Daftar Polisi Yang Overdosis Di Diskotik Stadium Hingga Akhirnya Ditutup Pemprov DKI


Diskotek Stadium, Taman Sari, Jakarta Barat, bukanlah lokasi asing bagi pihak kepolisian. Tempat hiburan malam itu kerap menjadi target operasi karena kencangnya peredaran atau penggunaan narkotika di sana. Hampir tiap tahun, ada saja kasus narkotika di sana yang selalu berujung pada wacana penutupan tempat itu. Berikut adalah beberapa kasus narkotika yang berhubungan dengan Diskotik Stadium.

1. Kasus Xenia Maut
Kasus Xenia Muat yang menewaskan sejumlah orang di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Januari 2012 lalu berawal dari penggunaan narkotika oleh tersangka, Afriyani, di Stadium. Afriyani membeli dua butir narkoba jenis ekstasi dengan harga Rp 600 ribu. Karena ekstasi itulah Afriyani tak fokus dalam mengendarai mobil hingga menabrak orang.

2. Polisi Teguk Ekstasi di Stadium
Sebelum ada kasus polisi JVG tewas karena overdosis, seorang polisi berpangkat Iptu pernah dipecat karena ketahuan meneguk ekstasi di Stadium pada 10 Maret 2012 lalu. Pengembangan kasus R ini berujung pada penangkapan Mantan Kapolsek Cibarusah AKP Budhi Sutrisno yang juga menggunakan narkotika.

3.Pengedar Ketahuan Tawarkan Ekstasi ke Polisi
Pengembangan kasus Iptu R juga berujung pada penangkapan dua pengedar berinisal J dan S di Diskotik Stadium pada 13 Maret 2012. Kedua orang itu ketahuan menjual ekstasi ke polisi sebanyak 4 butir ketika sedang dilakukan operasi.

4.April 2014, Polisi Amankan 600 Gram Sabu dan 5.000 Ekstasi
Pada April lalu, pihak Polres Jakarta Barat melakukan operasi razia narkotika di sejumlah lokasi hiburan. Lagi-lagi, Diskotik Stadium mencuri perhatian, menjadi lokasi dengan hasil razia paling besar. Di sana, polisi mengamankan 600 gram sabu, 5.000 butir ekstasi, serta uang tunai Rp275 Juta dari dua tersangka, Emon dan Maya.

5.Polisi OD di Diskotek Stadium
Kasus Iptu R terulang di Stadium. Namun, kali ini, polisi yang megkonsumsi narkoba meregang nyawa. Pada Jumat dini hari lalu, Bripda JVG (22), anggota Polres Minahasa Selatan Polda Sulawesi Utara, tewas akibat overdosis di Diskotek Stadium.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bakal melarang diskotek Stadium untuk beroperasi lagi. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Arie Budhiman, menyatakan, Stadium bakal dilarang beroperasi dalam waktu satu pekan ke depan. “Izin usahanya segera kami cabut karena sudah disetujui oleh Gubernur,” katanya, Ahad, 18 Mei 2014. Arie mengatakan, langkah itu diambil juga terkait tewasnya seorang polisi akibat overdosis narkoba di diskotek tersebut. Menurutnya, keputusan itu diambil sebagai bentuk ketegasan pemerintah dalam memberantas peredaran narkotika di tempat hiburan. Apalagi, polisi memang sudah mengeluarkan rekomendasi pemberian sanksi terhadap manajemen Stadium.

Saat ini, Stadium disebutnya sudah tidak bisa beroperasi karena masih disegel oleh polisi. Namun, dia menyatakan bahwa penghentian operasional Stadium akan bersifat permanen karena pencabutan izin usaha tersebut. “Karena Pemprov DKI dan polisi sudah berkomitmen agar tempat hiburan malam bebas narkoba,” kata Arie.

Menurutnya, Stadium merupakan diskotek pertama yang ditutup karena terbukti menjadi tempat peredaran narkoba. Dia juga tidak menutup kemungkinan pencabutan izin terhadap diskotek atau tempat hiburan lain yang menjadi sarang narkoba. Namun, dia menyerahkan masalah pembuktian peredaran narkotika itu kepada polisi. “Soalnya yang tahu soal peredaran, jenis narkoba, atau bandar-bandarnya itu polisi,” kata Arie. Dia pun menyatakan bahwa tempat hiburan yang sudah dua kali terbukti menjadi tempat peredaran narkoba akan langsung ditutup secara permanen. “Dan itu sudah menjadi komitmen kami,” ujar dia melanjutkan.

Sebelumnya, seorang polisi bernama Jicky Vay Gumerung ditemukan tewas akibat overdosis narkoba di diskotik Stadium, Jumat, 16 Mei 2014 kemarin. Polisi yang diketahui berpangkat Brigadir Dua itu merupakan anggota Kepolisian Daerah Sulawesi Utara. Jicky juga diketahui datang ke tempat hiburan malam itu bersama tiga rekannya yang merupakan anggota Polda Sumatera Selatan.

Kepala Kepolisian Resor Jakarta Barat Komisaris Besar Fadil Imran meminta pemerintah menjatuhkan sanksi tegas pada diskotek Stadium. Fadil mengatakan pemerintah seharusnya mencabut izin operasi tempat hiburan tersebut terkait dengan peristiwa tewasnya seorang anggota polisi akibat overdosis narkotik di lokasi itu.

