Suhandi Bunuh Tetangganya Pemilik Warung Kelontong Di Putara Pancoran Mas Depok


Kepolisian Resor Kota Depok akhirnya mengungkap kasus tewasnya Ali Wafa Yusuf (37), pedagang kelontong yang ditemukan bersimbah darah di warung kelontong sekaligus rumahnya di Jalan Pitara, Pancoranmas, Depok, Kamis (31/7/2014) pukul 01.00 WIB. Ali tewas dengan sedikitnya 7 luka tusukan senjata tajam ditubuhnya. Pelaku penikaman terhadap Ali ternyata adalah Suhandi (42) alias Kumis bin Sumanta, yang merupakan tetangga Ali. Suhandi tinggal tak jauh dari rumah Ali Wafa.

“Pelaku kami bekuk di rumahnya tak jauh dari lokasi kejadian, Jumat pagi pukul 08.00. Sejak awal, yang bersangkutan sudah sangat mencurigakan karena memberi keterangan yang berbelit-belit dan coba mengecoh penyidik,” kata Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Agus Salim di Mapolresta Depok, Jumat (1/8/2014). Suhendi pulalah yang saat kejadian termasuk orang yang pertama kali menolong korban dan membawanya ke rumah sakit dengan angkot. Suhandi juga sempat diperiksa polisi sebagai saksi dalam kasus ini.

Dalam keterangannya kepada penyidik, Suhandi mengatakan, saat menolong korban, Ali sempat mengatakan kepadanya, bahwa orang yang menusuk Ali adalah dua pria kawanan perampok yang hendak menggasak uang warungnya dan berhasil kabur. Namun polisi tak mudah percaya. Hingga akhirnya menyimpulkan Suhendilah pelakunya karena seperti kebanyakan psikopat, mereka akan dengan sengaja melibatkan diri kedalam penyelidikan atau pura-pura membantu proses penyelidikan.

Tertangkapnya Suhendi sebagai pembunuh pemilik toko kelontong di Depok, Ali Wafa Yusuf (37), mengungkap motif pembunuhan sadis tersebut. Rupanya, Suhandi kesal karena Ali kerap meledek soal utang-utangnya. Kasat Reskrim Polresta Depok Kompol Agus Salim mengatakan, menurut pengakuan Suhandi, Ali bahkan sempat menanyakan besaran utang Suhendi kepada beberapa warga lain. “Motifnya untuk sementara kesal dan dendam kepada korban karena utangnya diungkit. Namun kami masih mendalami kemungkinan motif lainnya,” kata Kompol Agus di Mapolresta Depok, Jumat (1/8/2014).

Suhendi mengaku tidak meyesal sama sekali telah membunuh Ali sebab kini hutang hutangnya bisa dianggap lunas dan akan membuatnya semakin disegani warga dan tidak akan ada yang berani lagi bertindak tidak hormat padanya. “Karenanya untuk motif pasti dan utamanya masih kami didalami lagi. Sebab mungkin saja ada motif lain dibelakangnya,” ujar Agus.

Ali ditemukan bersimbah darah di warung kelontong sekaligus rumahnya di Jalan Pitara, Pancoran Mas, Depok, Kamis (31/7/2014) pukul 01.00 WIB. Ali tewas dengan sedikitnya 7 luka tusukan senjata tajam di tubuhnya.

Ali Wafa (38), pemilik warung kelontong di Kampung Pitara, RT 6/RW 15, Pancoranmas, Depok, ditemukan bersimbah darah di lantai warungnya, Kamis (31/7/2014) dini hari. Ali yang mendapat luka tusukan di sekujur tubuhnya langsung dilarikan ke RS Mitra Keluarga di Jalan Margonda. Namun, pukul 10.00, Ali mengembuskan napas terakhir. Luka tusukan yang dideritanya sangat parah. Jasad Ali lalu dibawa ke RS Polri Sukanto untuk diotopsi demi kepentingan penyelidikan.

Jajaran Polresta Depok menduga, Ali dibunuh sedikitnya oleh dua pelaku. Polisi memastikan tidak ada unsur perampokan dalam kasus ini. Sebab, dari hasil penyidikan, tidak ada yang hilang dari uang dan barang berharga milik korban. Kasat Reskrim Polresta Depok Komisaris Agus Salim menjelaskan, hasil identifikasi menunjukkan sedikitnya ada tujuh luka tusukan senjata tajam di tubuh Ali.

