Jamaah Tarekat Naqsabandiyah Akan Mulai Puasa Ramadhan Hari Jumat


Jamaah Tarekat Naqsabandiyah di Padang, Sumatera Barat, sudah melaksanakan ibadah Tarawih, Kamis malam ini. Pengikut Aliran ini akan memulai Ibadah Puasa Ramadhan 1435 Hijriah mulai Jumat besok, atau lebih cepat dari jadwal pemerintah. Pemerintah sendiri baru akan melakukan Sidang Isbat menentukan jadwal 1 Ramadan pada besok malam.

Di Masjid Baitul Makmur yang terletak di Kelurahan Binuang Kampung Dalam, Kecamatan Pauh Kota Padang Sumatera Barat, suara Takbir, Tahlil dan Tahmid sudah berkumandang usai waktu Magrib, Kamis malam. Sekitar seratusan orang mulai melaksanakan Salat Tarawih berjamaah di tempat itu. Mereka adalah pengikut Tarekat Naqsabandiyah.

Pelaksanaan Tarawih perdana menandai dimulainya Puasa Ramadan 1335 H keesokan harinya. Puasa lebih awal merupakan kebijakan yang diambil oleh imam dan pengikut aliran ini. Mereka mengaku berpatokan pada perhitungan Hisab serta kalender sendiri yang diwariskan secara turun temurun. “Kita punya perhitungan sendiri. Jadi sejak turun temurun kita memang seperti ini, menjalankan hisab yang sudah ada. Tahun ini, 1 Ramadan 1435 H jatuh pada hari Jumat. Itu sebabnya, kita mulai tarawih,” kata Edison Revindo, Imam Naqsabandiyah Sumatera Barat kepada Detikcom.

Menurut Edison, dengan melaksanakan puasa lebih awal, pengikut Naqsabandiyah dipastikan juga akan melaksanakan Shalat Idul Fitri lebih awal dibanding umat Islam lainnya di tanah air. Di Sumatera Barat, pengikut Tarekat Naqsabandiyah mencapai 5.000 orang yang tersebar di berbagai daerah. Mereka yang melaksanakan Shalat Tarawih di Kampung Binuang ini, bukan hanya berasal dari masyarakat setempat, melainkan juga dari daerah tetangga. Antara lain dari Solok, Sawahlunto dan Painan.

Menurut Edison Revindo, Imam Naqsabandiyah Sumatera Barat, para pengikut Tarekat Naqsabandiyah serentak melaksanakan hari-hari besar Islam, seperti Ibadah Puasa, Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha. Hal menonjol dari aliran ini adalah, jemaahnya juga melaksanakan Tradisi Basuluak, yakni tinggal di rumah-rumah ibadah selama 40 hari. Aktivitas tinggal di tempat ibadah tersebut dimulai 10 hari sebelum puasa ramadan hingga hari terakhir.

Selama basuluak, mereka tidak lagi memikirkan urusan duniawi, karena setiap hari diisi dengan zikir dan doa.

Naqsabandiyah merupakan satu dari dua tarekat besar yang berkembang di Tanah Minang. Selain Naqsabandiyah, terdapat aliran Sattariyah, yang berbasis di Ulakan Tapakis, Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya di kawasan Makan Syech Burhanuddin yang diyakini sebagai penyebar Islam ke Tanah Minang.

Bedanya, jika Naqsabandiyah melaksanakan ibadah puasa atau lebaran lebih awal, Sattariyah biasanya lebih lambat dibanding pemerintah dan aliran-aliran lain. Untuk menentukan jadwal puasa, mereka akan melakukan Tradisi Mancaliak Bulan (melihat bulan) dengan mata telanjang di pantai terdekat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s