Monthly Archives: September 2013

Karena Kaya Konvoi Mobil Mewah Pelanggar Aturan Ditol Jagorawi Hanya Diberi Peringatan


Konvoi mobil sport mewah diberhentikan polisi di Tol Jagorawi. Mereka ngebut di bahu jalan. Tapi sayangnya polisi hanya melakukan pengarahan saja. Walau melanggar aturan, mereka tak ditilang. Informasi yang dikumpulkan, Senin (30/9/2013), konvoi mobil sport yang terdiri dari berbagai macam merek mulai dari Porsche, Lamborghini, hingga Ferrari itu melakukan konvoi di Jagorawi pada Minggu (29/9) pagi.

Mereka ngebut di bahu jalan. Saat itu, aksi mereka dilihat seorang pejabat Mabes Polri yang tengah melintas. Pejabat itu segera melakukan koordinasi dengan PJR Mabes Polri. Rombongan mobil sport mewah itu akhirnya berhasil ditemui petugas di pom bensin. Petugas tak melakukan penilangan hanya melakukan pengarahan saja.

“Ya saya dilapori secara umum saja. Intinya penindakan itu tidak harus ditilang. Kan ada preventif dan represif,” ujar Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Metro Jaya, AKBP Jazari, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (29/9).

Jazari menegaskan, yang melakukan penanganan bukan Polda Metro Jaya tetapi Mabes Polri. Dia meminta agar soal konvoi ini ditanyakan ke PJR Korlantas Polri. Yang menjadi pertanyaan juga, siapa mereka yang melakukan konvoi itu? Adakah pejabat atau orang terkenal sehingga tak ditilang?

Konvoi 10 mobil mewah di tol Jagorawi dihentikan oleh petugas Patroli Jalan Raya (PJR). Gara-garanya pengendara mobil-mobil mahal tersebut ngebut di jalanan. “Ya memang tadi kita tertibkan, ada 10 mobillah, kami berikan arahan,” ujar petugas PJR Jagorawi, Briptu Ardiono, ketika dikonfirmasi, Minggu (29/9/2013).

Berdasarkan informasi yang didapatkan, mobil-mobil tersebut ngebut dan menggunakan bahu jalan tol saat melaju dari Jakarta ke Bogor pagi ini. Seorang petugas polisi melihat hal ini dan melapor ke PJR. Lalu, rombongan disetop dan diberi pengarahan di rest area Km 21, tepatnya di pom bensin Shell. “Ya informasinya mereka ngebut,” kata Ardiono.

Dari foto yang didapatkan detikcom, mobil-mobil mewah tersebut sebagian besar merupakan Lamborghini Aventador. Ada juga jenis Porsche Spyder.

Polisi menyetop konvoi mobil sport mewah di Tol Jagorawi. Ada di antara mobil itu yang dilaporkan mengebut hingga akhirnya ditertibkan. Namun, tak ada tindakan penilangan. Apa alasannya?

“Ya saya dilapori secara umum saja. Intinya penindakan itu tidak harus ditilang. Kan ada preventif dan represif,” ujar Kasat Patroli Jalan Raya (PJR) Polda Metro Jaya, AKBP Jazari, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (29/9/2013).

Menurut Jazari, justru sebetulnya yang perlu dilakukan pertama kali adalah memberi peringatan kepada pengendara. Namun jika di lain waktu mengulangi lagi, akan dilakukan tindakan represif. “Kalau mengulangi lagi baru besok ditilang,” kata Jazari. Mengenai alasan mengapa konvoi mobil sport tersebut, ditertibkan, Jazari membenarkan bahwa ada informasi mereka mengebut.

“Yang jelas kami nggak asal dong memberi peringatan. Masa orang nggak salah apa-apa kami beri arahan, nanti kan orang marah,” kata Jazari. Dari foto yang diperoleh detikcom, sedikitnya ada 10 mobil sport mewah yang diberhentikan polisi tepat di pom bensin Shell. Mobil itu terdiri dari Lamborghini, Ferrari, dan Porsche.

Saat dikonfirmasi, salah satu pengendara mobil Lamborghini yang berada dalam rombongan mengaku tak ditertibkan. Mereka menuding pengemudi dari kelompok lain yang melanggar lalu lintas. Sedangkan mobil Lamborghini yang berada di pom bensin tadi sedang mengisi bahan bakar.

