masing kawasan punya karakteristik masing-masing,” kata Pristono pada Selasa, 23 September 2013. Salah satu contoh yang akan diadopsi oleh DKI dari Singapura adalah soal tarif.

Pristono mengatakan tarif yang ditetapkan oleh Jakarta antara kisaran Rp 7.000 sampai Rp 21 ribu. Bergantung dari tingkat kepadatan kawasan yang diterapkan ERP ini.

Menurut dia, ketika macet maka kawasan ERP akan dinaikan tarif melintasnya. Sebaliknya, jika sedikit yang lewat maka akan murah. Cara ini lah yang digunakan di Singapura.

Kecepatan ideal di Singapura adalah 45-65 kilometer per jam. Jika kendaraan melintas di kawasan ERP dengan rata-rata kecepatan tersebut maka tarif yang dikenakan akan murah.

Tetapi jika kecepatan rata-rata kendaraan di bawah itu, maka operator yang mengawasi zona ERP, menyatakan bahwa terjadi kepadatan. Efeknya tarif ERP akan naik. Untuk itulah pajak ERP di Singapura bisa berubah-ubah bergantung situasi arus lalu lintas.

Categories
Berbudaya Pendidikan

Mahasiswa UKI Universitas Kristen Indonesia Mengamuk Karena Kampus Dijaga Preman


Sejumlah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia merusak gedung rektorat di kampusnya. Mahasiswa menuding gedung yang harusnya terbuka untuk mereka itu dijaga oleh sekelompok preman.

“Tadi kami mau ambil kunci aula UKI untuk mempersiapkan acara besok, tapi saat kami mau masuk gedung rektorat, kami dihalang-halangi oleh preman, mereka mengusir kami,” ujar Hardoyo, mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Selasa, 24 September 2013.

Menurut Hardoyo, ia dan kawan-kawannya hendak mempersiapkan acara bertajuk “Debat Hukum Nasional” yang akan diadakan di aula UKI esok. Kunci aula tersebut terdapat di Gedung Rektorat.

Merasa haknya dirampas, para mahasiswa melakukan perlawanan dengam cara merusak gedung rektorat. Mereka memecahkan kaca depan Gedung Rektorat, kaca ruang administrasi, lemari piala, dan maket kampus.

Menurut Hardoyo, preman yang berjumlah enam orang itu ada di kampus UKI sejak sebulan lalu. “Mereka bilang tidak boleh pakai aula karena mau digunakan mereka tidur. Kami tidak terima,” ujar Hardoyo.

Lebih lanjut Hardoyo mengatakan, keberadaan preman di kampusnya berkaitan erat dengan terpilihnya Rupy Uli Tobing sebagai pejabat rektor sementara. Ia menduga penjabat rektor memperkerjakan preman sebagai petugas keamanan. Kendati rektor baru UKI, Maruarar Siahaan, telah terpilih, dualisme kekuasaan masih terjadi.

“Awalnya kami tidak peduli dengan masalah ini karena itu urusan orang atas, tapi karena ada insiden ini kami tidak terima,” Hardoyo menambahkan.

Sejumlah aparat Polres Metro Jakarta Timur dan Polsek Metro Kramat Jati tampak di lokasi insiden. Awalnya, mereka hendak mengevakuasi para preman namun mahasiswa menolak. Mahasiswa meminta orang yang mempekerjakan preman itu untuk datang menemui mereka.

Alhasil, baik petugas keamanan maupun mahasiswa sama-sama bertahan di dalam dan di luar gedung. Sementara petugas kepolisian berjaga-jaga di sekitar lokasi. Insiden ini terjadi pada pukul 15.30 dan hingga pukul 19.00. Tak terlihat pejabat kampus di lokasi kejadian.

Categories
Transportasi

Ngebut Pakai Porsche Didepan Lokasi Kecelakaan Maut Senayan … Mahasiswa Ditilang Polisi


Kepala Sub Ditlantas Polda Metro, Ajun Komisaris Besar Hindarsono mengatakan mahasiswa pengemudi mobil mewah Porsche akan menjalani sidang tilang. “Bagi kami tidak ada ‘damai’,” ujarnya, Selasa 24 September 2013. Seorang mahasiswa universitas swasta di daerah jakarta Selatan pengendara mobil jenis Porsche ditilang polisi Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya. Kepala Sub Ditlantas Polda Metro, Ajun Komisaris Besar Hindarsono mengatakan, mahasiswa itu berinisial DN.

