Monthly Archives: May 2014

Gunung Sangiang Meletus … Aktivitas Wisata Pulau Komodo Lumpuh


Abu vulkanik akibat letusan Gunung Sangiang di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, menyebar hingga Taman Nasional Komodo dan Labuan Bajo. Di Taman Nasional Komodo, aktivitas kapal wisata dan nelayan berhenti. Di Labuan Bajo, abu vulkanik tak berdampak berarti.

“Yang terganggu di Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta sejumlah desa di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Kapal wisata yang hendak ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca serta kapal-kapal nelayan masih memantau abu vulkanik di sekitar wilayah Taman Nasional Komodo. Saat ini mereka belum berangkat karena masih memantau kondisi abu vulkanik,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Donatus Jabur saat dihubungi di Kota Labuan Bajo, Sabtu (31/5/2014).

Jabur menyampaikan, hari ini digelar rapat dengan berbagai stakeholder di Kabupaten Manggarai Barat untuk mengatasi bencana abu vulkanik yang sudah tersebar di Kota Labuan Bajo dan sejumlah kecamatan di bagian selatan Manggarai Barat. Menurutnya, hasil pengamatan petugas di lapangan, abu vulkanik Gunung Sangiang sangat mengganggu di sekitar Taman Nasional Komodo seperti di sejumlah desa di dalam kawasan tersebut.

Di Labuan Bajo, aktivitas masyarakat berjalan normal meski abu vulkanik menyebar di wilayah itu. Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, membentuk posko bencana di Kota Labuan Bajo. “Untuk saat ini kapal motor ferry penyeberangan dari Labuan Bajo ke pelabuhan Sape, Kabupaten Bima masih berlayar sesuai jadwal. Petugas Bencana di Kota Labuan Bajo terus memonitor abu vulkanik dari gunung Sangiang, Kabupaten Bima, Propinsi Nusa Tenggara Barat,” kata dia.

Gunung Sangiang di Sangaang Pulo, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meletus pada pukul 15.55 Wita. Ketinggian asap mencapai 3.000 meter. Angin membawa asap ke arah barat hingga ke Kota Bima yang berjarak sekitar 70 kilometer. Kepala Badan Geologi Surono sewaktu dimintai konfirmasi di Mataram menjelaskan, status Gunung Sangiang waspada. “Masyarakat tidak boleh berada dalam radius 1,5 kilometer,” kata Surono melalui telepon, Jumat sore, 30 Mei 2014.

Saat berada di Gunung Ncai, sekitar 24 kilometer dari Gunung Sangiang, merasakan udara menjadi panas. Karena itu, penduduk di sekitar Kecamatan Wera telah mengungsi ke Kota Bima menggunakan kendaraan bermotor untuk menghindari awan panas. Tanda-tanda akan meletusnya Gunung Sangiang diketahui sejak pagi. Pagi tadi terjadi gempa. Lalu gunung itu mengeluarkan asap. “Tinggi sekali asapnya dan udara menjadi gelap. Kata warga sekitar, asapnya terasa agak pedas di mata,” ujar salah seorang staf Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bima, Wahab Usman.

Sangeang Pulo dihuni sekitar 42 kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani. Sebagian warga yang yakin akan terjadi letusan sudah meninggalkan Sangeang Pulo menggunakan perahu motor. Kini aparat kepolisian dan TNI sedang berupaya melakukan penyelamatan warga. Sebanyak 133 warga yang tinggal di Sangeang Pulo, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, masih terjebak dan belum diketahui nasibnya hingga pukul 18.00 Wita. Jumat, 30 Mei 2014.

Gunung di pulau itu meletus pada sore harinya. Warga yang sebagian besar anak-anak itu masih menunggu evakuasi ke Sangeang Darat. Ke-133 orang tersebut berprofesi sebagai petani dan peternak sapi. Kawasan tersebut tertutup total oleh asap dan abu vulkanik. “Kita sedang melakukan evakuasi, dengan perahu milik nelayan, mulai pukul 17.00 Wita,” ujar Camat Wera Julfan Akbar malam ini, Jumat, 30 Mei 2014.

Ia membantah kabar dua orang meninggal dunia di Sangeang Pulo. “Ada satu yang terjatuh karena ketakutan, saya belum menerima laporan kepala desa,” kata Julfan. Sebelumnya dikabarkan dua orang yakni pria berusia 70 tahun bernama Ama Sandaka dan istrinya meninggal di lokasi. Kedua pasangan suami-istri tersebut memang tinggal di Sangeang Pulo sebagai penjaga Sangeang. “Menurut warga, Ama Sandaka juru kunci Gunung Sangiang,” kata Julfan.

