Cara Murah Berwisata Ke Pulau Moyo Sumbawa


MUNGKIN wisatawan dalam dalam negeri belum banyak mengetahui keberadaan Pulau Moyo. Namun untuk wisatawan mancanegara, Pulau Moyo di utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah memiliki nama. Pulau Moyo selama ini identik dengan Amanwana Resort, sebuah hotel berbintang lima dengan atap khas berbentuk tenda yang menjadi incaran para selebriti kelas dunia. Di resor mewah inilah mendiang Putri Diana pada pertengahan Agustus 1993 mengunjungi Pulau Moyo. Selama tiga hari Putri Diana tinggal di pulau eksotis yang tenang dan jauh dari kebisingan serta keramaian itu untuk menikmati alam Moyo. Nama pulau ini pun kian mendunia. Sejumlah artis Hollywood, termasuk musisi Mick Jagger, serta mantan kiper nasional Belanda dan mantan kiper Manchester United, Edwin van der Sar pernah bertandang ke pulau ini.

Pulau Moyo masuk dalam Kabupaten Sumbawa. Pulau dengan luas 32.044,86 ha ini berpenduduk 1.944 jiwa (sensus 2010). Pulau ini dijadikan Taman Wisata Alam Laut dengan luas 6.000 hektar sejak dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan no. 308/KPTs-11/1986 pada tanggal 29 September 1986 dan dibawah pengendalian Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Nusa Tenggara Barat.

Sudahkah Anda menentukan ke mana hendak mengisi cuti pada akhir pekan? Cobalah menjelajahi Pulau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi NTB sedang gencar-gencarnya mempromosikan Visit Lombok-Sumbawa 2013. Transportasi menuju Pulau Sumbawa bisa lewat darat (laut) dan udara. Jika lewat darat, dari Mataram, ibu kota Provinsi NTB, Anda menuju timur, tepatnya menuju Pelabuhan Kayangan (Lombok) menyeberang menggunakan feri ke Poto Tano (Sumbawa Barat), lantas melanjutkan perjalanan lewat darat menuju Kota Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa.

Jika menggunakan transportasi udara, dari Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya (Lombok Tengah), Anda terbang menuju Bandara Sultan Kaharuddin (Sumbawa). Kabupaten Sumbawa memiliki beragam daya tarik wisata, apakah itu wisata alam atau wisata bahari. Adat istiadat dan bangunan bersejarah di Sumbawa Besar juga tak kalah menarik untuk didatangi.

Bagi Kabupaten Sumbawa, Moyo adalah ikon pariwisata Sumbawa karena keindahan alamnya dan sangat terkenal di dunia internasional. “Moyo dalam bahasa Samawa berarti ‘tengah’ sehingga kami munculkan Festival Moyo pada September 2013 dengan menampilkan atraksi budaya dan wisata unggulan di Kabupaten Sumbawa,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sumbawa, H Amri S.sos, MSi, di Sumbawa Besar, Jumat (18/10/2013).

Jangankan mengundang wisatawan domestik, warga Sumbawa pun belum semua tahu atau pernah menginjakkan kaki ke Pulau Moyo. Wajar saja, untuk menyeberang ke Pulau Moyo dari Sumbawa membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Belum lagi jadwal kapal yang tidak pernah pasti serta jumlahnya yang masih sangat terbatas. Kalau bertolak lewat darat dari Kota Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat memerlukan waktu sekitar 6 jam untuk sampai di Kota Sumbawa Besar.

Untuk transportasi udara, maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines menerbangi rute Lombok-Sumbawa (pp) setiap Selasa, Jumat, dan Minggu. Selain Merpati, rute Lombok-Sumbawa juga dilayani Trans Nusa setiap hari.

Berlibur ke Kabupaten Sumbawa butuh 3-4 hari. Transportasi memang menjadi kendala utama sehingga menyita lama perjalanan. Jika melalui darat, Anda butuh waktu 6-7 jam dari Kota Mataram (Lombok) menuju Sumbawa Besar. Jika melalui udara, lebih singkat hanya 30 menit. Namun, penerbangan baru dilayani dua maskapai, yaitu Merpati Nusantara Airlines dan Trans Nusa. Merpati melayani penerbangan Lombok-Sumbawa 3 kali seminggu, yakni Selasa, Jumat, dan Minggu. Sementara Trans Nusa terbang setiap hari satu kali. Namun, di balik itu semua, wisatawan akan benar-benar mengetahui betapa kaya dan menariknya obyek wisata yang bergelar “Tana Intan Bulaeng” ini.

