Categories
Pencinta Lingkungan

Kabut Asap Tutup Kota Pekanbaru Akibat Kebakaran Hutan


Kabut asap dampak dari kebakaran lahan atau hutan di Provinsi Riau mengakibatkan jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru berkurang menjadi 1.500 meter. “Normalnya di atas 3.000 meter. Tapi belum menganggu aktivitas bandara. Semua jadwal penerbangan dan kedatangan masih normal,” kata Airport Duty Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Hasnan, kepada wartawan di Pekanbaru, Jumat.

Ia menjelaskan, jarak pandang yang hanya 1.500 meter di waktu pagi masih dapat ditempuh oleh jenis pesawat komersil khususnya yang berbadan besar seperti Garuda Indonesia dan Lion Air. Hasnan mengatakan, sejak beberapa pekan terakhir kabut asap dampak kebakarana lahan memang telah menutupi udara di Bandara SSK II, namun belum sampai menganggu aktivitas penerbangan.

Walau demikian, kata dia, managemen tetap terus menginformasikan kondisi udara di Bandara SSK II Pekanbaru ke seluruh maskapai sebagai wujud kewaspadaan. Kabut asap melanda Kota Pekanbaru sejak dua pekan terakhir akibat terjadinya kebakatan lahan atau hutan di sejumlah wilayah seperti Kabupaten Bengkalis, Rokan Hilir, Siak dan Pelalawan.

Selain membatasi jarak pandang, kabut asap juga mengakibatkan kualitas udara menjadi menurun hingga takaran yang kurang sehat. Pemerintah setempat mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah mengantisipasi berbagai hal yang tak diinginnya termasuk ancaman penyakit pada saluran pernafasan.

Kabut asap akibat sisa kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau makin pekat menyelimuti Kota Pekanbaru, Jumat, menyebabkan mata iritasi dan menyesakkan pernapasan. “Pekanbaru mendapat asap kiriman dari kebakaran lahan di daerah lain di Riau, karena angin mengarah ke Selatan,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Said Saqlul Amri, kepada Antara.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan jarak pandang akibat asap menurun hingga tinggal 1.500 meter, jelasnya. Menurut Said jumlah titik panas sebagai indikasi kebakaran lahan di Riau sebenarnya terus menurun namun asap masih pekat. Pantauan satelit NOAA 18 dari BMKG menunjukkan titik panas yang terpantau pada Kamis petang (6/2) sebanyak enam titik di Riau. Jumlah itu menurun dibandingkan sebelumnya mencapai 23 titik.

Sedangkan, pantuan satelit Terra and Aqua menunjukan titik api yang lebih banyak di Riau hingga mencapai 261 titik. “Pemerintah berpatokan pada data dari satelit NOAA 18, namun juga tidak mengabaikan hasil Terra and Aqua yang lebih sensitif menangkap panas,” katanya. Ia mengatakan, kebakaran lahan kini paling banyak terjadi di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, dan Pelalawan. Di Kota Pekanbaru sendiri belum terdeteksi ada titik panas.

Menurut dia, pemerintah daerah setempat mulai kewalahan melakukan pemadaman kebakaran lahan.”Bupati Kepulauan Meranti langsung menelepon saya untuk meminta bantuan pemadaman karena upaya pemadaman lewat darat sudah tidak memungkinkan lagi,” katanya. Ia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan koordinasi dan segera melakukan upaya untuk membantu pemadaman di daerah yang kesulitan menanggulangi kebakaran lahan.

Peristiwa kebakaran lahan atau hutan yang terjadi di sejumlah wilayah kabupaten/kota di Provinsi Riau, mengakibatkan kabut asap mencemari udara di Riau semakin luas dan pekat. Seperti terpantau di Pekanbaru, Kamis Pagi, kabut asap masih pekat mencemari udara di berbagai kawasan perumahan, hingga perkantoran di tengah kota.

Sementara itu di wilayah Kabupaten Bengkalis, kabut asap tampak pekat karena peristiwa kebakaran lahan atau hutan yang terjadi di daerah ini terus meluas. Kondisi yang sama juga terjadi di Kabupaten Siak, Indragiri Hilir, Rokan Hilir dan Kota Dumai serta sejumlah wilayah lainnya di Riau.

Badan Meteorologi Klimatorologi Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap telah mencemari udara di sebagian wilayah Riau sejak satu pekan terakhir. “Kepulan asap yang terlihat di atas Kota Pekanbaru pada pagi dan sore hari itu memang asap, bukan awan,” kata analis BMKG Stasiun Pekanbaru, Sanya Gautami.

Ia mengatakan, kabut asap itu berasal dari sejumlah titik api (hotspot) yang saat ini mulai banyak ditemukan di beberapa kabupaten/kota di Riau. Hasil pantauan satelit NOAA 18, kata Sanya, diketahui titik api itu telah menyebar dan jumlahnya terus bertambah. “Bahkan sedikitnya 7 titik api ditemukan di areal beberapa perusahaan perkebunan sawit berskala besar di Riau,” katanya.

Peristiwa kebakaran lahan di Riau, menurut dia, dipicu oleh cuaca panas yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir. Ditambah lagi minimnya kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan di saat musim kemarau.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s