Julfan mengatakan sejak gunung meletus sore tadi, petugas langsung mengevakuasi warga. Namun, tak sedikit yang tak dapat dievakuasi, “Hanya orang tua dan anak anak yang diselamatkan, terlebih dahulu,” ujar dia. Malam ini, di rumah sakit Kecamatan Wera terdapat 18 warga yang dirawat karena luka-luka. Sejumlah 15 orang di antaranya, memilih pulang karena hanya mengalami luka lecet. Sedangkan saat ini ada yang dirawat tiga orang. “Akan dievakuasi ke rumah keluarga mereka di Sangeang Darat,” ungkapnya.

Sementara itu, di pos Penanggulangan Bencana, ratusan warga Desa Sangeang Darat dievakuasi di rumah sanak keluarganya ke desa lain. Juru bicara Pemkab Bima Suryadin mengatakan pihaknya akan mengevakuasi warga ke lokasi yang aman. “Kami menghimbau warga tidak panik,” kata Suryadin. Rahmat, 30 tahun, salah satu warga yang mengungsi mengatakan alasan mengungsi karena takut letusan susulan yang mengeluarkan awan panas. “Lebih baik menghindar dulu mas, apalagi anak-anak saya masih kecil,” ujar dia. Pantauan di lapangan, warga tampak memadati jalanan.

Umat Katholik Yogyakarta Diserang Sejumlah Pria Bergamis Saat Ibadah


Tindak kekerasan dan intoleransi beragama terjadi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jemaat Santo Fransiscus Agung Gereja Banteng, Ngaglik, Sleman, yang sedang beribadah diserang oleh sekelompok pria bergamis bersenjata tajam. Kejadian itu terjadi pada Kamis malam, 29 Mei 2014. Acara kebaktian digelar di rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus, 54 tahun, di Perumahan YKPN Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Yogyakarta.

Julius dikeroyok oleh banyak orang bergamis. Akibatnya, ia mengalami luka di kepala dan tulang punggungnya retak. “Luka sudah dijahit, tulang punggung sebelah kiri patah, dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih,” kata Julius, Jumat, 30 Mei 2014. Tindakan brutal sekelompok massa dengan senjata tajam dan tumpul itu merupakan tindak anarkis dan intoleran dalam kehidupan beribadah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa waktu lalu kejadian serupa juga terjadi di Gunung Kidul, yakni berupa penutupan sebuah gereja dan penganiayaan terhadap aktivis lintas agama.

Peristiwa kekerasan ini berawal saat ibadah di rumah Julius digelar pada pukul 19.00 WIB. Satu jam kemudian, sekitar pukul 20.20 WIB, tiba-tiba sekelompok orang bergamis datang dan langsung melempari rumah Julius dengan batu. Lalu mereka juga merusak rumah Julius. Saat kejadian, Julius belum pulang dan masih berada di kantornya. Setelah diberitahu, ia pulang. Namun, sesampainya di rumah, ia justru dihadang gerombolan itu dan dikeroyok hingga terluka. “Sekitar delapan orang mengeroyok saya,” kata dia.

Akibat kejadian itu, ia merasa keluarganya terancam. Polisi harus melindungi. Julis mengaku tidak harus melapor ke polisi atas kejadian itu. Namun, polisilah yang harus menindaklanjuti kasus yang jelas sudah terjadi itu. Selain menganiaya Julius, sekelompok massa itu juga menganiaya jemaat. Ada yang didipukuli dengan kayu, besi, dan bahkan ada pula yang disetrum. Michel Aryawan, wartawan Kompas TV yang meliput kejadian itu, juga dihajar oleh kelompok massa itu. Kameranya bahkan dirampas oleh mereka. “Rumah saya dekat dengan lokasi. Saat ada keributan saya datang, tetapi justru dianiaya. Saya akan lapor ke Polda siang ini,” kata Mika, panggilan Michel.

Jaringan AntarIman Indonesia mengecam kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap jemaat yang melakukan ibadah rosario di rumah Julius Felicianus, Direktur Penerbitan Buku Galang Press, di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Koordinator Jaringan Antariman Indonesia, Elga Sarapung, mendesak polisi segera menangkap pelaku kekerasan. Pelaku, menurut dia, mudah dikenali karena korban kekerasan, Julius Felicianus, mengenali orang yang menyerangnya. Sebagian dari pelaku kekerasan mengenakan jubah. “Polisi harus berani menangkap seluruh pelaku kekerasan,” kata Elga, Jumat, 30 Mei 2014.

