Monthly Archives: April 2014

Ramadhan Gumilang Bantai Keluarga Pacar Karena Diputus Pacar


Dewi, 24 tahun, sama sekali tidak menyangka jika Ramadhan Gumilang alias Gugun, 27 tahun, tega membunuh kedua orangtua dan adik bungsunya. Karyawan swasta ini mengaku baru seminggu lalu memutuskan hubungan dengan lelaki yang sudah hampir empat tahun berpacaran dengannya.” Saya dan Gugun baru putus seminggu lalu karena dia punya pacar lain,” kata Dewi saat ditemui di Polres Metro Tangerang, Selasa malam, 29 April 2014.

Menurut Dewi, ia memutuskan hubungan dengan Ramadhan karena lelaki itu selingkuh dengan wanita lain.”Kami putus baik baik,”kata wanita ini. Sampai detik ini, Dewi mengaku tidak percaya jika mantan pacarnya yang ia kenal baik, ramah, supel, pandai bergaul dan sopan tega menghabisi nyawa orangtua dan adiknya dengan sadis. “Saya sama sekali nggak nyangka,” ujarnya terisak.

Dewi mengaku heran jika hubungan asmara ini yang menjadi pemicu pembantaian sadis itu.” Saya tidak percaya, sepertinya ada masalah lainnya,” ia menduga. Menurut Dewi, Ramadhan punya utang dengan ibunya untuk modal usaha.” Tapi berapa jumlahnya saya tidak tahu.” Ramadhan nekat menghabisi nyawa Dukut (54), Herayanti (50), Prasetyo (15) di Perum Periuk Jaya Permai RT 06/06, Kelurahan Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, Selasa 29 April 2014 petang.

Tiga korban yang terdiri dari ayah, ibu dan anak itu tewas dengan luka tusuk dan memar di sekujur tubuh.”Pelaku membunuh satu keluarga itu karena kesal cintanya tidak direstui,”ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metropolitan Tangerang, Ajun Komisaris Besar Sutarmo. Peristiwa pembunuhan sadis itu terjadi Selasa, 29 April 2014 sekitar pukul 15.00 WIB. Ramadhan datang seorang diri meminta agar Dewi kembali menjadi pacarnya. Tapi Dewi sedang bekerja. Di dalam rumah itu hanya ada orangtua dan adik laki laki Dewi. Di hadapan keluarga Dewi Ramadan memohon agar ia bisa menjalin hubungan kembali dengan wanita itu.

Tapi orangtua Dewi menolak dan meminta agar Ramadan menjauhi anaknya. Ditolak mentah mentah, membuat Ramadan naik pitam dan langsung memukul Dukut dengan kunci Inggris dan serta melukai korban dengan Pisau yang telah ia bawa. Pemuda itu mengamuk dengan beringas sampai menewaskan tiga anggota keluarga itu. Aksi Gumilang Ramadhan (25), pembantai satu keluarga di Perum Periuk Jaya Permai RT 06/06, Kelurahan Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, yang terjadi Selasa sore ini 29 April 2014 luput dari pantauan warga sekitar ataupun tetangga korban.

Aksi brutal Gumilang justru terhenti karena kepergok adik mantan pacar pelaku yang baru pulang dari sekolah.” Kami, warga perumahan ini baru tahu ada peristiwa ini mendengar teriakan adiknya,” kata Ketua RT 06/06, Ujang Umar. Remaja usia 16 tahun itu adalah anak kedua dari Dukut (54) dan Yanti (50). Kedua suami istri ini tewas dalam pembantaian yang dilakukan mantan pacar anak perempuannya, Dewi. Pelaku juga membunuh adik Dewi lainnya, Prasetyo yang saat itu berada di rumah. Saat Gumilang menjalankan aksi sadisnya itu, Dewi sedang di tempat kerjanya.

Menjelang sore, adiknya pulang kerumah dan menemukan orang tuanya dan saudaranya tewas bersimbah darah. Pelaku yang masih ada didalam rumah langsung kalap mengejar remaja pria ini. Saat itu, ia berusaha memberikan perlawanan dengan memukul wajah pelaku.” Ia langsung berteriak minta tolong,”kata Ujang. Mendengar teriakan tersebut, warga sekitar langsung berhamburan datang. Melihat banyak warga berdatangan, Gumilang berusaha kabur dengan naik ke lantai dua rumah korban dan melompat ke atas atap. Tapi warga yang sudah mengepung tempat itu membuat pelaku tidak berkutik sehingga langsung diamankan warga.Saat ini pelaku sudah diamankan di Polsek Jatiuwung,Kota Tangerang.

Peristiwa pembunuhan sadis terjadi karena Gumilang kalap cintanya tak disambut orang tua Dewi. Gumilang datang seorang diri ke rumah orang tua Dewi, Selasa petang, 29 April 2014 untuk meminta Dewi kembali menjadi pacarnya. Tapi saat itu Dewi sedang bekerja. Didalam rumah itu hanya ada orangtua dan adik laki laki Dewi. Di hadapan keluarga Dewi, Gumilang memohon agar ia bisa menjalin hubungan kembali dengan Dewi.

