Monthly Archives: November 2013

Jalur Khusus Sepeda Di BKT dan Blok M .. Gagal Total


Panas terasa begitu terik di kawasan Kanal Banjir Timur (KBT) ketika jarum jam menunjukKan pukul 14.00 WIB, Rabu (20/11). Pemandangan jalur sepeda di BKT belum ada perubahan. Fasilitas seperti lintasan hijau, areal parkir sepeda, hingga kondisi jalan masih relatif bagus di jalur khusus sepeda sepanjang 6,7 kilometer itu.

Tapi, kebandelan pengendara sepeda motor masih tetap terjadi di jalur yang hanya selebar sekitar 1,5 meter itu. Padahal, kondisi jalan saat itu tidak macet. Dua lintasan pertama dari Jalan Kolonel Soekanto steril dari hilir mudik sepeda motor karena ditutup penghalang separator movable concrete barrier (MCB) dari beton.

Kemudian, di lintasan sambungan berikutnya kondisi jalan sudah mulai agak berubah karena MCB seperti sengaja digeser agar sepeda motor bisa melintas. Saat itu, belasan sepeda motor lebih terlihat santai bolak balik melintas jalur sepeda.

Di negara demokrasi seperti Indonesia ini, dimana pengendara sepeda motor di Jakarta yang mencapai 8 juta orang setiap hari sedangkan yang bersepeda setiap hari kurang dari 100 orang (hanya banyak pada hari minggu saja, itupun cuman sebentar karena kebanyakan datang dengan mengendarai mobil dan sepedanya diangkut dibagasi) maka tidak heran proyek jalur sepeda gagal total karena tidak berpihak kepada rakyat kecil. Pemerintah seharusnya menekankan pada jalur khusus sepeda motor dan bukan membuat jalur yang dipakai sedikit orang tapi memiliki suara nyaring. Contoh ketidak berpihakan tersebut adalah razia parkir pencabutan plat nomor yang hanya garang diberlakukan pada pengendara sepeda motor tapi melempem bila menghadapi para pemilik mobil.

Sejak diresmikan setahun lalu, jalur sepeda di kawasan KBT tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena sedikitnya pemakai sepeda. Jalur yang seharusnya dibuat untuk pengguna sepeda malah menjadi area serobot jalan oleh para pengendara motor di saat jam macet karena pengedara motor tersebut merasakan ketidak adilan sosial dari pemerintah karenanya pelanggaran ini yang merupakan pembangkangan sosial sudah menjadi kebiasaan dan terus berulang kali hingga sekarang sampai suara rakyat miskin didengar oleh pemprov DKI.

Alasan polusi udara juga sering dipakai untuk memberangus pemakai sepeda motor tetapi sepeda motor kebanyakan hanya memakai 1 liter bensin per 30 kilometer dan bandingkan saja dengan mobil yang paling tidak menghabiskan 1 liter per 10 kilometer, belum lagi banyaknya tempat yang dihabiskan dijalan.

Pelanggaran juga terjadi di jalur sepeda sepanjang 1,45 kilometer lajur Taman Ayodya-Blok M dengan sistem lajur sepeda lingkungan (bike lane cluster). Kondisi di lajur sepeda pertama di Jakarta yang diresmikan pada Mei 2011 ini malah lebih parah.

Selain tidak berfungsi marka jalur sepeda, beberapa ruas areal di lokasi ini malah jadi tempat parkiran mobil pribadi. Padahal, areal itu untuk parkir sepeda dan jalur lintasan. Di dekat areal Taman Ayodya dijadikan parkir liar mobil. Begitu juga yang di areal Melawai Raya malah ramai sebagai jalur parkir mobil.

Pengamat tata ruang kota, Nirwono Joga, menilai persoalan tidak efektifnya jalur sepeda karena budaya disiplin masyarakat yang rendah. Tidak ada sanksi hukuman yang tegas membuat pelanggaran ini terus berulang kali dan menjadi budaya negatif. Padahal ketidak efektifan ini lebih disebabkan kebijakan yang salah kaprah dan tidak tepat sasaran.

Menikmati Persawahan Berbentuk Laba Laba Di Lodok Manggarai


Ratusan turis mancanegara dari Perancis, Belanda, Kanada, Austria, Rusia, Australia, Italia dan berbagai negara Eropa sudah mendaki Puncak Weol (Golo Weol) untuk melihat keindahan alam persawahan Lodok di hamparan persawahan Desa Meler. Orang Manggarai Raya menuangkan seninya dengan membuat persawahan Lodok (persawahan Laba-Laba). Persawahan ini langka dan unik yang hanya berada di Manggarai Raya (Kabupaten Manggarai, Kabupaten Manggarai Barat dan Kabupaten Manggarai Timur).

