Monthly Archives: June 2014

Prostitusi Terselubung Para Artis dan Model Top Nasional Terbongkar Polda Jatim


Sejumlah foto model dan artis kelas nasional, ternyata juga melacurkan diri dengan tarif sekali kencan Rp 15 juta – Rp 25 juta. Seperti yang dilakoni APH, seorang model berusia 25 tahun yang rela melayani pria hidung belang dengan tarif Rp 15 juta untuk sekali kencan. Terakhir, foto model kelas nasional asal Surabaya ini, melayani seorang tamu di sebuah hotel bintang empat di Surabaya, Kamis (26/6/2014) malam.

Apes, baru sekitar lima menit bercumbu di dalam kamar, dia digrebek petugas Unit Asusila, Subdit Renakta (remaja anak dan wanita), Ditreskrimum Polda Jatim. Model seksi yang mengenakan baju warna pink itupun, langsung digelandang ke Polda Jatim untuk menjalani pemeriksaan.

Dalam pemeriksaan, wanita cantik mengaku ini tidak bekerja sendirian. Ada germo yang bertugas mencari pelanggan, yaitu IA alias Andrew (24) asal Surabaya. Pria kemayu ini, juga foto model sekaligus berprofesi sebagai presenter tivi dan even organiser. “Si perempuan dan germonya tersebut sudah diamankan, hingga saat ini masih menjalani pemeriksaan penyidik,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Awi Setiyono, Jumat (27/6/2014).

APH dan Andrew ditangkap di hotel yang sama. Sebab, saat itu Andrew sedang mengantarkan anak buahnya tersebut ke hotel, untuk menemui seorang tamu yang sudah memesannya. Selain dua model tersebut, dalam penggerebekan ini polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti. Diantaranya, uang Rp 15,3 juta, dua blackberry, dan sebuah kondom sisa dipakai.

Dalam perkara ini, tersangka Andrew dijerat dengan pasal 2 Jo Pasal 17 UU No 21 tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia. Dia terancam hukum penjara paling singkat tiga tahun dan denda paling sedikit Rp 120 juta. Selain APH, Andrew mengaku punya banyak stok model dan artis yang bisa dijual. Mereka itu, kebanyakan temannya sesama model. Sedikitnya ada 25 orang model dan artis, yang biasa biasa dipasarkan oleh Andrew ke pria-pria hidung belang.

“Sejauh ini, yang berhasil diungkap petugas baru satu orang. Namun, dalam pemeriksaan memang diketahui bahwa ada banyak perempuan yang biasa dijual oleh tersangka ini. Penyidik masih berupaya menelusuri dan mendalami perkara ini,” sambung Kasubdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Heru Purnomo.

Sebanyak 25 model dan artis yang biasa dijual oleh Andrew ini tarifnya beragam. Yang jelas, paling murah adalah Rp 15 juta. Lainnya, ada yang Rp 17 juta, ada Rp 20 juta, dan ada yang Rp 25 juta untuk sekali kencan. Diketahui, bisnis haram yang dijalankan oleh pria kemayu ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Dan selama itu, dia sudah punya banyak sekali koleksi model untuk bisa dipasarkan.Pelanggannya pun sudah cukup banyak. Semuanya kelas atas. Sebagian besar, pelanggannya adalah pengusaha.

Dalam menjalankan bisnisnya, Andrew cukup memanfaatkan facebook dan blackberry. Jika ada pelanggan memesan, Andrew cukup berkomunikasi dengan “anak-anaknya” lewat BBM atau telpon. Kemudian, ditentukan hotel tempat bertemu, dan gadis-gadis cantik itu meluncur menemui si pemesan.

Sedangkan komunikasi dengan pelanggan. Andrew memanfaatkan FB dan BBM untuk menampilkan foto-foto para model yang biasa dijualnya. Lengkap dengan data diri dan profesinya. Masalah harga, biasanya ditentukan setelah pelanggan memilih model yang hendak dipesannya. Semakin cantik, semakin seksi, dan semakin terkenal si model itu, harganya pun semakin mahal.