Menurut Elga, bukti kekerasan di lapangan sudah cukup untuk menyeret pelaku sesuai hukum yang berlaku. Misalnya, penjelasan saksi di lapangan dan bukti lain. Elga yang juga Direktur Interfidei Yogyakarta terus mengumpulkan data terkait kasus intoleransi ini. “Data dan dokumen kekerasan akan kami tunjukkan kalau sewaktu-waktu aparat lepas tangan,” kata dia. Interfidei, kata Elga, terus bergandeng tangan dengan gabungan organisasi non-pemerintah, Masyarakat Anti-Kekerasan Yogyakarta, untuk menuntut penyelesaian kasus intoleransi. “Kami terus berkomunikasi untuk aksi bersama mengutuk penyerangan itu,” Elga menegaskan.

Aksi penyerangan terjadi pada Kamis malam, 29 Mei 2014 di rumah Direktur Galang Press Julius Felicianus. Penyerang diduga berasal dari organisasi masyarakat. Julius Felicianus dan sejumlah perempuan yang mengadakan ibadah rosario terluka akibat penyerangan itu. Wartawan Kompas TV yang meliput aksi kekerasan, Michel Aryawan, juga dihajar. Kameranya bahkan turut dirampas oleh kelompok berpakaian gamis itu.

Saat penyerangan terhadap belasan umat Katolik yang sedang beribadat Rosario di rumah Julius Felicianus, Direktur Galangpress, di Perumahan YKPN, Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Kamis malam, 29 Mei 2014, ada anak kecil yang disetrum. Anak berusia delapan tahun berinisial T itu saat ini sangat trauma dan masih dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. “Saat penyerangan, T disetrum di tangannya,” kata Siti Noor Laila, Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jumat malam, 30 Mei 2014.

Laila yang sudah menjenguk para korban penyerangan itu menyatakan saat penyerangan pertama oleh sekelompok orang berjubah dan bercelana congklang itu, T dilindungi oleh bapaknya yang bernama Nur Wahid. Alat setrum yang digunakan penyerang adalah alat setrum portabel yang saat ini sudah banyak dijual bebas di pasaran. Saat peribadatan, Nur Wahid dan T sedang menunggu istri/ibunya yang sedang beribadah. Penyerang melempari korban dan rumah dengan batu dan pot bunga.

Nur Wahid luka di hidung, kepala bagian belakang bocor, dan tangan luka lecet-lecet. “Secara psikis dia paling parah,” kata Laila. Sebab, saat itu ia pertama kali yang diserang dan berusaha melindungi anaknya serta jemaat lain supaya masuk ke gudang rumah Julius. Nur Wahid juga minta kepada Komnas HAM untuk melindungi keluarganya karena mereka sangat ketakutan akibat kasus itu.

Julius yang diserang juga mengalami luka berat. Yaitu luka robek di kepala dan tulang punggung sebelah kiri patah. Ia juga dirawat di Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta. Karena menyangkut anak di bawah umur, Laila akan menggandeng Komisi Perlindungan Anak Indonesia untuk menyikapi kasus ini. Selain itu untuk perlindungan saksi dan korban ia akan menggandeng Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Orang berkeyakinan dan beribadah itu dilindungi konstitusi,” kata Laila. Ia menambahkan cara kekerasan yang dilakukan sekelompok massa itulah yang melanggar hak asasi manusia. Sehingga kasus ini harus dituntaskan oleh penegak hukum, siapa pun pelakunya dan dari organisasi apa pun. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta Yoeke Indra Agung Laksana menilai peristiwa kekerasan yang terjadi di DIY telah mencapai tahap kritis. “Karena (DIY) tidak punya budaya seperti Jakarta,” katanya usai salat Jumat di gedung DPRD DIY, Jumat, 30 Mei 2014.

Sepanjang dua tahun terakhir, kasus kekerasan di Yogyakarta terus meningkat. Ironisnya, aparat penegak hukum cenderung mendiamkan saja. Tak ada pelaku yang ditangkap dan dihadapkan ke peradilan. Kasus kekerasan terakhir terjadi pada Kamis, 29 Mei 2014 kemarin. Sekelompok orang bergamis menyerang Jemaat Santo Fransiscus Agung Gereja Banteng, Sleman, yang sedang menggelar kebaktian di rumah Julius Felicianus di Desa Sukoharjo, Kecamatan Sleman. Di rumah Direktur Galang Press itu, massa menyerang dengan menggunakan senjata tajam. “(Kejadian seperti ini) jangan hanya didiamkan saja,” katanya mengomentari kasus penyerangan itu.

Ia meminta Kepolisian mengusut tuntas kasus itu dan menangkap para pelaku penyerangan. “Ada aduan atau tidak, polisi harus pro-aktif,” ujarnya. Jika peristiwa semacam itu terus dibiarkan, ia khawatir peristiwa yang sama akan terus terulang di kemudian hari. “Kalau didiamkan (kekerasan) akan semakin tak terkontrol.” Wartawan Kompas TV Michael Aryawan melaporkan kasus penganiayaan dan perampasan kamera ke Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, 30 Mei 2014.