Ceritanya, Hindarsono pagi tadi sedang memeriksa lokasi kecelakaan maut di Jalan Asia Afrika, Senayan. Dari ruas jalan seberang lokasi kecelakaan, terdengar suara deru berat kendaraan yang menarik perhatiannya. “Suaranya khas dan kencang sekali,” kata dia Selasa 24 September 2013.

Setelah diamati, ternyata mobil hitam jenis Porsche berplat B 8 DVN itu melaju kencang. “Mobil itu ngebut,” ujar dia. Tampilan mobil itu baru. “Mobilnya baru dan bagus.”

Dengan sigap, Petugas Ditlantas pun segera mengejar dan menghentikan mobil itu. Ketika diberhentikan, si pengemudi sempat berdalih. “Katanya buru-buru.” Namun, menurut Hindarsono, belakangan DVN bersikap kooperatif. Hasil pemeriksaan, surat-suratnya lengkap. Ada SIM dan STNK. Meski huruf belakang plat mobil DN merupakan singkatan nama pemuda itu, Hindarsono tidak bisa memastikan nama yang tertera di STNK adalah nama DN atau bukan.

Punya kendaraan dengan harga selangit berarti harus siap menanggung pajak yang tak sedikit. Salah satu kendaraan yang dikenai pajak tinggi adalah jenis Porsche. Mobil yang dipakai seorang mahasiswa ini, pada Selasa pagi, 24 September 2014, ditilang polisi karena ngebut.

Perwira Administrasi Tata Usaha Samsat Jakarta Selatan, Inspektur Satu Wahyono mengatakan pajak mobil hitam berpelat nomor B 8 DVN itu mencapai belasan juta rupiah. “Pajaknya Rp 16.635.000 per tahun ditambah Jasa Raharja Rp 143 ribu,” ujar Wahyono.

Sebagai perbandingan, tanggungan pajak kendaraan jenis ini jauh di atas kendaraan biasa. “Mobil jenis Toyota Avanza misalnya, pajaknya berkisar Rp. 2 juta,” kata Wahyono.

Saat ditilang, mahasiwa berinisial DN itu mengaku sedang terburu-buru. Kepala Sub Ditlantas Polda Metro Jaya, Ajun Komisaris Besar Hindarsono mengatakan, DN melaju kencang di kawasan Jalan Asia Afrika, Jakarta, tepatnya ruas jalan seberang lokasi kecelakaan maut Senayan.

“Dia ditilang karena melanggar batas kecepatan,” kata Hindarsono. Polisi kemudian menahan SIM milik DN dan mengharuskannya mengikuti sidang tilang.

Jalan Semarang Solo Lumpuh Total Karena Jembatan Nyaris Roboh Akibat Tabrakan


Bagi Anda yang akan menuju ke Semarang dari arah Solo, sebaiknya hindari jalur yang menuju pasar Babadan, Kabupaten Semarang. Terjadi kemacetan parah di lajur tersebut yang diduga merupakan dampak dari jembatan yang nyaris roboh akibat tabrakan beruntun di lokasi tersebut.

Budi Satria, menginformasikan kemacetan terjadi sejak memasuki jalan lintas Solo-Semarang. Dia memperkirakan kemacetan terjadi sekitar 4-5 kilometer hingga ke lokasi tabrakan beruntun yang terjadi Selasa (24/9) kemarin. “Tidak bergerak sama sekali, banyak pengemudi yang mematikan mesin kendaraannya,” kata Budi saat dihubungi, Rabu (25/9/2013).

Budi menuturkan, beberapa kendaraan berupaya memutar balik kendaraannya, namun para pengemudi terkunci. “Dari enam lajur tersisa satu lajur untuk memutar, tapi itu pun sudah terkunci,” kata Budi.