Tapi orangtua Dewi menolak dan meminta agar Ramadan menjauhi anaknya. Ditolak mentah mentah, membuat Gumilang naik pitam dan langsung memukul Dukut dengan kunci Inggris dan serta melukai korban dengan pisau yang telah ia bawa. Pemuda itu mengamuk dengan beringas sampai menewaskan orang tua dan adik Dewi. Ternyata di balik pembantaian sadis yang dilakukan Gumilang Ramadhan alias Gugun, peristiwa itu diawali dengan drama keluarga yang cukup apik. Pemuda pengangguran berusia 27 tahun ini sempat makan siang bersama sebelum melakukan pembantaian. “Mereka sempat makan siang bersama, awalnya sangat baik,” kata Kepala Polres Metropolitan Tangerang Komisaris Besar Riad, Rabu, 30 April 2014.

Ramadhan datang seorang diri ke kediaman rumah orang tua mantan pacarnya, Dewi, 25 tahun, di Perum Periuk Jaya Permai RT 06/06, Kelurahan Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, Selasa, 29 April 2014 siang. Kedatangan sarjana teknik lulusan sebuah universitas swasta di kawasan Serpong, Tangerang, Selatan itu disambut baik oleh Dukut, 54 tahun; Herayanti, 50 tahun; Prasetyo, 15 tahun, anak bungsu korban dan tante korban yang juga hadir dalam acara makan siang. “Sambutan keluarga hangat karena mereka sudah mengenal baik pelaku,” kata Riad.

Di meja makan, sambil menyantap hidangan makan siang itu, Ramadhan menyampaikan keinginannya untuk kembali berpacaran dengan Dewi. Saat itu Dewi sedang bekerja di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ia baru seminggu putus cinta dengan wanita berusia 25 tahun itu. Namun, keinginan Ramadhan yang pernah bekerja di pertambangan di Kalimantan itu langsung disanggah oleh Herayanti. Saat itu Herayanti meminta kepada Ramadhan untuk mencari pekerjaan dulu agar bisa menafkahi anaknya jika nanti mereka melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. “Memang hidup hanya bisa dengan cinta saja,” kata Herayanti seperti ditirukan Kapolres.

Acara makan siang selesai, adik Herayanti–yang merupakan tante Dewi–pulang. Dukut yang sedang sakit langsung minum obat dan naik ke lantai atas untuk beristirahat di kamarnya. Prasetyo juga naik ke lantai atas. Entah setan mana yang merasukinya, pemuda itu mengambil kunci Inggris yang berada di rumah itu dan langsung memukuli kepala Herayanti yang sedang beres-beres di dapur. Dengan kalap ia menusukkan pisau ke tubuh korban.

Herayanti rubuh bersimbah darah di dapur. Mendengar suara gaduh di dapur, anak ketiga Herayanti yang berada di lantai dua rumah itu berlari ke bawah. Namun, ketika turun tangga, siswa SMP ini langsung disambut dengan pukulan keras pelaku yang menggunakan kunci Inggris. Prasetyo langsung jatuh dan tewas. Tubuhnya kemudian diseret pelaku di dapur. Setelah dua korbannya tewas, pemuda ini langsung naik ke lantai dua dan menghabisi nyawa Dukut, 54 tahun . Lelaki tua itu langsung tewas dihujani bacokan dan pukulan kunci Inggris.

Setelah melakukan perbuatan itu, pelaku berusaha kabur, tapi kepergok oleh anak kedua dari keluarga korban yang baru pulang sekolah. Melihat ibu dan adiknya sudah tewas, ia langsung berteriak. Pelaku langsung menghajar bagian kepalanya dengan kunci Inggris. Ia jatuh tersungkur. Pergulatan antara keduanya sempat terjadi. Ada kesempatan untuk lolos, remaja pria itu berlari keluar rumah dan berteriak minta tolong. Seketika warga sekitar berhamburan ke rumah tersebut. Melihat warga semakin banyak, pelaku lari menuju lantai dua rumah dan kabur lewat atap rumah. Namun, warga yang sudah mengepungnya langsung menangkap dan mengamankannya ke Polsek Jatiuwung.

Polisi memastikan motif dibalik pembantaian satu keluarga di Perum Periuk Jaya Permai RT 06/06, Kelurahan Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, Selasa 29 April 2014 petang dilatarbelakangi sakit hati. Pelaku, Ramadhan Gumilang alias Gugun (27), mantan kekasih Dewi 24 tahun sakit hati karena orangtua wanita yang dipacarinya selama empat tahun itu tidak merestui hubungan mereka. “Pelaku marah dan sakit hati setelah orangtua mantan pacarnya menolak permintaan pelaku untuk kembali berpacaran,” kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metropolitan Tangerang, Ajun Komisaris Besar Sutarmo, Rabu, 30 April 2014.

Datang seorang diri ke rumah orangtua mantan kekasihnya, lelaki pengangguran itu menyampaikan keinginannya untuk kembali menjalin kasih dengan Dewi yang sedang bekerja. Herawati, 50 tahun, ibu Dewi secara terang terangan menolak keinginan Ramadhan. Ditolak, Ramadhan naik pitam dan langsung menghajar bagian kepala wanita paruh baya itu dengan kunci Inggris. Kemudian ia menusukan pisau ke tubuh korban. Herawati rubuh bersimbah darah di dapur.

