Mitos Patung Dirgantara Pancoran dan Soekarno Serta Desainernya Yang Belum Dibayar


Sosok lelaki berotot kekar dengan tangan terulur ke depan seolah menunjuk ke sebuah arah, akan terlihat jelas setiap orang melintasi jembatan layang di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Berbalut awan putih atau langit senja, sosok setinggi 11 meter itu dengan tiang penyangga menjulang 27 meter tersebut, menjadi pemandangan yang sejenak mengalihkan perhatian dari sesaknya jalanan di kawasan ini. Orang-orang menyebutnya Patung Pancoran.

“Nama aslinya adalah patung Dirgantara,” kata Hubertus Sadirin, ahli konservatori dari Balai Konservasi Dinas Pariwisata, Sabtu (6/9/2014). Patung ini dibuat oleh pematung Indonesia, Edhi Sunarso, pada 1964-1965.

Dibangun pada era pemerintahan Presiden Soekarno, papar Sadirin, patung ini dibangun untuk menunjukkan kekuatan, kepemimpinan, dan kemegahan Indonesia di udara, di dirgantara. Bila cermat diamati, lanjut dia, lokasi patung ini berada tepat di depan Markas Besar Angkatan Udara.

Pose Bung Karno
Namun, pembuatan patung tersebut juga melibatkan antara lain keluarga Arca Yogyakarta, perusahaan Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono, dan PN Hutama Karya dengan Sutami sebagai arsitek pelaksana. “Model patung ini adalah Bung Karno (Soekarno, red). Beliau memeragakan pose-nya. Namun, wajah patungnya adalah Pak Edhi,” tutur Sadirin.

Patung Pancoran dibuat dengan bahan perunggu. Adapun tiang penyangganya berbahan beton. Total bobot patung ini mencapai 11 ton. Dengan bahan tersebut, biaya pembuatannya pun tak murah tetapi Sadirin tak bisa menyebutkan nominal biaya yang tepat.

Sekalipun memiliki filosofi dan makna yang positif serta harapan tinggi akan kedirgantaraan Indonesia, proses penyelesaian patung sempat terkendala peristiwa G30S pada 1965. Apalagi, saat itu kondisi kesehatan Bung Karno juga terus menurun. “Ini adalah patung terakhir yang digagas ide cemerlang dan idealisme Bung Karno.”

Mitos ujung jari
Beragam mitos pun membalut patung ini, salah satunya adalah mitos ujung jari. Patung ini berdiri menghadap utara. Jarinya pun menunjuk ke arah yang jauh. Arah jari menunjuk tersebut diyakini oleh sebagian kalangan sebagai penunjuk lokasi kekayaan rahasia milik Bung Karno. Namun, kalangan lain berpendapat arah telunjuk itu mengarah ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ada pula yang berpendapat ujung jari ini merupakan perlambang sapaan dan sambutan bagi orang-orang yang baru tiba di Jakarta melalui Bandara Halim Perdana Kusuma.”Mitos itu bukan berdasar kajian ilmiah,” tegas Sadirin. “Pak Edhi sendiri sempat cerita kalau tidak ada indikasi seperti itu. Patung ini kan adanya di belakang markas AU jadi ya gambarannya untuk memimpin penerbangan Indonesia agar lebih maju,” papar dia.

Patung yang tak rampung
Sadirin mengungkap satu hal lagi yang tak banyak diketahui publik. “Patung ini sebenarnya belum jadi. Sampai sekarang.”Bila dilihat dari kejauhan, kata Sadirin, patung ini seolah sudah sempurna dan tak beda dengan patung karya Edhi lainnya. Patung lain itu antara lain patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Namun, lanjut Sadirin, bila diamati lebih dekat, patung Pancoran akan terlihat permukaannya masih kasar dan kentara banyak tambalan las penyambung satu bagian dengan bagian lain.”Dulu, ketika membuat patungnya, pak Edhi mengumpulkan semua barang-barang yang terbuat dari perunggu kemudian dilebur, dan beberapa bagian lainnya disambung. Makanya kesannya jadi kasar,” papar Sadirin.

