Bentrokan Warga Di TMII Terjadi Karena Rebutan Tanah Tak Bertuan


Akibat kerusuhan antarwarga, gerbang menuju Jalan Nirbaya, belakang Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah, Makasar, Jakarta Timur, ditutup untuk sementara. Beberapa pengendara sepeda motor terpaksa memutar balik. Tampak gerobak pedagang minuman dan kayu menutup akses perumahan di belakang masjid tersebut. “Kerusuhan terjadi di Jalan Nirbaya XII RT 10 RW 03,” ujar Wakil Kepala Polsek Makasar AKP Lumban di tempat kejadian, Senin, 1 September 2014.

Menurut Lumban, keributan dimulai pukul 09.00 WIB. Penyebab keributan belum dapat dipastikan. “Kemungkinan karena masalah kepemilikan tanah. Sebab, tanah di sini belum jelas milik siapa.” Saksi mata mengatakan keributan terjadi sebelum pukul 18.00 WIB. “Mulai terdengar ribut sebelum azan magrib,” kata Haga Dilona, 14 tahun, di tempat kejadian.

Berdasarkan pantauan, pada pukul 20.15 WIB, kerusuhan di daerah tersebut sudah tidak ada lagi. Belasan polisi tampak asyik makan malam di sekitar tempat kejadian. Kepala Kepolisian Sektor Makasar, Jakarta Timur, Sutarjo mengatakan pemicu tawuran warga di Makasar pada hari ini, 1 September 2014, adalah rebutan lahan tanah yang tidak jelas siapa pemiliknya.

“Jadi, awalnya ada beberapa warga yang ribut dengan orang-orang keturunan Flores karena masalah tanah. Lalu, warga tersebut lapor ke Ketua Rukun Tetangga 10, Pinang Ranti, Jakarta Timur, Arjuna Karus. Kemudian, ketua RT tersebut menghampiri orang-orang Flores tersebut dengan maksud untuk mencari solusi,” ujarnya , Senin, 1 September 2014.

Setelah bertemu dengan orang-orang Flores tersebut, tutur Sutarjo, Arjuna malah dipukuli hingga mengalami luka ringan. Selanjutnya, Arjuna melaporkan kejadian ini ke Polsek Makasar. Sepulangnya dari melapor, Arjuna menemukan bahwa warga telah mengepung orang-orang Flores tersebut dengan maksud menghajar mereka. “Akhirnya, kami dari Polsek Makasar datang ke tempat kejadian perkara dan mengamankan 12 orang Flores tersebut agar tidak terkena amuk massa.”

Ketika ditanya mengenai kepemilikan tanah tersebut, Arjuna mengatakan tanah tersebut biasa digunakan oleh seorang ibu, warga Jalan Nurbaya 2, Pinang Ranti, Jakarta Timur, untuk ternak lele. “Saya sebagai ketua RT sebenarnya hanya menengahi dan menjelaskan kepada sekelompok orang Flores tersebut bahwa tanah bedeng itu akan digunakan oleh warga tersebut untuk warung,” ujar Arjuna ketika dihubungi Tempo, Senin, 1 September 2014.

Kejadian pemukulan terhadap ketua RT tersebut juga memicu amarah anggota Badan Pembina Potensi Keluarga Besar Banten (BPPKB Banten), karena Arjuna merupakan ketua organisasi tersebut. “Mungkin karena solidaritas, sehingga mereka turut berbaur dengan massa,” kata Arjuna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s