Turis dari berbagai negara Eropa mengagumi keunikan dan keindahan persawahan Lingko Lodok Manggarai Raya. Mereka menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk melihat dan menyaksikan serta memotret keunikan persawahan yang satu-satunya berada di wilayah Manggarai Raya.

Dalam buku tamu dari Penjaga Puncak Weol (Golo Weol) terdapat nama-nama orang asing yang sedang berwisata di Flores Barat. Dan mereka menyempatkan diri untuk melihat keunikan persawahan Lingko Lodok di hamparan persawahan Cancar, di Desa Meler, Kecamatan Ruteng.

Di Hamparan persawahan Cancar, Desa Meler terdapat 11 lingko Lodok dari delapan Kampung di Desa Meler. Kedelapan lingko Lodok itu, Lingko Molo, Lingko Lindang, Lingko, Pon Ndung, Lingko Temek, Lingko Jenggok, Lingko Lumpung, Lingko Purang Pane, Lingko Sepe, Lingko Wae Toso, Lingko Ngaung Meler, Lingko Lumpung II.

Penjelasan itu disampaikan Penjaga Jalan Masuk Puncak Weol (Golo Weol), Blasius Nogot (56) kepada Kompas.com saat berwisata di Puncak Weol untuk melihat keindahan persawahan Lingko Lodok di hamparan persawahan Cancar, Desa Meler, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Flores Barat, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (16/11/2013).

Kompas.com berada di Cancar bersama General Manager PT PLN Nusa Tenggara Timur, Richard Safkaur dan Juru Bicara PT PLN NTT, Paul Bolla untuk berwisata di Puncak Weol melihat keindahan persawahan Lingko Lodok Manggarai Raya di persawahan Cancar.

Blasius Nogot, ayah dari tujuh anak ini, memaparkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Persawahan Cancar dengan mendaki Golo Weol (Puncak Weol) selalu datang dari Labuan Bajo atau ketika melintasi Manggarai dari bagian Maumere, Flores Bagian Timur menuju ke Labuan Bajo. Turis selalu diantar pemandu wisata orang Manggarai Raya maupun orang dari luar Manggarai Raya.

”Saya membuat jalan setapak menuju ke Golo Weol untuk memberikan kenyamanan kepada wisatawan ketika mendaki Golo Weol. Bahkan saya sendiri yang mendampingi mereka. Selain melihat persawahan Lingko Lodok Cancar, wisatawan dapat menikmati pemandangan persawahan di Kota Ruteng dan sebuah gunung di dekat Kota Ruteng. Semuanya sangat indah apabila dilihat dari Golo Weol,” jelasnya.

Blasius menjelaskan, biasanya rombongan turis selalu datang tiap hari. Jumlah turis tak menentu. Namun, apabila kunjungan turis ke Kota Labuan Bajo meningkat maka kunjungan ke persawahan Lingko Lodok Cancar ikut membludak. Blasius hanya menunggu saja di samping rumah di jalan masuk menuju ke Golo Weol.

”Kadang-kadang saya menyediakan kopi Manggarai Raya kepada tamu dan juga buah-buahan lokal seperti pisang, durian dan manggis. Turis sangat menikmati suguhan yang sangat sederhana di meja yang terbuat dari bambu,” tuturnya.

Menyinggung soal penghasilan, Blasius mengatakan setiap bulan memperoleh Rp 1,5 juta dan itu pun merupakan sumbangan sukarela dari turis mancanegara maupun nusantara yang kembali dari Golo Weol untuk melihat keindahan tangan orang adat Manggarai Raya yang membuat persawahan berbentuk Lodok atau bahasa kerennya sekarang persawahan laba-laba.

”Saya belum menata dengan baik di Golo Weol karena banyak anak-anak yang bermain di Golo Weol dan apabila mereka melihat turis mendaki Golo Weol, mereka juga mendaki ke Golo Weol untuk berbincang-bincang dengan turis. Ke depannya, saya akan menata dengan baik dengan membuat rumah adat di puncak sehingga turis dapat berlama-lama di Golo Weol sambil menikmati suguhan minuman kopi dan buah-buahan lokal,” jelasnya.