Para model itu kebanyakan berdomisili di Jakarta dan Surabaya tetapi berasal dari berbagai daerah. Termasuk Jawa Tengah dan beberapa daerah lain. Demikian halnya dengan pelanggannya, juga bukan hanya pria-pria kelas atas di Jakarta dan Surabaya. Tak sedikit, pria hidung belang dari daerah lain yang biasa menggunakan para model itu.
“Untuk bisa membooking para model itu, semuanya hanya lewat si germo. Tidak bisa langsung ke modelnya. Kecuali memang sudah sangat kenal,” imbuh Heru.

Selain kelompok model pelacur yang ditangani Andrew, diketahui ada beberapa kelompok serupa lainnnya, yang juga sudah lama beroperasi. Pelacurnya juga sama-sama model dan artis, namun dikelola oleh germo berbeda. Dalam penyelidikan polisi, satu kelompok dengan kelompok lain biasa berhubungan. Bahkan, mereka ini juga tak jarang bertukar anak buah.

Misalnya, ada pesanan kepada germo A terhadap model yang berstatus anak buah germo B, mereka bisa dikirim sesuai pesanan. Tentunya, ada deal-deal harga dan sebagainya. Selain kelompok Andrew, Polda Jatim juga sudah menemukan satu kelompok lain. Kabarnya, germo dan seorang anak buah dari kelompok tersebut juga sudah disergap oleh petugas Subdit Renakta Ditreskrimum Polda Jatim.

Penangkapan terhadap germo lain dalam kasus yang sama itu, dilakukan di Jakarta, Jumat (27/6/2014) siang. Selanjutnya, petugas membawa mereka ke Surabaya untuk menjalani pemeriksaan di Polda Jatim. “Ini merupakan pengembangan dari penangkapan sebelumnya, mohon waktu supaya penyidik melakukan pemeriksaan terlebih dulu,” jawab Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Jatim, AKBP Bambang Tjahyo Bewono.

Jumat (27/6/2014) malam, seorang germo dan seorang anak buahnya sudah sampai di Polda Jatim. Keduanya langsung menjalani pemeriksaan intensif di ruang penyidikan Unit Asusila, Subdit Renakta, Ditreskrimum Polda Jatim.

Pariwisata Bali Korbankan Pertanian Demi Keuntungan Jangka Pendek


Pengamat pertanian dari Universitas Udayana (Unud) Denpasar Prof I Wayan Windia melihat pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Bali telah mengorbankan sektor pertanian. “Padahal pertanian berkaitan erat dengan ekonomi Bali karena jika kebudayaan Bali hancur maka semua sektor ekonomi di Pulau Dewata akan hancur,” kata Ketua Pusat Penelitian Subak Unud di Denpasar, Sabtu (28/6/2014).

Menurut Windia, hal itu bisa terjadi karena semua sektor ekonomi di Pulau Dewata dilandasi oleh kebudayaan masyarakat setempat, khususnya pengembangan sektor pariwisata yang kini menjadi tumpuan harapan sebagian besar masyarakat setempat. Padahal hasil penelitian Sceto bahwa Bali hanya siap menampung 24 ribu kamar hotel bertaraf internasional, namun kenyataannya sekarang ada sekitar 4.000 hotel berkapasitas 90 ribu kamar atau hampir empat kali lipat.

Windia menjelaskan, meskipun pemerintah sejak lama mewacanakan penghentian pembangunan (moratorium) hotel, hal itu tidak pernah terealisasi.Seorang pemandu wisata membawa turis berkeliling Ubud, Gianyar, Bali.
Hal itu terjadi karena daerah-daerah di Bali masih membutuhkan pendapatan asli daerah. “Semua itu menyebabkan runtuhnya kebudayaan Bali, padahal merupakan landasan bagi semua sektor kehidupan di Bali,” ujarnya.

Windia mengutip pendapat ahli antropologi bahwa kelemahan pembangunan di Indonesia, termasuk Bali adalah proses pembangunan terlalu bersifat melihat kepentingan jangka pendek.

Hal itu bisa terjadi, karena sekarang biaya politik yang sangat mahal, sistem politik yang ditandai dengan banyaknya politik uang dan pandangan elite yang hanya menyukai ekonomi, pertumbuhan, dan teknologi.

Mereka kurang tertarik terhadap aspek sosial, pemerataan, dan kebudayaan. Fenomena seperti ini akan terus terjadi, kalau sistem politik Indonesia tidak direformasi.

