Jalur Khusus Sepeda Di BKT dan Blok M .. Gagal Total


Panas terasa begitu terik di kawasan Kanal Banjir Timur (KBT) ketika jarum jam menunjukKan pukul 14.00 WIB, Rabu (20/11). Pemandangan jalur sepeda di BKT belum ada perubahan. Fasilitas seperti lintasan hijau, areal parkir sepeda, hingga kondisi jalan masih relatif bagus di jalur khusus sepeda sepanjang 6,7 kilometer itu.

Tapi, kebandelan pengendara sepeda motor masih tetap terjadi di jalur yang hanya selebar sekitar 1,5 meter itu. Padahal, kondisi jalan saat itu tidak macet. Dua lintasan pertama dari Jalan Kolonel Soekanto steril dari hilir mudik sepeda motor karena ditutup penghalang separator movable concrete barrier (MCB) dari beton.

Kemudian, di lintasan sambungan berikutnya kondisi jalan sudah mulai agak berubah karena MCB seperti sengaja digeser agar sepeda motor bisa melintas. Saat itu, belasan sepeda motor lebih terlihat santai bolak balik melintas jalur sepeda.

Di negara demokrasi seperti Indonesia ini, dimana pengendara sepeda motor di Jakarta yang mencapai 8 juta orang setiap hari sedangkan yang bersepeda setiap hari kurang dari 100 orang (hanya banyak pada hari minggu saja, itupun cuman sebentar karena kebanyakan datang dengan mengendarai mobil dan sepedanya diangkut dibagasi) maka tidak heran proyek jalur sepeda gagal total karena tidak berpihak kepada rakyat kecil. Pemerintah seharusnya menekankan pada jalur khusus sepeda motor dan bukan membuat jalur yang dipakai sedikit orang tapi memiliki suara nyaring. Contoh ketidak berpihakan tersebut adalah razia parkir pencabutan plat nomor yang hanya garang diberlakukan pada pengendara sepeda motor tapi melempem bila menghadapi para pemilik mobil.

Sejak diresmikan setahun lalu, jalur sepeda di kawasan KBT tidak berfungsi sebagaimana mestinya karena sedikitnya pemakai sepeda. Jalur yang seharusnya dibuat untuk pengguna sepeda malah menjadi area serobot jalan oleh para pengendara motor di saat jam macet karena pengedara motor tersebut merasakan ketidak adilan sosial dari pemerintah karenanya pelanggaran ini yang merupakan pembangkangan sosial sudah menjadi kebiasaan dan terus berulang kali hingga sekarang sampai suara rakyat miskin didengar oleh pemprov DKI.

Alasan polusi udara juga sering dipakai untuk memberangus pemakai sepeda motor tetapi sepeda motor kebanyakan hanya memakai 1 liter bensin per 30 kilometer dan bandingkan saja dengan mobil yang paling tidak menghabiskan 1 liter per 10 kilometer, belum lagi banyaknya tempat yang dihabiskan dijalan.

Pelanggaran juga terjadi di jalur sepeda sepanjang 1,45 kilometer lajur Taman Ayodya-Blok M dengan sistem lajur sepeda lingkungan (bike lane cluster). Kondisi di lajur sepeda pertama di Jakarta yang diresmikan pada Mei 2011 ini malah lebih parah.

Selain tidak berfungsi marka jalur sepeda, beberapa ruas areal di lokasi ini malah jadi tempat parkiran mobil pribadi. Padahal, areal itu untuk parkir sepeda dan jalur lintasan. Di dekat areal Taman Ayodya dijadikan parkir liar mobil. Begitu juga yang di areal Melawai Raya malah ramai sebagai jalur parkir mobil.

Pengamat tata ruang kota, Nirwono Joga, menilai persoalan tidak efektifnya jalur sepeda karena budaya disiplin masyarakat yang rendah. Tidak ada sanksi hukuman yang tegas membuat pelanggaran ini terus berulang kali dan menjadi budaya negatif. Padahal ketidak efektifan ini lebih disebabkan kebijakan yang salah kaprah dan tidak tepat sasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s