“Agar (Pemerintah Provinsi DKI Jakarta) mempertimbangkan sanksi keras terhadap lokasi hiburan malam sejenis yang terbukti mengedarkan narkoba,” ujarnya saat dihubungi, Ahad, 18 Mei 2014.

Sebelumnya, seorang polisi bernama Jicky Vay Gumerung ditemukan tewas akibat overdosis narkoba di Stadium, Jumat, 16 Mei 2014. Polisi yang diketahui berpangkat brigadir dua itu merupakan anggota Kepolisian Daerah Sulawesi Utara. Jicky juga diketahui datang ke tempat hiburan malam itu bersama rekan-rekannya yang juga anggota polisi.

Fadil mengatakan polisi sudah mengajukan surat terkait dengan pemberian sanksi untuk Stadium kepada Pemprov DKI Jakarta. Surat itu disebutnya berisi rekomendasi agar pemerintah memberikan sanksi kepada diskotek yang kerap menjadi tempat peredaran narkotik. Sanksi yang direkomendasikan, ujar dia, bisa berupa sanksi administratif ataupun pencabutan izin operasional. “Suratnya sudah kami kirim ke Pemprov DKI sebulan lalu melalui Dinas Pariwisata dengan tembusan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI,” kata Fadil.

Adapun ihwal tewasnya Jicky, Fadil menyatakan sudah menyegel sementara waktu operasional Stadium. Penyegelan dilakukan karena polisi sedang melakukan penyelidikan mengenai peredaran narkoba di tempat hiburan malam itu. “Aktivitas di Stadium kami hentikan dulu sementara karena ada hal-hal yang perlu diperjelas sebelum bisa beroperasi kembali,” ujarnya.

Berdasarkan penyelidikan sementara, Jicky dinyatakan positif mengonsumsi narkoba–hasil visum di RS Polri Kramat Jati. Fadil mengatakan anggota Polres Minahasa Selatan itu terbukti mengonsumsi amphetamine dan MDMA. Adapun amphetamine sendiri diketahui merupakan salah satu bahan dasar narkoba jenis sabu. Selain Jicky, tiga anggota polisi lain yang berinisial M, H, dan M juga dinyatakan positif narkoba. Tiga orang itu diketahui merupakan anggota yang sehari-hari bertugas sebagai reserse. “Kasusnya kini ditangani oleh Provost dan kami tidak akan kompromi dengan narkoba,” katanya.

Seorang anggota Kepolisian Resor Minahasa Selatan, Bripda Jicky Vay Gumerung, ditemukan meninggal di diskotek Stadium, Jakarta Barat, sore tadi, Jumat, 16 Mei 2014. Jenazah sedang diotopsi di Rumah Sakit Polri R Soakanto, Kramat Jati. Kepala Kepolisian Sektor Taman Sari, Ajun Komisaris Besar Adi Vivid, belum bisa memastikan penyebab kematian Jicky. “Saat ini masih otopsi,” kata Vivid ketika dihubungi Tempo, Jumat, 16 Mei 2014. Namun, menurut dia, tidak ada tanda kekerasan pada tubuh korban. Belum jelas apa tujuan korban datang ke diskotek itu. Korban ditemukan tewas pada pukul 16.20 WIB. Vivid menuturkan polisi masih memeriksa Brigadir Muhsin yang pertama kali menemukan jasad Jicky. Muhsin adalah anggota Kepolisian Daerah Sumatera Selatan. Polisi juga masih melakukan oleh tempat kejadian perkara.

Seorang polisi wanita, Inspektur Satu Rita, terbukti mengkonsumsi ekstasi setelah dilakukan tes urine terhadapnya. Rita yang sebelumnya bertugas di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kepolisian Resor Jakarta Selatan kini telah dicopot dari jabatannya.

Juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto, mengatakan hasil tes urine terhadap Rita menyatakan ia mengkonsumsi amphetamine yang terkandung dalam ekstasi. “Dia juga mengaku pakai ekstasi pada Sabtu, 10 Maret kemarin, di Stadium,” kata Rikwanto di Markas Polda Metro Jaya. Kepala Kepolisian Resor Jakarta Selatan, Komisaris Besar Imam Sugianto, mengatakan hasil tes urine terhadap Rita keluar kemarin. Setelah dimintai keterangan dan mengaku menggunakan narkotik, Rita langsung dicopot dari jabatannya. “Dia sekarang non-job,” kata Imam.

Rikwanto mengatakan polisi tidak tiba-tiba tanpa alasan melakukan tes urine terhadap Rita. “Sebelumnya sudah ada informasi,” katanya. Bermodalkan informasi tersebut, polisi melakukan pemeriksaan. Rikwanto memastikan kasus Iptu Rita tidak terkait dengan kasus narkotik yang melibatkan bekas Kepala Kepolisian Sektor Cibarusah, Ajun Komisaris Heru Budi. Heru Budi tertangkap basah oleh polisi Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) tengah menggunakan sabu-sabu di rumahnya. “Mereka memang saling kenal, tapi tidak ada kaitan,” kata Rikwanto.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s