Fesitval Jamu Kembali Digelar Di Semarang


Untuk kedua kalinya, Festival Jamu Internasional akan diadakan di Semarang. Perhelatan itu digelar di halaman Kantor Gubernuran Jawa Tengah. Koordinator Pelaksana Festival, Puji Murjiyanto, mengatakan panitia mengundang peserta dari mancanegara seperti Jepang, Belanda, dan beberapa negara ASEAN, seperti Singapura, Myanmar, Thailand, Vietnam, dan Brunei. “Panitia mentarget jumlah pengunjung pameran sekitar 10 ribu orang,” kata Puji, Senin, 2 September 2013.

Festival jamu tahun lalu mencapai omzet Rp 450 juta. Tahun ini, panitia mentarget transaksi naik 30 persen, dibandingkan tahun lalu. Para peserta festival akan menyajikan berbagai jamu. Peserta dari Jepang dan Belanda misalnya, tercatat sebagai peserta dengan membuka stan kuliner dan obat herbal. Dari dalam negeri, festival akan menampilkan berbagai produk jamu dan herbal olahan UKM, hingga jamu dan ekstrak tanaman yang diolah pabrikan, seperti perusahaan jamu Nyonya Meneer, Sidomuncul, Si Nona, dan Borobudur.

Menurut Presiden Direktur PT Nyonya Meneer ini, hanya sekitar 10 persen bahan baku jamu dan obat tradisional yang harus diimpor dari negara lain. Bahan baku impor tersebut, kata dia, juga bukan dalam bentuk tumbuhan, tetapi sudah dalam bentuk ekstraksi. Salah satu contoh bahan baku yang harus diimpor adalah ekstrak pepermint. Ekstrak pepermint harus diimpor karena Indonesia belum mampu menghasilkan ekstrak pepermint berkualitas tinggi. “Sementara kami membutuhkan bahan baku dengan kualitas tinggi agar menghasilkan jamu dan obat tradisional yang berkualitas. Karena itu kami mengimpornya,” kata Charles.

Hal senada juga dikatakan oleh Ketua Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia, Putri K Wardani. Ia mengatakan mayoritas bahan baku industri jamu dan obat tradisional yang diproduksi di Indonesia kebanyakan merupakan tanaman asli Indonesia yang juga diproduksi di dalam negeri. “Sekali pun ada, bahan baku impor yang kami gunakan hanya bahan baku pendukung, atau bahan baku yang harga impornya lebih murah seperti kayuputih,” kata perempuan yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Mustika Ratu. Jumlah bahan baku impor tersebut ia prediksi hanya sekitar 5 persendari total bahan baku yang digunakan.

Puji menyatakan, peserta festival jamu harus memiliki syarat produk telah mendapatkan registrasi di badan pengawasan obat dan makanan (BPOM), serta Dinas Kesehatan. Syarat itu sangat penting, karena tidak semua produk jamu dan herbal yang dipasarkan berkualitas dengan standar BPOM dan Dinas Kesehatan. Puji berharap, dengan adanya festival itu, bisa melestarikan budaya dan tradisi nusantara. “Agar produk-produk jamu tidak di klaim negara lain,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s