Mendengar suara gaduh di dapur, Prasetyo (15), anak ketiga Herawati yang berada di lantai dua rumah itu berlari kebawah. Tapi, ketika turun tangga, siswa SMP ini langsung disambut dengan pukulan keras pelaku yang menggunakan kunci Inggris. Prasetyo langsung jatuh dan tewas dan tubuhnya diseret pelaku di dapur. Setelah dua korbannya tewas, pemuda ini langsung naik ke lantai 2 dan menghabisi nyawa Dukuh (54) ayah Dewi yang sedang istirahat di kamar. Lelaki tua itu langsung tewas dihujani bacokan dan pukulan kunci Inggris.

Setelah melakukan perbuatan itu, pelaku berusaha kabur, tapi kepergok oleh anak kedua dari keluarga korban yang baru pulang sekolah. Melihat ibu dan adiknya sudah tewas, ia langsung berteriak. Tapi, pelaku langsung menghajar bagian kepalanya dengan kunci Inggris. Siswa kelas II SMK di Tangerang ini jatuh tersungkur. Pergulatan antara keduanya sempat terjadi, Bagus berusaha merebut benda tajam di tangan korban. Ada kesempatan untuk lolos, Bagus berlari keluar rumah dan berteriak minta tolong.

Seketika warga sekitar berhamburan ke rumah tersebut. Melihat warga semakin banyak, pelaku lari menuju lantai dua rumah dan kabur lewat atap rumah. Namun, warga yang sudah mengepungnya langsung menangkap dan mengamankannya ke Polsek Jatiuwung. Tatang, (38) warga sekitar mengatakan awalnya mereka hanya tahu Herawati dan Prasetyo lah yang tewas. Kematian Dudut yang berada di lantai atas diketahui setelah polisi datang ke lokasi dan mengevakuasi korban.

Menurutnya, warga menangkap pelaku di gang sempit perumahan itu.” Tidak ada perlawanan saat warga menangkapnya, Tadinya mau dipukulin, tapi dilarang sama warga lain. Dia langsung digiring ke Polsek Jatiuwung,”kata Tatang. Diduga karena hubungan cintanya tidak direstui keluarga pacar, Ramadhan Gumilang, nekat menghabisi anggota keluarga pacarnya. Pria 25 tahun itu mengamuk di rumah pacarnya di Perumahan Periuk Jaya Permai RT 06 RW 06, Kelurahan Periuk Jaya, Periuk, Kota Tangerang, Selasa, 29 April 2014 petang tadi. Akibatnya tiga orang yang merupakan bapak, ibu, dan saudara pacarnya tewas.

Korban bernama Dukut, 54 tahun; Yanti, 50 tahun; dan Prasetyo, 15 tahun. Mereka bertiga tewas dengan luka tusuk dan memar di sekujur tubuh. “Pelaku membunuh satu keluarga itu karena kesal cintanya tidak direstui,” ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Metropolitan Tangerang, Ajun Komisaris Besar Sutarmo, saat dihubungi malam ini. Menurut Sutarmo, pelaku kini sudah ditangkap dan sedang dalam pemeriksaan intensif di Polsek Jatiuwung, Kota Tangerang. Dari tangan pelaku polisi mengamankan barang bukti berupa kunci inggris dan pisau, alat yang diduga digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korbannya.

Hingga saat ini, kata Sutarmo, Ramadhan belum banyak bicara terkait dengan aksi brutalnya itu. Untuk sementara, polisi menyimpulkan, Ramadhan sangat kecewa karena keluarga Dewi, 25 tahun, wanita yang selama ini dicintainya tidak merestui hubungan mereka. “Pelaku gelap mata, ketika orang tua perempuan meminta ia menjauhi anaknya, mereka menentang hubungan mereka,” kata Sutarmo.

Peristiwa pembunuhan sadis itu terjadi Selasa petang tadi sekitar pukul 15.00 WIB. Ramadhan datang seorang diri meminta agar Dewi kembali menjadi pacarnya, tapi saat itu Dewi sedang bekerja. Dia hanya ditemui kedua orang tua dan adik laki-laki Dewi. Di hadapan keluarga Dewi Ramadan memohon agar ia bisa menjalin hubungan kembali dengan wanita itu. Namun rupanya orang tua Dewi menolak, mereka justru meminta Ramadan menjauhi anaknya. Ditolak mentah-mentah, membuat Ramadan naik pitam dan langsung memukul Dukut dengan kunci inggris dan serta melukai korban dengan pisau yang telah ia bawa.

Ramdhani Gumelar (25) sudah ditahan di Mapolres Tangerang. Dia terancam hukuman mati karena membunuh 3 anggota keluarga mantan kekasihnya Dewi. Pembunuhan dipicu karena Dewi, hendak dinikahkan dengan pria lain yang sudah memiliki pekerjaan. Ramdhani yang baru pulang dari Kalimantan kini pengangguran. “Kata-kata kalau nanti Dewi ada yang melamar dan ada yang punya pekerjaan yang diterima,” kata Kapolres Metro Tangerang Kombes Pol Riad saat dikonfirmasi, Rabu (30/4/2014).

