Kisah KIsah Caleg Stress Karena Gagal Di Pemilu Legislatif


Pondok Pesantren Dzikrussyifa Asma Berojomusti, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, sudah menangani sedikitnya 40 calon legislatif yang mengalami stres setelah pemilu legislatif 9 April lalu. Saat diterapi kejiwaan di pondok pesantren, mereka ada yang marah-marah, diam, bahkan telanjang sambil teriak-teriak. “Saya prihatin,” ujar pimpinan Pondok Pesantren Dzikrussyifa Asma Berojomusti, K.H. Muzzakin.

Menurut Muzzakin, 46 tahun, 40 orang caleg itu datang dari pelbagai tempat di Tanah Air, mulai dari Pontianak, Kalimantan Barat, Lampung, Jakarta, dan Banten. Juga dari Pekalongan, Jawa Tengah, Malang, Sidoardjo, Surabaya, Gresik, dan Lamongan. Dari 40 orang tersebut, ada tiga orang yang justru lebih dahulu datang sebelum pencoblosan pemilu legislatif 9 April 2014.

Para caleg yang stress ini sebagian tidak tahan dengan tekanan mental yang kuat. Misalnya, kalah karena tidak lolos jadi anggota legislatif, kemudian mengeluarkan biaya besar, rasa malu dan hina yang berlebihan, serta harapan tinggi yang tidak tercapai. Dampaknya, para caleg ini mengalami perubahan kejiwaan dan cenderung kosong pikirannya.

Kyai Muzzakin mencontohkan, karena pikirannya kosong, maka orang bersangkutan dipengaruhi hal-hal yang berkaitan dengan dunia jin dan setan. Contohnya, ada caleg dari Kabupaten Sidoardjo mengalami goncangan jiwa yang hebat. Suka teriak-teriak, ngomel, dan kemudian telanjang. Belakangan diketahui caleg ini mengaku sudah mengeluarkan uang Rp 700 juta yang diberikan ke tim suksesnya. Namun, uang sebesar itu habis dan caleg bersangkutan tidak lolos menjadi anggota DPRD Sidoardjo. “Yang sukses timnya, sementara orangnya stres,” katanya.

Contoh lain, ada beberapa caleg yang juga mengalami goncangan jiwa. Seperti dari beberapa orang dari Jawa Timur, yang datang berobat di pondoknya, berperilaku ganjil. Ada yang datang ke pondok pesantrennya dengan posisi diam dan tidak mau diajak bicara. Kemudian, ada yang ngomel-ngomel sendiri hingga menangis. Tak hanya itu, ada juga caleg yang tiba-tiba menggunakan jas, lengkap dengan tas, dan pakaian rapi. Mereka ini layaknya seperti sudah terpilih menjadi anggota Dewan.

Menurut Kyai Muzzakin, sebanyak 40 orang tersebut, datang secara bergiliran. Misalnya, pasien yang sempat telanjang dari Sidoardjo kini sudah pulang. Demikian juga dari Banten, Malang, dan Pekalongan juga sudah pulang. Kini masih ada enam caleg yang masih berada di pondok pesantrennya. Muzzakin berharap dalam satu pekan ini para caleg itu bisa cepat sembuh sedia kala. Sebab, sebagian caleg ini mengalami problem kejiwaan karena ingin meraih cita-cita, tetapi belum tercapai. Makanya, untuk melakukan terapi, dirinya mengaku harus sabar. “Saya berusaha untuk menenangkan kejiwaannya,” ujarnya.

Terapi untuk caleg yang gagal ini tidak satu dua kali ini saja. Sebab, setelah Pemilu 2009 lalu, Muzzakin juga memberikan pengobatan terhadap 23 caleg yang gagal menjadi anggota Dewan. “Jadi, bukan ini saja,” ucapnya. Poliklinik Kejiwaan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) W.Z. Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur, memeriksa dua calon legislator yang diduga mengalami gangguan kejiwaaan. Mereka memeriksakan kondisi kejiwaan setelah mengetahui dirinya kalah pada pemilu legislatif 9 April 2014.