Meski menyebut patung itu belum rampung, Sadirin mengatakan tak ada rencana untuk merampungkan patung itu. “Karena dari awal sudah begini maka kami hanya menjaga cagar budaya ini sesuai bentuk aslinya,” kata dia.Selain belum rampung, patung yang satu ini juga ternyata tak pernah diresmikan. Saat patung sudah berbentuk seperti sekarang, Bung Karno telah meninggal.

“Rencananya, setelah patung dibersihkan, kami akan membuat laporan sekaligus mengajukan gagasan untuk meresmikan patungnya,” kata Sadirin. “Ini kan benda cagar budaya. Jadi akan lebih baik kalau diresmikan.”Ada aktivitas tak biasa di Patung Pancoran, sejak bulan Agustus lalu, Patung Dirgantara alias Patung Pancoran sedang “dimandikan’. Tiang-tiang besi, karet karet pengikat, jaring (paranet), tangga besi ada di atas patung setinggi 11 meter dengan tinggi tiang penyangga 27 meter.

Jika “beruntung” Anda bisa melihat beberapa pria berseragam oranye bergelantungan untuk bisa mencapai ke atas patung. Mirip seperti akrobat di udara. “Semua pemanjat ini semua ahli dan sudah bersertifikat dari Garuda Nusantara,” kata Andia Sumarno, Humas Pelaksanaan Konservasi Patung Dirgantara kepada Kompas.com, Jumat (5/9/2014).

Dalam sebuah ruangan dadakan sederhana bertutup terpal dan beralas tikar yang tepat berada di bawah patung, Andia dan tujuh orang pemanjatnya tengah beristirahat. Sekalipun terlihat lelah, namun mereka masih tetap bersemangat dan ceria. Sesekali gurauan pun dilontarkan satu sama lain. “Sekarang ini lagi istirahat. Nanti mulai lagi jam 20.00 atau 21.00 WIB. Kalau pagi mulainya jam 10.00, setelah orang kantor berangkat, dan berhenti sebelum orang kantor pulang. Lanjut lagi malamnya,” ujarnya.

Penyesuaian jam kerja ini bukan dilakukan tanpa perhitungan. Pria berambut putih ini menuturkan jam ini dipilih dengan pertimbangan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja. Tak dimungkiri, setiap pagi dan sore hari, kawasan ini selalu dipadati dengan kendaraan yang lalu lalang. Bahkan setiap harinya, baik di jalan protokol maupun flyover selalu terjadi kemacetan parah. Kemacetan ini menjadi salah satu penghambat pekerjaan bersih-bersih Andria dan tim-nya.

“Kami sangat mengutamakan safety. makanya semua konstruksi dibuat tengah malam dan dipasang paranet. Tujuannya biar kalau pas lagi dibersihkan, tidak ada benda-benda yang jatuh dan menimpa mobil. Nah, kalau lagi macet kan bisa lebih bahaya di fly over. Jadinya, cari waktu yang jalannya agak sepi untuk menghindari kecelakaan,” ujarnya.

Ia mengatakan, dibanding patung-patung lainnya yang sudah dibersihkan sebelumnya, yaitu Patung Selamat Datang (HI), Pembebasan Irian Barat (Lapangan Banteng), Tugu Tani (Senen), Arjuna Wiwaha (Medan Merdeka), dan Pemuda Pembangun (Senayan), patung inilah yang memiliki tingkat kesulitan paling tinggi. Ini semua terjadi karena lokasinya yang ada di ruang publik.

“Kalau patung yang lain itu lokasinya lebih aman, ada yang di lapangan, atau yang ada kolamnya. Kalau ini langsung jalan raya, lalu ada flyovernya juga, jadi lebih berisiko,” paparnya. Bagai bermata dua, lokasi patung di ruang publik ini memang menyulitkan, namun lokasinya di tengah jalan ini ternyata memancing rasa ingin tahu banyak orang. Andia mengungkapkan, ada banyak orang yang mengapresiasi proses pembersihan ini.