Kata-kata soal Dewi dinikahkan itu diucapkan Heryanti, ibunda Dewi saat makan siang bersama pada Selasa (29/4) di rumah Dewi di Perumahan Periuk Jaya Permai Jl. Bungur III No. 184 RT 06 RW 06 Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang. Saat itu jam makan siang, Ramdhani datang ke rumah Dewi. Walau sudah mantan, tetapi karena sudah pacaran 4 tahun dan hubungan terjalin baik, keluarga Dewi menerima dan mengajak makan siang. Dewi saat itu tak ada di rumah karena sedang kerja.

“Pelaku langsung mengambil linggis, pisau, untuk membunuh 3 orang yakni Dukut Widwahyono (50) ayah, Heryanti (45) ibu, dan Prasetyo (25) adik Dewi,” terang Riad. Ramdhani Gumelar (25) dengan sadis membunuh Dukut Widwahyono (50), Heryanti (45), dan Prasetyo (25). 3 Orang korban itu merupakan keluarga Dewi yang pernah menjadi kekasihnya. Ramdhani membunuh karena emosi niatnya ingin meningkatkan hubungan ke jenjang yang lebih serius ditolak.

“Dia kita bidik pasal 340, 338, dan 365 KUHP. Ancaman maksimal, bisa sampai hukuman mati,” kata Kapolres Tangerang Kombes Pol Riad saat dikonfirmasi, Rabu (30/4/2014). Pembunuhan itu terjadi pada Selasa (29/4) siang. Saat itu sebenarnya hubungan asmara Ramdhani dan Dewi sudah putus. Tapi karena sudah empat tahun pacaran, hubungan Ramdhani dengan orangtua Dewi terjalin baik. Dewi siang itu tengah bekerja. “Mereka sempat makan siang,” terang Riad.

Nah, saat makan siang itu Ramdhani mengutarakan niatnya untuk serius berhubungan dengan Dewi. Namun sang ibu Heryanti meminta agar Ramdhani mencari kerja lebih dahulu. Ramdhani tengah menganggur setelah sebelumnya bekerja di Kalimantan. Ramdhani kemudian tersinggung dan mengamuk. Memakai linggis dia memukul Dukut, Heryanti, dan Prasetyo. Setelah itu dia menusuk korban dengan pisau. Aksi pelaku dipergoki anak bungsu korban yang baru pulang SMA.

“Sempat terjadi pergumulan, pelaku kemudian ingin kabur tapi dipergoki warga dan ditangkap,” tegas Riad. Pelaku selain memukul dengan linggis juga menusuk korban dengan pisau. “Tersangka mengaku sakit hati dengan kata-kata itu, karena melihat Dewi akan dinikahkan dengan orang lain,” terang Riad. Aksi pelaku dipergoki adik bungsu Dewi, Bagus yang baru pulang sekolah SMA. “Mereka sempat berantem dan pelaku kalah gede badannya, kemudian kabur. Tapi dikejar dan diteriaki dan ditangkap warga. Kita kemudian melakukan pengamanan,” tegas Riad.

Karena sakit hati usai cekcok mulut dengan sang kekasih, seorang pria tega membunuh orangtua serta saudara sang pacar. Peristiwa nahas tersebut terjadi sore ini sekitar pukul 16.00 WIB di Jalan Bungur III RT 06 RW 06, Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk Kota Tangerang. “Pelaku berinisial RG, melakukan tindakan pembunuhan terhadap keluarga sang kekasih yang terdiri dari Dukut yang merupakan ayah sang kekasih, ibu korban bernama Herawati dan Prasetyo (anak). Sementara seorang korban bernama Bagus menderita luka,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto dalam keterangan tertulisnya, Selasa (29/4/2014).

Bagus yang merupakan saksi mata kepada polisi mengatakan, kejadian bermula saat RG cekcok mulut dengan sang kekasih yang bernama Dewi. “Namun entah bagaimana, si pelaku kemudian membunuh ketiga korban dengan menggunakan alat berupa kunci inggris dan pisau dapur,” kata Rikwanto. Di lokasi kejadian, polisi menemukan barang bukti berupa satu buah kunci inggris dan sebuah pisau dapur. “Saat ini pelaku sudah ditangkap dan ditangani oleh Sat Reskrim Polrestro Tangerang,” tutup Rikwanto.

Advertisements

Mobil Murah Banyak Dipakai Untuk Menggaet Ayam Kampus Jadi Piaraan


Mobil murah dengan harga di bawah Rp 100 juta di Jakarta langsung meroket. Pemakainya bermacam-macam. Alasannya juga beragam, mulai dari keluarga muda yang kasihan anak mereka diantar pakai sepeda motor, sampai pria kaya yang membelikan mobil murah untuk menggaet perempuan idaman.