Pihak rumah sakit merahasiakan identitas kedua caleg. Dua caleg itu masing-masing mencalonkan diri menjadi anggota DPRD Kota Kupang dan DPRD Provinsi NTT. Keduanya diantar keluarga masing-masing ke rumah sakit. “Suami saya terguncang karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pencalonan, ternyata tidak terpilih,” kata istri salah satu caleg yang menolak namanya ditulis, Sabtu, 12 April 2014. Satu caleg lagi menangis terus saat menjalani pemeriksaan di Poliklinik Kejiwaan. “Kasihan Bapak. Dia ditipu oleh timnya sendiri. Sudah banyak uang yang dikeluarkan. Mereka hanya mau uang,” kata salah satu anggota keluarga yang mengantar.

Setelah menjalani pemeriksaan kejiwaan dan perawatan serta diberi obat, keduanya dipulangkan. Direktur RSUD Johannes Kupang, Alfons Anapaku, enggan berkomentar soal caleg yang berobat di rumah sakit itu.

Chandra Saputra, 26 tahun, adalah satu dari sekian banyak anak muda calon legislator yang gagal meraih kursi hasil pemilihan umum legislatif 9 April lalu. Laki-laki asal Cepu, Blora, Jawa Tengah, itu merupakan caleg dari Partai Demokrat daerah pemilihan Pekalongan 4 nomor urut 7. Chandra bukan hanya gagal, tetapi juga terpuruk. Uang Rp 600 juta yang menjadi modal untuk mensosialisasikan dirinya, amblas. Pasca pencoblosan hingga saat ini, dia masih berutang Rp 420 juta.

Hancur bercampur malu, tak membuatnya masuk ke rumah sakit jiwa. Dia juga tidak mau menyumpah serapahi konstituen dan tim suksesnya atau protes sampai bertelanjang tubuh seperti yang terjadi di beberapa tempat. Sebaliknya, dia hanya nekat menggelandang ke Jakarta. Mencari peruntungan. Bermodalkan uang sisa nyaleg, Rp 3 juta, akhirnya dia menemui “rumah singgah” di Mesjid Sunda Kelapa, Jalan Taman Sunda Kelapa nomor 16, Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya sampai di Jakarta 5 Mei,” ujar Chandra di Mesjid Sunda Kelapa, Rabu, 14 Mei 2014. Alasannya memilih tinggal di rumah Allah sudah hampir sekitar 10 hari untuk menenangkan diri dan banyak beribadah. “Saya lihat mesjid ini pas lagi makan, terus masuk dan ngobrol ke penjaganya supaya diizinkan untuk tinggal di sini,” ujar Chandra yang saat ditemui menggunakan celana panjang hitam dan kemeja garis-garis lengan panjang. “Alhamdulillah, penjaga mesjid mengizinkan saya untuk tinggal,” Chandra menambahkan.

Meski tinggal di mesjid, dia tetap butuh makan. Perbekalannya pun terus menipis. “Pakaian saya satu (dari dua) tas, juga saya jual untuk tambahan uang,” ungkapnya. “Baju saya tinggal tujuh potong aja,” kata Chandra. Chandra sempat berniat menjual ginjalnya untuk orang yang membutuhkan. Namun, dia tidak tahu, kemana dan siapa yang membutuhkan ginjalnya. Belakangan, setelah diberi saran dan bantuan uang dari beberapa jemaah mesjid, dia mengurungkan diatnya menjual ginjal.

Chandra sempat nekat menemui Menteri BUMN Dahlan Iskan, dengan harapan Dahlan bisa membelinya. Dahlan bukannya membeli, malah memberi wejangan dan modal usaha. “Alhamdulilah, banyak yang bantu,” ujar pria kelahiran Blora, 29 Maret 1988. Dia pun mengambil hikmah, bahwa gagal bukan berarti harus lari dari kenyataan. Setelah kuat iman selama “nyantri” di Mesjid Sudan Kelapa, Chandra bertekad pulang kampung pada Senin pekan depan.

Wiraswastawan yang telah mengabdi selama tiga tahun di Partai Demokrat, itu pun mengaku kapok bergelut di dunia politik. “Pengalaman ini mengajari saya tentang banyak hal tentang dunia politik. Jadi, politik cukup sampai tahap ini saja,” ujar Chandra.

Sebagai sublimasi untuk mengobati luka di hatinya, dia berjanji akan tegar dan kembali ke dunia kerja. “Sambil mencicil utang kepada orang-orang yang sudah membantu saya,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s