Cuaca dan Hujan Ekstrem Landa Jakarta Hingga Pekan Depan


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dramaga memprediksi hujan dengan intensitas di atas rata-rata bahkan ekstrem masih akan terjadi di wilayah Bogor dan sekitarnya hingga awal pekan depan. “Berdasarkan pantauan satelit citra dan pengukuran curah hujan di beberapa lokasi, curah hujan rata-rata dalam sepekan terakhir rata-rata di atas 50-100 milimeter,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga Dedi Sucahyono, Rabu, 18 Juni 2014.

Kondisi cuaca ekstrem ini menyebabkan curah hujan berada di atas normal, meski sebenarnya Indonesia telah masuk musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh suhu muka laut di wilayah Indonesia masih hangat. “Kondisi ini menyebabkan awan berpotensi menyimpan uap air pembentukan awan hujan dengan intensitas cukup tinggi,” katanya.

Karena itu, dalam kurun sepuluh hari ke depan, wilayah Jabodetabek masih berpotensi diguyur hujan, terutama pada sore hingga malam hari. “Pagi hingga siang kondisi cuaca akan terik matahari, sedangkan pada sore hingga malah hari terjadi hujan yang cukup lebat,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada akan tanah longsor, terutama di Kecamatan Sukajaya, Cigudeg, Babakanmadang, Cisarua, Cijeruk, Cariu, dan Sukamakmur. “Wilayah itu termasuk rawan bencana longsor karena sebagian merupakan perbukitan,” kata Dedi.

Dia mengatakan, kendati di wilayah lain potensi longsor masih sangat kecil, tetap saja pihaknya mengimbau warga yang berada di kawasan lereng agar tetap waspada akan cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu. “Potensi longsor masih kecil dibandingkan nanti pada bulan September (musim hujan). Namun diharapkan warga di sekitar lereng selalu waspada,” ujar Dedi.

Sejak April lalu, cuaca di Jakarta dan sekitarnya berubah sewaktu-waktu. Ada kalanya panas menyengat, namun sesaat kemudian turun hujan deras. Kepala Bidang Bagian Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kukuh Ribudiyanto menjelaskan, cuaca akhir-akhir ini ekstrem karena Indonesia sudah masuk musim pancaroba.

“Fenomena angin puting beliung, angin kencang, juga hujan deras dan petir memang banyak terjadi pada masa transisi atau pancaroba ini,” kata Kukuh, Jumat 16 Mei 2014. Menurut dia, Indonesia sudah memasuki musim kemarau pada April lalu.

Panas terik dan berkurangnya angin juga menjadi ciri-ciri masa pancaroba. Pada musim peralihan ini, kelembapan udara sekitar 80 persen, sementara kecepatan angin kurang dari 10 kilometer per jam. “Sehingga penguapan yang terjadi dari tubuh kita terhalang oleh banyaknya uap air yang terkandung di udara, maka terasa pengap,” ujarnya.

Berbeda dengan musim kemarau, walaupun suhu udara sampai di atas 30 derajat Celsius, karena tingkat kelembapan lebih rendah, udara tidak terlalu pengap. “Namun kulit lebih rentan terbakar sinar matahari,” kata Kukuh.

Hingga masuknya musim kemarau nanti, masyarakat diimbau untuk tetap mewaspadai hujan deras yang biasanya berlangsung 30 menit sampai 1 jam, terutama di wilayah selatan Jakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s