“Alhamdulilah nggak ada yang protes, karena ini kan tujuannya baik untuk melindungi cagar budaya. Malahan, banyak orang yang dari halte Trans Jakarta itu foto-foto patungnya waktu dibersihkan,” paparnya diiringi tawa.Hari sudah menjelang tengah malam, kira-kira pukul 23.40 WIB, ketika tujuh lelaki bersiap memanjat Patung Pancoran di Jakarta Selatan, Senin (18/8/2014). Mereka adalah para pekerja PT Dua Puteri Anugerah yang hendak membersihkan patung itu.

Berpakaian serba oranye, berperlengkapan helm kuning dan sepatu bot, mereka menaiki tangga kecil yang khusus dibuat untuk memanjat patung setinggi 27 meter itu.Rudi adalah pekerja pertama yang naik. Menyalakan lampu LED di alas patung, menjadi hal pertama yang dia lakukan, setiba dia di atas tonggak melengkung penyangga patung yang sejatinya bernama Patung Dirgantara itu.

Setelah lima orang berada di tempat yang sama, Rudi memberi aba-aba kepada Agis dan Asep yang tinggal di bawah, untuk menyiapkan plafond cross yang dikaitkan pada sebuah tali. Setelah Agis memberi aba-aba siap, Ajis yang berada di atas menarik dengan hati-hati benda tersebut.“Kami sudah seminggu di sini. Biasa mulai kerjanya malam hari,” ujar Agis. Bersama teman-temannya, lelaki asal Bogor ini sudah tinggal di tenda di bawah patung buatan 1965 tersebut selama sepekan terakhir.

Keindahan Jakarta dari puncak Patung Pancoran
Agis kemudian bercerita mengenai pengalamannya berada di puncak Patung Pancoran. Hiruk-pikuk jalanan dan kota Jakarta, adalah jeda yang menghibur mata dari ketinggian di sana. “Jakarta dari atas sangat indah, apalagai pada malam hari,” tutur Agis. Apalagi, kata dia, ketika pemandangan itu ditingkahi terang lampu dari gedung-gedung pencakar langit di Jakarta.

Membersihkan patung Pancoran, kata Agis, bukan pekerjaan enteng. Badan patung setinggi 11 meter itu harus dibersihkan dengan cermat, tanpa mereka boleh lengah menjaga keselamatan. Bahan pembersih yang mereka pakai adalah air jeruk nipis dan alkali gliserol. “Memang harus fokus kerja. Kalau sudah capek, bisa lihat-lihat Jakarta untuk sedikit ambil napas,” imbuh Agis sembari tersenyum.

Dody, teman Agis, turut menimpali percakapan pada tengah malam ini. “Kami mulai kerja jam 11 malam sampai 10 pagi,” ujar dia. Seperti halnya Agis, Dody pun mengatakan bekerja di puncak patung Pancoran memberikan sensasi tersendiri. “Kalau pagi di sini sangat indah. Kami bisa lihat pemandangan Jakarta sebelum matahari terbit,” ujar dia. Ketujuh lelaki ini tak bisa memastikan kapan pekerjaan dari Balai Konservasi DKI Jakarta tersebut rampung. “Enggak tahu kapan selesainya. Kami masih terus bekerja di sini sampai patungnya bersih,” kata Dody.

Patung Dirgantara atau yang dikenal dengan sebutan Patung Pancoran ini dibangun pada 1965. Patung dengan berat 11 ton ini akan dimandikan pekan ini setelah seminggu pengerjaan tangga dan pemasangan saluran pembuangan limbah di atas Patung Pancoran. Tim Konservasi Cagar Budaya bersama Balai Konservasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta berangkat menuju kediaman seniman patung asal Yogyakarta, Edhi Sunarso, di Desa Jombor, Sleman, Yogyakarta, Jumat (22/8/2014) ini. Edhi adalah desainer Patung Dirgantara atau yang lebih dikenal sebagai Patung Pancoran.

