Lagi Siswa SMAN 3 Setiabudi Meninggal Dunia Akibat Kegiatan Pecinta Alam


Siswa SMAN 3 Setiabudi, Padian Prawiro Dirya, meninggal dunia pada Kamis, 3 Juli 2014, pukul 04.30 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Padian merupakan teman Arfiand Caesary Al Irhami, korban penganiayaan yang tewas pada 20 Juni 2014. “Jenazah sudah disemayamkan di rumah duka, Mampang. Sore ini akan dimakamkan di TPU Menteng,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Kamis, 3 Juli 2014.

Sama seperti Arfiand, Padian dirawat di rumah sakit sepulang kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Rikwanto mengujarkan penyidik akan menggali rekam medis untuk mengetahui penyebab kematian Padian. Sebelumnya, saat penyidik mendatangi Rumah Sakit Hasan Sadikin, kondisi Padian sudah kritis ketika pulang dari kegiatan ekstrakulikuler itu. Padian bahkan mengalami koma sehingga langsung dirawat intensif.

Karena itu, tutur Rikwanto, orang tua Padian meminta agar penyidik tidak bertanya-tanya kepada anak mereka terlebih dulu ihwal sakit yang dialaminya. “Dari keterangan para saksi, Padian termasuk yang dianiaya,” ujarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Erlinda mengatakan Padian mengalami kondisi yang lebih parah ketimbang Arfiand. Tiga siswa lainnya, tutur Erlinda, dirawat di rumah sakit sepulang dari kegiatan pencinta alam Sabhawana. Mereka dirawat di Rumah Sakit Jakarta, Rumah Sakit Tria Dipa, dan Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

“Anak yang di Rumah Sakit Hasan Sadikin bahkan masuk ruang ICU. Dia lebam-lebam juga. Kondisinya lebih parah daripada Arfiand,” kata Erlinda saat dihubungi pada Kamis, 26 Juni 2014. Menurut Erlinda, Padian, siswa kelas X IPA A yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin, disinyalir terkena gigitan ular pada tangannya. Adapun Aji, murid yang dirawat di Rumah Sakit Jakarta, diketahui mengalami luka pada punggung dan kaki. Namun ia sudah pulang ke rumahnya pada Selasa, 24 Juni 2014. Aji belum bisa dimintai keterangan.

Murid lainnya yang sedang dirawat yakni Sena. Ia mengalami abses dan dirawat di Rumah Sakit Tria Dipa. Mereka merupakan teman sekelas Arfiand yang dirawat di rumah sakit setelah mengikuti kegiatan pencinta alam. Dokter di Rumah Sakit Hasan Sadikin menolak membeberkan penyebab kematian Padian, siswa SMAN 3 Jakarta Selatan yang meninggal di rumah sakit itu tadi pagi, Kamis, 3 Juli 2014. Padian diduga merupakan korban penganiayaan seniornya setelah sepekan mengikuti perpeloncoan dalam acara pendidikan dan latihan pencinta alam Sabhawana di Gunung Tangkuban Parahu, Kabupaten Bandung Barat.

Juru bicara RS Hasan Sadikin, dr Nurul Wulandhany, mengatakan tidak bisa memberitahukan kepada media apa penyebab kematian ataupun luka-luka yang diderita Padian. Alasannya, RS Hasan Sadikin terikat perjanjian dengan keluarga Padian sejak pasien masuk rumah sakit. “Permintaan keluarga, hal-hal yang menyangkut anak mereka agar tidak diekspos kepada pers, dan kita terikat menjaga kerahasiaan pasien.”

Namun dia membenarkan bahwa pasien ICU atas nama Padian meninggal sekitar pukul 04.20 tadi setelah dirawat sejak 20 Juni lalu. Dari ruang ICU, korban dibawa ke instalasi jenazah untuk pemulasaraan. “Setelah menyelesaikan administrasi kematian dan membuat surat kematian, almarhum kemudian dibawa keluarganya ke rumah duka di Jakarta,” ujar Nurul. Dari data instalasi jenazah, jasad Padian meninggalkan rumah sakit pada pukul 06.30 WIB. Pagi tadi, jasad Padian dibawa ke rumah duka di RT 03 RW 01, Kelurahan Tegal Parang, Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.

Siswa SMA 3 Jakarta, Padian Prawiro Dirya, 16 tahun, meninggal selang beberapa hari setelah mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana. Padian meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. “Almarhum meninggal jam 4 pagi,” kata Pipit, tante Padian, saat ditemui di rumah duka, Kamis, 3 Juli 2014.

Padian adalah siswa kelas X IPA A yang juga teman sekelas Alfiand Caesar Irhami, korban pertama penganiayaan saat mengikuti kegiatan Sabhawana di Bandung, Jawa Barat. Padian dan Alfiand sama-sama mengikuti kegiatan tersebut. Padian meninggal setelah menjalani perawatan selama 13 hari di ruang ICU Rumah Sakit Hasan Sadikin. Menurut analisis dokter, kata Pipit, Padian meninggal karena gigitan ular. Tangan kiri Padian diduga tergigit ular saat mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya lihat surat keterangan dari rumah sakit ditulis terkena gigitan ular. Tadi saya liat buat ngurus makam,” kata Kananu, Ketua RT 03 RW 01, saat ditemui di rumah duka, Kamis, 3 Juli 2014. Pihak keluarga sendiri tak mau menduga-duga apa yang mengakibatkan Padian meninggal. Pihak keluarga tidak mau mengambil langkah lain untuk mengetahui penyebab kematian Padian. Keluarga juga menolak jika Padian divisum. “Kasihan almarhum kalau begitu, biarkan saja. Yang penting almarhum meninggal dengan tenang,” tutur Pipit.