Berikut gambaran berpelesir ke Sumbawa dengan menggunakan pesawat terbang dari Pulau Lombok.

Hari Pertama
Setelah 30 menit terbang dari Bandara Internasional Lombok, pesawat mendarat di Bandara Sultan Kaharuddin pada sore hari. Langsung saja mencari tempat penginapan di Kota Sumbawa Besar. Ada banyak pilihan hotel di Kota Sumbawa Besar. Salah satunya Hotel Tambora, yang paling dekat dengan bandara. Malam hari, isilah waktu dengan beristirahat karena besok hari Anda akan menyeberang ke Pulau Moyo.

Hari Kedua
Pukul 07.30 setelah sarapan di hotel, bersiap-siaplah untuk menyeberang ke Pulau Moyo. Jika Anda menginap di Kencana Beach Cottages, sebuah kapal sudah tersedia di tepi pantai. Perjalanan menuju Pulau Moyo ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Disarankan berangkat pagi hari karena cuaca pasti cerah dan ombak sangat tenang. Matahari pagi bersinar lembut mengiringi kapal perlahan-lahan meninggalkan Sumbawa. Selama perjalanan menuju Moyo, siapkan kamera Anda untuk mengabadikan keindahan Pulau Sumbawa dari laut. Apalagi mendekati Amanwana Resort, pantai-pantai di Pulau Moyo sungguh memikat, berpasir putih, dan bebas polusi.

Sekitar pukul 09.30 kapal merapat di Labuhan Aji. Cuaca panas mulai menyergap tubuh. Keringat mulai bercucuran. Labuhan Aji adalah salah satu desa di Pulau Moyo dan merupakan pintu masuk bagi wisatawan. Pulau Moyo masuk dalam Kecamatan Labuhan Badas dan memiliki 6 desa, yakni Labuhan Aji, Brang Rea, Sibatok, Brang Kua, Sitema, dan Patedong.

Tiba di Labuhan Aji, Anda akan diajak menuju penginapan sederhana milik Pak Syukur yang menghadap pantai. Tarif per malam Rp 150.000 sudah termasuk makan 3 kali sehari. Seusai beristirahat sejenak, mulailah perjalanan menuju air terjun Diwu Mbai dan Mata Jitu. Untuk menuju Diwu Mbai di Brang Rea, satu-satunya alat transportasi hanya sepeda motor alias ojek. Di Pulau Moyo tak ada mobil apalagi jalan raya. Yang ada sepeda motor, jalan seadanya, berbatu, dan (siap-siap) kering saat musim kemarau.

Selama menuju Diwu Mbai, tak selamanya Anda duduk di motor. Ada kalanya Anda harus turun (demi keamanan) karena motor menyeberangi kali. Perjalanan dari Labuhan Aji menuju air terjun Diwu Mbai sekitar 10 menit. Tiba di Diwu Mbai, Anda akan disambut kegembiraan anak-anak kampung bermain tali, berayun-ayun dan akhirnya menceburkan diri di kali. Seru! Anda berminat, silakan mencoba…

Sekitar 2 jam di tempat ini, saatnya balik ke penginapan untuk makan siang. Makanan selama Anda di Pulau Moyo adalah ikan laut yang masih segar dan baru dimasak. “Makan di sini, setiap hari menunya ikan laut,” kata Widijatmoko, akrab dipanggil Erick, pengelola http://www.pulaumoyo.com.

Seusai makan siang, perjalanan dilanjutkan menuju mata air berikutnya, yakni Mata Jitu di Dusun Brang Kua. Perjalanan tetap menggunakan ojek dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Kondisi jalan menuju Mata Jitu berbatu, penuh tanjakan, dan berdebu. Memasuki hutan, Anda harus turun dan berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Mata Jitu.