Perampok Umbar Tembakan Saat Rampok Kantor Pos Setu Cipayung


Kepolisian memperkirakan pelaku perampokan kantor agen Pos Setu, di Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis (26/6/2014), sudah berpengalaman. “Menurut perkiraan pelakunya merupakan pemain lama, sudah tidak asing lagi,” kata Kepala Kepolisian Sektor Cipayung, Komisaris Cecep Subagia, saat ditemui di kantornya, Kamis.

Dugaan tersebut, kata Cecep, antara lain dilihat dari keberanian para pelaku beraksi pada siang hari. Padahal, ujar dia, saat itu situasi di sekitar lokasi cukup ramai. “Pelaku nekat. Di situ ramai, di depannya ada bengkel,” ujar Cecep. Dia pun memperkirakan pelaku telah mempelajari lokasi.

Kantor pos tersebut tidak memiliki kamera pengawas dan petugas keamanan. “Bisa juga membaca lokasi dulu, baik di siang maupun malam (sebelumnya),” ujar Cecep. Perampokan tersebut telah melukai dua petugas dan dua nasabah Kantor Pos Setu. Pelaku memukul kepala para korban. Para pelaku mendatangi kantor pos tersebut dengan mengendarai sepeda motor. Mereka mengenakan helm yang menutup penuh muka.

Jejak yang ditinggalkan para pelaku hanyalah sebuah borgol. Dalam aksinya, mereka membawa kabur uang Rp 7 juta.

Sebelum kabur, para pelaku melepaskan tembakan ke udara untuk menakuti warga di lokasi kejadian. Kasus ini sekarang ditangani Polsek Cipayung.Komplotan perampok yang menyatroni kantor agen Pos Setu di Cipayung, Jakarta Timur melukai dua pegawai dan seorang nasabah, Kamis (26/6/2014). Mereka disandera dan dianiaya ketika berupaya kabur.

Kedua pegawai itu, Ay (23) dan Ni (20), menderita terluka di bagian kepala dan leher akibat pukulan benda tumpul. Hal yang sama juga dialami dua nasabah yang kebetulan berada di kantor pos itu. Menurut Manajer Agen Pos Setu, Sugianto, Ay terluka saat melarikan diri di tengah upaya pelaku menguasai kantor pos tersebut. “Dia sempat dihalau pelaku, rambutnya dijenggut,” kata Sugianto, saat ditemui di lokasi, Kamis sore.

Sugianto mengatakan, salah satu pelaku yang berjaga di depan kantor pos memukul leher Ay dengan senjata hingga berdarah. Namun, Ay berhasil kembali lari ke arah jalan. “Dia teriak-teriak minta tolong ke jalan itu, sempat ditabrak mobil juga, tapi untungnya tetap selamat,” ujar Sugianto.

Ditemui terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Cipayung Komisaris Cecep Subagia membenarkan dua pegawai dan nasabah kantor pos itu terluka dalam kejadian ini. “Pelaku menggetok korban, tapi enggak terlalu parah. Sementara yang nasabah itu di borgol tangannya. Tetapi hanya satu tangan kanan belum sempat terkunci dua tangan,” ujar Cecep.

Para pelaku, lanjut Cecep, langsung kabur mengetahui Ay lolos dan meminta bantuan warga. Namun, uang Rp 7 juta dapat dibawa lari komplotan berjumlah enam orang yang datang dengan sepeda motor itu.

Dua saksi pegawai kantor pos masih diperiksa petugas. Polisi tengah memburu pelaku perampokan itu.
Komplotan perampok yang menyasar kantor agen Pos Setu, yang berlokasi di wilayah Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (26/6/2014) sempat melepaskan tembakan. Hal ini dilakukan para pelaku untuk menakuti warga sekitar ketika aksi mereka diketahui warga.

“Informasinya memang demikian. Tetapi itu dilakukan pelaku setelah di luar kantor pos,” kata Kepala Kepolisian Sektor Cipayung, Komisaris Cecep Subagia, saat ditemui di kantor polsek, Kamis (26/6/2014) sore. Pelaku, kata Cecep, melepaskan satu kali tembakan ke udara untuk menakuti warga. Pihaknya tengah mempelajari apakah senjata yang ditembakan berjenis rakitan, airsoft gun, atau senjata organik. “Katanya memang memakai senjata, tetapi senjata benaran atau bukan, ini yang sedang kita selidiki,” ujar Cecep.