Koordinator Pelaksana Pencucian Patung Pancoran, Budi Kasih, mengatakan, tim menemui Edhi Sunarso (76) karena mengalami kendala dalam proses pembersihan yang dilakukan saat ini.Sebab, kata dia, konstruksi Patung Pancoran itu dalam kondisi memprihatinkan. Kerusakan dan keropos akibat korosi terlihat pada beberapa bagian patung yang tersebar di antaranya pada bagian kepala, bahu, tangan, syal, dan bagian kaki.

“Karena data minim, kami coba cari tahu desainer aslinya, alhamdulillah tim kami berhasil melacak dan menghubungi pihak keluarganya, katanya dia masih hidup, tapi sudah tua dan lumpuh. Karena itu, saya sama tim berangkat Jumat siang,” kata Budi.Selain mencari data konstruksi patung, tim yang dipimpinnya pun berencana menggali sejarah dan informasi mengenai awal mula pembangunan, kendala, dan tahap penyelesaian patung yang digagas pembangunannya oleh Presiden pertama RI, Ir Soekarno, pada tahun 1964 itu.

“Kami cari data soal patung Pancoran di Arsip Nasional, Kementerian Kebudayaan, sampai Wikipedia enggak ada semua. Tapi info soal Pak Edhi sendiri justru kami dapat dari beberapa orang kenalan kami. Kami mau tahu cerita soal patung ini, karena tahun produksi dan penyelesaian pembangunannya saja masih simpang siur,” ujarnya.

Tidak hanya itu, lanjutnya, berdasarkan kesaksian pihak keluarga Edhi, diketahui bahwa proses pembayaran pembangunan belum diselesaikan hingga kini. Biaya pembangunan yang mencapai total sebesar Rp 7 juta hanya dibayarkan sebesar Rp 1 juta, sedangkan sisanya menggunakan uang pribadi Edhi.

“Kami mau tahu kebenarannya, kami mau lihat bagaimana kehidupannya, kondisi keluarga, dan keadaan kesehatannya seperti apa. Karena dikabarkan kalau dia (Edhi) lumpuh karena kena stroke, komunikasi cuma dibantu istri sama anaknya,” kata dia.

Patung Tugu Pancoran atau Patung Dirgantara sudah berdiri sejak tahun 1966 di kawasan Jakarta Selatan. Walau demikian, pembuatnya, Edhi Sunarso, disebut-sebut belum memperoleh upahnya secara penuh. Hal ini terungkap dari pengakuan putri Edhi, Titiana Irawani. Namun, dia belum mengetahui berapa besar uang yang seharusnya diterima sang ayah untuk mewujudkan patung yang digagas oleh Bung Karno itu.

“Memang benar, bapak seharusnya mendapatkan haknya, tetapi enggak tahulah. Kami juga bingung. Enggak tahu harus meminta kepada siapa…,” kata Titiana, Jumat (29/8/2014) lalu.Ada yang menyebut, biaya pembuatan patung yang tengah dimandikan tersebut, pada masanya, mencapai Rp 12 juta. Namun, yang diperoleh Edhi hanya setengahnya. Sisanya belum dibayarkan oleh Pemerintah Indonesia hingga saat ini.

Ada pula yang bilang bahwa Edhi mengeluarkan biaya Rp 7 juta, tetapi hanya Rp 1,7 juta yang kembali kepadanya. Itu pun merupakan hasil penjualan mobil merek Buick milik Soekarno. Titiana, anak kedua dari empat bersaudara Edhi-Kustiyah, tidak membantah hal itu. Namun, dia tidak tahu persis berapa angka pasti biaya total pembuatan patung itu, juga berapa utang pemerintah kepada Edhi.

“Jadi memang, waktu itu patungnya belum selesai, Bung Karno keburu wafat. Bapak sampai menjual barang-barang milik pribadi. Apa yang bisa dijual ya dijual karena bapak ingin mewujudkan keinginan idealisme Bung Karno,” kata Titiana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s