Hal itu setidaknya diakui FA, lelaki tua yang doyan ‘ayam kampus’. Pengusaha perikanan bermozet Rp 400 juta sebulan ini mengakui sudah membeli sejumlah mobil murah untuk menggaet ‘ayam kampus’ (wanita muda yang masih kuliah,-red)
Kepada Warta Kota, pekan lalu, FA mengatakan, semua mobil murah ia beli secara tunai. Mobil-mobil itu dia pergunakan untuk umpan (pancingan) karena FA tak suka dengan ‘ayam kampus’ yang dibayar. “Kalau ayam kampus yang dibayar paling Rp 5 juta sampai Rp 10 juta sudah cukup. Tak ada seninya,” kata FA.

Dia mengaku lebih senang dengan ‘ayam kampus’ yang jual mahal. Maksudnya, mahasiswi yang masih hijau, tetapi ketika dirayu dengan berbagai benda mahal bisa luluh juga untuk diajak kencan. “Mahasiswi seperti ini yang saya cari,” kata FA terus terang sambil ngakak. Dari pengalaman FA, jika memperoleh perempuan yang dia incar, pertama ia belikan barang-barang kesukaannya mulai dari komestik, pakaian, dan handphone. Jika masih belum tergaet, dia baru membelikan mobil murah. “Biasanya setelah itu hatinya pasti luluh,” ujar FA.

Tetapi, kalau masih belum luluh juga, kata FA, ada yang sampai diajak jalan-jalan ke luar negeri. “Tapi ada juga yang tidak luluh meski sudah saya belikan mobil murah atau diajak jalan ke luar negeri. Saya tak akan memaksa. Saya mulai mundur. Kalau begitu, ya mobil tetap milik dia, tak akan saya tarik. Tak masalah lah, murah kok, jadi nggak ada salahnya kan kalau harus dibalikin ke saya. Itu seninya,” kata FA yang sudah berambut putih ini. FA mengaku sudah lupa berapa banyak mobil murah yang dia belikan untuk mahasiswi incarannya.

Kasihan anak
Lain lagi alasan Vita Cahyadi (33), membeli mobil murah bukan untuk gaya-gayaan. Dia kasihan dengan anaknya yang setiap hari kehujanan atau kepanasan naik motor dari rumah ke kampus, begitu pula sebaliknya. Vita pun memutuskan untuk menguras tabunganya lalu membeli Daihatsu Ayla seharga Rp 85 Juta.

Sementara Agus, seorang pegawai negeri sipil salah satu kementerian yang berkantor di Jalan Gatot Soebroto juga mengambil keputusan sama seperti Vita. Begitu mobil Toyota Agya keluar, Agus segera membeli satu unit seharga Rp 106 juta secara tunai. Toyota Agya itu tipe G dengan transmisi manual. “Saya beli tunai,” kata Agus, ketika dihubungi, Sabtu (26/4) sore.

Padahal di rumah Agus sudah punya satu unit Honda Jazz. “Saya beli Agya untuk istri. Soalnya kasihan istri saya setiap hari bekerja ke Kelapa Gading pakai motor. Kalau hujan kan kasihan,” ujar Agus. Agus mengaku setiap hari pergi kerja sendiri pakai Honda Jazz, sebab tak akan keburu apabila mengantar istrinya dulu ke Kelapa Gading.

Tapi baru dua bulan dipakai, sang istri sudah menyerah. Tak tahan dengan kemacetan di jalan menuju Kelapa Gading setiap pagi dan sore hari. Istri Agus pun memilih kembali pakai motor. Makanya beberapa bulan ini Toyota Agya miliknya mangkrak di garasi rumahnya di Cakung, Jakarta Timur. Baru dijalankan setiap akhir pekan. Tapi ketika ditanya apakah cukup gaji PNS dengan gaji sekitar 3 juta perbulan untuk membeli 2 buah mobil, rumah dikawasan elit kelapa gading, dia memilih untuk pergi.

Membanjirnya mobil murah di jalanan Jakarta sesuai dengan jumlah mobil yang laku terjual di produsen mobil murah seperti Daihatsu yang memproduksi Ayla dan Toyota yang mengeluarkan produk Agya. Data yang diperoleh Warta Kota dari Astra Daihatsu Motor (ADM), dari Januari hingga Maret lalu produsen ini mencatat penjualan wholesales sebesar 51.448 unit. Angka di kuartal pertama 2014 ini meningkat sebesar 21,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 yang hanya 42.197 unit.

Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor, Amelia Tjandra beberapa waktu lalu dalam rilisnya mengungkapkan, angka ini disumbang Gran Max yang mencatatkan kontribusi sebesar 32,5 persen atau mencapai penjualan 16.726 unit, lalu MPV Daihatsu All New Xenia sebanyak 13.413 unit atau berkontribusi sebesar 26,1 persen, dan Low Cost Green Car (LCGC) Daihatsu Ayla berkontribusi sebesar 12.147 unit atau berkontribusi 25,7 persen.

Sama seperti Ayla, Toyota Agya juga menjadi penopang penjualan Toyota Astra Motor sehingga bisa melebihi target penjualan. Pada 2013 lalu, Toyota menciptakan rekor baru, yakni menjual 430.000 unit. Salah satu penunjangnya adalah mobil jenis subkompak kecil, yakni Toyota Agya, Etios Valco, serta Yaris dan Prius.