Mata Jitu lebih alami dari Diwu Mbai. Pasalnya tidak diizinkan mandi di air terjun ini. Menurut Erick, ini merupakan kesepakatan antara pihak Amanwana Resort dengan penduduk di Moyo. Cobalah basahi tangan dan basuhlah wajah Anda dengan air terjun ini. Sungguh segar. Asal Anda tahu, di air terjun Mata Jitu inilah mendiang Putri Diana menyempatkan diri berendam dan mandi ketika berkunjung ke Moyo. Tak heran kalau Mata Jitu disebut juga sebagai Queen Waterfall.

Puas di Mata Jitu, saatnya kembali ke Labuhan Aji. Sore pun tiba. Jika suka snorkeling, Anda akan diajak Erick ke Takat Sagele, sebuah pulau karang mungil yang letaknya tak jauh dari Labuhan Aji. Butuh waktu 15-20 menit menyeberang dengan perahu. Silakan snorkeling sepuasnya sambil menikmati sunset di Takat Sagele. Sebelum hari mulai gelap, saatnya kembali ke penginapan. Mengisi malam hari, charge-lah HP atau kamera serta laptop karena listrik di Pulau Moyo hanya berfungsi pada malam hari. Istirahatlah dengan nyaman sambil menikmati desiran angin laut.

Hari Ketiga
Pagi menjelang. Matahari memancarkan sinarnya. Jika Anda berada di Moyo pada hari Kamis, berbahagialah karena Anda bisa menyaksikan kehidupan warga di pagi hari yang siap-siap menyeberang ke Sumbawa. Pihak Amanwana menyediakan kapal gratis bagi warga Moyo yang ingin bepergian ke Sumbawa. Kapal gratis tersebut mampu mengangkut sekitar 50 penumpang. Kalau bukan warga lokal, dikenakan ongkos Rp 20.000. Namun, penyeberangan gratis itu hanya disediakan setiap Kamis saja.

Setelah sarapan, saatnya kembali ke Sumbawa. Kapal akan melaju menyusuri Amanwana Resort, pantai Brang Sedo, Poto Jarum, Raja Sua, Ai Manis, dan Tanjung Pasir. Keseluruhan pantai-pantai ini berpasir putih dan dengan pemandangan bawah laut yang menawan. Terkadang terlihat kapal phinisi mengantarkan rombongan turis asing ke Moyo setelah kembali dari Labuan Bajo di Manggarai Barat (Flores). Mereka singgah ke Moyo sebelum melanjutkan perjalanan ke Gili Trawangan (Lombok). Tiba di Tanjung Pasir, silakan snorkeling di sini sebelum kapal melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa. Sore hari kapal merapat di pantai Kencana Beach Cottages. Badan Anda tentu letih dan basah dengan air laut.

Hari Keempat
Usai sarapan, segera kemasi barang Anda dan siap-siap menuju Kota Sumbawa Besar untuk kembali ke Pulau Lombok. Sebelum menuju Bandara Sultan Kaharuddin, masih ada waktu untuk mampir ke Istana Dalam Loka di Kota Sumbawa Besar. Istana Dalam loka merupakan Istana Kesultanan Sumbawa pada masa Sultan Jalaluddin III yang dibangun pada tahun 1885.

Istana ini berarsitektur rumah panggung yang terbuat dari kayu jati pilihan dengan setiap detail bentuk, jumlah, letak, ukuran, dan ornamen-ornamen bagian dalamnya merupakan simbolisasi ajaran Agama Islam. Seusai berfoto-foto di sini singgahi pula Rumah Bala Kuning. Rumah ini merupakan rumah kediaman Sultan Muhammad Kaharuddin IV yang dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa ke-17 pada 5 April 2011. Di bala ini tersimpan benda-benda pusaka Kesultanan Sumbawa, seperti mahkota, pakaian kebesaran Sultan, keris, pedang, tombak, dan benda-benda pusaka lainnya yang terbuat dari emas dan perak.

Lantas bagaimana mengenai oleh-oleh atau cenderamata? Saat ini masih sulit mencari oleh-oleh khas Sumbawa di satu tempat atau toko suvenir. Bila suka madu asli Sumbawa, Anda bisa membelinya di Pulau Moyo. Harga per botol Rp 80.000. Kalau Anda menyukai tenun khas Sumbawa bisa diperoleh di Desa Pamulung, Kecamatan Labuhan Badas, sekitar 25 menit perjalanan dari Sumbawa Besar. Harga kain sarung sekitar Rp 300.000 dan syal Rp 100.000. Puas mendapatkan oleh-oleh khas Sumbawa, saatnya untuk segera menuju bandara.

