ABG Jadi Germo Bisnis Seks Model dan Mahasiswa Di Internet Dengan Harga 3 Juta Sekali Kencan


Kasus perdagangan manusia kembali terungkap di Surabaya. Dua germo belia ditangkap karena menjual gadis-gadis di bawah umur melalui jejaring sosial, BlackBerry, Facebook, dan Kaskus Perdagangan perempuan ini lebih parah dibanding kasus dengan tersangka Keiko yang terbongkar beberapa waktu lalu. Dalam pemeriksaan, dua germo tersebut mengaku sudah beroperasi selama empat bulan. Namun, polisi menduga bahwa mereka sudah lama menjalankan bisnis haram tersebut. Diperkirakan lebih dari setahun.

“Korban atau gadis-gadis yang dijual oleh dua tersangka ini lebih dari 10 orang. Ada yang pelajar SMU, mahasiswa, model, dan sebagainya,” kata AKBP Heru Purnomo, Kasubdit Reknata Ditreskrimum Polda Jatim, Rabu (25/6/2014). Sejauh ini, lanjut Heru, baru ada lima korban yang menjalani pemeriksaan polisi. Petugas masih berupaya mengungkap jaringan prostitusi terselubung ini.

Bisnis prostitusi ini tergolong kelas atas. Tarifnya pun beragam, paling murah Rp 750.000 sekali pakai. Ada yang sampai Rp 3 juta hanya untuk sekali pesan. Yang tergolong mahal ini adalah model atau mahasiswi yang juga berprofesi sebagai model. “Korban ada yang masih berusia 15 tahun, ada 17 tahun, 20 tahun, dan sekitarnya. Rata-rata semua masih muda,” imbuh Heru Purnomo.

Dalam aksinya, dua germo itu menggaet para wanita atau korban lewat jejaring sosial dengan akun CNF. Kemudian, menarik mereka ke forum jejaring sosial WP (wanita penghibur). Dari jejaring sosial itu, lantas di-share lewat BlackBerry atau lewat grup BlackBerry dilengkapi dengan foto, PIN BB, dan nomor telepon. Pelanggan yang sudah berada di grup BB tinggal memilih karena foto-foto wanita yang bisa dipesan sudah dipajang di situ.

“Calon tamu harus meng-invite PIN BB germo dulu. Kemudian di-share anak-anak buahnya. Bagi yang sudah pernah mem-booking, tinggal pilih dan pesan saja. Setelah deal harga, uang ditransfer dan pelaku mengirimkan anak buahnya ke tempat yang telah ditentukan,” papar AKP Hendry, penyidik Unit Asusila. Tak hanya itu, tersangka juga menjalankan bisnis haramnya itu lewat situs “Diskusi wisata sensual Kota Surabaya”. Di sana, foto beserta PIN BB dan nomor ponsel terpasang.

Kasus perdagangan manusia kembali terungkap di Surabaya. Dua germo belia ditangkap karena menjual gadis-gadis di bawah umur melalui jejaring sosial, Blackberry, Facebook, dan Kaskus. Perdagangan perempuan ini lebih parah dibanding kasus dengan tersangka Keiko yang terbongkar beberapa waktu lalu sebab yang dilacurkan oleh dua germo ini kebanyakan adalah model, siswi SMU, dan mahasiswi di Surabaya. Dua germo tersebut adalah Nanda Fiolet alias Mami Vhea (22), warga Kedungrukem, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, yang juga punya rumah di Jalan Dharmawangsa, Surabaya.

AT alias Alif (17), ibu satu anak asal Simomulyo Baru, Sukomanunggal, Surabaya, yang juga beralamat di Jalan Batu Safir Merah, Driyorejo, Gresik. “Dua tersangka ini merupakan germo. Mereka punya kelompok dan anak buah masing-masing. Mereka bukan satu jaringan, tapi modusnya sama,” ungkap Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Jatim AKBP Bambang Tjahyo Bawono, Rabu (25/6/2014). Mami Vhea ditangkap pada 10 Juni lalu. Penangkapan itu bermula dari penggerebekan di sebuah hotel di Surabaya terhadap anak buah Vhea yang sedang melayani tamunya.

Dari penggerebekan itu, muncul nama Vhea. Petugas dari Unit Asusila Subdit Renakta (remaja anak dan wanita) Ditreskrimum Polda Jatim pun langsung menangkap germo belia tersebut. Sehari setelahnya, 11 Juni, petugas Unit Asusila giliran menangkap Alif. Ibu satu anak ini juga berprofesi sama dengan Mami Vhea. “Penangkapan ini juga bermula dari penggerebekan terhadap anak buahnya yang sedang melayani tamu di sebuah hotel di Surabaya,” sambung Bambang.

Dari tangan dua germo ini, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya dua BlackBerry yang biasa dipakai bertransaksi dan uang hasil setoran dari anak buah mereka sebanyak Rp 5,3 juta. Selain itu, sejumlah bill hotel, ijazah, KTP, KK dari tersangka dan korban, serta sejumlah foto-foto bergambar anak buah mereka atau gadis-gadis yang selama ini mereka lacurkan.