Petugas Patroli Jalan Raya (PJR) Jagorawi menertibkan konvoi mobil-mobil sport karena ngebut di jalanan tol. Komunitas Lamborghini angkat bicara.

Dari foto penertiban yang didapatkan detikcom, terdapat setidaknya tiga Lamborghini Aventador yang ikut ditertibkan oleh petugas PJR. Penertiban dilakukan di Rest Area KM 21 tol Jagorawi. Tiga petugas berdiri di depan mobil-mobil premium tersebut. Lalu beberapa orang dari pemilik mobil terlihat berbicara dengan polisi.

Pihak komunitas Lamborghini Jakarta membenarkan pada pagi tadi melakukan acara konvoi ke Bogor dan kembali lagi ke Jakarta.

“Kami ada acara sarapan bersama dengan Kapolres Bogor. Ini acara rutin, kadang ke Bekasi, kadang ke Tangerang,” kata Koordinator Humas Lamborghini Jakarta, Andrys Ronaldi, saat dihubungi detikcom, Minggu (29/9/2013).

Andrys membenarkan bahwa rombongannya yang berjumlah 18 mobil berhenti di Rest Area KM 21. Namun dia membantah rombongannya ditertibkan oleh petugas kepolisian.

“Kami berhenti untuk isi bahan bakar di Shell. Kalau memang kami bertemu dengan polisi ya tegur sapa saja, hubungan kami memang baik dengan kepolisian. Kami pergi ke Kapolres Bogor, sebelum berangkat saja kami berkomunikasi dengan Kakorlantas,” kata Andrys.

Andrys menduga ada komunitas mobil sport lainnya yang mengebut dan menggunakan bahu jalan tol. Menurut Andrys, kebetulan pada pagi tadi ada acara dari komunitas mobil lain di sekitaran Sentul.

“Mungkin di depan kami ada yang lain dan melanggar. Kemudian dikiranya dari Lamborghini. Yang jelas bukan kami,” ujarnya.

Lima Misteri Pembunuhan Yang Berhasil Diungkap Oleh Paker Forensik Mun’im Idries


Mun’im Idries kini telah tiada. Namun selama hidupnya, dia telah membongkar sejumlah kasus pembunuhan yang menyisakan misteri. Apa saja ceritanya?

Mun’im memang kerap dilibatkan dalam sejumlah kasus pembunuhan oleh polisi sebagai ahli forensik. Dia jadi tokoh sentral dalam proses autopsi hingga identifikasi jenazah. Tak heran, dia punya segudang cerita soal kasus-kasus tersebut.

Berikut lima misteri pembunuhan yang diungkap Mun’im dalam bukunya ‘Indonesia X Files’:

Marsinah
Kematian pejuang buruh PT Catur Putra Surya, Marsinah masih menjadi tanda tanya besar. Pakar forensik Abdul Mun’im Idries menemukan berbagai kejanggalan visum saat diminta jadi saksi ahli meringankan kasus tersebut di persidangan.

Meski sempat dilarang oleh koleganya, Mun’im saat itu tetap ngotot bersaksi. Bersama kuasa hukum bos PT CPS Judi Susanto, Trimoelja D Soerjadi, Mun’im menemukan banyak kejanggalan dalam visum. “Visum dari RSUD Nganjuk sangat sederhana karena hanya 1 halaman,” terang Mun’im di halaman 27. Meski jenazah Marsinah sudah dibedah, tapi tidak dijumpai laporan keadaan kepala, leher dan dada korban. Di dalam visum juga disebutkan Marsinah tewas akibat pendarahan dalam rongga perut.

“Padahal yang seharusnya diutarakan pembuat visum adalah penyebab kematian (tusukan, tembakan, cekikan), bukan mekanisme kematian (pendarahan, mati lemas),” papar Mun’im. Fakta persidangan juga menyebut Marsinah ditusuk kemaluannya dalam waktu yang berbeda. Tapi dalam visum, hanya ada 1 luka, pada labia minora. “Kejanggalan makin jelas ketika barang bukti yang dipakai menusuk kemaluan korban ternyata lebih besar dari ukuran luka,” sambungnya lagi.

Beberapa visum lainnya juga terus disoroti oleh Mun’im. Ia menduga pembuatan visum atau lazim disebut visum et repertum itu dilakukan di luar kelaziman. “Kematian Marsinah seperti selalu ada yang kurang,” tandasnya.

