Basuki Tjahaja Purnama Hentikan Kegiatan Pencinta Alam Di Sekolah


Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku sangat marah mengetahui seorang lagi siswa SMAN 3 Jakarta Selatan meninggal pada Kamis pagi 3 Juli 2014. Padian Prawirodirya, 16 tahun, siswa Kelas X, menyusul nasib rekannya, Arfiand Caesary Al Irhamy, 16, yang meninggal sepulang mengikuti kegiatan esktrakurikuler pecinta alam 12-20 Juni lalu.

“Saya setuju stop dulu kegiatan-kegiatan pecinta alam,” kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Kamis 3 Juli 2014.
Dia menegaskan stop kegiatan itu untuk seluruh sekolah di Jakarta. “Seluruh Jakarta kami stop dulu, enggak perlu kok pelatihan mental seperti itu,” kata dia lagi.

Ahok pun kembali menekankan agar siswa yang terlibat dalam penyiksaan tersebut harus dikeluarkan dari sekolah.. Dia sebelumnya telah meminta Dinas Pendidikan merombak manajemen di sekolah yang bersangkutan. Dari kejadian itu, Ahok pun meminta agar kegiatan pembinaan mental semacam yang dilakukan ekskul pecinta alam tak perlu ada lagi. Kenapa enggak dititipin tentara aja kalau mau begitu,” kata dia.

Bahkan, jika perlu kegiatan pecinta alam tak perlu ada lagi di sekolah. Seorang siswa bisa ikut tapi bukan lewat sekolah. “Anda daftar saja rombongan anda (ke klub pecinta alam di luar sekolah). Kenapa harus pakai anggaran kita? Itu masalahnya. Kalau meninggal, semua diam,” ujarnya. Orangtua lima tersangka kasus penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya Caesar Arfiand (15), siswa SMAN 3 Jakarta, mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak . Mereka diterima oleh Kepala Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, Rabu, 2 Juli 2014.

Arist menjelaskan, para orangtua tersangka datang untuk meminta pelindungan Komnas Perlindungan Anak. “Kami akan coba membantu apa yang bisa dibantu,” ujar Arist kepada Tempo. Perkembangan terbaru, empat orang tersangka dimasukkan di Rutan Pondok Bambu, sedangkan satu orang dimasukan di Rutan Salemba, Rabu ini juga.

Menurut Arist, dari laporan yang diterima, ada indikasi para tersangka adalah korban salah tangkap. Arist menjelaskan, mereka sama sekali tidak memukul Arfiand. Para tersangka, menurut Arist, justru mencoba menolong Arfiand sehabis dihajar oleh dua senior mereka. Waktu mereka menolong Arfiand, kondisi korban sudah kritis. “Jadi diduga pelaku sebenarnya ya dua orang itu,” ujar Arist.

Dari para orangtua tersangka, Arist mendengar, bahwa kelima tersangka tersebut adalah pengurus kegiatan ekstra kurikuler pecinta alam SMAN 3. Arist memperoleh keterangan yang sama persis dari semua orangtua korban. Kommas Perlindungan Anak akan berupaya melakukan mediasi pada keluarga korban, dan berkomunikasi dengan Kepolisian Resort Jakarta Selatan. Komnas akan menjelaskan mengenai dugaan tersangka sebenarnya, yaitu para senior alumni ektrakurikuler pecinta alam. “Polisi terlalu terburu-buru menetapkan tersangka,” ujar Arist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s