Dia menyayangkan tidak adanya petugas yang memberitahukan pengemudi untuk tidak memasuki ruas jalan raya Solo-Semarang. “Padahal sebelum memasuki ruas Solo-Semarang ada jalur alternatif yang bisa menjadi alternatif pengendara untuk menghindari macet. Tadi tidak ada petugas yang mengarahkan, karena kita tidak tahu kalau masih terjadi kemacetan,” ujarnya.

Jalur alternatif itu adalah yang menuju objek wisata Bandungan. Pengemudi dapat melalui jalur itu dan tiba di Semarang Barat. Kecelakaan beruntun terjadi kemarin sekitar pukul 17.00 WIB. Truk besar yang melaju dari arah Solo diduga mengalami rem blong dan menghantam beberapa kendaraan yang parkir di depan Pasar Babadan. Dua orang tewas dalam kecelakaan itu, sementara 12 orang lainnya mengalami luka.

Dua korban tewas dalam peristiwa tabrakan beruntun di Kabupaten Semarang telah teridentifikasi. Korban adalah pengemudi Kijang H 8456 TH, Suharyanto (47) warga Sendang Agung Baru No.8, RT 7/7, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang. Sementara korban lainnya bernama Budi Sargowo (48), warga Legoksari RT.03 RW. III, Kranggan, Ambarawa.

Kapolres Semarang AKBP Augustinus Berlianto Pangaribuan mengatakan pengemudi Kijang tewas seketika di lokasi kejadian sedangkan korban Budi meninggal di RS Ken Saras, Kabupaten Semarang. “Satu meninggal di lokasi, satu lagi meninggal di rumah sakit,” kata Augustinus di lokasi kejadian, Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Semarang, Selasa (24/9/2013).

Korban kecelakaan dibawa ke RS Ken Saras dan RSUD Ungaran Kabupaten Semarang. Di RSUD Ungaran, 12 korban luka dirawat, dua diantaranya rawat jalan dan tiga diantaranya dirujuk ke RS Elisabeth dan RS Permata Medica Semarang.

“Rata-rata luka di kepala,” kata salah satu dokter.

Adapun 12 korban luka yang sempat dibawa ke RSUD Ungaran adalah:
1. Didik Harmanto (57), warga Langen Sari
2. Agus Latif (13), warga Gunungpati Semarang
3. Sri Sudaryani (39), warga Bandaran Barat
4. Mirawan Suwardi (34), warga Kenanga Sari Genuk Semarang
5. Sisilia Indriyani (40), warga Sidorejo Bergas
6. Nasim (50), warga Mayangan Probolinggo
7. Wahyu Hidayat (54), warga Sebandangan Ungaran,
8. Imam Darmawan (34), warga Banyumanik Semarang
9. Sukini (45), warga Candi Rejo
10. Nur Kholis (43), warga Bergas
11. Ahmad Sodikin (48), warga Sukoharjo
12. Suharyanto (52)

Peristiwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu truk Fuso bernomor polisi N 8175 UP yang dikemudikan Nasim melaju dari arah Solo (Selatan). Diduga mengalami rem blong, truk yang mengangkut pasir besi tersebut menabrak mobil Kijang, travel, pick up, dan sepeda motor Mio. Dua orang meninggal akibat peristiwa tersebut, sementara belasan lainnya masih dirawat di Rumah Sakit termasuk supir truk.

Sopir truk maut yang menabrak empat mobil, satu motor, dan jembatan penyebrangan di depan pasar Babadan Kabupaten Semarang, masih belum bisa dimintai keterangan. Sopir bernama Nasim (50) warga Mayangan Probolinggo itu saat ini berada di RSUD Ungaran. Kabid Humas Polda Jateng, AKBP Allosius Liliek Sarmanto mengatakan Nasim masih dalam perawatan karena mengalami luka di bagian dalam dan patah tulang. Sehingga petugas kepolisan belum bisa meminta keterangan kepada pengemudi truk.