Misteri Kematian Mahasiswa Trisakti
Suasana di Jakarta di malam penembakan mahasiswa Trisakti sangatlah mencekam. Pakar forensik dr. Abdul Mun’Im Idries yang ikut mengautosi menceritakan bagaimana menakutkannya keadaan saat tertembaknya empat mahasiswa itu. Saat kejadian, Mun’im mendapat telepon dari Kasat Serse Polres Metro Jakarta Barat Idham Aziz, untuk mengautopsi jenazah korban penembakan. Ia disuruh menunggu di pos polisi Terminal Grogol.

Selama menunggu Mun’im dihubungi oleh Kapolres Jakarta Barat, Timur Pradopo dan Kapolda Metro Jaya, Hamami Nata. Ia disuruh menunggu sebelum diperintahkan melakukan autopsi. kemudian Mun’Im pun berangkat menuju RS Sumber Waras dengan membonceng motor petugas. Di tengah perjalanan Mun’Im merasakan keanehan. Petugas yang membawanya memilih untuk melalui jalan tikus, padahal saat itu keadaan tengah sepi dan seharusnya mereka bisa langsung lurus menuju RS Sumber Waras

“Pak dokter, kita tidak tahu siapa kawan siapa lawan. Ini semua demi keselamatan dokter,” ungkap si petugas kepolisian yang mengantarnya. Sesampainya di rumah sakit Mun’im bertemu dengan mahasiswa dan keluarga korban. Mereka semua menolak untuk diadakanya pemeriksaan bedah mayat.

Setelah Mun’im berusaha meyakinkan keluarga, akhirnya pemeriksaan pun dimulai. Setelah melakukan pemeriksaan sekitar 90 menit, Mun’im mendapatkan hasil. Masing masing mendapat luka tembak pada daerah mematikan, bukan untuk melumpuhkan. Usai pemeriksaan, Mun’im kembali ke ruang administrasi, di sana, Mun’im bertemu dengan Marzuki Darusman dan Amaral yang pada saat itu menjabat sebagai ketua dan sekretaris jenderal Komnas HAM.

Saat bertegur sapa dengan Marzuki Darusman, dia menerima SPVR (surat permintaan Visum et Repertum) dari
kepolisian. Anehnya SPVR yang diterimanya sebanyak 6 buah sedangkan korbannya hanya ada 4. Selain itu tidak ada identitas para korban dan yang tertera hanya tanda tangan penyidik. “Maaf pak dokter, kami tidak tahu berapa korban yang tewas dan kami juga tidak tahu nama para korban” jawab petugas Polres Jakarta Barat.

Seusai jumpa pers, pukul 4 pagi Mun’im sudah dijemput oleh petugas dari Polres Jakarta Barat. Saat Mun’im meminta untuk diantar pulang, petugas Kasat Serse Polres Metro Jakatra Barat malah mengantarnya menuju Polda. Setibanya di Polda, di lantai pertama Mun’im berjumpa dengan Sudi Silalahi dari Kodam V jaya, kemudian dia menuju ruang Kapolda.

Saat itu dia hanya berdua dengan Hamami Nata, kemudian Mun’im membuka pembicaraan dengan menyampaikan hasil autopsi. “Saya sudah perintahkan kepada semua anak buah saya agar mereka tidak menggunakan peluru tajam. Mereka yang menghadapi pengunjuk rasa hanya dibekali peluru karet atau peluru hampa yang terbatas jumlahnya. Dari mana datangnya peluru ini?” Ungkap Hamami. Di situ Mun’im berpikir kalau Kapolda dikerjain.

Misteri Peluru Nasrudin
Kematian pengusaha Nasrudin Zulkarnaen juga tidak luput dari autopsi pakar forensik Abdul Mun’im Idries. Dalam proses penyelidikan, polisi ternyata pernah meminta agar Mun’im menghapus data penjelasan jenis peluru yang menewaskan Nasrudin. “Saya pernah menjelaskan bahwa jenis peluru yang bersarang di Nasrudin memiliki diameter 9 mm, kaliber 0,38 tipe S & W, tapi saat itu diminta dihapus oleh polisi,” tulis Mun’im di halaman 74.