Kasus penganiayaan itu terjadi saat sekelompok massa bergamis menyerang rumah bos Galang Press Julius Felicianus saat diadakan ibadah rosario oleh umat Katolik, Kamis malam, 29 Mei 2014. “Mereka menganiaya, menghalangi tugas jurnalistik serta merampas kamera dan memory card,” kata Mika, panggilan Michael, pada Jumat, 30 Mei 2014.

Saat terjadi keributan di rumah Julius di Perumahan YKPN Tanjungsari, Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Mika yang rumahnya tidak jauh dari lokasi segera datang. Namun, saat meliput kejadian penganiayaan jemaat dan perusakan rumah, ia justru dianiaya oleh kelompok bergamis itu. Tidak hanya menganiaya, mereka juga merampas kamera video dan memory card yang ia gunakan untuk alat liputan televisi. Sampai ia melapor ke Polda, kamera dan memory card belum kembali ke tangannya. “Laporannya adalah penganiayaan, menghalangi tugas jurnalistik, perampasan dan pencurian (kamera),” kata Mika.

Kepala Polda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigadir Jenderal Haka Astana menegaskan kasus ini ditindaklanjuti dengan menangkap tersangka. Ia sangat mendukung dan akan melindungi wartawan dari kasus-kasus kekerasan. “Saya akan membela mati-matian pekerja media, termasuk memberikan keamanan saat tugas,” kata dia. Ia menegaskan polisi meminta informasi jika di suatu tempat akan dilakukan kegiatan masyarakat. Dengan demikian, jika ada sesuatu yang menimbulkan kekerasan, bisa diantisipasi sebelumnya.

Elga Sarapung, salah satu tim advokasi kasus ini, menyatakan pihaknya mencari sebanyak mungkin data dan barang bukti atas kasus yang menimpa umat Katolik yang sedang beribadah. Ia juga meminta polisi untuk memberikan perlindungan kepada keluarga Julius. “Kami kumpulkan data dan barang bukti yang akan kami serahkan ke polisi. Jangan sampai kasus seperti ini terulang lagi,” kata dia. Tak mau berlama-lama, polisi langsung menindaklanjuti penyerangan terhadap sekelompok umat Katolik di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang sedang beribadah tadi malam. Polisi telah menangkap salah satu pelaku penyerangan dan masih mengejar yang lain.

“Ada beberapa pelaku yang sudah teridentifikasi,” kata juru bicara Polda Daerah Istimewa Yogyakarta, Ajun Komisaris Anny Pudjiastuti, Jumat, 30 Mei 2014. Menurut dia, tersangka yang ditangkap berinisial Q. Adapun dua pelaku yang masih buron yakni B dan A. Pada Kamis malam, 29 Mei 2014, sekelompok massa bergamis mendatangi rumah Julius Felicianus, Direktur Galang Press. Mereka menyerang dan menganiaya para jemaat Katolik yang sedang berdoa rosario. Beberapa orang terluka, termasuk Julius. Kepalanya bocor dan tulang punggungnya retak.

Polisi belum mau menduga-duga motif penyerangan itu dengan alasan pemeriksaan sedang dilakukan. “Ini negara hukum, akan kami proses sesuai undang-undang,” katanya. Adapun Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Sleman Ajun Komisaris Alaal Prasetyo juga tak mau menjelaskan dengan detail ihwal pelaku yang sudah ditangkap. “Masih penyelidikan. Memang sudah ada yang ditangkap,” katanya.

Nikmatnya Rujak Kuah Pindang Kuliner Khas Bali


Cabai rawit diulek bersama terasi bakar. Kemudian aneka buah yang diiris-iris dengan pisau gerigi dicampur ke ulekan cabai dan terasi. Belum selesai, karena terakhir buah-buahan ini disiram dengan kaldu pindang. Hasilnya adalah Rujak Kuah Pindang. Dari namanya saja, sering kali mengundang rasa penasaran penggemar kuliner. Jika lazimnya rujak menggunakan bumbu kacang, kuliner khas Bali ini malah menggunakan kuah dari kaldu ikan. Orang yang pertama kali mencicipi rujak ini memang akan mengernyitkan dahi.

Bagaimana tidak? Aroma amis dari kaldu ikan berpadu pedasnya cabai rawit, lalu diadu dengan asam segarnya buah-buahan. Ya, buah yang digunakan salah satunya mangga muda yang asam. Selain mangga muda, ada juga kedondong yang cenderung asam. Rasa dan aromanya yang khas ini membuat orang yang pertama kali mencoba merasa aneh. Namun, jika sudah menghabiskan satu piring, bisa-bisa malah jadi doyan. Ada banyak warung di Bali terutama di kawasan Denpasar yang menjual Rujak Kuah Pindang.