Menurut Erick, pihaknya menawarkan paket 4 hari 3 malam untuk berlibur di Moyo dan Sumbawa Besar. Untuk paket tersebut, dia menetapkan tarif Rp 1,8 juta per orang dan minimal 4 orang. “Tarif tersebut berlaku untuk wisatawan yang berangkat dari Lombok menggunakan pesawat. Tarif itu sudah termasuk transportasi pesawat Lombok-Sumbawa (pp), dua malam menginap di Sumbawa Besar, dan semalam (menginap) di Moyo, ke air terjun, Takat Sagele dan city tour di Sumbawa Besar,” katanya seraya menambahkan bulan Desember sampai Maret tidak ada penyeberangan ke Pulau Moyo karena gelombang tidak bersahabat.

Berkat bantuan Widijatmoko — akrab disapa Erick — yang membangun web pulaumoyo com ke Pulau Moyo melalui pantai di Kenanga Beach Cottage, Rabu (16/10/2013). Pukul 07.00 suara mesin kapal memecah kesunyian pagi dan melaju mengarah ke timur menuju Moyo. Matahari pagi pun turut mengiringi kapal mengarungi lautan ke pulau yang dikenal sepi dan hening itu.

Selama ini warga Pulau Moyo menyeberang ke Sumbawa menggunakan kapal berdaya tampung 50 orang yang disumbangkan Amanwana Resort. Bagi warga Moyo tidak dikenakan biaya alias gratis menuju Sumbawa di mana jadwal penyeberangan setiap seminggu sekali yakni Kamis. Namun untuk penumpang umum dikenakan biaya Rp 15.000. Biasanya kapal inilah yang digunakan wisatawan atau backpackers untuk mengenal lebih dekat keindahan Moyo.

Labuhan Aji di Pulau Moyo adalah pelabuhan bagi kapal yang mengangkut penduduk Moyo dan wisatawan. Selama di Moyo, pilihan wisatawan menginap bisa di rumah penduduk atau penginapan sederhana. Kompas.com sempat menginap di penginapan milik Pak Syukur dengan tarif per malam Rp 150.000. “Itu sudah termasuk makan tiga kali sehari,” kata Erick. Kebanyakan rumah-rumah penduduk di Moyo berada di dekat pantai. Kediaman mereka berbentuk rumah panggung. Listrik di Desa Labuhan Aji hanya berfungsi di malam hari saja. Di Labuhan Aji hanya ada satu Sekolah Dasar (SD).

Selama berada di Pulau Moyo, wisatawan harus bersiap-siap menghadapi cuaca yang panas terik dan kondisi jalan yang tidak rata dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Jangan bermimpi menemukan mobil di Moyo. Pasalnya Moyo “menjual” keaslian alam dan kesunyian kepada wisatawan. Selain keindahan bawah laut yang memesona, Pulau Moyo juga menawarkan keindahan air terjun yang masih alami yakni Diwu Mbai dan Mata Jitu. Untuk menuju air terjun Diwu Mbai
dari Labuhan Aji, satu-satunya angkutan adalah ojek dengan tarif Rp 25.000. Tiba di lokasi air terjun pengunjung dikenakan karcis masuk sebesar Rp 10.000. Air terjun Diwu Mbai sehari-hari selalu diramaikan anak-anak penduduk sekitar. Mereka bercanda ria, berayun-ayun dengan tali yang diikat di sebatang pohon sambil melompat ke air yang mengalir jernih. Sungguh bahagia melihat keceriaan mereka.

Kalau Anda ingin melihat air terjun dengan ketinggian melebihi Diwu Mbai serta kejernihan airnya yang benar-benar wah, keluarkan uang Rp 60.000 untuk menyewa ojek menuju Mata Jitu. Menuju Mata Jitu, dibutuhkan kehati-hatian karena jalan tanah dan menanjak. Panas terik membuat debu-debu beterbangan sehingga jarak antar satu ojek dengan ojek lain tidak terlalu berdekatan untuk menghindari debu di siang bolong.