Usai ditembak, Nasrudin memang sempat mendapat pertolongan ke RS Mayapada Tangerang da RSPAD Gatot Subroto. Inilah yang membuat Mun’im menegaskan adanya manipulasi jasad korban. Untuk mengautopsi jenazah Nasrudin, Mun’im juga mengaku ditelepon oleh tiga polisi. Yang terakhir seseorang berpangkat Komjen untuk meminta kesediaanya melakukan autopsi. Mun’im yang mengikuti seluruh proses persidangan sembilan terdakwa sebagai saksi ahli mengaku awalnya tidak tahu ada nama Rani. “Tidak lama kemudian baru nama Rani keluar. Dari situ saya mengerti tentang pola permainan ini,” tandasnya.

Munir dan Arsenik
Ahli forensik RSCM, Abdul Mun’im Idries ikut membantu autopsi jenazah pejuang HAM, Munir Said Thalib. Mun’im yang juga ditugaskan untuk membantu membongkar kasus itu pun membeberkan sejumlah fakta menarik. Mun’im saat itu sempat terkejut mengetahui Munir tewas akibat diracun arsenik. Cara pelaku membunuh dengan arsenik dianggap sangat pintar.

“Kasus keracunan semacam itu terjadi tidak sampai 10 persen,” tulis Mun’im di halaman 85. Mun’im sempat menolak ajakan polisi ke Belanda untuk memastikan kematian Munir. Hasil autopsi di Belanda sudah cukup dijadikan bukti penyebab kematian Munir. “Yang belum diketahui sampai saat ini ialah cara kematiannya (manner of death),” kenang Mun’im.

Di sinilah banyak ditemukan fakta mengejutkan. Tim polisi sempat berkesimpulan arsenik dituangkan dalam jus. Namun kesimpulan itu ditolak Mun’im karena arsenik bakal mengendap di air dingin. Ia juga memastikan kerja arsenik hanya itu bisa dirasa hanya dalam 30 menit. Mun’im juga menduga TPF bentukan Presiden SBY tidak serius menangani kasus ini. Rapat pertama tim ini malah dipimpin oleh Wakil Direktur Tipikor.

Mun’im dan polisi kemudian mengadakan sejumlah pertemuan di Hotel Nikko untuk membahas TKP. Pencari lokasi kejadian ini merujuk analisa 30 menit miliknya. Radar saat itu mengarah ke Cafe Bean yang ada di Bandara Changi. Sejumlah pelajar juga melihat Pollycarpus bersama Munir di situ. Dalam perjalanan penyelidikan itu, Mun’im mengaku pernah dipanggil Kabareskrim Komjen Bambang Hendarso Danuri. Percakapan dengan Bambang itu dituangkan secara detail.

“Dokter, ini untuk merah putih,” kata Bambang saat itu.

“Loh kenapa Pak?” tanya Mun’im.

“Kalau kita tidak bisa memasukan seseorang ke dalam tahanan sebagai pelaku, dana dari luar negeri tidak cair. Karena dia tokoh HAM. Kemudian obligasi kita tidak laku Dok,” papar Bambang.

Mun’im yakin, gejala maag yang dirasakan Munir di dalam pesawat adalah awal racun bekerja. Proses bekerjanya racun hingga akhirnya Munir ditemukan tewas di atas langit Rumania match dengan TKP di Cafe Bean. Mun’im juga membagi TKP dalam tiga bagian: perencanaan, eksekusi dan saat wafat. Kejanggalan utama adalah penunjukan Pollycarpus yang ditugas Dirut Garuda saat itu, Indra Setiawan untuk mencari tahu penyebab insiden Boeing 747 Singapura-Amsterdam beberapa waktu sebelum Munir tewas.

Aneh karena seorang pilot Airbus 330 ditugasi untuk mengecek kenapa roda pendaratan pesawat saat itu macet. Jika urusan roda yang ingin diselidiki, kenapa bukan mekanik yang dikirim. Hal lain, CCTV Bandara Soekarno-Hatta saat itu hanya dua saja yang aktif. Pesawat yang ditumpangi Munir ke Changi juga terus mengalami delay. Belakangan diketahui delay itu karena sedang menunggu pesawat Garuda dari Singapura.

“Pesawat tersebut berisi Pollycarpus,” tegas Mun’im. Pollycarpus memang sudah dipenjara. Namun Mun’im sendiri menuliskan masih banyak misteri dalam kasus ini.

Detik-detik Kematian Bung Karno
Mun’im Idries punya versi sendiri perihal meninggalnya Presiden Soekarno. Masa pengasingan Soekarno diduga kuat menjadi penyebab turunnya terus kesehatan sang proklamator kawakan tersebut. “Kondisi kesehatan yang jelek dan tidak mendapat perawatan yang seharusnya, tidak adanya atensi, serta pudarnya eksistensi merupakan penjelasan yang rasional,” tulis Mun’im di halaman 46.