“Saat ini masih dirawat di rumah sakit. Dia mengalami luka dalam dan patah kaki,” kata Liliek saat dihubungi melalui telepon, Selasa (24/9/2013). Peristiwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu truk Fuso bernomor polisi N 8175 UP melaju dari arah Solo (Selatan). Diduga mengalami rem blong, truk yang mengangkut pasir besi tersebut menabrak mobil Kijang, travel, pick up, dan sepeda motor Mio.

Warga yang meninggal yaitu Suharyanto (47) warga Sendang Agung Baru No.8 RT.7 RW.7, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang dan Budi Sargowo (48) warga Legoksari RT.03 RW. III, Kranggan, Ambarawa.

Jalan Semarang-Solo tepatnya di depan pasar Babadan yang sempat macet sekitar tiga kilometer dari dua arah, akibat kecelakaan yang menyebabkan jembatan penyebrangan nyaris roboh kini mulai kembali lancar. Jembatan untuk sementara disangga menggunakan crane pada bagian yang miring.

Kasi Pemeliharaan Jembatan dan Jalan PU Kabupaten Semarang, Suhartono mengatakan untuk sementara jembatan penyeberangan akan disangga menggunakan crane untuk mengurai kemacetan. Rencananya jembatan akan di potong atau dirobohkan karena pondasi yang miring. “Ini yang penting lalu lintas jalan dulu. Mungkin pagi hari dirobohkan,” kata Suhartono di lokasi kejadian, Selasa (24/9/2013).

“Takutnya ada getaran terus rubuh,” imbuhnya. Saat ini semua kendaraan termasuk motor hingga truk yang sempat terhambat karena proses evakuasi di lokasi kejadian sudah bisa melintas di jalan Semarang-Solo tersebut. Kemacetan sepanjang tiga kilometer pun mulai terurai.

Peristiwa kecelakaan terjadi sekitar pukul 17.00 WIB. Saat itu truk Fuso bernomor polisi N 8175 UP melaju dari arah Solo (Selatan). Diduga mengalami rem blong, truk yang mengangkut pasir besi tersebut menabrak mobil Kijang, travel, pick up, dan sepeda motor Mio. Dua orang meninggal akibat peristiwa tersebut, sementara belasan lainnya masih dirawat di Rumah Sakit.

Categories
Transportasi

Parkir Sembrangan Kini Hanya Akan Digembosi Bannya Karena Lebih Cepat dan Memberi Efek Jera


Pencabutan tutup pentil disertai menggembosi ban dilakukan Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebab mereka tak punya wewenang untuk melakukan penilangan. Sejauh ini Dishub masih terus kerja sama dengan kepolisian. Namun penilangan kendaraan yang parkir sembarangan tak bisa dilakukan karena umumnya pengendara tak ada di tempat parkir.

Surat tilang juga tak bisa dikeluarkan polisi di kantor Dishub karena para pelanggar memilih membeli pentil baru ketimbang mengambil pentilnya yang disita. Itu sebabnya, pengamat transportasi Yoga Adiwinarto mengusulkan akan lebih tepat jika kewenangan parkir dan tilang diberikan kepada Dishub dari pada kepolisian sehingga mempercepat kinerja Dishub dalam melakukan penertiban dan menilang pengendara yang masih parkir sembarangan.

“Karena soal parkir itu terkait dengan transportasi, kan berkaitan dengan upaya pembenahan lalu lintas, kemacetan,” kata Yoga saat dihubungi detikcom, Selasa (24/9). “Ranahnya itu lebih ke arah traffic management, lalu lintas. Kalau kepolisian kan fokusnya ke arah keselamatannya.”

Direktur Eksekutif Institute for Transportation and Development Policy ini mengapresiasi pencabutan katup pentil kendaraan yang dilakukan Dishub untuk menertibkan kendaraan yang parkir sembarangan. Langkah ini dinilainya sebagai sebuah terobosan yang baik untuk memberikan hukuman baru kepada pengendara yang tak tertib. “Ini langkah bagus untuk memulai instrumen penegakan. Kalau selama ini kan dibilang Dishub gak punya kewenangan segala macam, jadi pasrah kan,” ujar Yoga.

