Kronologi Pembunuhan Suami Istri Di Batununggal Dengan Eksekutor Tukang Parkir Monas


Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Mashudi mengatakan, pembunuhan pasangan suami istri, Didi Harsoadi (59) dan Anita Anggrainy (51) di Batununggal sudah terencana. Para pelaku berkumpul terlebih dahulu di sebuah hotel di Cijagra, Bandung, dua hari sebelum eksekusi. “Jadi mereka (para pelaku) telah merencanakan pembunuhan. Dua hari sebelum eksekusi mereka berkumpul di sebuah hotel. Pembunuhan dilakukan pada Kamis, tanggal 10 April, setelah pemilu, sekitar pukul 12.30 WIB,” kata Mashudi di Bandung.

Sementara itu, Juniyus Alif Frescly, kuasa hukum empat tersangka pembunuhan, menjelaskan kronologi pembunuhan terhadap suami istri di rumah mewah tersebut. Empat pelaku, di antaranya Raga (25) (otak pembunuhan), Tengku, Udin Botak dan Epong ramai-ramai mendatangi lokasi. Raga yang pura-pura bertamu membicarakan masalah utang piutang dan penjualan rumah kepada kedua korban.

“Raga bertamu ke rumah pasangan suami istri itu. Raga bilang mau membicarakan masalah rumah yang mau dijual si suami istri. Raga memperkenalkan Udin dan Epong sebagai tukang ukur luas lahan bangunan,” kata Juniyus, di Bandung, Jumat (18/4/2014). Juniyus mengaku ceritanya itu sesuai pengakuan dari ketiga kliennya. Juniyus melanjutkan, posisi ruang tamu ada di lantai 2. Raga dan dua eksekutor itu dipersilakan naik ke atas. Sementara, Weda menunggu di bawah dan Tengku diam di dalam mobil.

Setelah dipersilakan duduk, mereka basa-basi dengan Didi. Posisi Anita ada di bawah sedang membuatkan air minum untuk tamu. Tak lama kemudian, dua eksekutor itu pura-pura mengukur luas lahan rumah dengan meteran. Suasana, saat itu, masih biasa-biasa saja. Di antara mereka sedikit mengobrol dan basa-basi.

Tiba-tiba, Udin Botak memukul muka Didi hingga terjatuh. Epong membantu dengan mengeluarkan alat kejut listrik. “Korban yang pria langsung disetrum dengan alat kejut di bagian leher. Setelah itu, ditusuk dengan pisau belati,” kata Juniyus. Jumat. Anita yang berada di lantai bawah membuat minuman, mendengar suara gaduh di lantai atas. Dia pun bertanya ada kejadian apa. Salah satu pelaku, Udin menjawabnya sedang memperbaiki meja.

Lalu, saat tiba di lantai atas, Anita langsung dipukul oleh Epong di bagian mukanya hingga terjatuh. Dalam keadaan tergeletak, Anita kemudian disetrum oleh alat kejut listrik di bagian lehernya oleh Udin. “Setelah dipukul, korban wanita terjatuh, lalu disetrum di bagian leher, setelah itu ditusuk. Kedua korban dibunuh tanpa melakukan perlawanan,” kata Juniyus. Setelah dieksekusi, kedua jasad suami istri itu dibungkus oleh Tengku pakai sprei. Kemudian keduanya dimasukkan ke bagian belakang mobil Grand Livina warna silver bernomor polisi D 68 PD milik korban.

Setelah membunuh, pelaku masih berada di TKP hingga 4 jam. Lalu sore harinya, kelima pelaku berangkat ke Pandeglang, Banten. “Pembuangan mayat ke Pandeglang, Banten, memang sudah direncanakan,” katanya. Pelaku tiba di Pandeglang, Banten pada malam hari. Mereka langsung membuang mayat Didi dan Anita di sana. Motif pembunuhan pasangan suami istri Didi Harsoadi (59) dan Anita Anggraeni (51) diduga terkait rencana pasangan ini menjual rumah. Dugaan lain, ada faktor sakit hati dari para pelaku.

“Modusnya utang piutang soal penjualan sebuah rumah,” kata Kapolrestabes Bandung Komisaris Besar Mashudi, kepada wartawan di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/4/2014) malam. Dia pun menduga di antara pelaku ada kemungkinan merasa sakit hati kepada kedua korban. Seperti diberitakan sebelumnya, pasangan ini sempat berencana menjual rumah yang kemudian diduga menjadi lokasi pembunuhan, di Jalan Batu Indah Raya No 46A, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung, Jawa Barat.

“Rencananya rumah ini mau dijual. Harganya Rp 3,5 miliar,” tutur salah satu keponakan korban, R Ivan Budiman, Senin (14/4/2014). Dia mengaku tidak tahu siapa calon pembeli rumah itu, tetapi dia mengatakan Didi dan Anita pernah meminjamkan sertifikat rumah kepada calon pembeli untuk digadaikan di bank. “Tapi (rencana gadai itu) tak disetujui bank,” ujar dia.