Dari lokasi, lanjutnya, petugas juga tidak mendapati selongsong peluru yang ditembakan pelaku. Petugas hanya menyita sebuah borgol yang digunakan pelaku untuk menyandera nasabah. Dua pegawai dan dua orang nasabah dilukai dalam aksi yang terjadi siang hari tadi. Pelaku rata-rata memukul kepala korban dengan pistol.

Dua pegawai dan nasabah tengah diperiksa atas kasus ini. Pihak kepolisian juga tengah memburu enam pelaku yang berhasil menggasak uang Rp 7 juta dari kantor pos itu.

Ngamprah Padelarang Lumpuh Setelah Ormas dan Debt Collector Bentrok


Puluhan anggota organisasi masyarakat bentrok dengan puluhan petugas penagih utang alias debt collector dari perusahaan pemberi kredit (leasing), Rabu (25/6/2014) sore. Bentrok ini melumpuhkan lalu lintas Jalan Raya Cimareme-Padalarang, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), dan membuat situasi di kawasan tersebut mencekam. Tiga polisi berpakaian preman dari Polres Cimahi luka parah akibat dikeroyok.

Selama beberapa jam, tak ada warga yang berani mendekat apalagi melintas di lokasi bentrok. Batu, balok kayu, dan besi, bertebaran dalam radius 100 meter. Bentrok ini menurut seorang warga, Wawa Supriadi (40), bermula ketika puluhan anggota ormas mendatangi kantor leasing di pinggir Jalan Raya Cimareme tersebut.

Menurut Wawa, perwakilan ormas tersebut sudah mencoba berbicara baik-baik untuk bisa menemui pimpinan perusahaan tersebut. Namun, rombongan ormas tersebut tetap tak dibolehkan memasuki kantor. Adu mulut pun terjadi. “Ketika cekcok itulah seorang anggota ormas didorong hingga jatuh, memicu perkelahian massal,” kata Wawa yang melihat langsung bentrok ini sejak awal, Rabu.

Warga lain, Witarsa (55), mengatakan tak kurang dari 15 sepeda motor rusak dalam bentrok tersebut. “Dihancurkan pakai balok kayu dan besi. Orang-orang yang jatuh juga dihajar habis-habisan,” ujarnya. Petugas polisi yang mencoba menghentikan bentrok, tutur Witarsa, malah dihajar beramai-ramai.

Kapolres Cimahi, AKBP Erwin Kurniawan, mengatakan 20 orang sudah ditahan terkait bentrok ini, baik dari ormas maupun perusahaan leasing. Menurut Erwin, rombongan ormas itu datang untuk melakukan sweeping tetapi mendapat perlawanan dari para petugas penagih utang perusahaan tersebut.

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Akan Mulai Puasa Ramadhan Hari Jumat


Jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang, Sumatera Barat, sudah melaksanakan ibadah Tarawih, Kamis malam ini. Pengikut Aliran ini akan memulai Ibadah Puasa Ramadhan 1435 Hijriah mulai Jumat besok, atau lebih cepat dari jadwal pemerintah. Pemerintah sendiri baru akan melakukan Sidang Isbat menentukan jadwal 1 Ramadan pada besok malam.

Di Masjid Baitul Makmur yang terletak di Kelurahan Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh Kota Padang Sumatera Barat, suara Takbir, Tahlil dan Tahmid sudah berkumandang usai waktu Magrib, Kamis malam. Sekitar seratusan orang mulai melaksanakan Salat Tarawih berjamaah di tempat itu. Mereka adalah pengikut Tarekat Naqsabandiyah.

Pelaksanaan Tarawih perdana menandai dimulainya Puasa Ramadan 1335 H keesokan harinya. Puasa lebih awal merupakan kebijakan yang diambil oleh imam dan pengikut aliran ini. Mereka mengaku berpatokan pada perhitungan Hisab serta kalender sendiri yang diwariskan secara turun temurun. “Kita punya perhitungan sendiri. Jadi sejak turun temurun kita memang seperti ini, menjalankan hisab yang sudah ada. Tahun ini, 1 Ramadan 1435 H jatuh pada hari Jumat. Itu sebabnya, kita mulai tarawih,” kata Edison Revindo, Imam Naqsabandiyah Sumatera Barat kepada Detikcom.