Buah-buahan yang dipakai oleh setiap warung bisa beda-beda. Umumnya menggunakan mangga muda, pepaya, kedongdong, bengkuang, timun, dan nanas. Tetapi satu hal yang sama adalah penggunaan kaldu ikan. Salah satu warung yang menjual menu ini adalah Warung Rujak Buk Man Sanur. Warung sederhana ini berada di Sanur dan terkenal di kalangan warga setempat. Tepatnya di Jalan Melsonet, Sanur.

Bisa dibilang, warung ini bukanlah tempat yang umum bagi turis. Tetapi menjadi salah satu tempat nongkrong favorit penduduk lokal. Nah sebagai tempat makan Rujak Kuah Pindang bisa coba minuman Air Gula. Sesuai namanya, minuman ini memang hanya berupa air gula. “Gula direbus dengan air banyak. Tambahkan daun pandan supaya wangi,” tutur Buk Man.

Jangan heran saat meminumnya karena warnanya yang merah. Air Gula lazim diberikan sedikit pewarna makanan untuk mendapatkan warna merah tersebut. Setelah jadi, air gula diberi es batu dan irisan jeruk limau. Minuman ini sangat menyegarkan dan tidak terlalu manis. Efeknya yang menyegarkan mampu meredam rasa pedas dari Rujak Kuah Pindang. Apalagi diminum di siang hari bolong, di tengah teriknya matahari Sanur.

Indonesia Harus Contek Thailand Promosikan Kuliner


Penulis dan pelopor pembentukan komunitas wisata boga Jalan Sutra, Bondan Winarno, mengatakan Indonesia bisa meniru cara Thailand mempromosikan kuliner untuk memperkenalkan khazanah makanan tradisional Tanah Air ke mancanegara. Kepada Antara di Beijing, Rabu (21/5/2014) malam, Bondan menuturkan Thailand terbukti berhasil menduniakan makanan tradisionalnya dengan “Thai Kitchen to The World”, program promosi pariwisata lewat kuliner.

Langkah pemerintah dan pemangku kepentingan Thailand menggunakan kuliner sebagai media promosi sudah membuahkan hasil. Restoran-restoran Thailand kini bermunculan di berbagai belahan dunia. “Dari target sekitar 10.000 restoran di seluruh dunia, kini hanya kurang dari lima tahun sejak program itu diluncurkan, telah ada 20 ribu restoran Thailand di selruh dunia,” kata Bondan, yang berada di Beijing untuk menghadiri penyerahan penghargaan Gourmand World Cookbook Awards.

“Sehingga, walau tak ke Thailand, orang-orang seluruh dunia dapat merasakan masakan Thailand. Orang London misalnya, jadi suka makan makanan Thailand. Lalu berpikir musim panas nanti mau liburan ke Thailand, sebab makan di tempat aslinya tentu lebih enak. Akhirnya jadi berdampak ke pariwisata,” katanya.

Indonesia, lanjut Bondan, punya lebih banyak ragam makanan dibandingkan negara Gajah Putih itu dan bisa menggunakan cara serupa untuk menduniakan kekayaan makanan tradisional Tanah Air. “Di Sumatera ada masakan Padang, ada Minangkabau, yang ada pula masakan Kapau dan lainnya. Tiap daerah memiliki ragam kuliner yang berbeda,” katanya.

Menurut dia, pemerintah, swasta dan pengiat kuliner mesti segera menyatukan visi untuk membawa kuliner tradisional nusantara ke masyarakat internasional. Pemerintah dan para pemangku kepentingan terkait seharusnya sudah menajamkan visi dan menentukan arah promosi kuliner Indonesia. “Ini memang perlu komitmen kuat dari semua pihak, tidak saja pemerintah, tetapi semua pemangku kepentingan terkait,” katanya.

“Indonesia telah menetapkan 30 ikon kuliner nusantara untuk dipromosikan ke mancanegara dan itu sangat baik. Namun kesatuan visi itu penting supaya promosi 30 ikon kuliner nusantara itu semakin maksimal hasil dan dampaknya bagi Indonesia,” katanya.

Penghargaan buku masakan
Bondan berada di Beijing untuk menerima Gourmand World Cookbook Awards untuk buku resepnya yang berjudul “100 Makanan Tradisional Indonesia, Mak Nyus”. Dalam ajang penghargaan bagi buku kuliner terbaik ke-19 di Beijing, Tiongkok, yang berlangsung selama 20-21 Mei 2014 penulis buku memasak Indonesia Reno Andam Suri juga mendapat penghargaan khusus untuk buku “Rendang, Minang Legacy to The World”.