Karena tak mendapat persetujuan bank, Didi dan Anita pun meminta kembali sertifikat rumah mereka. Namun, beberapa waktu kemudian orang yang sama berusaha meminjam lagi sertifikat itu, bahkan membujuk dengan uang muka Rp 4 juta karena Didi dan Anita tak mau lagi meminjamkan dokumen itu. Menurut Ivan, bujukan uang muka itu pun disertai syarat Didi dan Anita meninggalkan rumah mereka.

Kakak Anita, Deni Ernawan (60), menambahkan, sekitar dua bulan sebelum pembunuhan ini ada empat orang mendatangi Didi dan Anita di rumah. “Sebelumnya, saya bilang ke adik saya, hati-hati dengan orang itu (yang diduga pelaku),” kata dia tanpa menyebut orang yang mana yang dia minta adiknya berhati-hati. Ketua RT 05 RW 03, Kelurahan Batununggal, Kecamatan Bandung Kidul, Usdi Suryana (62), mengaku melihat suami istri ini terakhir kali saat memberikan suara dalam Pemilu Legislatif 2014, Rabu (9/4/2014). “Saya melihat terakhir pas pemilu, keduanya baik-baik saja. Kejadian ini di luar dugaan. Almarhum tidak ada masalah dengan warga,” kata dia, Senin.

Sementara itu, Harun, petugas keamanan kompleks tersebut, mengatakan, terakhir kali melihat Didi dan Anita pada Kamis (10/4/2014) sekitar pukul 02.00 WIB. “Bapaknya lagi (memberi) makan kucing,” ujar dia. Hilangnya Didi dan Anita diketahui putri tunggalnya, Anggiane (27), pada Kamis malam. Pada malam itu, Anggi kehilangan kontak. Diduga, para pelaku membunuh kedua korban pada rentang waktu antara Kamis dini hari hingga Kamis malam.

Pada Jumat (11/4/2014), Anggiane melaporkan kehilangan itu ke polisi. Lalu, Minggu (13/4/2014), Anggiane mendatangi rumah orangtuanya itu bersama polisi. Pintu rumah terkunci saat itu, tetapi gerbang terbuka. Memakai jasa tukang kunci, pintu dapat dibuka dan didapatkan jejak darah di rumah. Mobil Nissan Grand Livina silver bernomor polisi D 68 PD juga hilang. Selain itu, emas, BPKB mobil, STNK, serta sertifikat tanah hilang pula.

Pada Jumat (11/4/2014) Polda Jawa Barat mendapatkan informasi tentang penemuan dua mayat di hutan di Pandeglang, Banten. Pada Minggu (13/4/2014), keluarga Didi dan Anita mengonfirmasi bahwa temuan mayat di hutan tersebut adalah pasangan yang hilang. Dua pelaku pembunuhan pasangan suami istri Didi Harsoadi dan Anita Anggraini, yakni Saimudin alias Udin Botak (42) dan Dedi Murdani alias Epong (28), sehari-hari berprofesi sebagai tukang parkir di Monumen Nasional di Jakarta. Mereka mendapat iming-iming uang Rp 50 juta per orang.

“Saya tukang parkir di Monas di Jakarta baru juga dua tahun,” kata Udin kepada wartawan di Mapolrestabes Bandung, Jalan Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Kamis (17/4/2014). Begitu juga diakui Epong. Epong mengatakan, dia dan Udin disuruh melakukan pembunuhan ini oleh Raga (25). Iming-imingnya, sebut dia, uang Rp 50 juta per orang. Dua orang ini dikenalkan kepada Raga oleh Tengku yang berperan sebagai pengatur strategi. “Kami ini disuruh oleh Raga. Yang menghubungi saya adalah Pak Tengku. Kami dikenalkan oleh Pak Tengku kepada Raga,” kata Epong.

“Saya butuh uang. Kami ini diiming-imingi imbalan Rp 50 juta setelah pekerjaan selesai, tapi sampai sekarang kami belum juga mendapatkan hasil jerih payah yang kami lakukan. Jadi kecewa,” lanjut Epong di depan wartawan. Epong pun mengaku mendapatkan alat-alat yang dipakai untuk membunuh Didi dan Anita dari Tengku. “Saya dikasih alat kejut listrik sama pisau belati sama Pak Tengku,” kata Udin menambahkan.

Dalam pengakuannya, Epong mengatakan, Didi dan Anita dibunuh satu per satu dengan cara dipukul. Saat jatuh, kedua orang itu disetrum menggunakan alat kejut di bagian leher kemudian ditusuk belati di dada. Menurut Epong, pembunuhan mereka lakukan pada Kamis (10/4/2014) siang menjelang sore. Sesudah itu, jasad Didi dan Anita dibuang di semak-semak di Pandeglang, Banten.

Kapolrestabes Bandung Kombes Mashudi mengatakan, pembunuhan ini sudah direncanakan dua hari sebelum pelaksanaan. Ancaman untuk hukuman ini bisa berupa hukuman mati berdasarkan Pasal 340 KUHP. Polisi telah menangkap lima orang dalam perkara ini dan satu orang lain dinyatakan masih buron.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s