Menurut Edison, dengan melaksanakan puasa lebih awal, pengikut Naqsabandiyah dipastikan juga akan melaksanakan Shalat Idul Fitri lebih awal dibanding umat Islam lainnya di tanah air. Di Sumatera Barat, pengikut Tarekat Naqsabandiyah mencapai 5.000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Mereka yang melaksanakan Shalat Tarawih di Kampung Binuang ini, bukan hanya berasal dari masyarakat setempat, melainkan juga dari daerah tetangga. Antara lain dari Solok, Sawahlunto dan Painan.

Menurut Edison Revindo, Imam Naqsabandiyah Sumatera Barat, para pengikut Tarekat Naqsabandiyah serentak melaksanakan hari-hari besar Islam, seperti Ibadah Puasa, Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha. Hal menonjol dari aliran ini adalah, jemaahnya juga melaksanakan Tradisi Basuluak, yakni tinggal di rumah-rumah ibadah selama 40 hari. Aktivitas tinggal di tempat ibadah tersebut dimulai 10 hari sebelum puasa ramadan hingga hari terakhir.

Selama basuluak, mereka tidak lagi memikirkan urusan duniawi, karena setiap hari diisi dengan zikir dan doa.

Naqsabandiyah merupakan satu dari dua tarekat besar yang berkembang di Tanah Minang. Selain Naqsabandiyah, terdapat aliran Sattariyah, yang berbasis di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya di kawasan Makan Syech Burhanuddin yang diyakini sebagai penyebar Islam ke Tanah Minang.

Bedanya, jika Naqsabandiyah melaksanakan ibadah puasa atau lebaran lebih awal, Sattariyah biasanya lebih lambat dibanding pemerintah dan aliran-aliran lain. Untuk menentukan jadwal puasa, mereka akan melakukan Tradisi Mancaliak Bulan (melihat bulan) dengan mata telanjang di pantai terdekat.

Anggota TNI Jadikan Juru Parkir Monas Jadi Lahan Subur Untuk Di Palak


Salah seorang teman Yusri (47), jukir liar di Monas yang dibakar oleh oknum TNI mengungkap perilaku Pratu H. Pratu H dikenal kerap meminta ‘jatah preman’ pada para jukir liar. “Kami kenal dia bukan sehari dua hari. Dia sering minta bayar, hampir setiap hari. Malah kalau hari Minggu mintanya nggak cuma sekali,” kata pria yang mengenakan kaos warna oranye ini di RS Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Besaran permintaan Pratu H bervariasi. Kadang para jukir liar dimintai uang sebesar Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu. Pada Selasa (26/6) malam itu, Pratu H meminta uang sebesar Rp 150 ribu. Namun ia, Yusri dan jukir lainnya hanya memberi Rp 50 ribu. “Marah dia. Duitnya disobek. Dia memang suka buat masalah dengan kami, sok kuasa orangnya,” tutur pria asal Aceh ini.

Ia yakin Pratu H ini adalah anggota TNI aktif, namun tak bertugas di Monas. Meski demikian, prajurit yang kerap mengenakan seragam loreng khas TNI ini rutin memalak para jukir liar Monas. Menurutnya, oknum TNI yang kerap memalaknya tak hanya berjumlah 1 orang. Namun ia enggan menyebut berapa banyak oknum TNI itu.

“Kalau yang lain, itu urusan kami. Yang bermasalah dengan kami cuma orang itu saja,” ujar pria yang telah 14 tahun menjadi jukir Monas ini.Salah seorang saksi berinisial FH juga mengatakan hal serupa. FH mengaku kerap memberi ‘jatah preman’ tak hanya pada Pratu H.

“Kita juga kasih (jatah) yang lain (oknum TNI), mereka santai. Dia (Pratu H) aja yang suka bikin masalah,” tuturnya. Menurut FH, setiap harinya banyak juru parkir liar di kawasan Monas. Jika hari Minggu, jumlah jukir liar ini mencapai 30 orang yang tersebar di berbagai sudut gerbang Monas. “Dia memang sengak, kena batunya sendiri kan sekarang,” tutupnya.