Perjalanan selama 30 menit dari Labuhan Aji dan jalan yang kurang bersahabat seketika terbayar saat Anda tiba di Mata Jitu. Untuk menuju air terjun ini harus dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sekitar 5-10 menit menerobos hutan. Sampai di air terjun Mata Jitu, Anda akan dibuat terpesona oleh keindahannya. Airnya sungguh jernih, bebas polusi. Tak salah bila mendiang Putri Diana saat mengunjungi Moyo menyempatkan diri mandi dan merasakan kesejukan air terjun di tengah hutan belantara ini.

Usai mengunjungi kedua air terjun, tanpa terasa matahari mulai condong ke barat. Sempatkan waktu mengisi sore hari dengan snorkeling dan menikmati matahari terbenam (sunset) di Takat Sagele sekitar 1 kilometer sebelah barat Labuhan Aji. Anda harus menggunakan perahu menuju pulau mungil yang dipenuhi karang ini. Jika berbicara mengenai pantai, ada banyak pilihan pantai eksotis di Moyo. Anda bisa ke Raja Sua, Ai Manis atau Tanjung Pasir.

Untuk berlibur di Pulau Moyo selama 3 hari 2 malam, Erick membuat paket tur di mana wisatawan mengeluarkan biaya sebesar Rp 1,8 juta per orang. Paket ini sudah termasuk pesawat Lombok-Sumbawa (pp), menginap semalam di Sumbawa, menyeberang ke Moyo, mengunjungi air terjun Diwu Mbai dan Mata Jitu, snorkeling di Takat Sagele, menginap di Moyo serta city tour di Kota Sumbawa. “Saat balik ke Sumbawa, wisatawan diajak mampir dahulu di Tanjung Pasir untuk snorkeling sekitar sejam. Tapi jumlah peserta minimal harus 4 orang,” kata Erick.

BERWISATA ke Pulau Moyo di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat memang beda. Di Moyo, jangan berangan-angan menemukan mobil. Satu-satunya angkutan yang ada di pulau seluas 32.044,86 hektare ini hanyalah sepeda motor. Listrik pun hanya berfungsi di malam hari.

Nama Moyo dikenal sejak Amanwana Resort, sebuah penginapan mewah di pinggir pantai dengan bangunan berbentuk tenda, beroperasi. Suka atau tidak, nama Moyo memang identik dengan Amanwana. Akibatnya berwisata ke Pulau Moyo termasuk kategori mahal. Jangankan untuk menarik minat wisatawan nusantara, wisatawan asal Pulau Sumbawa pun banyak yang belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Moyo.

Persoalan mendasar adalah masalah transportasi laut dari Sumbawa ke Moyo. Sampai saat ini sulit mencari kepastian jadwal penyeberangan kapal Moyo-Sumbawa. Untuk menuju Kota Sumbawa Besar melalui transportasi udara, tersedia penerbangan Lombok-Sumbawa. Tercatat baru dua maskapai penerbangan melayani Lombok-Sumbawa yakni Merpati Nusantara Airlines dan Trans Nusa.

Wisatawan yang menginap di Amanwana jelaslah turis berkantung tebal. Pasalnya Amanwana memiliki kapal dan dermaga khusus untuk menjemput tamunya. Tamu yang datang bisa lewat laut atau lewat udara. Tergantung permintaan tamu dan biaya yang dikeluarkan. Tak heran kalau mendiang Putri Diana pernah tinggal selama tiga hari di Moyo. Demikian juga musisi Mick Jagger, serta mantan kiper nasional Belanda dan mantan kiper Manchester United, Edwin van der Sar.

Meskipun terkendala masalah transportasi, perlahan-lahan nama Moyo mulai dikenal wisatawan domestik dan para biro perjalanan pun menawarkan paket wisata ke pulau nan eksotis di utara Sumbawa ini.Pulau Moyo tetap diburu wisatawan untuk berpelesir menikmati panorama pasir putih dan keindahan bawah lautnya. Selain pantai, Pulau Moyo ternyata menyimpan obyek wisata air terjun yang sangat indah dan digandrungi turis asing.

