Kawasan Monas Semakin Semrawut dan Kotor


Penertiban pedagang kaki lima di kawasan Monas belum mampu membuat kawasan itu sebagai ikon wisata kota Jakarta, steril dan tertib. Pada Kamis (31/7), pedagang masih nekat berjualan di dalam area Monas, meskipun petugas Satpol PP berkeliling di kawasan ini. Sejumlah pedagang mengatakan, larangan berjualan hanya diberlakukan untuk pedagang yang membawa gerobak atau alat berjualan lain yang memakai roda. ”Kalau ngasong seperti saya, tidak masalah,” kata Amin, penjual balon anak-anak.

Dia membawa barang dagangannya di dalam tas. Di dalam area Monas, balon-balon itu baru dipompa. Setelah itu, dia berkeliling menjajakan balon seharga Rp 5.000 per buah. Hal itu juga dibenarkan Iwan, penjual tikar plastik. Dia mengaku bebas masuk Monas dan menawarkan barang dagangan ke pengunjung yang akan piknik di dalam taman. ”Tadi masuk sih bebas saja, enggak dilarang meskipun kelihatan bawa tikar ini.”

Di dalam area Monas juga terlihat sejumlah pedagang makanan dan minuman keliling. Bahkan, di depan pagar yang mengarah ke Stasiun Gambir, sejumlah gerobak makanan bisa masuk ke dalam area Monas. Selain itu, persewaan sepeda motor dan mobil untuk anak-anak juga bebas menawarkan jasanya. Ada sejumlah jasa persewaan mainan anak yang memasang tarif Rp 25.000 untuk setiap 10 menit.

Sementara di luar pagar Monas, parkir kendaraan pengunjung masih memakan trotoar dan juga jalur bus transjakarta. Kepala Satpol PP Jakarta Pusat Yadi Rusmayadi mengakui, pihaknya belum maksimal dalam melakukan penertiban karena keterbatasan jumlah personel. ”Yang kami prioritaskan saat ini adalah memperkecil peluang pedagang berjualan di taman Monas agar tidak berantakan.” Banyak kendala menertibkan PKL berjualan di Monas. Salah satunya banyaknya akses masuk ke Taman Monas, lebarnya jarak antarbesi pagar taman yang masih memungkinkan diterobos orang, serta jumlah PKL di lokasi binaan IRTI yang sudah bertambah dari 339 yang diizinkan menjadi 700 PKL.

Di sisi lain, penertiban PKL di Monas tidak bisa hanya mengandalkan Satpol PP yang berjumlah 500 orang untuk tiga sif kerja. Sementara keberadaan PKL diduga didukung oknum aparat sehingga mereka leluasa berjualan di lokasi terlarang. ”Aneka persoalan ini membuat Monas harus dikelola secara profesional. Dengan demikian, taman bisa dikhususkan untuk kegiatan rekreasi dan usaha saja,” kata Yadi.

Kepala Unit Pengelola Monumen Nasional (UP Monas), Rini Hariyani, mengaku gerah dengan banyaknya pedagang kaki lima yang hingga saat ini masih berkeliaran di sekitar Taman Monas bahkan naik hingga pelataran. “Saya kesal dengan pedagang-pedagang itu, sudah berulang kali ditertibkan tetapi masih ada celah untuk mereka masuk, lama-lama saya berpikir untuk membuat Monas jadi satu pintu saja, biar semuanya terkontrol,” kata Rini di kantor UP Monas Kamis (31/7/2014) sore.

Rini bercerita bahwa para PKL itu bisa sampai ke pelataran Monas dengan cara memanjat relief. Atas maraknya PKL yang berkeliaran di sekitar Taman Monas, perempuan asal Solo itu berharap agar pihak Satuan Polisi Pamong Praja membantu mengatasi permasalahan PKL. Sebab, selain membuat kawasan Monas semrawut, PKL juga membuat kawasan wisata lambang Jakarta itu dipenuhi sampah.

Monumen Nasional yang bersih dari pedagang kaki lima (PKL) tampaknya masih jauh dari harapan. Meskipun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah sering lantang mengusik keberadaan mereka, kehadiran para PKL tersebut tetap belum bisa dicegah. Bermacam-macam dagangan, mulai dari makanan, pakaian, hingga jasa, ditawarkan oleh para PKL. Mereka dapat ditemui di segala penjuru Monas, mulai dari IRTI sampai kawasan dekat cawan.

Para PKL tersebut masuk ke kawasan Monas dengan perlahan. Semakin siang, kian ke dalam jugalah mereka berdagang. Beberapa PKL pakaian terlihat menarik lapak mereka dari arah dekat pagar ke kawasan sekitar cawan. Lapak tersebut memang sudah didesain sedemikian rupa sehingga, selain mampu menampung semua barang dagangan, juga bisa dipindah-pindahkan.

“Nanti kalau diusir baru pindah. Mereka bilang kami orang kaya. Kami ini orang miskin yang perlu cari makan juga,” kata Saiman, salah seorang PKL yang berjualan pakaian, sambil menarik lapaknya. Memang definisi kaya miskin itu relatif dan banyak juga orang yang menyebut orang yang lebih miskin darinya tapi rajin bekerja sebagai kaya karena takut tersaingi kekayaannya.

Wanita yang sudah 10 tahun menjadi PKL Monas itu mengaku sudah paham betul soal larangan berjualan di Monas. Kucing-kucingan dengan satpol PP pun sudah jadi makanannya sehari-hari. Berdasarkan pantauan Kompas.com, satpol PP berjaga di tiap pintu Monas. Di dekat tangga menuju loket masuk tugu, ada juga petugas satpol PP berjaga. “Sudah dua hari ini kami di Monas, tetapi sifatnya cuma penghalauan. Kalau ada yang bandel, baru barangnya kami angkat,” kata Kepala Satpol PP DKI Jakarta Kukuh Hadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s