Mana Yang Benar Surabi Atau Serabi


BISA jadi sebagian dari kita belum paham tentang surabi. Makanan berbahan dasar tepung beras dicampur tepung terigu dan parutan kelapa muda itu, sebenarnya bukan jenis makanan baru. Ini karena beberapa daerah juga memiliki makanan yang sama. Surabi sejak lama populer di Bandung, Jawa Barat, tetapi di sejumlah daerah di Jawa Tengah juga ada serabi yang bahan bakunya relatif sama dengan surabi. Bahkan di Sumatera Barat pun ada serabi.

Bahan dasar makanan berbentuk bulat yang dimasak dengan kuali dari tanah itu hampir sama. Rasa dasarnya juga sama, gurih, karena unsur kelapa muda atau santan. Bedanya pada bahan tambahan atau topping dan tingkat ketebalan daging surabi. Apabila surabi bandung berdaging tebal dengan aneka topping seperti cokelat, stroberi, oncom, jagung, kurma, ayam, sosis dengan rasa manis atau pedas, maka serabi solo biasanya diberi topping cokelat atau nangka dengan daging lebih tipis dan bisa digulung.

Sementara itu, daging serabi padang juga tak tebal dan dimakan dengan kuah santan yang manis. Ada pula serabi betawi yang mirip surabi, tetapi kinca atau kuahnya adalah gula merah cair.”WAKTU itu aku sebenarnya bingung, mau jual makanan apa. Tempat sudah ada, tetapi aku belum punya ide,” kata Noverio (25), pemilik restoran Soerabi Bandung Kebayoran yang berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, Rabu (2/4/2014) malam.

Dalam kebingungan itu Rio, panggilannya, berkeliling Jakarta mencari ide. Kebetulan dia pernah mencicipi surabi di warung dekat rumahnya di Jakarta. Rasa gurih dan tampilan surabi membuat dia mencari tahu apakah di Jakarta sudah ada yang menjual surabi. Dari informasi yang dia peroleh, belum ada penjual surabi yang dikenal sebagai makanan khas Bandung itu. Tanpa perlu melihat surabi di Bandung, Rio memutuskan membuka restoran surabi pada 2011.

Awalnya ia berkongsi dengan pihak lain. Belakangan kerja sama ini berakhir. Ia memakai label HNH, singkatan nama ibu, dia, dan sang ayah, Hani-Noverio-Heryanto. Lucunya, Rio baru mencoba surabi di Bandung setelah usahanya berjalan.

”Aku mencoba aneka surabi di sejumlah tempat di Bandung supaya tahu seperti apa rasanya, he-he-he,” kata Rio yang mengaku bantuan staf dan orangtua membuat surabi di restorannya disukai konsumen. ”Saya belajar dari pegawai yang berasal dari Bandung.” Sejak dibuka, restoran dua lantai ini relatif ramai konsumen. Apalagi di lokasi itu ada sekolah dan kampus. Di sepanjang Jalan KH Ahmad Dahlan juga banyak restoran dengan berbagai jenis hidangan.

Dapur di depan
Meski Rio menyediakan berbagai makanan, seperti nasi bakar dan sate domba, surabi yang menjadi ikonnya. Untuk menarik konsumen, dia membuat dapur surabi di bagian depan restoran lengkap dengan perapian tempat memanggang surabi dengan arang menyala. ”Biaya memasak surabi dengan arang memang agak mahal, tetapi memberi aroma berbeda dibanding jika dimasak dengan gas,” kata Rio yang juga membuka cabang di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, dan di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jalan Sudirman, Jakarta.

Lokasi dan suasana restoran berimplikasi pada harga makanan. Dibandingkan dengan surabi warungan, harga surabi di HNH lebih mahal. Kalau harga surabi warungan Rp 7.000-Rp 15.000, di tempat Rio bisa Rp 8.000-Rp 20.000 per buah, tergantung dari isi dan topping-nya. Kaum muda yang datang ke restoran tak melulu mau makan surabi. Andi, siswa SMA Lab School Kebayoran, misalnya, menjadikan surabi sebagai makanan penutup.

”Kurang nendang di perut saya kalau enggak makan nasi dulu,” tutur dia sambil mengunyah surabi rasa cokelat dan keju. Ramai Di Jakarta dan sekitarnya, penjual surabi ada di sejumlah tempat. Salah satunya adalah Surabi Habibi di Jalan Mencong Raya, Ciledug, Kota Tangerang. Warung itu setiap sore sampai malam ramai pembeli. Papan nama Surabi Habibi terpampang besar di depan warung. Papan nama itu menarik mata pengguna jalan yang melintas.Tak heran walau tempatnya kecil dan orang relatif sulit mendapat tempat parkir, konsumen tak kecewa jika mencicipi produknya. Surabi aneka rasa, mulai rasa asli dengan kuah kinca (gula aren), cokelat durian dan keju atau telur, sampai oncom plus campuran mayones dan cabai yang agak pedas pun ada.

Sensasi rasa surabi yang lembut dicampur telur dan oncom yang gurih, plus rasa pedas campuran mayones-cabai, membuat lidah kita bergoyang. Mifta, mahasiswa perguruan swasta di Jakarta, mengakuinya. ”Sejak pertama merasakan surabi di sini, saya ketagihan. Surabinya empuk, gurih, dan murah,” ucap Mifta yang hampir setiap akhir pekan makan di warung ini. Gito, Manajer Surabi Habibi, mengatakan, pihaknya terus berupaya menjaga kualitas makanan. ”Dulu kami memakai arang, tetapi karena tempat ini kecil, debu arang terbang ke dalam dan mengganggu konsumen. Kami lalu memakai gas, tetapi rasanya tidak beda jauh.”

Pelajar dan mahasiswa menjadi sasaran utama Surabi Habibi. Itu sebabnya, pihak manajemen menjual surabi dengan harga relatif terjangkau, Rp 7.000-Rp 15.000 untuk topping cokelat-keju-durian. ”Setiap akhir pekan kami menambah adonan surabi sampai sekitar dua kali lipat dari hari biasa. Ini karena pembeli terus datang,” kata Gito tentang warung yang berdiri tahun 2013 ini.

Baik surabi HNH maupun Habibi berusaha menyajikan penganan sehat untuk konsumen. Misalnya untuk bahan topping, baik Rio maupun Gito mengaku memilih bahan asli, bukan pewarna atau perasa buatan. Misalnya untuk surabi rasa durian, yang mereka gunakan adalah buah durian, bukan perasa durian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s