Pulau berpenduduk 1.944 jiwa (sensus 2010) ini memiliki obyek wisata air terjun yang tak jauh dari Labuhan Aji, nama desa yang juga sekaligus pintu masuk bagi wisatawan yang datang dari Pulau Sumbawa. Keindahan air terjun ini betul-betul alami. Namanya air terjun Diwu Mbai dan Mata Jitu.

Untuk menuju air terjun Diwu Mbai di Dusun Brang Rea ada dua pilihan, jalan kaki atau naik ojek. Kamis (17/10/2013), rombongan turis asing yang menggunakan kapal phinisi ke Moyo lebih memilih berjalan kaki ke air terjun yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Labuhan Aji. Kalau Anda tak mau capek berjalan di panas terik, sewalah ojek yang mangkal tak jauh dari Labuhan Aji dengan tarif Rp 25.000. Lama perjalanan sekitar 15 menit.

Tidak semua kondisi jalan menuju air terjun Diwu Mbai terbilang mulus. Setelah melewati perkampungan, jalanan berupa tanah dan sekali-kali (lebih aman) turun dari motor karena melewati sungai. Setelah melewati sungai, perjalanan dilanjutkan kembali dengan naik ojek. Tanda-tanda sudah sampai ke Diwu Mbai adalah saat sepeda motor memasuki hutan dan terhalang sungai. Untuk lebih amannya kita disarankan berjalan kaki menuju air terjun tersebut.

Mendekati air terjun Dwu Mbai, terdengar suara canda anak-anak. Ternyata anak-anak tersebut asyik bergelantungan di seutas tali yang digantungkan di pohon. Mereka berayun-ayun bak tarzan dan terjun ke sungai yang berair jernih. Sepertinya anak-anak tersebut sudah piawai bergelantungan dan berlari di batu tanpa khawatir tergelincir. Hanya sayang sekeliling lokasi air terjun dipenuhi sampah plastik minuman kemasan. Padahal Diwu Mbai sangat layak “dijual” kepada wisatawan yang ingin mereguk keindahan alam Moyo selain keindahan pantainya.

Air terjun satu lagi adalah Mata Jitu. Dari Labuhan Aji menuju Mata Jitu berjarak sekitar 4 kilometer dan membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan ojek dengan tarif Rp 60.000. Sama dengan perjalanan ke Diwu Mbai, menuju Mata Jitu kondisi jalan lebih ekstrem lagi, penuh tanjakan, tidak beraspal, batu berserakan, dan satu lagi debu…

Namun bagi pengendara ojek, karena sudah pengalaman, mereka tak terlihat kesulitan mengendarai motor melewati tanjakan yang penuh debu. Kadang-kadang pengendara ojek meliuk-liuk melewati jalanan di tengah teriknya sinar matahari. Yang dibonceng pun otomatis mengikuti irama tubuh si pengendara. Untuk menghindari debu, maka jarak satu ojek dengan ojek lain diatur agak tidak terlalu dekat.

Setelah melewati tanjakan dan jalan berbatu selama 30 menit, sampailah motor di tepi hutan. Tak sabar melihat Mata Jitu, Akhmad Zulfikri, Humas Merpati Nusantara Airlines cepat-cepat turun dari motor dan berjalan memasuki hutan. Untuk mencapai air terjun Mata Jitu di Dusun Brang Kua ini, pengunjung diharuskan berjalan kaki. Sepeda motor dilarang memasuki lokasi air terjun.

Perjalanan memasuki hutan sekitar 5-10 menit sungguh mengasyikkan. Berjalan di bawah pepohonan rindang membuat perjalanan tanpa terasa sudah mendekati air terjun Mata Jitu. “Itu air terjun Mata Jitu,” kata Erick alias M Widijatmoko, pengelola http://www.pulaumoyo.com yang mengantarkan kami selama berada di Pulau Moyo.