Kondisi Yusri (47), juru parkir (jukir) liar di Monas masih koma dan dirawat di ruang ICU RSUD Tarakan. Keluarga Yusri berharap pihak TNI menanggung biaya pengobatannya. “Mengenai segala biaya perawatan abang saya, mohon ditanggung oleh pihak TNI,” kata Andre di RSUD Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Menurut kawan Yusri yang enggan disebut namanya, biaya pengobatan Yusri saat ini mencapai Rp 17 juta lebih. Biaya tersebut akan terus bertambah karena kondisi Yusri masih membutuhkan perawatan khusus. “Obatnya doang aja Rp 7 juta. Rawat inapnya per malam Rp 5 juta,” katanya. Yusri sendiri saat ini masih kritis. Tim dokter masih memasang alat bantu pernafasan di tubuhnya. “Kami masih berikan perawatan secara intensif,” kata Kabid Pelayanan Medis RSUD Tarakan, drg Maria Margaretha.

Pihak kepolisian akan segera melimpahkan penanganan kasus pembakaran Yusri, tukang parkir di kawasan Monas yang dibakar oleh oknum TNI, Pratu HR. Kendati demikian, polisi tetap akan mendalami motif pembakaran korban, termasuk dugaan HR biasa mengambil pungutan liar di lokasi.

“Itu yang sedang kita dalami, karena keterangan itu perlu dikonfirmasikan juga ke yang bersangkutan (HR),” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (27/6/2014). Rikwanto mengatakan, pendalaman soal motif tersebut akan dilakukan oleh pihak Pomdam Jaya. Namun yang pasti, kata dia, korban dan tukang parkir di kawasan Monas itu ada yang mengkoordinir.

“Yang jelas tukang parkir ini ada yang koordinir. Dari fakta yang ada dari tukang parkir korban ini berikan uang (kepada oknum TNI-red), namun dirasa kurang,” jelasnya. Rikwanto melanjutkan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pomdam Jaya untuk penyelidikan kasus tersebut. Sementara polisi telah memeriksa 8 orang saksi terkait kasus tersebut, di antaranya tukang parkir dan pihak sekuriti UPT Monas.

Dalam kasus ini, polisi telah mengamankan barang bukti 1 botol minuman berisi bensin dan baju warna biru milik korban yang terbakar. “Hasil koordinasi dengan Pomdam, yang diduga pelaku sudah diamankan di POM Guntur untuk penyidikan. Nantinya akan dilimpahkan kasusnya ke Pomdam Jaya,” pungkasnya.

Juru Parkir Monas Dibakar Anggota TNI Karena Kurang Bayar Jatah Preman


Yusri (47), juru parkir (jukir) liar di Monas diduga dibakar oleh seorang oknum TNI pada Selasa (24/6) lalu. Keluarga Yusri meminta kepada pihak TNI untuk mengusut tuntas kasus tersebut. “Kami minta dengan sangat pada panglima TNI agar proses pemeriksaan ditindaklanjuti. Pelaku dipecat,” kata adik ipar Yusri, Andre saat ditemui di RS Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Andre khawatir jika pelaku tak dipecat, ulahnya akan semakin menjadi. Ia mengakui, profesi sebagai parkir liar memang tidak dibenarkan. Namun menurutnya, perilaku oknum TNI tersebut sangat berlebihan. “Jangan sampai terulang memakan korban lagi. TNI jangan semena-mena,” katanya. Sementara itu, saat ini kondisi Yusri masih kritis. Andre belum dapat melihat langsung keadaan kakak iparnya itu. “Dia masih koma, belum bisa diganggu,” tutupnya.

Yusri (47) korban pembakaran oleh salah seorang oknum TNI di Monas masih menjalani perawatan intensif di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat. Yusri kini dalam keadaan koma, dan kondisinya semakin kritis. “Saat ini masih tidak sadarkan diri. Kondisinya semakin memburuk, masih kritis,” kata Kepala Bidang Pelayanan Medis RS Tarakan, dr Maria Margaretha di RS Tarakan, Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat, Kamis (26/6/2014).

Menurut dokter forensik yang merawat Yusri, dr Evi Untoro, penurunan kondisi Yusri disebabkan karena luka yang dideritanya. Luka bakar yang menjalar di tubuhnya sejak Selasa (24/6) lalu membuat kondisi tubuhnya semakin lemah. “Pasien kritis karena lukanya. Dan memang masih harus dipasang alat bantu nafas,” kata Evi. RS Tarakan juga telah melakukan visum pada juru parkir liar Monas tersebut. Dari hasil visum itu menunjukkan bahwa Yusri benar menderita luka bakar.

