Pemprov DKI Disarankan Tunda Perda Pengendalian Pencemaran Udara


Pemerintah provinsi DKI Jakarta disarankan untuk membuat peraturan gubernur untuk menunda Peraturan Daerah tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Di dalam perda tersebut diatur soal penggunaan bahan bakar gas oleh kendaraan umum, namun pelaksanaan perda ini terhambat oleh ketersediaan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang masih terlalu sedikit.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia, Rudy Thehamihardja mengatakan, jika memang pemerintah provinsi belum mampu menjalankan Perda itu, tapi enggan mengubah peraturan, maka sebaiknya pelaksanaannya ditunda. “Daripada membebani pengusaha transportasi, lebih baik ditunda sampai jumlah SPBG di Jakarta cukup,” ucapnya kepada Tempo, Sabtu, 29 Maret 2014. “Tidak ada salahnya ditunda.”

Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menyatakan tidak akan mengubah Perda nomor 2 tahun 2005 tersebut. Pemerintah DKI, kata dia, masih ingin memanfaatkan gas sebagai bahan bakar, terutama untuk kendaraan umum. Di Pasal 20 ayat 1 Perda itu memang disebutkan, angkutan umum dan kendaraan operasional Pemerintah Daerah wajib menggukan bahan bakar gas sebagai upaya pengendalian emisi gas buang kendaraan bermotor.

Ahok menolak usul pengamat transportasi dari Institut Studi Transportasi, Dharmaningtyas yang menyarankan agar Perda itu diubah saja. Dharmanintyas berpendapat Perda ini masih sulit diterapkan karena jumlah SPBG yang masih sangat sedikit, dan pengadaan gasnya masih tergantung pemerintah pusat.

Rudy menilai usul Dharmanintyas tersebut realistis. “Tapi kalau memang pemerintah enggan mengubah, ya ditunda saja.” Menurut dia, perda tentang penggunaan gas yang belum bisa diterapkan ini, jika tetap dipertahankan malah terkesan terlalu memaksakan. “Tunggu dulu sampai mampu, sampai SPBG-nya benar-benar cukup.”

Rudy juga menyoroti keseriusan pemerintah untuk mengadakan SPBG di wilayah DKI Jakarta. “Yang mengherankan ada 2 SPBG yang sudah jadi, tinggal dipakai tapi sudah hampir 5 tahun tidak dapat pasokan gas.” Kedua SPBG itu berada di pool Transjakarta Hek, Kramat Jati, dan di dalam lingkungan Terminal Kampung Rambutan. “Entah kenapa kedua SPBG ini malah terbengkalai,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s