Gara Gara Bersetubuh Dengan Pacar, Pria Sulawesi Ini Dihukum 4 Tahun Penjara


Hakim Lulik Djatukumoro membebaskan AL (22) dari tuduhan pemerkosaan karena menilai pelaku dan korban melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka. Namun Lulik kalah suara dengan dua hakim lainnya sehingga AL pun dijatuhi hukuman 4 tahun penjara. Versi korban, FT, pemerkosaan itu terjadi di mess karyawan di Teddaopu, Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel). Saat malam berganti, AL mendobrak pintu kamar lantas menutup muka FT dengan bantal dan terjadilah pemerkosaan tersebut.

“Saya disetubuhi dua kali sejak pukul 02.00 WIB,” kata FT dalam kesaksiannya seperti dilansir website Mahkamah Agung (MA) Sabtu (18/5/2014). Namun benarkah cerita FT yang telah dewasa itu? Ternyata banyak kejanggalan dan hal itu diungkap oleh Lulik. Pertama yaitu berdasarkan visum dokter, luka robek di alat kelamin FT adalah luka lama, bukan luka yang terjadi pada malam itu.

“Alat bukti yang ada tidak cukup membuktikan unsur tersebut, semuanya hanya dari keterangan korban an sich yang justru bertentangan dengan alat bukti lain sehingga menunjukan ketidakjujuran korban,” kata hakim Lulik. Selain itu, AL juga menerangkan dirinya berpacaran dengan FT dan telah berhubungan badan layaknya suami istri hingga 4 kali. TKP yang berada di mess karyawan yang juga dihuni oleh karyawan lainnya juga menunjukkan ketidakjujuran korban.

“Fakta hukum yang sesunggnya adalah memang benar terjadi persetubuhan antar orang dewasa di luar perkawinan tanpa adanya paksaan yang dalam perspektif hukum bukanlah kejahatan atau pelanggaran,” jelas hakim Lulik. Namun apa daya, analisa hakim Lulik kalah suara. Ketua majelis Ratih Widayanti dan anggota majelis Nurinda Pramulia menilai A telah terbukti melakukan tindak pidana pemerkosaan sebagaimana diatur dalam pasal 285 KUHP.

“Menjatuhkan hukuman pidana selama 4 tahun,” putus Ratih pada 17 Juni 2013 lalu. Vonis ini 5 tahun di bawah tuntutan jaksa. FT mengaku diperkosa oleh AL di mess karyawan di Wajo, Sulawesi Selatan (Sulsel), Dalam persidangan, hakim Lulik meyakini keduanya melakukan persetubuhan atas dasar suka sama suka sehingga AL harus dibebaskan.

Berikut dissenting opinion hakim Lulik sebagaimana dilansir website Mahkamah Agung (MA), Sabtu (17/5/2014):

Sebagai seorang yang telah mengabdikan diri di lembaga yang terhormat lagi mulia, saya sangat memahami benar bahwa dalam pandangan manusia adil itu relatif dan benar itu subjektif. Sehingga suara mayoritas itulah yang mendekati keadilan dan kebenaran. Terlalu sering berbeda pendapat (dissenting opinion) menunjukkan karakter orang yang tidak bisa bekerja sama dan kurang bijaksana.

Pada awalnya saya berharap jaksa dapat bersikap bijaksana dengan menuntut terdakwa secara rasional. Namun dalam kenyatannya Terdakwa justru dituntut 9 tahun sehingga tidak lain dissenting ini hanyalah keterpaksaan saja.

Dalam kajian moral dan agama, perbuatan terdakwa adalah tercela. Namun dalam perspektif hukum nasional/KUHP, apakah perbuatan Terdakwa tersebut dapat dianggap sebagai perbuatan yang salah?

Saya berpendapat tidak ada fakta hukum yang dapat membuktikan adanya unsur kekerasan atau ancaman kekerasan. Alat bukti yang ada tidak cukup membuktikan unsur tersebut, semuanya hanya dari keterangan korban an sich (semata) yang justru bertentangan dengan alat bukti lain sehingga menunjukan ketidakjujuran korban.

Alat bukti visum et repertum menunjukan selaput dara korban yang rusak adalah luka lama. Keterangan terdakwa yang menerangkan berpacaran dengan korban dan telah melakukan hubungan badan tidak hanya dua kali, tetapi sudah 4 kali.

Dan tempat kejadian yang berupa mess karyawan yang juga dihuni karyawan lain, menunjukan semua ketidakjujuran korban bahwa persetubuhan tersebut terjadi karena adanya kekerasan atau ancaman kekerasan.

Bahwa fakta hukum yang sesungguhnya adalah memang benar terjadi persetubuhan antar orang dewasa di luar perkawinan tanpa adanya paksaan. Dalam perspektif KUHP, hal itu bukan merupakan suatu kejahatan atau pelanggaran.

Bahwa dalam perspektif moral dan agama, jelas baik korban maupun terdakwa sama-sama melakukan perbuatan durjana lagi tercela.

Sekali lagi bukan saya bermaksud memisahkan urusan moral dan hukum dalam perkara ini, namun seandainya jika jaksa lebih bijaksana lagi maka saya tidak akan berpendapat demikian.

Namun apa daya, analisa hakim Lulik kalah suara. Ketua majelis Ratih Widayanti dan anggota majelis Nurinda Pramulia menilai A telah terbukti melakukan tindak pidana pemerkosaan sebagaimana diatur dalam pasal 285 KUHP. Pasal tersebut berbunyi ‘Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun’

“Menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 4 tahun,” putus Ratih pada 17 Juni 2013 lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s