Menurut dia mungkin selama ini Dishub takut-takut namun perlu ada terobosan sebab yang parkir sembarangan harus dipenalti. “Salah satu cara membuat mereka jera ya dengan mengempiskan bannya,” tegasnya. Yoga menekankan, tindakan Dishub tersebut juga sebagai langkah awal untuk membuka mata orang bahwa sebenarnya tidak bisa seenaknya parkir di Jakarta.

“Kadang ada yang bilang kalau dikempiskan gak berperikemanusiaan, tapi masalahnya mereka kan melanggar dan merugikan orang lain, terutama daerah sekitarnya jadi macet. Kedua jadi enggak adil dong buat orang-orang yang sudah tertib dan mau parkir di tempat yang benar.”

Selain wewenang tilang, Yoga melanjutkan, upaya yang harus dilakukan adalah memberdayakan instrumen lain seperti Dinas Pendapatan Daerah dengan memberi wewenang lebih dalam hal traffic management, terutama saat pengurusan STNK.

Denda tilang pelanggar lalu lintas dan parkir sembarangan bisa dimasukkan dalam komponen perpanjangan STNK. “Kayak Pak Ahok pernah bilang, jadi saat mau bayar STNK harus bayar dendanya atau STNK-nya tidak diperpanjang,” ujar dia. Sayangnya, seperti wewenang tilang, pengurusan STNK juga masih jadi kewenangan kepolisian.

Sebelumnya, pemerintah provinsi DKI juga mengatakan akan bersikap tegas para para pengemudi yang parkir dan ngetem tidak pada tempatnya. Selain pencabutan pentil kendaraan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok juga mengatakan akan menolak perpanjangan STNK kendaraan jika pemiliknya masih membandel parkir sembarangan.

“Semua kendaraan yang parkir sembarangan akan kita cabutin, kalau ada yang bandel akan kita tolak perpanjangan STNK-nya,” tegas Ahok. Umanuddin sudah lebih dari 20 tahun menjadi tukang parkir liar di jalan Fahrudin, Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selama itu tak ada teguran atau pun larangan dari Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Namun, Senin (23/9) siang kemarin, pria berusia 67 tahun itu dikagetkan oleh kedatangan belasan rombongan petugas Dinas Perhubungan ke tempat parkir yang dia jaga.

Pria yang sering dipanggil dengan nama Babe ini tak bisa berbuat banyak saat satu per satu petugas mengempeskan ban motor pelanggannya. Dia merasa sedih karena sebelumnya tak ada pemberitahuan dari petugas Dinas Perhubungan.

“Kalau dikasih tahu supaya mengosongkan ini, saya kan bisa bilang ke langganan biar enggak parkir di sini. Sekarang saya jadi enggak enak sama langganan saya,” kata Babe kepada detikcom Senin (23/9) kemarin. Kekhawatiran Babe terbukti. Beberapa pelanggannya yang parkir kesal dan emosi saat tahu motor mereka digembosi. Dia juga kena imbasnya sebab banyak orang yang parkir melongos tanpa membayar. Dia pun tak berani meminta uang parkir.

Babe mengaku memiliki langganan cukup banyak. Rata-rata orang yang parkir di lokasi tersebut adalah para pedagang dan sales pakaian, serta orang yang akan belanja ke pasar. “Mereka pagi, pulang sore,” kata dia.

Babe menerapkan sistem tarif parkir bulanan dengan biaya sekitar Rp 40 sampai Rp 50 ribu. Bagi yang hanya datang sesekali, tarif parkirnya sekitar Rp 3000. Tarif tersebut diyakininya sebagai salah satu faktor penyebab banyak orang yang memilih parkir di tempat dia. Setiap hari ada ratusan motor yang parkir di tempat Babe. Dia mengelola lahan sepanjang 15 meter itu berdua dengan rekannya. Dari hasil parkir liar itu, Babe mengaku bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. “Penghasilannya lumayan, ada jugalah. Sehari misalnya saya bawa pulang minimal Rp 50 ribu,” kata dia.

Karena itu dia tetap berharap bisa membuka lapak parkir di lokasi tersebut. “Saya tanya mana yang boleh mana yang enggak. Memang saya juga enggak kepengin sampai ganggu orang. Saya nyisain jalan kok,” ujarnya.