Dalam bukunya itu, Mun’im memang mengutip pernyataan dari istri Soekarno, Ratna Sari Dewi. Ratna saat itu menyebut Bung Karno meninggal karena terus menerus diberi obat tidur. “Beliau (Ratna) bukan dokter sehingga secara keilmuan beliau tidak memiliki otoritas,” kata Mun’im menanggapi pernyataan Ratna.

Dokter nyentrik ini justru lebih setuju dengan dokter yang merawat Soekarno, dr Hartanto dan Rachmawati Soekarnoputri. Keduanya kompak mengatakan Soekarno memiliki masalah dengan ginjal. Bahkan Soekarno sendiri sudah melakukan operasi pengangkatan ginjal di Wina tahun 1960. Fungsi ginjal Soekarno hanya tinggal 25 persen saja.

Mun’im menilai perlakuan yang diterima Soekarno dalam masa sakitnya itulah menjadi penyebab kematiannya. Mulai dari pengucilan, dijadikan tahanan rumah hingga menghilangkan eksistensi Soekarno adalah contohnya. “Dengan kata lain, perlakuan orde baru terhadap Bung Karno sedikit banyak mempunya andil – kalau tidak dapat dikatakan bertanggung jawab – atas kematian penggali pancasila tersebut,” tandasnya.

Analisis Mun’im Idries: Autopsi Sisca Yovie Ternyata Dilakukan Oleh Dokter Umum dan Bukan Dokter Ahli


Sebagai dokter ahli forensik, sepak terjang dr Mun’im Idries dikenal memiliki analisis yang sangat mumpuni. Salah satu analisisnya yang cukup mengejutkan adalah terkait kasus pembunuhan manajer cantik Sisca Yovie (34) di Bandung, bahwa visumnya dilakukan oleh dokter umum. Pernyataan mengejutkan ini disampaikan oleh dr Mun’im Idries saat diundang dalam acara bincang-bincang Indonesia Lawyers Club yang ditayangkan secara langsung oleh televisi nasional, tvOne pada 27 Agustus lalu. Dengan melihat visum jenazah Sisca yang tewas dibunuh, ahli forensik dari Universitas Indonesia ini menemukan fakta mengejutkan tersebut.

Menurutnya, visum seharusnya dilakukan oleh dokter ahli. Namun dalam kasus ini ternyata dilakukan oleh dokter umum. dr Mun’im Idries menilai hal ini sangat menyalahi aturan.

Demikian potongan pernyataan lengkap yang disampaikan dr Mun’im Idries dalam acara tersebut, seperti dikutip, Jumat (27/9/2013):

Mun’im Idries (MI): Bisa dibuat gampangnya. Ini kasus mau dibawa ke mana? Kalau sebagai, pembunuhan ini sebagai sarana untuk mencapai tujuan, katakanlah mengambil tasnya, cukup di situ. Tapi kalau pembunuhan untuk pelampiasan tindak emosional urusannya panjang. Ini bisa dari pemeriksaan mayatnya bisa dilihat. Kalau yang satu lukanya sederhana, yang satu sangat maasif sekali. Kemudian ada yang membuat kaget saya ini. Kenapa visumnya ancur-ancuran begini?

Karni Ilyas (KI): Visumnya?

MI: Kalau di tempat saya itu kalau seperti itu, nggak lulus saya pak. Ternyata dibuat oleh dokter umum

KI: Visumnya dibikin oleh dokter umum?

MI: Oleh dokter umum. Dokter ahlinya hanya mengetahui. Tidak boleh begitu, di kita tidak ada seperti itu. Jadi yang membuat, yang menandatangani. Kalau dokter departemen lain mengetahui itu kalau surat-menyurat mau dikirim ke polisi, dia mengetahui boleh. tapi nggak dilampirkan di visumnya yang tadi.

KI: Visum di rumah sakit apa?

MI: Hasan Sadikin.

KI: Nah di situ kan ada pakar forensik juga?