“Luka tusukannya di perut di bawah pusar, di perut sebelah kanan, di bagian kantong kemih kanan dan kiri, lalu di leher bagian kiri dan kanan, serta di pergelangan tangan kanan,” kata Agus. Dari luka-luka itu, ia mengatakan, pelaku diduga kuat menghujani korban dengan luka tusukan senjata tajam saat kejadian. “Seperti dendam. Karenanya, untuk sementara, kami simpulkan ini adalah kasus pembunuhan murni tanpa ada perampokan,” ujarnya.

Hal senada sebelumnya dikatakan Kapolresta Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah kepada Warta Kota, Kamis siang. “Sebab tidak ada barang berharga dan uang milik korban yang hilang. Kami masih dalami motif pembunuhan ini, dan diduga karena masalah pribadi,” kata Ahmad. Ia menuturkan, Ali Wafa dan istrinya, Mutmainah (30), yang merupakan warga asal Sampang, Madura, sudah setahun tinggal di sana dan membuka toko kelontong. Adapun Mutmainah kini sedang mengandung anak kedua mereka.

Sesaat setelah kejadian, Mutmainah membersihkan ceceran darah suaminya yang memenuhi lantai warung. Hal ini dikeluhkan Agus Salim karena bisa saja ada sejumlah bukti dan petunjuk mengenai pelaku yang ikut dibersihkan istri korban. “Saat kami datang, lokasi kejadian sudah bersih. Ceceran darah sudah dibersihkan istri korban. Ini agak kami sayangkan,” katanya. Agus mengatakan, penyidik sudah memeriksa sejumlah saksi dalam kasus ini, serta melakukan olah tempat kejadian perkara.

“Keterangan saksi dan olah TKP akan dicek silang dan dicocokkan,” kata Agus. Menurut Agus, kondisi Mutmainah saat ini sangat terpukul. Terlebih lagi, dia tengah hamil lima bulan. “Istri korban yang sedang hamil masih shock berat sehingga belum dapat kami mintai keterangan,” katanya. Polisi mengamankan pisau lipat berlumur darah dari lokasi tewasnya Ali Wafa (38) di Kampung Pitara, RT 6/RW 15, Pancoranmas, Depok.

Kepala Satuan Reskrim Polresta Depok Komisaris Agus Salim menduga, pisau lipat tersebut milik pelaku penusukan pemilik toko kelontong itu. “Kami amankan pisau lipat dari lokasi kejadian serta kain berlumur darah,” kata Agus di Mapolresta Depok, Kamis (31/7/2014). Ia berharap, pisau lipat yang diduga milik pelaku ini bisa menjadi petunjuk untuk mengungkap pelaku penusukan. “Kami juga sudah memeriksa beberapa saksi mata, di antaranya warga yang menolong korban dan beberapa warga lainnya,” kata Agus.

Sementara itu, kata Agus, penyidik belum dapat memeriksa dan meminta keterangan dari istri Ali, Mutmainah (30), yang sedang mengandung lima bulan. Menurut Agus, Mutmainah masih dalam kondisi terpukul. Terlebih lagi, ia sedang mengandung lima bulan sehingga ditakutkan pemeriksaan malah makin membuat kondisinya terguncang sehingga berdampak pada bayinya. “Jadi istrinya belum kami periksa. Kami menunggu kondisinya lebih tenang dulu,” ucap Agus.

Agus menuturkan, untuk sementara, penyidik menyimpulkan bahwa kasus ini adalah pembunuhan murni dan tidak ada unsur perampokan. Sebab, tidak ada yang hilang, baik uang maupun barang korban. Pelaku diduga berjumlah dua orang, dan datang dengan mengendarai sepeda motor. Karena menyangka kedua orang itu akan membeli sesuatu di warungnya, Ali tidak curiga. Namun ternyata, salah seorang pelaku justru menusuk Ali dengan membabi buta.

Menurut Agus, terdapat tujuh luka tusukan di tubuh Ali. “Luka tusuk ada di perut di bawah pusar, di perut bagian pinggang, di kantong kemih sebelah kanan dan kiri, di leher sebelah kanan dan kiri, serta di pergelangan tangan kanan,” kata dia. Saat ditemukan warga, Ali masih bernafas walau dalam kondisi bersimbah darah. Ali akhirnya meninggal dunia di RS Mitra Keluarga di Jalan Margonda, Depok, Kamis pagi saat dalam perawatan. “Kami masih dalami kasus ini untuk mengidentifikasi pelaku,” ujar Agus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s