Di segmen ini, Toyota menjual 48.850 unit atau tumbuh 75,6 persen dibanding 2012 yang hanya 27.811 unit. Dari beberapa produk tersebut, Toyota Agya adalah yang terbanyak terjual, yakni 22.376 unit. Bahkan Direktur Pemasaran TAM Rahmat Samulo mengakui, LCGC Agya merupakan tulang punggung bisnis Toyota di Indonesia. Ia memprediksi penjualan Agya tahun ini bakal lebih besar lagi. Rahmat memperkirakan akan terjual 5.000 unit Agya setiap bulan

Jusuf Kalla Dianggap Membebani Jokowi Bukan Menaikan Popularitasnya


Koordinator Gerakan Indonesia Bersih Adhie Massardi menilai klaim bahwa Joko Widodo sudah resmi berpasangan dengan Jusuf Kalla sebagai bentuk kampanye hitam. Menurut Adhie, sosok mantan Ketua Umum Partai Golkar itu justru akan menjadi beban bagi pencalonan Jokowi, nama panggilan Joko Widodo.

“Gambar Jokowi-JK bisa membuat kalangan progresif pendukung Jokowi menarik diri,” kata Adhie, Sabtu, 26 April 2014. Dia berpendapat, selain sudah terlalu tua, sosok Kalla juga dianggap politikus yang antirakyat. Bahkan, Jusuf Kalla dikenal sebagai politikus yang antisubsidi, terutama untuk bahan bakar minyak dan gas.

Mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid ini menjelaskan Kalla adalah tokoh bisnis yang usahanya mengalami pertumbuhan pesat ketika menjadi wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004-2009. Adhie juga menganggap Kalla tidak jelas sikapnya terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme. “Agar tidak ada lagi serangan kepada Jokowi, PDIP perlu segera menyampaikan nama calon wakil presiden yang pasti,” ucapnya.

Menurut dia, Jokowi yang disimbolkan sebagai tokoh prorakyat seharusnya disandingkan dengan figur yang memiliki rekam jejak prorakyat juga. Adhie berharap tokoh yang mendampingi Jokowi tidak pernah menjadi musuh masyarakat, baik dari kalangan sipil maupun militer.

Nama Kalla santer dikabarkan segera diumumkan menjadi calon wakil presiden Jokowi. Baik petinggi PDIP maupun Jokowi tak pernah membenarkan atau membantahnya. PDIP hanya memastikan pengumuman menunggu hasil akhir perolehan suara partai dalam pemilihan umum 9 April lalu. Keinginan calon wakil presiden yang berusia tak jauh dari Jokowi juga muncul dari kader dan simpatisan PDIP Pro-Jokowi (Projo).

Tersangka Kasus Pelecehan Seksual Di Jakarta International School Tewas


Azwar, salah seorang tersangka kasus pelecehan seksual di Jakarta International School (JIS), yang meninggal dunia diduga kuat minum cairan pembersih kamar mandi. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, setelah melakukan olah tempat kejadian perkara di toilet, pada sisi tubuh korban ditemukan botol pembersih kamar mandi dan pewangi kamar dalam keadaan terbuka tutupnya.

“Cairannya berceceran. Diduga tersangka meminum cairan tersebut untuk bunuh diri,” kata Rikwanto, Sabtu (26/4/2014). Menurut Rikwanto, Azwar tengah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka kasus pelecehan seksual di JIS. Bersama tersangka lain sebelumnya, Aw, Ag, Za, Sy dan Af. Azwar, kata Rikwanto, merupakan tersangka keenam.

“Dia datang sekitar pukul 04.00 WIB di unit PPA Polda Metro Jaya. Selanjutnya penyidik melakukan interview terhadap tersangka sampai dengan pukul 05.00 WIB dan lanjut istirahat sampai dengan pukul 10.00 WIB. Kemudian sekitar pukul 11.55 wib Azwar minta izin ke kamar mandi utk BAB,” papar Rikwanto.

Azwar, kemudian diantar ke kamar mandi oleh Brigadir Ariston dan seorang petugas harian lepas. Namun, setelah lima menit berada di dalam kamar mandi, petugas merasa curiga karena terdengar suara seperti orang ngorok dari dalam toilet. “Lalu Brigadir Ariston memanggil Bripka Hari untuk membantu mendobrak(pintu toilet). Bripka Hari mendobrak pintu, ternyata tubuh Azwar sudah melintang di lantai toilet,” ujar Rikwanto.

Selanjutnya petugas membawa Azwar ke bidang kedokteran dan kesehatan (Biddokkes) Polda Metro Jaya untuk dilakukan pertolongan pertama. Sekitar 15 menit kemudian dia dirujuk ke RS Polri Kramat Jati.

“Sekitar pukul 18.00 WIB penyidik mendapar kabar dari rumah sakit bahwa yang bersangkutan telah meninggal dunia,” pungkas Rikwanto.

