Kisah Sedih Sutiarsih Yang Berlebaran Bersama Kucing Kucing Di Pantai Cacalan


Perempuan tua dengan kain sarung lusuh duduk di depan sebuah gubuk. Tangannya yang keriput perlahan memasukkan beras ke dalam daun pisang. Empat ekor kucing bermain-main di sekitar perempuan yang bernama Sutiarsih (82). “Besok lebaran, ini buat lontong cuma setengah kilo. Kan buat makan sendiri. Tombo (obat) pengin,” ungkapnya kepada Kompas.com dengan menggunakan bahasa Jawa.

Mbah Sih, begitu biasa ia dipanggil, bercerita ia tinggal seorang diri tengah ladang yang berjarak sekitar 200 meter dari Pantai Cacalan tepatnya di Linkungan Sukowidi Kelurahan Klatak Kecamatan Kalipuro. Jaraknya juga cukup jauh dari tetangga terdekat. “Saya lupa sudah berapa lama tinggal disini. Numpang tanahnya orang. Kalau rumahnya ini baru dibangun lagi sekitar tiga tahunan. Rumah yang lama ambruk. Alhamdulilah dibangunkan sama tetangga sini,” jelasnya.

Saat rumahnya ambruk, ia meminta tolong dan beruntung ada orang yang sedang melintas di depan gubuknya. “Dekat sini kan sumber mata air, orang-orang sering nyuci baju di situ. Mereka yang bantu saya,” katanya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Mbah Sih bekerja menganyam welit dari daun kelapa yang ia temukan di sekitar ladang. Biasanya welit digunakan untuk atap gubuk di tepi pantai. Itu pun ia lakukan ketika ada pesanan.

“Harganya per lembar Rp 1.500. Kalo enggak ada yang pesan ya saya ngumpulkan ranting kayu terus dijual. Tapi sekarang sepi semua orang sudah pakai gas,” ungkapnya, Minggu (27/7/2014). Mbah Sih sempat menanyakan kenapa harga minyak tanah sekarang harganya mahal. “Sekarang mahal padahal saya butuh juga buat lampu soalnya saya enggak ada listrik. Sempat mau ditawarin nyalur listrik sama tetangga, tapi saya menolak soalnya takut lihat kabelnya nanti kongslet,” jelasnya.

Suami Mbah Sih yang bernama Kabul sudah meninggal karena penyakit thypus beberapa tahun yang lalu. Ia tidak mempunyai anak. Jadilah ia tinggal sendiri bersama kucing-kucingnya.”Anak pertama keguguran. Anak kedua meninggal di usia tiga bulan. Suami saya dulu jadi buruh kasar dan setelah suami meninggal saya sempat kerja jadi asongan di Pelabuhan Ketapang. Tapi sekarang sudah enggak kuat. Sudah tua,” ungkapnya.

Saat ditanya apakah ia mendapatkan batuan dari pemerintah, Mbah Sih menggelengkan kepala. “Saya enggak ngerti, tapi setiap bulan saya dapat beras 15 kilo sama uang Rp 30 ribu dari pak RT,” kata Mbah Sih. Saat masih bercerita, Mbah Sih tiba-tiba memanggil dua anak yang melintas di depan rumahnya, dan ia memberikan uang Rp 2.000 rupiah pada masing-masing anak.

“Buat sangu lebaran. Jangan lupa ngaji,” katanya. Mbah Sih mengaku selalu berbagi kepada anak-anak yang sering singgah ke rumahnya setelah pulang dari bermain di pantai. “Setiap ada rejeki dari siapapun saya selalu sisihkan. Saya bagi ke anak-anak ataupun ke tetangga saya yang sama sama enggak punya seperti saya. Rejeki dari Gusti Allah dan harus di bagikan ke orang lain,” katanya sambil tersenyum.

Apalagi saat ini mau Lebaran, Mbah Sih sudah menyiapkan uang receh untuk ia bagikan. “Mungkin karena saya enggak punya anak jadi saya memang sayang sama anak-anak. Semoga besok pas lebaran banyak yang ke sini biar rame” ungkapnya. Mbah Sih mengaku sering kesepian apalagi kalau menjelang malam. “Saya punya radio tapi sudah rusak. Mau dibetulkan ndak ada uang lebih. Ya empat kucing ini teman saya. Ini namanya Bolang, Manis dan Pusi. Yang paling manja ya ini namanya Temon,” tutur dia sambil mengelus kucing berwarna hitam putih dipangkuannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s