Sementara Dr Samuel Oetoro serta Erwin dan Jana Parengkuan mendapat penghargaan untuk buku “Smart Eating.” Ajang penghargaan bagi para penerbit, penulis buku, jurnalis dan penggiat kuliner itu kali ini diikuti oleh sekitar 187 negara.

Mengerikan … Kepala Sekolah Jakarta Internasional School Terindikasi Paedofil


Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lidya Freyani Hawadi mengatakan, Kepala Sekolah Jakarta Internasional School (JIS) Timothy Carr terindikasi paedofil. “Timothy Carr atau Tim Carr harus diperiksa karena terindikasi paedofil. Begitu juga dengan wali kelasnya,” ujar Lidya, seperti dilansir kantor berita Antara, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/5/2014).

Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya melalui pihak kepolisian, tetapi juga dilakukan secara menyeluruh. Menurut Lidya, tudingannya ini didasarkan pada kasus mantan wakil kepala sekolah tersebut, yakni William Vahey, yang merupakan buronan FBI terkait pelecehan seksual pada anak. Sebelumnya, kasus kekerasan seksual menimpa AK, murid TK JIS. Selain AK, kekerasan seksual juga menimpa dua korban lainnya.

“Kasus ini akan mulai disidangkan pada Senin (27/5/2014). Kemdikbud menjadi tersangka kedua karena dianggap lalai. Kami siap menghadapi persidangan itu,” jelas dia.

Polda Metro Jaya menanggapi berita korban kekerasan seksual di Taman Kanak-kanak Jakarta International School (JIS) yang melapor ke Bareskrim Polri. Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto, bisa saja dalam pemeriksaan keduanya bertukar saksi untuk melengkapi pemberkasan.

“Jika ada pelapor ke Bareskrim Polri bisa jadi saksi kita, saksi yang sudah kita periksa (di Polda Metro) dapat juga diperiksa kembali di Bareskrim. Keterangan mereka bisa digunakan untuk menyempurnakan berkas kita,” katanya, Jumat (23/5/2014).

Rikwanto menambahkan, dalam penyelidikan kasus, tidak masalah pelapor mengadukan ke dua tempat berbeda. Keduanya, akan sama-sama dilakukan penelusuran. Sedangkan saat ini, lanjutnya, belum ada korban lain yang melapor ke Polda Metro Jaya.

“Pemeriksaan juga belum berkembang ke pihak lain, termasuk pihak JIS,” ujarnya.

Sebelum diberitakan pengacara korban JIS, OC Kaligis mendatangi Polda Metro Jaya, Kamis (22/5/2014). Dia mengatakan bahwa korban lain tindak kekerasan seksual di dalam sekolah itu telah melapor ke Bareskrim Mabes Polri.

Namun, ia enggan menyebutkan berapa banyak dan identitas korban. Hal tersebut, lantaran permintaan dari orang tua korban yang mengatakan permasalahan ini sangat sensitif. Pemeriksaan oleh penyidik, mereka telah mendatangi rumah para korban.

“Dengan berpakaian preman, mereka datang bermain-main dengan anak-anak. Setelah beberapa lama, mereka (anak-anak) akhirnya mengatakan (pelaku) dengan menunjukkan foto ini, foto ini dan foto ini,” ujarnya.

Selain itu, menurutnya, sesuai dengan pengakuan korban, pelaku kekerasan bukan hanya petugas kebersihan alihdaya sekolah, tetapi juga ada oknum lain.

Gadis Makassar Gagah Berani Todong Balik Polisi Yang Memperkosanya Sambil Telanjang Bulat


Anggota Reskrim Polsekta Tamalate, Brigadir Polisi Arifuddin Nanu, diamankan Provos Polrestabes Makassar setelah dilaporkan memerkosa seorang gadis berinisial G (16), warga Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, Jumat (23/5/2014). Kepala Subag Humas Polrestabes Makassar Komisaris Polisi (Kompol) Mantasia saat menggelar konferensi pers di kantornya mengatakan, peristiwa percobaan pemerkosaan ini terjadi pada Kamis (22/5/2014) malam.

Kala itu, korban yang berprofesi sebagai buruh bangunan ini menumpangi motor Arifuddin sepulang bekerja di Jalan Metro Tanjung Bunga.

“Memang korban sering menumpang kendaraan orang saat pergi maupun pulang beraktivitas. Sebab, di Jalan Metro Tanjung Bunga itu tidak ada angkot. Melihat korban menunggu tumpangan, Brigpol Arifuddin yang kebetulan melintas menghentikan laju motornya dan menawarkan diri,” kata Mantasia.

Di tengah perjalanan, lanjut Mantasia, Arifuddin membelokkan motornya ke jalan sepi. Ia memaksa untuk menyetubuhi korban. Bahkan, Arifuddin sempat melepaskan tiga kali tembakan ke udara untuk menakut-nakuti agar korban menanggalkan seluruh pakaiannya.