MI: Cuma satu. Di sekitar situ banyak dokter polisi pintar-pintar pak. Kenapa nggak dikirim ke sana? Jadi, jadi pertanyaan saya juga waktu itu. Biasanya kasus-kasus diambil Rumah Sakit Bhayangkara. Kok ini tumben dikasih ke Hasan Sadikin. Ada apa ini? Nah kemudian yang lebih mempertegas lagi. Di sini disebut sebab matinya pendarahan. Itu salah. Pendarahan itu mekanisme kematian. Ditusuk berdarah. Ditembak berdarah. Digebuk berdarah. Nggak menjawab. Jadi saya ngerti, karena yang buat (visum) dokter umum. Kemudian dalam visum itu harus tampil identitasnya siapa. Saat kematiannya, untuk kaitan dengan alibi, ini tidak ada. Sebab kematian, pendarahan yang salah tadi. Kalau cara kematian jelas tidak wajar itu sudah bisa diatasi di situ.

Kemudian dalam sistem pelaporan itu tidak sesuai standar kalau bisa dibilang. Contohnya terdapat luka ukuran 2 x 8 cm. Ini duanya, dua apa? Dua meter. Harusnya kan 2 cm x 8 cm. Seperti surat-surat yang untuk kepentingan hukum kan begitu. Nggak ngerti juga, ternyata dokter umum yang buat.

KI: Jadi?

MI: Jadi kalau menurut saran saya supaya tegas. Digali lagi aja pak, baru sebentaran juga dikubur. Digali lagi, periksa lagi.

KI: Dokter Mun’im meminta agar mayat digali lagi dan diperiksa secara detail.

MI: Di sana banyak ahli forensik kok.

KI: Dokter sudah terima gambar?

MI: Nggak. Saya diperlihatkan visumnya oleh pak Kabbag Humas, baru tadi dikasih liat. Saya kaget.

Menanggapi pernyataan dr Mun’im Idries ini, pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung telah menyampaikan bantahannya. Kepada sejumlah media, pihak Rumah Sakit Hasan Sadikin menegaskan bahwa visum jenazah Sisca dilakukan oleh dokter ahli forensik dan bukan dokter umum seperti yang pernah disampaikan dr Mun’im Idries.

Ahmad Fathanah Ternyata Pernah Nikahi Pramugari


Perempuan di sekitar terdakwa kasus suap penambahan kuota impor daging sapi, Ahmad Fathanah, kembali terungkap. Dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pindana Korupsi, teman dekat Fathanah yang menjadi saksi, Ahmad Maulana, mengatakan salah satu mantan istri Fathanah berprofesi sebagai pramugari.

Awalnya, jaksa Muhibbudin bertanya kepada Maulana soal hubungan antara Fathanah dan perempuan bernama Surtini Gulyanti yang bekerja sebagai pramugari. Menurut Maulana, Surtini adalah mantan istri Fathanah.

“Itu mantan istri terdakwa,” kata Maulana ketika bersaksi untuk Fathanah di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 23 September 2013.

Ketua majelis hakim, Nawawi Pomolango, meminta Muhibuddin menjelaskan kaitan pertanyaan tersebut dengan perkara Fathanah. Menurut Muhibuddin, ada aliran dana kepada pramugari itu.

Dalam surat dakwaan, Fathanah disebut pernah menikah empat kali. Ia pertama kali memperistri Siti Fatimah pada 1993. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai 3 orang anak. Siti diceraikan pada 1999.

Fathanah kemudian menikahi Dewi Kirana pada 1999. Dari pernikahannya itu, mereka mendapatkan seorang anak. Dewi diceraikan pada 2006.

Dua tahun setelah berpisah dari Dewi, Fathanah menikahi Surtini Gulyanti. Dari pernikahan itu, mereka tak memiliki anak.

Terakhir, ia menikahi penyanyi dangdut Sefti Sanustika secara siri pada Desember 2011. Anak mereka baru lahir pada Maret lalu.

Ihwal aliran dana ke Surtini, Fathanah pernah berulang kali mengirim uang kepadanya. Dalam surat dakwaan ditulis, ia mentransfer uang ke rekening Surti 25 kali yang totalnya Rp 374,250 juta pada 2012, dan lima kali transfer senilai Rp 138 juta pada 2013.

Komnas HAM Kecam Penyegelan Gereja St. Bernadette


Ketua Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Siti Noor Laila mengecam penyegelan gereja St. Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, yang terjadi pada Minggu 22 September 2013. Ia menilai kasus penyegelan rumah ibadah berulang akibat ketidaktegasan aparat penegak hukum. “Para pelaku intoleransi beragama itu tak pernah mendapat hukuman yang membuat jera, kejadian serupa kerap berulang,” katanya kepada Tempo, Senin 23 September 2013.