Akibat perbuatannya, dua germo ini dijerat Pasal 2 jucnto Pasal 17 UU Nomor 21 tahun 2007 dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda Rp 600 juta. Karena pidana terhadap anak, ancaman hukuman ditambah sepertiga dari vonis. “Selain itu, tersangka juga dijerat Pasal 296 KUHP dengan ancaman penjara 1,4 tahun; dan Pasal 506 KUHP dengan ancaman satu tahun penjara,” tandasnya.

Kasus perdagangan manusia kembali terungkap di Surabaya (baca: Model dan Mahasiswi Dijual lewat Internet Bertarif Rp 750.000-Rp 3 Juta). Dalam pemeriksaan, dua germo dalam kasus tersebut mengaku sudah beroperasi selama empat bulan. Namun, polisi menduga bahwa mereka sudah lama menjalankan bisnis haram tersebut. Diperkirakan, bisnis itu sudah berlangsung lebih dari setahun.

Bisnis prostitusi ini tergolong kelas atas. Tarifnya pun beragam, paling murah bertarif Rp 750.000. Ada yang sampai Rp 3 juta hanya untuk sekali pesan. Dari tarif yang telah ditentukan, setiap kali ada pria hidung belang yang mem-booking, ada perjanjian bagi hasil antara germo dan si perempuan yang melayani pelanggan. “(Bagi hasil) 25-75 persen,” jawab Mami Vhea di sela menjalani pemeriksaan di Polda Jatim.

Maksudnya pernyataannya itu ialah 25 persen untuk dia selaku germo dan 75 persen untuk si perempuan. Namun, penentuan tarif sepenuhnya menjadi wewenang Mami. Ini disesuaikan dengan kecantikan dan keseksian si perempuan. Semakin laris, semakin mahal. “Yang paling mahal yang model tersebut,” sambungnya sambil menunjuk sebuah foto gadis cantik yang sudah dicetak oleh penyidik. Dari sekian banyak anak buahnya, beberapa perempuan hampir setiap hari melayani pelanggan. Terkadang, pas akhir pekan biasanya laku keras.

Dua tersangka itu mengaku awalnya hanya iseng. Setelah banyak menghasilkan uang, mereka pun serius menggarap bisnis prostitusi ini. Dalam merekrut anak buah, mereka mengiming-imingi calon korban dengan gadget, gaya hidup mewah, dan sebagainya. Rayuan itu ternyata manjur, terutama untuk pelajar dan mahasiswa.

Dari sekian banyak gadis yang dijual oleh dua germo pada kasus perdagangan manusia yang terungkap di Surabaya, sebagian masih berstatus pelajar SMU (baca: Model dan Mahasiswi Dijual lewat Internet Bertarif Rp 750.000-Rp 3 Juta). Mereka ini pun harus pintar-pintar membagi waktu antara “kerja” dan sekolah. Rata-rata, pelajar itu mempunyai kewajiban harus pulang ke rumah pada pukul 21.00 WIB. Jadi, mereka hanya bisa melayani pelanggan pada siang, sore, atau malam hari. Yang penting tidak lebih dari pukul 21.00 WIB.

Beberapa pelajar yang sempat diperiksa petugas bahkan mengaku pernah mengorbankan sekolahnya. Karena ada pelanggan, mereka sampai nekat bolos. “Ada juga yang pamitan les ke orangtuanya saat ada bookingan sore atau agak malam. Yang jelas, semua orangtuanya tidak tahu,” ujar AKP Hendry, penyidik Unit Asusila.

Lain dengan mahasiswa atau model. Mereka punya waktu lebih banyak, bahkan sampai bisa tengah malam untuk melayani tamu atau pelanggan. Beberapa wanita biasanya langsung ke hotel untuk menemui dan melayani tamunya. Tetapi, ada juga yang biasa diajak nongkrong atau dugem terlebih dulu sebelum masuk ke hotel. Dalam pemeriksaan, dua germo tersebut mengaku sudah beroperasi selama empat bulan. Namun, polisi menduga bahwa mereka sudah lama menjalankan bisnis haram tersebut, diperkirakan lebih dari setahun.

Bisnis prostitusi ini tergolong kelas atas. Tarifnya pun beragam, paling murah Rp 750.000 sekali pakai. Ada yang sampai Rp 3 juta hanya untuk sekali pesan. Dari tarif yang telah ditentukan, setiap kali ada pria hidung belang yang booking, ada perjanjian bagi hasil antara germo dan si perempuan yang melayani pelanggan. Biasanya, 25 persen untuk “mami” dan 75 persen untuk si perempuan. Namun, tarif ditentukan oleh sang “mami”.

Menurut para mucikari ini, para pelajar dan mahasiswi mudah dirayu dengan gadget dan gaya hidup mewah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s