“Saat menyetubuhi, korban membujuk Brigpol Arifuddin meletakkan pistol yang dipegangnya. Brigpol Arifuddin pun tergoda dengan bujukan korban hingga meletakkan pistolnya di samping. Saat keasyikan melakukan perbuatannya, korban langsung mengambil pistol dan mengancam Brigpol Arifuddin agar berhenti. Di situlah, korban berlari dalam keadaan telanjang bulat menyelamatkan diri sambil memegang pistol,” kata Mantasia.

Mantasia menuturkan, sambil berlari, korban berteriak meminta tolong. Warga yang mendengar teriakan korban langsung berdatangan. Sementara itu, Brigpol Arifuddin pun melarikan diri meninggalkan motor Yamaha Mio bernomor polisi DD 3333 serta sendal kulit miliknya.

“Jadi, warga yang datang menyelamatkan korban memberikan sarung dan membawanya ke Polsekta Tamalate. Dari Polsekta Tamalate, korban dibawa ke Polrestabes Makassar dan kasusnya sementara diselidiki. Demikian pula Brigpol Arifuddin telah diamankan Provos dan sekarang menjalani pemeriksaan di Propam dan Reskrim,” ujar Mantasia.

5 Bocah SD Di Bireuen Nangroe Aceh Darussalam Rencanakan dan Perkosa 2 Gadis ABG


Terkait kasus pencabulan pelajar oleh 5 temannya di SDN Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Aceh, kepolisian setempat sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan mengamankan barang bukti yang digunakan lima pelaku. Kasat Reskrim Polres Bireuen, AKP Jatmiko, Jumat (23/5/2014), mengatakan, setelah menerima pengaduan dari dua keluarga korban, pihaknya langsung terjun ke lokasi sekolah dan mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain sumbu pel untuk mengikat korban, gagang sapu dan pasir yang digunakan pelaku untuk membekap mulut kedua korban.

“Hasil olah TKP kita sudah mengamankan barang bukti untuk memperjelas kasus tersebut. Sejauh ini memang pencabulan yang dilakukan lima tersangka sudah direncanakan,” kata Jatmiko. Kendati demikian, Jatmiko menyatakan pihaknya tidak ingin gegabah atau terburu-buru menyimpulkan kasus pertama yang ditangani Polres Bireuen ini. Mengingat, kasus ini dilakukan anak di bawah umur terhadap teman sekelasnya sendiri.

Selain barang bukti, pihak kepolisian diakuinya sudah memanggil lima pelaku, masing-masing M, KN, A, MU, dan MN serta kedua korban, CUN dan NUK. Polisi juga memeriksa guru dan keluarga masing-masing pelaku dan korban. Jatmiko menegaskan, jika terbukti melakukan pencabulan, pelaku diancam Pasal 82 Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukum penjara lima tahun. Namun karena pelaku di bawah umur, maka hukuman dipotong sepertiga masa tahanan sehingga sisa yang harus dijalani sekitar dua tahun.

Lima bocah kelas IV di salah satu SDN di Kabupaten Bireuen, Aceh, melakukan aksi pencabulan terhadap dua teman sekelasnya sehingga mengakibatkan salah satu korban pingsan. Para pelaku dan dua korban adalah sama-sama murid kelas IV di salah satu SDN di Peusangan Selatan. Aksi itu dilakukan di ruang kelas sekolah mereka saat jam istirahat.

Kendati kejadian itu dialami kedua korban pada Rabu (7/5/2014) lalu, pihak korban baru melaporkannya kepada polisi pada Senin (12/5/2014) ke Mapolres Bireuen.Diduga kuat, aksi kelima bocah SD pelaku pencabulan atas dua teman sekelasnya di salah satu SDN di Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Aceh, terjadi akibat pengaruh video porno yang kerap mereka tonton.

Hal itu terungkap dari penyidikan sementara aparat Polres Bireuen terhadap kelima pelaku. Keinginan untuk mempraktikkannya timbul setelah pelaku tergoda melihat dua teman sekelasnya itu. Sejauh ini, penyidikan baru satu kali dilakukan. Polisi memanggil salah seorang guru dan memeriksa kelima tersangka. Namun, dalam minggu ini, kelima tersangka akan dipanggil kembali untuk dimintai keterangan lanjutan.