Kasus terakhir melanda Gereja Pariko St Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan. Gereja itu didemo massa yang mengatasnamakan warga sekitar pada Ahad 22 September 2013, sekitar pukul 8.00 hingga 11.00 WIB. Massa lalu menggembok gereja tersebut dari luar dan meminta pembangunan gereja dihentikan. Ini bukan kali pertama kalinya ada penolakan pembangunan tempat ibadah. Sejumlah tempat peribadatan lain juga beberapa kali mendapat perlakuan serupa. “Penegakan hukumnya masih tidak tegas, seharusnya tidak boleh ada bias penegak hukum kepada kelompok mayoritas,” kata Siti.

Dia meminta aparat penegak hukum seperti polisi dan jaksa menegakkan aturan yang seimbang. “Peraturan kan hanya ada satu, jangan malah mendukung tirani mayoritas,” ujar Siti. Apalagi, saat ini semakin banyak kelompok fanatik yang muncul dan pada akhirnya main hakim sendiri. Siti menyayangkan berulangnya kasus penyegelan terhadap rumah ibadah di Indonesia. Komnas HAM akan terus memantau kasus ini dan mencari tahu penyebab konflik.

Gereja Paroki St Bernadette di Bintaro, Tangerang Selatan, didemo oleh ratusan warga sekitar pada Ahad 22 September 2013. “Mereka datang minta gereja ditutup,” kata Pastor Paroki St Bernadet, Paulus Dalu Lubur CICM, ketika dihubungi Tempo, usai kejadian. Para pengunjukrasa lalu menggembok pintu masuk gereja dari luar, sebagai tanda bahwa gereja itu tidak boleh lagi digunakan.

Romo Paulus mengatakan para pendemo datang dengan mengenakan pakaian berwarna putih dan ikat kepala berwarna merah. “Seperti mau berperang saja,” ucap Romo Paulus. “Mereka mengatasnamakan warga sekitar,” tambahnya. Demo itu, ucap Romo Paulus, terjadi pada pagi hari dan berlangsung sekitar tiga jam. “Demo dari jam 8 sampai 11 siang lewat,” ucap Romo Paulus. Ini bukan kali pertama Paroki St Bernadette dilarang menjalankan kegiatan ibadah. Ketika masih di Ciledug, paroki ini harus berpindah-pindah lokasi karena warga menutup akses ke Sekolah Sang Timur, yang menjadi tempat jemaah beribadah.

Romo Paulus mengatakan, dia belum tahu apakah Paroki St Bernadette akan kembali mencari lokasi baru untuk tempat ibadah selanjutnya. Untuk saat ini, ujarnya, pihak paroki akan berdialog dengan warga sekitar terkait tuntutan mereka.

Wakil Ketua I Komnas HAM Imdadun Rahmat mengatakan, apabila pembongkaran rumah ibadah mengacu pada IMB (izin mendirikan bangunan), akan ada banyak rumah ibadah yang bisa dibongkar.

“Perlu kalian ketahui, 85 persen rumah ibadah di Indonesia itu tak berizin. Mayoritas adalah masjid dan musala. Kalau pakai IMB sebagai acuan, siapin saja buldozer yang banyak,” kata Imdadun kepada Tempo, Selasa, 9 April 2013.

Imdadun mengatakan, kebanyakan rumah ibadah dibangun tanpa IMB karena mengacu pada kebutuhan umat beragama di wilayah terkait. Jika dirasa perlu ada rumah ibadah sesegera mungkin, rumah ibadah itu langsung dibangun. Imdadun sendiri menambahkan, apabila mengacu pada Surat Keterangan Bersama Tiga Menteri (Agama, Dalam Negeri, dan Hukum-HAM), rumah ibadah tanpa IMB bisa dipertahankan. Asal, memang diperlukan umat beragama di daerah tersebut.

“Kalau punya unsur historis, juga bisa tak dibongkar. Jadi, rumah ibadah itu tak bisa disamakan dengan bangunan biasa, tanpa IMB langsung dibongkar,” ujar Imdadun. Kalaupun sebuah rumah ibadah tanpa IMB tetap ingin dibongkar, ada sejumlah langkah yang harus dilakukan, seperti musyawarah warga, mediasi oleh pemda, hingga menyerahkannya pada putusan pengadilan.