Aturan Mabuk Miras Di Pesawat Belum Ada Undang Undangnya


Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Herry Bhakti Singayudha Gumay mengatakan tidak ada aturan yang seragam mengenai penghidangan minuman beralkohol di dalam pesawat. Bahkan, kata Herry, maskapai penerbangan tidak memiliki kewajiban untuk melaporkan penyediaan minuman beralkohol kepada regulator penerbangan di mana pun. “Asalkan konteksnya dibatasi, hanya dalam pelayanan makanan dan minuman,” katanya kepada Tempo, Sabtu, 26 April 2014.

Menurut Herry, setiap maskapai yang menyediakan minuman beralkohol hanya dikenai tanggung jawab untuk menjaga penumpang dan keselamatan penerbangan. Dengan demikian, setiap maskapai harus membatasi penyediaan minuman tersebut agar tidak memabukkan. Maskapai bisa terkena sanksi jika terjadi insiden yang membahayakan penerbangan akibat penyediaan minuman beralkohol di pesawat.

Pada Jumat, 25 April 2014, terjadi insiden di dalam pesawat Boeing 737-800 milik Virgin Australia bernomor VOZ41 yang diduga melibatkan penumpang mabuk. Penumpang pesawat rute Brisbane-Denpasar bernama Matt Christopher itu dikabarkan mabuk dan menggedor-gedor pintu kokpit pesawat.

Pilot pun menyangka terjadi pembajakan dan mengirimkan sinyal 7500 (sinyal pembajakan) ke menara pengawas lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC). Christoper kemudian dilumpuhkan dan pesawat Boeing 737-800 yang mengangkut 137 penumpang dan enam kru ini mendarat di Bandara Ngurah Rai.

Meski Masih Jauh Tiket Mudik Kereta Api Lebaran 2014 Telah Habis Terjual


Tiket kereta api untuk Hari Raya Idul Fitri 2014 dilaporkan ludes diserbu calon pemudik. Namun, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Hermanto Dwiatmoko mengimbau konsumen yang belum kebagian tiket untuk tenang. “Jangan khawatir karena itu masih tiket reguler. Nanti ada tiket khusus Lebaran,” kata dia, Sabtu, 26 April 2014. Hermanto mengatakan membeludaknya penumpang akan diantisipasi dengan pengoperasian gerbong tambahan. Namun, hingga saat ini pemerintah belum mengetahui jumlahnya. “Kami menunggu hasil perhitungan PT Kereta Api,” ujarnya.

Juru bicara PT Kereta Api Sugeng Priyono mengatakan perseroan akan menambah gerbong untuk angkutan Lebaran. Namun, hingga kini belum ada keputusan mengenai jumlah gerbong tambahan itu. Perseroan, kata dia, belum bisa memerinci jumlah tiket yang terjual. Sebab, sistem pembelian tiket secara online terus mengalami perubahan data. “Hanya diketahui, tiket yang paling banyak terjual untuk jurusan Jakarta-Surabaya, tetapi jumlahnya masih terus berubah-ubah,” katanya.

Berdasarkan pantauan di situs PT Kereta Api pada Sabtu, 26 April 2014, tiket kereta api untuk Hari Raya Idul Fitri 2014 dilaporkan ludes diserbu calon pemudik. Tiket untuk perjalanan dari Jakarta menuju beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur habis. Seluruh tiket pada H-3 Lebaran yang bertepatan dengan tanggal 25 Juli 2014 menuju Yogyakarta, Semarang, Kediri, dan Surabaya habis. Kolom pemesanan tiket di situs tersebut sudah dilabeli tulisan “habis” berwarna merah.

Tiket kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, contohnya, dari kelas eksekutif hingga ekonomi sudah habis terjual. Tiket seharga Rp 215.000 untuk kereta Senja Utama Yogya hingga tiket kereta eksekutif Gajayana yang dibanderol Rp 565.000 tak bersisa.

Tiket kereta api untuk Hari Raya Idul Fitri 2014 dilaporkan ludes diserbu calon pemudik. Berdasarkan situs PT Kereta Api pada Sabtu, 26 April 2014, tiket untuk perjalanan dari Jakarta menuju beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur telah habis. Seluruh tiket pada H-3 Lebaran yang bertepatan dengan 25 Juli 2014 menuju Yogyakarta, Semarang, Kediri, dan Surabaya habis. Kolom pemesanan tiket di situs tersebut sudah dilabeli tulisan “habis” berwarna merah.

Tiket kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, contohnya, dari kelas eksekutif hingga ekonomi sudah habis terjual. Tiket seharga Rp 215.000 untuk kereta Senja Utama Yogya hingga tiket kereta eksekutif Gajayana yang dibanderol Rp 565.000 tak bersisa. Ludesnya tiket jauh sebelum hari Lebaran terjadi setelah PT Kereta Api membuka kesempatan kepada calon pemudik untuk membeli tiket secara online. Pemesanan tiket dibuka 90 hari sebelum tanggal keberangkatan. Pertimbangannya agar calon pemudik tak perlu repot-repot mengantre di stasiun.