General Manager PT PLN Nusa Tenggara Timur, yang orang Papua, Richard Safkaur menyempatkan diri berkunjung ke persawahan Lingko Lodok Cancar dari Golo Weol. ”Saya sangat kagum dan tersentak dalam hati ketika melihat persawahan yang unik berbentuk Lodok. Ternyata orang Manggarai Raya memiliki keterampilan yang tiada bandingnya sebab mereka menuangkan seninya dengan membuat persawahan berbentuk jaring laba-laba,” tuturnya.

Safkaur membandingkan, di Papua, ada pemahat tradisional yakni masyarakat Asmat yang mampu membuat patung bernilai tinggi. Dunia sangat terkagum-kagum dengan hasil pahatan masyarakat Asmat sehingga setiap tahun mereka menggelar festival Asmat. “Mengapa di Manggarai tidak dibuat juga event Festival Persawahan Lodok sehingga wisatawan dunia dan Nusantara dapat mengunjungi wilayah Manggarai Raya,” katanya.

Menurut Safkaur, wilayah Manggarai Raya sangat kaya dengan potensi wisata yang mendunia, selain binatang Komodo dan perkampungan rumah adat Wae Rebo yang juga sudah mendunia. Selain itu di wilayah Manggarai Raya, Rumah Adat Gendang yang unik mampu menyuguhkan keindahan bagi para pelancong dan orang Nusantara yang mengunjungi wilayah ini.

”Saya sangat kagum dengan keterampilan dan seni orang Manggarai Raya yang dituangkan dalam bentuk persawahan Lingko Lodok. Ini harus terus dipromosikan. Tiga Manggarai harus bekerja sama dalam mempromosikan potensi pariwisata di Flores Barat ini,” jelasnya.

Juru Bicara PT PLN NTT, Paul Bolla menyarakan, penjaga jalan masuk ke Golo Weol harus menata lebih baik lagi dengan menanam pohon di kiri kanan jalan setapak sehingga ada kesejukan bagi pengunjung yang mendaki ke Golo Weol untuk melihat keindahan persawahan Lingko Lodok Cancar. ”Saya sangat kagum dengan keindahan persawahan Lingko Lodok Cancar,” katanya.

Saat kami pulang dan berada di rumah Blasius Nogot, muncul turis dari Belanda, yakni Margaret dan Kym yang datang dari arah Maumere menuju ke Labuan Bajo dan menyempatkan diri berwisata di Golo Weol karena penasaran untuk melihat langsung keindahan persawahan Lingko Lodok.

Perempuan Yang Dipoligami Lebih Banyak Yang Alami Kekerasan dan Penderitaan


Rendahnya ancaman pidana bagi poligami bermasalah dinilai mendorong maraknya kawin kontrak. Hal ini mendorong laki-laki tidak jera dan mempermainkan lembaga perkawinan poligami.

“Realitas kehidupan perempuan yang dipoligami cenderung lebih banyak mengalami kekerasan daripada kebahagiaan,” kata Prof Tri Lisiani seperti detikcom kutip dari pidato pengukuhan guru besar hukum perdata Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, Jawa Tengah, Prof Dr Tri Lisiani, Rabu (20/11/2013).

Menurut Tri, kenyataan keseharian menunjukkan pada adanya perempuan yang mau dipoligami, tetapi hal ini tidak bisa sekaligus menunjukkan bahwa mereka menyukai jalan hidup yang demikian. Seperti empat perempuan yang bersedia dipoligami dilakukan oleh Pemilik Ayam Goreng Wong Solo, sementara sikap yang berbeda dilakukan oleh penyanyi Dewi Yul yang tidak bersedia dipoligami dan memilih bercerai dari suaminya Rae Sahetapi.

“Salah satu penyebab masih banyak terjadi poligami ilegal adalah rendahnya sanksi denda. Berdasarkan Pasal 45 PP 9 Tahun 1975, sanksi pidana yang dijatuhkan pada pelanggarnya yaitu denda Rp 7.500,” ujar Tri.

Tri juga menyoroti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuka jalan anak yang di luar perkawinan mempunyai hubungan hukum dengan ayah biologis dan keluarga ayah biologisnya. Tapi putusan itu belum final, sebab masih butuh jalan panjang jalan yang harus ditempuh ibu biologis anak tersebut untuk membuktikan bahwa anaknya mempunyai bapak biologis.