Untuk sementara dia berpesan kepada pelanggannya yang hendak mengambil motor agar parkir di tempat yang telah ditentukan. “besok parkir di dalam saja, di sini enggak boleh lagi,” kata Babe.

Babe mengaku belum memiliki rencana apabila kendaraan tidak diperbolehkan parkir di tempat yang dia tunggu selama ini. “Besok saya lihat dulu kalau emang enggak mungkin ya enggak (parkir), lebih baik di rumah, membantu istri jaga warung rokok di depan rumah,” kata dia. Akin, 36 tahun, bersiap meninggalkan toko pakaiannya di blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin sore (23/9) kemarin. Dia bergegas menuju ke arah jalan Fahrudin. Di sana ia memarkirkan motornya di lokasi parkir yang dijaga oleh Umanuddin, 67 tahun.

Sepeda motor Akin terletak di ujung “parkiran”, tepat di atas trotoar jalan. Ya, area sepetak yang berada di mulut tangga masuk jembatan penyeberangan orang itu sebenarnya trotoar jalan, namun dimanfaatkan untuk parkir liar.

Akin sudah mengatupkan helmnya dan bersiap menurunkan motor ke bahu jalan, saat Uman mendekat dengan wajah sedikit cemas. “Tadi dikempesin petugas, ada razia,” kata Uman kepada Akin dengan nada suara pelan. Akin lalu menyadari kedua ban motornya ternyata kempes. Tapi wajahnya makin kaget ketika sadar dua katup angin berikut pentilnya juga hilang. “Harusnya cukup dikempesin saja kalau untuk kasih peringatan, kalau diambil begini saya bisa tuduh maling,” kata dia dengan nada suara meninggi.

Warga Tangerang ini mengaku sudah dua tahun memarkir kendaraan di tempat tersebut saat berdagang di Pasar Tanah Abang. Selama itu pula dia tak pernah mendapat pemberitahuan tentang akan adanya razia dari petugas.

Apalagi setelah mengetahui ban motornya kempes, Akin juga tidak mendapatkan stiker pemberitahuan dari Dinas Perhubungan yang menempel di kendaraanya. Jika tidak ada Umanuddin yang memberitahu, Akin mungkin tak tahu pengempesan itu dilakukan oleh petugas Dinas Perhubungan. Tak terima dengan perlakukan petugas, Akin akan nekat parkir di tempat tersebut. “Besok-besok ya di sini. Harusnya kasih peringatan dulu kalau langsung begini ya besok bandel lagi,” kata Akin.

Derita yang sama juga dialami Uni Ega, 37 tahun. Wanita yang membuka rumah makan di blok E Pasar Tanah Abang itu mendapati dua ban motornya yang diparkir di trotoar di jalan Fahrudin kempes. Sepeda motornya terkena razia parkir liar yang digelar petugas Dinas Perhubungan.

Padahal selama setahun ia parkir di tempat tersebut dan jadi langganan Umanuddin tidak pernah terjadi apa-apa. Awalnya Uni Ega menyangka itu kerjaan Umanuddin sehingga motornya dikempesin petugas. “Babe pindahin ya tadi? Biasanya kalau ada apa-apa dibilangin dulu,” tanyanya.

Kepada Umi Ega dan Akin, Umanuddin menyarankan agar membeli katup dan pentil sepeda motor ke sebuah bengkel yang jaraknya tak jauh dari tempat parkir tersebut. “Tadi ada razia, semua kena. “Ya sudahlah ke bengkel saja, (katup pentil) ada di sana. Beli sajalah, Rp 5 ribu,” kata Umanuddin kepada Umi Ega.

Umi Ega dan Akin menilai operasi penggembosan sepeda motor yang parkir sembarangan tak akan efektif. Menurut mereka semestinya pemerintah provinsi bisa menyediakan lahan parkir yang murah dan nyaman.