“Dari pengakuan tersangka, memang mereka mengetahui perilaku tersebut dari video porno yang pernah ditontonnya,” kata Banit PPA Sat Reskrim Polres Bireuen Bripda Tamam Ashari, Kamis (22/5/2014).Saat kejadian, hanya rok korban yang disingkap dan dibuka paksa, sedangkan pakaian pelaku tidak dilucuti. Namun, yang mengenaskan adalah keberanian lima pelaku merencanakan aksi dengan menyiapkan pasir, sumbu pel, bahkan gagang sapu untuk mempermudah niat mereka.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, pelaku mengikat korban dan menggerayangi kedua korban. Pada saat korban pingsan, baru pelaku melarikan diri dan akhirnya dilaporkan kepada pihak sekolah. Dua bocah SD yang menjadi korban pencabulan oleh lima teman sekelas di salah satu SDN di Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Aceh, Rabu 7 Mei lalu, akan menjalani pemeriksaan kejiwaan.

Tidak hanya dua bocah tersebut, kelima pelaku, yakni M, KM, A, MU, dan MN, juga akan menjalani pemeriksaan serupa terkait perilaku sadis yang mereka lakukan. Kasat Reskrim Polres Bireuen AKP Jatmiko, Jumat (23/5/2014), mengungkapkan, karena usia pelaku dan korban yang di bawah umur, penegak hukum pun melakukan pemeriksaan psikologis.

”Senin mendatang, kedua korban akan hadir ke Mapolres untuk diperiksa kejiwaannya oleh psikiater yang ditunjuk. Selain itu, psikologis kelima pelaku juga akan diperiksa,” kata Jatmiko. Baik korban maupun para pelaku akan didampingi oleh keluarga masing-masing. AKP Jatmiko pun memastikan bahwa polisi akan serius menangani kasus yang dimaksud hingga tuntas. Diberitakan sebelumnya, lima bocah kelas IV di salah satu SDN di Kabupaten Bireuen, Aceh, melakukan aksi pencabulan terhadap dua teman sekelasnya sehingga mengakibatkan salah satu korban pingsan. Aksi itu dilakukan di ruang kelas sekolah mereka saat jam istirahat.

Kendati kejadian itu dialami kedua korban pada 7 Mei lalu, pihak korban baru melaporkannya kepada polisi pada Senin (12/5/2014) ke Mapolres Bireuen.Hingga berita ini ditayangkan, belum diketahui kenapa keluarga korban terlambat melaporkan kejadian tersebut. Kanit PPA Satreskrim Polres Bireuen Bripda Tamam Ashari kemarin menuturkan, berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kedua korban, mereka mengaku dikejar oleh salah seorang pelaku saat jam istirahat dan diseret masuk ke dalam kelas.

Di kelas, sudah ada empat pelaku lain yang langsung mengikat korban menggunakan sumbu pel dan memasukkan pasir ke dalam mulut korban. Setelah itu, terjadilah aksi kekerasan seksual. Seorang korban lainnya, yang juga diseret ke dalam kelas, pun diperlakukan sama. Saat mencoba melarikan diri, korban diseret kembali ke dalam kelas dan akhirnya pingsan.

“Melihat si korban pingsan, pelaku melarikan diri sehingga korban satu lagi lari melaporkan kepada guru di kantor sekolah,” ungkap Bripda Tamam Anshari. Kasus tersebut tidak terungkap pasca-kejadian. Namun, selang beberapa hari, kasus itu baru dilaporkan oleh keluarga korban, bukan pihak sekolah.

Kasus pencabulan atau kekerasan seksual yang dilakukan siswa kelas IV di salah satu SDN di Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, Aceh, terhadap dua teman sekelasnya itu, sejauh ini tidak diketahui oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bireuen. Pihak Disdik menyatakan belum ada laporan baik dari sekolah bersangkutan maupun Polres Bireuen soal kasus kekerasan seksual di sekolah dasar itu. “Kami sama sekali belum dapat laporan atau informasi terkait pencabulan tersebut,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Bireuen, Nasrul Yuliansyah, yang dihubungi via selulernya, Kamis (22/5/2014).

Kata dia, pihaknya segera melakukan cross check ke lapangan untuk memintai keterangan dan melihat sejauhmana pengawasan yang dilakukan pihak sekolah, mengingat waktu dan tempat kejadian di kelas, namun tidak diketahui oleh guru. “Dalam waktu dekat tim akan turun ke sekolah bersangkutan untuk menindaklanjuti persoalan ini,” tandas kadis.

Lima bocah kelas IV di salah satu SDN di Kabupaten Bireuen, Aceh, melakukan aksi pencabulan terhadap dua teman sekelasnya sehingga mengakibatkan salah satu korban pingsan. Para pelaku dan dua korban adalah sama-sama murid kelas IV di salah satu SDN di Peusangan Selatan. Aksi itu dilakukan di ruang kelas sekolah mereka saat jam istirahat.

Kendati kejadian itu dialami kedua korban pada Rabu (7/5/2014) lalu, pihak korban baru melaporkannya kepada polisi pada Senin (12/5/2014) ke Mapolres Bireuen.