Pipit mengatakan pihak keluarga sudah ikhlas dan pasrah atas meninggalnya Padian. “Kami sudah ikhlas,” kata Pipit. Kepala Polisi Resor Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat. mengatakan belum mendapat laporan resmi terkait dengan meninggalnya Padian Prawiro Dirya, siswa kelas X IPA A SMA 3. “Kalau informasinya, sudah kita dengar, tapi laporan resmi belum masuk,” kata Wahyu pada 3 Juli 2014.

Wahyu mengatakan pemeriksaan sudah dilakukan sejak korban pertama, Alfiand Caesar, meninggal. Alfiand meninggal karena tindak penganiayaan yang dilakukan seniornya kelas XI. Polisi menetapkan lima tersangka dalam kasus tersebut, yaitu DW, TM, AM, KR, dan PU. Rute kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat, kata Wahyu, sudah ditelusuri polisi. “Setelah mendapat informasi, kami coba untuk dalami lagi,” ujar Wahyu.

Saat ditemui di rumah duka di Mampang, Jakarta Selatan, pihak keluarga menolak melaporkan hal ini ke pihak berwajib. “Kami sudah ikhlas, biar Padian tenang,” tutur Pipit, tante Padian, 3 Juli 2014. Keluarga korban memilih untuk mengikhlaskan dan tidak mau menyalahkan pihak lain. “Kami semua sudah ikhlas,” kata Pipit. Sebelumnya, Padian mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Jawa Barat. Saat kegiatan berlangsung selama beberapa hari, Padian dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, karena kondisi kondisi fisiknya yang tak sehat. Ia dirawat di ruang ICU selama 13 hari dan meninggal pada pukul 04.00 WIB. Jenazah dimakamkan pukul 12.30 WIB di TPU Menteng Pulo.

Padian Prawiro Dirya, 16 tahun, siswa SMA 3 Jakarta, meninggal setelah beberapa hari mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Bandung. Padian meninggal di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. “Padian anaknya pintar,” kata Lila Fairuz, 16 tahun, teman Padian saat sekolah menengah pertama, ditemui di rumah duka, 3 Juli 2014. Dulu, Padian bersekolah di SMP 19 Jakarta. Di SMP itu, ia masuk kelas unggulan. “Waktu SMP, Padian masuk kelas unggulan yang nilainya tinggi-tinggi,” ujar Lila.

Salah satu teman Padian di SMA 3, Lucia Natasya, 16 tahun, juga menuturkan hal serupa. “Di SMA, Padian juga masuk kelas unggulan IPA A,” kata Lucia. Selain sosoknya yang pintar dan ramah, Padian juga dikenal suka olahraga. “Waktu SMP, dia ikut futsal dan taekwondo,” ujar Lila Fairuz. Lila menuturkan Padian memiliki badan yang besar dan tinggi. Padian dikenal sebagai sosok yang rajin olahraga sehingga bentuk badannya atletis dan proposional. “Badannya tegap gitu. Memang dia suka olahraga anaknya,” katanya.

Hobi olahraga membawa Padian mengikuti kegiatan pencinta alam Sabhawana di Tangkuban Perahu, Bandung. Sebelum berangkat, Lucia sempat bertemu di sekolah dengan Padian. Padian sempat mengatakan mohon doa agar lulus menjadi anggota Sabhawana. “Doain, ya, semoga lulus,” kata Lucia mengulang perkataan Padian. Sekolah Menengah Atas Negeri 3 Jakarta Selatan mengakui adanya tindak penganiayaan yang pernah dilakukan siswanya pada awal Februari 2014. “Memang dulu pernah ada laporan di Polda, namun semua sudah selesai dengan baik-baik,” kata La Ode Makbudu, Wakil Kepala SMA 3 Bidang Kesiswaan pada Tempo, Rabu, 2 Juli 2014.

La Ode tidak menampik adanya laporan dugaan penganiayaan yang dilakukan siswa kelas XI SMA 3 yang juga aktif sebagai pembina Sabhawana–nama ekstrakurikuler pencinta alam di sekolah itu. Laporan tersebut masuk ke Polda Metro Jaya. Dalam laporan tersebut dilaporkan tiga siswa yang diduga melakukan penganiayaan yaitu DW, PU, dan AM. Mereka adalah tiga dari lima tersangka yang ditetapkan polisi terkait penganiayaan terhadap Alfiand Caesar, siswa kelas X IPA A. “Memang, saya pernah ke Polda mendampingi Pak Isa, pembina Sabhawana,” ujar La Ode. La ode menuturkan laporan tersebut berakhir dengan cara kekeluargaan. “Saya sempat tanya anak-anak, mereka bilang sudah baik-baik lagi kok,” kata La Ode.

Ketiga tersangka, kata La Ode, yang sebelumnya sempat melakukan tindak penganiayaan sudah berkunjung ke rumah pelapor untuk meminta maaf dan pelapor mencabut laporannya. “Saya pikir sudah selesai, jadi sudah baik-baik saja.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s