Juru bicara PT Kereta Api Sugeng Priyono mengatakan perseroan akan menambah gerbong untuk angkutan Lebaran. Namun, hingga kini belum ada keputusan mengenai jumlah gerbong tambahan itu. Perseroan, kata Sugeng, belum bisa memerinci jumlah tiket yang terjual. Sebab, sistem pembelian tiket secara online terus mengalami perubahan data. “Hanya diketahui tiket yang paling banyak terjual untuk jurusan Jakarta-Surabaya, tetapi jumlahnya masih terus berubah-ubah,” ujarnya

Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Marunda Milik Mendagri Aniaya Junior Hingga Tewas


Dimas, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) tewas di tangan seniornya. Korban mengalami luka-luka lebam di sekujur tubuhnya. Jenazah Dimas kini sudah dibawa keluarga pulang ke Medan, Sumut. “Kita sedang melakukan penyelidikan tentang dugaan penganiayaan oleh oknum siswa STIP,” kata Kapolres Jakarta Utara Kombes Pol M Iqbal saat dikonfirmasi, Sabtu (26/4/2014).

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Utara Komisaris Besar Muhammad Iqbal mengatakan bahwa pihaknya sudah menangkap delapan mahasiswa yang diduga terlibat penganiayaan dan pembunuhan siswa STIP Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. “Sudah kami amankan delapan orang terduga. Sejauh ini masih dilakukan pemeriksaan,” ujar Iqbal, Sabtu, 26 April 2014. Siswa STIP Marunda yang tewas itu diketahui bernama Dimas, 19 tahun. Ia tewas kemarin Jumat usai bermain ke tempat kos senior-seniornya. Keluarga Dimas menyakini bahwa siswa semester 3 itu disiksa oleh senior-seniornya. Alasannya, karena Dimas sering pulang dari kampus dalam keadaan memar, babak belur. Selain itu, Dimas juga mengaku kepada mereka sering diplonco oleh senior-seniornya.

Iqbal menuturkan peristiwa dugaan penganiayaan ini terjadi pada Jumat (25/4). Pihak kepolisian yang mendapat laporan dari keluarga segera bergerak. Sejumlah saksi sudah diperiksa. “Ada luka-luka lebam di dada,” tegas Iqbal. Pihak kepolisian sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan di Mapolres Jakarta Utara. Dalam waktu dekat Polres Jakarta Utara juga akan menggelar jumpa pers.

Iqbal mengatakan bahwa delapan mahasiswa yang diperiksa ini adalah senior-senior Dimas. Mereka ditangkap Jumat malam, segera setelah Dimas tewas di RS Pelabuhan, Jakarta Utara. Iqbal mengaku belum tahu apa motif di balik pembunuhan Dimas ini. Hal itu, kata ia, masih diselidiki lebih lanjut.

Aksi kekerasan terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) milik Kemenhub di Jakut. Aksi senior junior di sekolah milik pemerintah ini sungguh keterlaluan. Seorang mahasiswa tewas dan enam lainnya mengalami luka-luka, akibat dianiaya seniornya. “Ini kita sedang selidiki, ada seorang yang tewas dan enam dirawat di rumah sakit,” terang Kapolres Jakarta Utara Kombes M Iqbal saat dikonfirmasi Sabtu (26/4/2014).

Menurut Iqbal peristiwa ini terjadi pada Jumat (25/4). Pihak kepolisian segera bergerak melakukan penyelidikan. Pihak kepolisian mendapat laporan dari orangtua korban. Seorang korban tewas diketahui bernama Dimas dan kini jenazahnya dibawa ke Medan, Sumut. “Saksi-saksi sudah kita periksa,” terang dia. Pihak kepolisian sampai saat ini masih melakukan pemeriksaan di Mapolres Jakarta Utara.

Seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, Dimas Dikita Handoko, 19 tahun, tewas kemarin, Jumat, 25 April 2014, di Ruamh Sakit Pelabuhan, Jakarta Utara. Terdapat luka lebam pada sekujur tubuhnya. Keluarga korban yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, menduga ia disiksa oleh senior-seniornya.

“Tiap pulang dari kampus, perut dan tangannya sering memar. Lalu saya tanyakan kenapa, dia beralasan akibat dipukul seniornya,” kata Raidah, 26 tahun, kerabat korban di Jakarta, Sabtu, 26 April 2014.

Raidah mengaku belum tahu di mana dan siapa yang membunuh Dimas. Hal yang ia ingat hanyalah Dimas meminta izin bermain ke rumah kos seniornya yang alamat lengkapnya tak diberikan Dimas.

Raidah menambahkan, Dimas memang sudah kerap disiksa, dan hal itu berlangsung terus selama tiga semester Dimas menimba ilmu di STIP Marunda. Dimas sendiri, kata Raidah, tak bisa berbuat apa-apa karena pelonco oleh senior dianggap lumrah di sekolahnya. “Saya bilang ke dia, sebaiknya lapor ke orang tua kandung di Medan. Tapi dia takut soalnya di kampus memang sering diperlakukan begini,” ujar Raidah.

Secara terpisah, pihak Kepolisian Resor Jakarta Utara mengaku masih melakukan penyelidikan terhadap hal ini. Namun polisi mengaku sudah menemukan delapan orang yang diduga menyiksa Dimas. “Nanti pukul 16.30 akan kami ungkapkan hasil pemeriksaan,” ujar Kapolres Jakarta Utara Komisaris Besar Muhammad Iqbal