Suara air terjun terdengar jelas. Langkah kami pun semakin bersemangat mendekati lokasi yang dimaksud Erick. Wow… air terjun Mata Jitu lebih tinggi dari Diwu Mbai dan lebih sepi. Airnya terlihat kehijau-hijauan dan sangat jernih. Air terjun bertingkat-tingkat nan indah ini memiliki kolam dengan airnya yang jernih dan bebas polusi. Daun-daun kering memenuhi kolam yang ada di tengah hutan belantara ini. Kami lantas turun berjalan setapak untuk mendekati salah satu kolam. Membasuh wajah dengan air ini betapa sejuk airnya. “Di sini ada kesepakatan antara masyarakat dengan pihak Amanwana bahwa dilarang mandi di kolam ini. Kalau mau mandi, ada di atas sana,” kata Erick sambil menunjuk ke atas di mana aliran air meluncur deras.

Kami pun penasaran dan melanjutkan perjalanan mendekati guyuran air terjun tersebut. Memang, suasana sekitar terlihat sepi, tidak ada penduduk yang mandi seperti di Diwu Mbai. Begitu indahnya Mata Jitu. Derasnya air langsung jatuh dan buihnya memencar di kolam. Tak salah kalau mendiang Putri Diana menyempatkan diri mandi di air terjun Mata Jitu. “Bahkan ada yang menamakannya Queen Waterfall,” kata Erick.

Kebersihan di air terjun mata Jitu terlihat lebih terjaga. Mungkin benar apa yang dikatakan Erick, larangan mandi di sini benar-benar ditaati sehingga sampah-sampah plastik tidak terlihat. Sungguh suatu aset yang berharga bila keaslian air terjun Mata Jitu di Moyo tetap terpelihara sehingga mampu menarik banyak wisatawan untuk datang menikmati keindahan alam ini.

Festival Moyo 2013 sebagai salah satu kampanye program pariwisata di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, mulai digelar pemerintah setempat, dan akan berakhir 29 September 2013. “Festival Moyo 2013 baru saja dibuka oleh Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin,” kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) NTB, H Lalu Moh Faozal yang dihubungi dari Mataram, Jumat (20/9/2013). Dia mengatakan bahwa Festival Moyo 2013 merupakan kegiatan kedua atau lanjutan dari kegiatan pertama yang digelar Oktober 2012. Festival Moyo merupakan salah satu program kampanye pariwisata Pulau Sumbawa dengan slogan “Go Sumbawa”.

Pada acara itu ditampilkan berbagai kegiatan menarik, seperti berburu di Pulau Moyo, pemecahan rekor dunia menyelam terlama dan melibatkan sejumlah besar penyelam, dan ada kegiatan unik menggiring kerbau dari laut ke padang rumput. Selain itu, digelar karapan kerbau, balap kuda, kerbau hias, triathlon, lomba memancing, dan penanaman terumbu karang di Teluk Saleh. Festival tersebut juga akan dimeriahkan Parade Budaya yang menampilkan berbagai warisan seni dan budaya masyarakat adat Sumbawa.Juga diagendakan kontes putra dan putri pariwisata Sumbawa, selain sebagai wadah memperkenalkan berbagai sektor bisnis dan peluang investasi di Pulau Sumbawa.

Pulau Moyo terletak sekitar 3 kilometer di lepas pantai utara Sumbawa. Pulau Moyo dikelilingi terumbu karang alami yang ideal untuk snorkeling, berenang dengan hiu putih, menyelam bersama ikan pari, dan pemandangan gerombolan ikan tropis. Sepertiga daratan Pulau Moyo merupakan cagar alam yang dihuni berbagai satwa liar seperti rusa, sapi liar, dan berbagai jenis burung mulai bangau besar, brahmini hingga elang laut putih. Di Pulau Sumbawa juga terdapat Gunung Tambora yang terkenal dengan letusan yang melegenda, dan tidak jauh dari Pantai Lakey yang merupakan salah satu tempat terbaik untuk menjajal ombak dengan papan selancar.

“Tahun ini diupayakan lebih meriah karena merupakan momentum untuk memperkenalkan program Tambora Menyapa Dunia 1815-2015,” ujar Faozal. Kini, Pemerintah Provinsi NTB tengah memantapkan pelaksanaan program Tambora Menyapa Dunia 1815-2015 atau peringatan dua abad meletusnya Gunung Berapi Tambora, yang puncak peringatannya diagendakan 11 April 2015.