“Kalau penggembosan gini enggak bikin jera, bengkelnya juga dekat di sini. Sementara parkir di dalam juga sempit, udah penuh, fasilitas buat pedagang enggak ada. Orang kan pilih parkir liar karena lebih murah,” kata Umi Ega. Dengan dinilai efektifnya razia pencabutan tutup pentil sekaligus menggembosi ban, Dinas Perhubungan DKI Jakarta memastikan ide baru dalam menindak pelanggaran parkir liar itu dilakukan serentak di setiap wilayah ibu kota.

Kepala Seksi Pengendalian Lalu Lintas Angkutan Jalan Dishub DKI Jakarta, Andi Jaya Prana menegaskan upaya pengempesi ban untuk memberi efek jera sudah dilakukan secara merata di berbagai wilayah.

Aksi ini dilakukan secara serentak sebab masing-masing suku dinas sudah mempunyai target operasi yang dianggap bermasalah. “Kita ada target operasi tertentu dan wilayah juga sudah ada TO-nya. Ini sudah keseragaman, penertiban dilakukan serentak oleh semua suku dinas wilayah,” kata Andi saat ditemui di kantornya, kemarin.

Andi menuturkan dari dinas provinsi ada satu pleton penindakan yang berisi sekitar 15 personel yang diturunkan untuk razia pentil. Lokasi operasi tak dilakukan secara menetap melainkan berpindah-pindah. Terkadang pihaknya yang berinisiatif datang ke satu lokasi, dan kadang kala ia diminta untuk mem-back up pasukan razia dari suku dinas tertentu. “Tim tindak kita kan mobile, kita bisa saja di Tanah Abang, besok kita cari TO di Jakarta Barat,” ujarnya. Sejumlah titik razia parkir liar yang menjadi prioritas antara lain di seputaran Hotel Menara Peninsula, Pasar Baru, Roxy, Cempaka Mas, Tanah Abang, Kebon Kacang, Dharmawangsa Square, Pasar Minggu.

Adapun wilayah yang juga padat parkir liar seperti Blok M, Glodok, dan kawasan Gajah Mada masih akan dirapatkan di tingkat gubernur. “Karena itukan pusat bisnis, jadi keterlibatannya banyak, hari Selasa ini gubernur akan rapat dengan pemilik gedung di lokasi itu untuk mencari solusinya,” Andi menjelaskan.

Kepada Dishub DKI Jakarta Udar Pristono menambahkan, dibandingkan dengan operasi lain seperti menderek maupun menilang, mencabut pentil dan mengempesi ban tak butuh banyak personel. Cara ini juga lebih efisien dari segi waktu dan biaya.

Jika aksi tilang, maka dia harus memastikan anggota dinas bisa menunggu si empunya kendaraan. Sementara untuk aksi derek-menderek mobil dan motor, maka perlu biaya bahan bakar.

“Kita ada alatnya dan menggembosi satu kendaraan tak sampai satu menit. Enggak terlalu banyak (petugas) juga karena nyabut pentil itu sangat cepat,” kata dia saat ditemui di kantornya, Kamis pekan lalu. Udar menyebutkan hanya ada sekitar 200 orang tim yang akan bergerak setiap hari, dari pusat dan masing-masing suku dinas.

Kepala Bidang Operasional Dishub DKI Jakarta, Sunardi Sinaga, mengatakan razia tersebut bakal terus dilakukan setiap hari. “Rambu sudah ada. Parkir tidak pada tempatnya melanggar UU tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan bisa ditilang polisi,” kata Sunardi menegaskan. Sejumlah warga sebenarnya tahu, bahwa parkir di trotoar atau di bahu jalan adalah perbuatan yang salah. Namun toh mereka tetap saja nekat melakukan, dengan alasan tempat parkir yang disediakan pemerintah provinsi tidak nyaman dan tarifnya mahal.

Apalagi masih ditambah adanya pungutan liar oleh sejumlah preman. Uni Ega, 37 tahun misalnya. Wanita yang membuka rumah makan di blok E Pasar Tanah Abang itu memilih memarkirkan motornya di trotoar di pinggir jalan Fahrudin.

