Warga Jawa Tengah Paling Banyak Konsumsi Jamu Illegal Berbahan Kimia Berbahaya


Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Jawa Tengah mengatakan jamu ilegal yang berbahan obat kimia dosis tinggi banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan temuan sejumlah jamu ilegal di Kota Semarang mencapai 1.975 kardus yang tersimpan di sebuah rumah kontrakan, Senin, 3 Maret 2014. “Penyebaran jamu ilegal itu berada di sejumlah pedagang jamu dan pasar tradisional sehingga mudah dikonsumsi oleh masyarakat,” kata Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Jawa Tengah, Zulaimah, Senin, 3 Maret 2014.

Menurut Zulaimah, keberadaan jamu ilegal itu telah menipu masyarakat karena telah mencantumkan daftar rekomendasi dan hasil pengakuan BPOM palsu. “Ada nomor izin dan persetujuan balai pengawas obat, tapi sebenarnya palsu,” kata Zulaimah. Ia mengimbau agar masyarakat mewaspadai peredaran jamu tradisional yang berbahaya. Caranya bisa dengan mengecek nomor legalitas produk di situs badan pengawas obat maupun layanan pengaduan konsumen di lembaga yang ia pimpin.

Saat penggrebekan, Badan POM Jawa Tengah telah menemukan 1.975 kardus di sebuah rumah di Jalan Suryo Kusuma V, Kelurahan Muktiharjo Kidul, Kecamatan Pedurungan. Setiap kardus berisi 12 botol minuman jamu yang diyakini mengandung bahan kimia berbahaya. “Padahal, itu bisa merusak tulang. Makanya saat ini banyak masyarakat menderita osteoporosis,” katanya.

Sejumlah jamu dalam kemasan botol itu, seperti Tawon Klanceng dan Mahkota Dewa yang mengandung pretison dan dexametason. Produk itu diproduksi oleh perajin asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sumantri, ketua RT di lokasi penyimpanan jamu ilegal Kelurahan Muktiharjo Kidul, menyatakan tidak mengetahui jamu yang disimpan di lingkungan perumahan itu. “Aktivitas pengiriman biasa dilakukan malam hari,” kata Sumantri.

Tempat penyimpanan itu dikelola oleh seorang bernama Hendy, warga kampung setempat yang selama ini menyamarkan usahanya dengan membuka penyewaan mobil. Menurut Sumantri, aktivitas penyimpanan jamu tradisional ilegal itu sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. “Dulu pernah digrebek polisi, tapi masih terus berjalan,” katanya.

Direktur Inspeksi dan Sertifikasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplemen Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia Sukiman Said Umar mengungkapkan, sekitar 27 dari 1.468 industri jamu tradisional di Indonesia memakai bahan kimia obat dalam produknya. “Hingga Agustus 2013, 1,89 persen industri jamu yang memakai bahan kimia obat,” kata Sukiman pada saat berada di Banyuwangi, Senin, 16 September 2013.

Sukirman juga memaparkan, Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang dalam jamu tradisionalnya ditemukan bahan kimia dalam jumlah yang tinggi. Hasil pengawasan BPOM tahun 2011-2013 menunjukkan, dari 49 usaha kecil obat tradisional, terdapat 13 jamu yang mengandung bahan kimia.

Menurut Sukirman, banyaknya jamu yang mengandung bahan kimia disebabkan pelaku usaha cenderung mengejar keuntungan semata. Konsumen juga kurang berhati-hati. Padahal, saat ini pemakaian jamu atau obat herbal sedang menjadi tren di tengah berkurangnya kepercayaan masyarakat pada dunia medis.

Akibat dari pemakaian jamu berbahan kimia tinggi, jumlah penderita gagal ginjal pada pasien yang berusia di bawah 30 tahun terus meningkat. “Dugaannya karena mengkonsumsi bahan kimia melebihi dosis yang terdapat pada jamu,” ujar Sukirman. Pemakaian bahan kimia dalam jamu termasuk melanggar Undang-Undang No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Sanksinya berupa hukuman pidana penjara selama 15 tahun atau denda Rp 1,5 miliar.

Sukirman mengatakan, BPOM menunjuk Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu daerah percontohan program penanggulangan bahan kimia dalam jamu. Salah satu kegiatannya, memberikan sosialisasi kepada sejumlah pemilik usaha jamu tradisional yang digelar Senin, 16 September 2013. Acara sosialisasi berlangsung di kantor Bupati Banyuwangi. BPOM mentargetkan angka bahan kimia dalam jamu turun menjadi 1 persen pada tahun 2014.

Ketua Asosiasi Pengusaha Jamu Banyuwangi Ahmad Fauzi mengakui banyak anggotanya yang masih memakai bahan kimia. Mereka kebanyakan industri yang belum berizin. “Banyak yang belum berizin karena prosesnya rumit,” ucapnya. Ahmad Fauzi menguraikan, industri jamu harus mengantongi izin produksi dan izin registerasi edar dari BPOM. Salah satu syarat perizinan yang sulit adalah keharusan setiap industri menyediakan satu apoteker. Padahal, sebelumnya satu apoteker bisa dipakai untuk beberapa industri. “Kami tak punya banyak modal untuk menggaji apoteker,” tuturnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s