Peluncuran program Tambora Menyapa Dunia 1815-2015 sudah dilakukan Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, pada Upacara Peringatan Hari Jadi Ke-198 Pemerintah Kabupaten Dompu 11 April 2013 yang digelar di halaman Kantor Bupati Dompu. Program tersebut dihajatkan sebagai pengungkit kepariwisataan NTB yang kini telah dikenal dunia internasional. Pada tanggal 16 Juni 2013, launching program Tambora Menyapa Dunia 1815-2015 dilakukan di Gedung Sapta Pesona Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) di Jakarta.

“Saat launching itu, Menparekraf Mari Elka Pangestu menyatakan mendukung sepenuhnya pengembangan NTB sebagai sebagai salah satu dari 16 daerah destinasi unggulan pariwisata nasional,” ujarnya. Keindahan pulau Moyo tak diragukan lagi. Jumlah kunjungan ke kawasan wisata ini pun melonjak naik. Jika Anda berminat untuk menikmati alam Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ada beberapa alternatif pilihan transportasi yang bisa digunakan.

Bila menggunakan jalur darat kita bisa menggunakan mobil sewaan dengan memulai perjalanan dari Mataram. Rute yang akan ditempuh adalah Mataram – Pelabuhan Kayangan Lombok dengan waktu tempuh 2 jam. Selanjutnya kita menyeberang ke Pelabuhan Poto Nano Sumbawa Barat dengan waktu tempuh sekitar 1 – 2 jam. Sesampainya di Poto Nano, perjalanan darat kembali dilakukan menuju Sumbawa Besar dengan durasi tempuh 2 jam.

Alternatif transportasi kedua adalah dengan menggunakan jalur udara. Jika berminat Anda bisa menumpang maskapai penerbangan yang melayani rute Mataram – Sumbawa Besar dengan menggunakan pesawat Fokker 50. Jadwal terbangnya setiap Selasa dan Jumat dengan waktu tempuh sekitar 35 menit.

Sumbawa Besar menuju Pulau Moyo dilakukan dengan menyeberang dari Pelabuhan Muara Kali. Transportasi yang bisa kita gunakan adalah kapal rakyat yang tiba dari Moyo pukul 09.00 pagi dan berangkat lagi pada 11.30 siang. Kapal motor ini bertarif mulai Rp. 20 ribu – Rp. 25 ribu per orang. Kapal ini akan membawa kita mengarungi perairan selama 2 jam.

Oleh karena jadwal keberangkatannya satu kali setiap hari, sehingga Anda harus menunggu keesokan harinya untuk kembali ke Sumbawa. Atau jika tak mau menginap, kita bisa menyewa perahu motor nelayan setempat dengan traif Rp. 400 ribu hingga Rp. 600 ribu. Nah jika waktu Anda tak banyak, rogoh kocek lebih dalam untuk menyewa speed boat milik swasta dengan tarif Rp. 3 juta untuk rute Pulau Moyo – Sumbawa PP dengan waktu tempuh 30 menit sekali jalan. Kapal motor cepat ini bisa kita gunakan untuk mengelilingi Pulau Moyo seharian penuh.

Pulau Moyo terletak di 2,5 km di sebelah utara pulau Sumbawa. Ia memiliki luas 350 km persegi dengan ketinggian maksimum 671 meter serta garis pantai 88 km. Dengan kondisi ini, maka kita butuh waktu yang cukup banyak untk melihat kemolekan seluruh kawasan. Berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan kawasan ini menjadi Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo dan Taman Buru Pulau Moyo sejak tanggal 24 Desember 1986.

Tempat ini kendati tersembunyi dan sunyi namun sudah cukup populer di kalangan wisatawan mancanegara. Terbukti mendiang Lady Diana dan Pangeran William dari Belanda pernah merasakan nikmatnya liburan di pulau ini. Mick Jagger dan mantan kiper Manchester United, Edwin van der Sar juga pernah berlibur disini.

Ada 6 dusun yang menghuni Pulau Moyo yakni Labuan Aji, Brang Rea, Sibatok, Brang Kua, Sitema dan Patedong. Sedangkan destinasi wisata yang bisa kita kunjungi adalah Tanjung Pasir, Ai Manis, air terjun Mata Jitu, Poto Jarum, spot-spot diving, Brang Sedo, Diwu Mbai dan Takat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s