Padahal di dalam gedung blok E Pasar Tanah Abang sudah disediakan tempat parkir. Namun menurut Uni, selain tarifnya lebih mahal tempatnya juga terbatas. Dia sering tidak kebagian tempat saat hendak parkir. Belum lagi persoalan pungutan liar para preman di dalam gedung. “Bayarnya sih Rp 2 ribu per jam di pos depan, tapi di dalam bayar lagi kalau mau ke luar,” kata Uni Ega, Senin (23/9) kemarin.

Adanya pungutan liar juga menjadikan tarif parkir di dalam gedung blok A Pasar Tanah Abang yang mestinya hanya Rp 3 ribu menjadi berlipat-lipat. “Tidak ada aturan resmi, jadinya biayanya bisa lebih banyak karena (di dalam) banyaknya calo,” kata Budi, 25 tahun, warga Cengkareng yang sering ke Tanah Abang untuk belanja kain.

Budi pun memilih parkir di tepi jalan Fahrudin dengan alasan tarif lebih murah dan nyaman. “Saya sudah cukup lama parkir di sini, alasannya ya karena di dalam mahal. Kalau mau di usut di dalam saja, banyak calo di tempat parkirnya,” kata Budi. Akin, 36 tahun, pedagang kain di blok A Pasar Tanah Abang juga memilih memarkirkan kendaraannya di tepi jalan Fahrudin. Selain karena tarifnya lebih murah, aksesnya pun lebih gampang. Dia mengaku sempat parkir di dalam gedung, namun belakangan merasa kurang nyaman karena selalu penuh. Kondisi ini mengakibatkan kendaraan susah saat akan ke luar.

“Di sana (blok A) Rp 2 ribu per jam, di sini bulanan paling sekitar Rp 50 ribu, jadi selain lebih murah saat ke luarnya juga lebih gampang,” kata dia.

Uni Ega, Akin, dan juga Budi sadar tindakannya parkir di tempat yang dilarang memang salah. Mereka pun menuntut pemerintah provinsi bisa menyediakan lahan parkir yang murah dan nyaman.

Razia penertiban parkir liar dilakukan Dinas Perhubungan DKI Jakarta sejak pekan lalu. Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan razia parkir liar dengan pencabutan pentil kendaraan dinilai lebih efektif.

Cara ini juga lebih efisien dari segi waktu dan biaya, dibandingkan dengan menderek maupun menilang. Razia pencabutan pentil ini pun dampaknya lebih cepat untuk mengurangi kemacetan. “Pengempesan kendaraaan itu cepat sekali, tapi efek jeranya terasa,” kata Pristono.

Dia mencontohkan, di kawasan pusat perbelanjaan Roxy yang tadinya macet parah akibat parkir liar kini lalu lintas sudah mulai lancar kembali. “Sekarang bisa dilihat sudah berkurang pelanggarannya. Ini cara yang praktis dan efek jeranya mulai terlihat,” kata Pristono.Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya (Sby) menyangkal bila disebut tebang pilih dalam penertiban kendaraan yang parkir ngawur.

Ban kendaraan bila kedapatan parkir tak pada lokasinya akan digembosi, termasuk kendaraan dinas pemerintahan pelat merah sekalipun.

“Kalau ketahuan tertangkap tangan akan kita tertibkan, kalau nggak kita gembosi. Nggak peduli itu mobilnya pelat merah atau bukan,” ujar Subagyo Utomo saat dihubungi detikcom, Selasa (24/9/2013).

Kepala Bidang Pengendalian Operasional Dinas Perhubungan ini menyakinkan bahwa pihaknya tidak tebang pilih.

Hanya saja, keberadaan mobil yang parkir di tikungan di Jalan Jaksa Agung Suprapto ke arah Jalan Jimerto bagian barat luput dari pantauan. “Kita setiap hari terus patroli. Mungkin ada tempat yang kelewatan,” tegasnya.

Ia mencontohkan bahwa penertiban juga sudah dilakukan di depan Kantor Satpol PP dan Bakesbang Linmas yang lokasinya di samping Balai Kota Surabaya.

“Di lokasi tersebut sebelumnya digunakan sebagai tempar parkir kendaraan dinas satpol PP maupun Linmas, sekarang sudah bersih dan kendaraan tersebut parkir di area Balaikota Surabaya,” ungkapnya.