“Kesulitan lain yaitu tingginya biaya test DNA sebagai cara untuk membuktikan keabsahan anak tersebut yaitu berkisar antara Rp 7-15 juta. Kesulitan lain yaitu laki-laki atau keluarganya tidak mau dilakukan test DNA,” ucap peraih doktor dari Murdoch University, Australia itu.

Kumpulan Kisah Hidup Para Koruptor dan Istri-Istrinya Yang Hidup Mewah Dari Kesengsaraan Rakyat


Kasus korupsi yang tak hentinya diungkap KPK menguak kehidupan mewah rumah tangga para koruptor. Banyak koruptor yang menyembunyikan hartanya dengan nama istri, istri muda, anak, supir, pembantu rumah tangga bahkan simpanan.

Beberapa nama yang sudah diciduk KPK akhirnya terungkap mempunyai lebih dari satu istri.

– Djoko Susilo
Irjen polisi yang divonis 10 tahun pada 3 September 2013 terbukti mempunyai tiga orang istri. Yang pertama, Suratmi, adalah teman masa kecilnya. Istri kedua Djoko, Mahdiana, dinikahi 27 Mei 2001 di Kantor Urusan Agama (KUA) Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Uniknya di KUA, sang polisi mengaku bernama Joko Susilo Sarimun. Sedangkan kepada kerabat Mahdiana, Djoko mengaku bernama Andika Susilo. Lain lagi saat menikahi istri ketiganya, Dipta Anindita, di Solo, pada Desember 2008. Kepada penghulu Djoko mengaku masih lajang dan kelahiran tahun 1970. Aslinya Djoko lahir tahun 1960.

– Luthfi Hasan Ishaaq
Bekas Presiden Partai Keadilan Sejahtera yang menjadi tersangka kasus suap impor daging diketahui mempunyai istri lebih dari satu. Tahun 1984 Luthfi menikahi Sutiana Astika. Pernikahan pertama mempunyai 12 anak. Istri kedua, Lusi Tiarani Agustine, dinikahi tahun 1996. Tiga orang anak diperoleh dari pernikahan dengan Lusi. Istri ketiga yang membuat namanya mencuat. Pada persidangan diperdengarkan rekaman pembicaraan dengan Ahmad Fathanah. Fathanah: Istri-istri antum sudah menunggu semua. Luthfi: Yang mana aja Luthfi: Yang pustun-pustun apa jawa sarkia. Fathanah: Pustun. Kata Pustun sendiri kurang lebih artinya sebutan untuk orang dari Pakistan, Afganistan atau Iran. Istri ketiga Luthfi, Darin Mumtazah, kebetulan keturunan Arab. Darin dinikahi tahun 2012. Yang membuah heboh, Darin masih duduk di kelas tiga sekolah menengah kejuruan dan baru berumur 18 tahun. Meskipun begitu, hubungan mereka layaknya suami istri. “Darin manggil Pak Luthfi itu ‘papah’ dan Pak Luthfi manggil Darin, ‘mama’,” kata Sayitno, satpam di komplek Darin yang mendengar percakapan keduanya.

– Ahmad Fathanah
Ahmad Fathanah yang sudah dituntut 17,5 tahun pada kasus suap impor daging sapi juga terkenal mempunyai banyak teman wanita. Bayangkan, KPK sendiri menyatakan menemukan 45 nama penerima aliran uang Ahmad Fathanah. Tahun 1993 ia menikahi Siti Fatimah, tetapi bercerai pada 1999 dan mempunyai tiga anak. Anak ketiga Zhiyad Ali Fadeli, 18 tahun. Kemudian Fathanah kembali menikah dengan Dewi Kirana, tetapi hanya bertahan sampai 2006. Tahun 2008 Surti Kurlianti dinikahi Fathanah. Pada Desember 2011, Fathanah kembali menikah, kali ini dengan penyanyi dangdut Sefti Sanustika. Ketika menikah dengan Sefti, Fathanah mengaku sudah cerai. “Bapak bilang duda, pernah menikah tapi sudah cerai,” kata Sefti. Dengan Sefti, Fathanah sudah mempunyai satu anak. Wanita lain yang sempat terangkat ke publik adalah Vitalia Sesha. Wanita yang berprofesi sebagai model mengaku kerap menolak dinikahi Fathanah. Namun, ia mengaku sering diberikan barang berharga oleh Fathanah. Menurut Vitalia, ia percaya kebaikan sosok Fathanah. “Dari mata turun ke hati. Seseorang yang bisa aku suka dan percaya setelah aku melihat atau menatap matanya. Nah, mata beliau mata yang mencerminkan orang baik.”