“Hasil visumnya pasien menderita luka bakar 30% yaitu di bagian muka, leher, punggung dan lengan kiri kanan,” kata dr Maria. Hasil visum tersebut akan diserahkan ke pihak kepolisian untuk pemeriksaan lebih lanjut. Polisi telah melakukan pemeriksaan terhadap 8 orang terkait pembakaran juru parkir Monas bernama Yusri (47). Sertu H (versi lain menyebut Pratu HR) yang diduga melakukan pembakaran ini telah diringkus. Polisi juga telah melimpahkan kasus tersebut ke Pomdam Jaya.

“Kita sudah memeriksa 8 saksi yang merupakan juru parkir dan petugas keamanan dan pemeriksaan mengarah pada seorang anggota TNI,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan, Kamis (26/6/2014). Rikwanto mengatakan, polisi telah melakukan koordinasi dengan Polisi Militer (PM) di Pomdam Jaya Guntur. Satuan PM Guntur membenarkan pelaku penganiayaan terhadap Yusri adalah Pratu HR dari satuan Puspom TNI. Saat ini pelaku sudah diamankan oleh Pomdam Jaya.

“Pemeriksaan para saksi selesai dilaksanakan, perkara akan segera dilimpahkan ke Guntur,” katanya. Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.

Sertu H yang diduga sebagai pelaku pembakaran juru parkir liar di Monas bernama Yusri (47) telah diringkus. Beberapa barang bukti seperti botol air mineral dan juga baju yang terbakar telah diamankan petugas sebagai barang bukti. “Baju warna biru terbakar dan botol air mineral terbakar bekas mengisi bensin sudah kita jadikan barang bukti,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada wartawan, Kamis (26/6/2014).

Rikwanto mengatakan, peristiwa ini terjadi di samping Polsub sektor Monas Timur pada pukul 22.00 WIB, Selasa (24/6/2014). Korban Yusri Mongendong merupakan warga kelahiran Jaya Baru, Aceh. Rikwanto mengatakan, pelaku adalah seorang anggota TNI berinisial HR dengan pangkat Pratu dan bekerja di satuan Puspom TNI. Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan telah mengamankan Sertu H dan membawanya ke di Pomdam Jaya di Guntur untuk menjalani pemeriksaan. Jadi status H hingga saat ini masih terperiksa.

“Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan apakah dia benar melakukan aksi pembakaran tersebut,” ujar Fuad, Rabu (25/4) malam. Sementara itu, Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.

TNI menangkap Sertu H yang diduga sebagai pelaku pembakaran juru parkir liar di Monas bernama Yusri (47). Polisi mengaku belum mengetahui penangkapan ini dan akan mengecek keberadaan Sertu H di Pomdam Jaya di Guntur, Manggarai, Jakarta Selatan. “Ini bukan kita yang menangkap, karena itu kita akan cek ke Guntur soal penangkapan itu,” kata Kapolsek Gambir AKBP Putu Putra Sadana kepada detikcom, Kamis (26/6/2014).

Saat ditanya apakah kasus pembakaran Yusri ini masih ditangani polisi, Putu mengatakan akan melakukan pengecekan dulu ke Guntur. “Soal itu kita akan cek dulu ke Guntur,” katanya. Sebelumnya, Kapuspen TNI Mayjen TNI Fuad Basya mengatakan telah mengamankan Sertu H dan membawanya ke di Pomdam Jaya di Guntur untuk menjalani pemeriksaan. Jadi status H hingga saat ini masih terperiksa.

“Sekarang sedang dilakukan pemeriksaan apakah dia benar melakukan aksi pembakaran tersebut,” ujar Fuad, Rabu (25/4) malam. Sementara itu, Yusri harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Tarakan di Jl Kiai Caringin, Jakarta Pusat. Pria asal Aceh menjalani operasi karena menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Menurut saksi, pembakaran terhadap Yusri terjadi karena pelaku kesal karena tak mendapatkan ‘jatah preman’ dari parkir liar yang dikelola Yusri seperti yang diharapkan.