“Hal ini berlaku untuk kasus HKBP Setu di Bekasi,” ujar Imdadun. Sebagaimana diketahui, tanggal 22 Maret 2013 lalu, HKBP Setu di Bekasi disegel karena tak memiliki IMB. Selengkapnya soal berita penyegelan gereja klik di sini.

Atasi Kemacetan Di Jakarta Sistem Jalan Berbayar ERP Akan Diberlakukan


Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono mengatakan sistem Electronic Road Pricing (ERP) alias jalan berbayar yang akan diterapkan di Ibu Kota adalah gabungan dari Singapura dan Stockholm, Swedia. Pristono menuturkan saat ini Dinas masih mengkaji bentuk paling pas untuk Jakarta.

“Masing-masing kawasan punya karakteristik masing-masing,” kata Pristono pada Selasa, 23 September 2013. Salah satu contoh yang akan diadopsi oleh DKI dari Singapura adalah soal tarif.

Pristono mengatakan tarif yang ditetapkan oleh Jakarta antara kisaran Rp 7.000 sampai Rp 21 ribu. Bergantung dari tingkat kepadatan kawasan yang diterapkan ERP ini.

Menurut dia, ketika macet maka kawasan ERP akan dinaikan tarif melintasnya. Sebaliknya, jika sedikit yang lewat maka akan murah. Cara ini lah yang digunakan di Singapura.

Kecepatan ideal di Singapura adalah 45-65 kilometer per jam. Jika kendaraan melintas di kawasan ERP dengan rata-rata kecepatan tersebut maka tarif yang dikenakan akan murah.

Tetapi jika kecepatan rata-rata kendaraan di bawah itu, maka operator yang mengawasi zona ERP, menyatakan bahwa terjadi kepadatan. Efeknya tarif ERP akan naik. Untuk itulah pajak ERP di Singapura bisa berubah-ubah bergantung situasi arus lalu lintas.

Mahasiswa UKI Universitas Kristen Indonesia Mengamuk Karena Kampus Dijaga Preman


Sejumlah mahasiswa Universitas Kristen Indonesia merusak gedung rektorat di kampusnya. Mahasiswa menuding gedung yang harusnya terbuka untuk mereka itu dijaga oleh sekelompok preman.

“Tadi kami mau ambil kunci aula UKI untuk mempersiapkan acara besok, tapi saat kami mau masuk gedung rektorat, kami dihalang-halangi oleh preman, mereka mengusir kami,” ujar Hardoyo, mahasiswa semester 7 Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Selasa, 24 September 2013.

Menurut Hardoyo, ia dan kawan-kawannya hendak mempersiapkan acara bertajuk “Debat Hukum Nasional” yang akan diadakan di aula UKI esok. Kunci aula tersebut terdapat di Gedung Rektorat.

Merasa haknya dirampas, para mahasiswa melakukan perlawanan dengam cara merusak gedung rektorat. Mereka memecahkan kaca depan Gedung Rektorat, kaca ruang administrasi, lemari piala, dan maket kampus.

Menurut Hardoyo, preman yang berjumlah enam orang itu ada di kampus UKI sejak sebulan lalu. “Mereka bilang tidak boleh pakai aula karena mau digunakan mereka tidur. Kami tidak terima,” ujar Hardoyo.

Lebih lanjut Hardoyo mengatakan, keberadaan preman di kampusnya berkaitan erat dengan terpilihnya Rupy Uli Tobing sebagai pejabat rektor sementara. Ia menduga penjabat rektor memperkerjakan preman sebagai petugas keamanan. Kendati rektor baru UKI, Maruarar Siahaan, telah terpilih, dualisme kekuasaan masih terjadi.

“Awalnya kami tidak peduli dengan masalah ini karena itu urusan orang atas, tapi karena ada insiden ini kami tidak terima,” Hardoyo menambahkan.

Sejumlah aparat Polres Metro Jakarta Timur dan Polsek Metro Kramat Jati tampak di lokasi insiden. Awalnya, mereka hendak mengevakuasi para preman namun mahasiswa menolak. Mahasiswa meminta orang yang mempekerjakan preman itu untuk datang menemui mereka.

Alhasil, baik petugas keamanan maupun mahasiswa sama-sama bertahan di dalam dan di luar gedung. Sementara petugas kepolisian berjaga-jaga di sekitar lokasi. Insiden ini terjadi pada pukul 15.30 dan hingga pukul 19.00. Tak terlihat pejabat kampus di lokasi kejadian.