5 Tempat Di Jakarta Yang Bila Parkir Sembarangan Akan Didenda 500 Ribu Rupiah


Mulai hari ini Dinas Perhubungan DKI Jakarta resmi menerapkan restribusi daerah atas kendaraan yang parkir sembarangan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Muhammad Akbar, pada tahap awal, ada lima titik yang akan ditertibkan. Kelima titik tersebut adalah Tanah Abang, Jatinegara, Marunda, Kalibata, dan Stasiun Jakarta Kota. “Untuk penertiban tahap awal, kami mulai di lima titik yang kerap dijadikan lahan parkir liar,” kata Akbar melalui keterangan tertulis, Senin, 8 September 2014.

Operasi penertiban dilakukan melalui kerja sama antara Dinas Perhubungan, Garnisun, dan kepolisian. Pemilik yang kendaraannya terjaring dalam operasi tersebut akan dikenai retribusi senilai Rp 500 ribu sebelum mendapatkan kendaraannya kembali. Penentuan jumlah retribusi, kata dia, sesuai dengan instruksi Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah.

Akbar menjelaskan, masyarakat yang kendaraannya diderek lantaran parkir sembarangan dapat mengirim pesan pendek berformat “parkir(spasi)nomor polisi kendaraan” ke nomor 085799200900. Pesan balasan berupa nomor virtual account merupakan nomor rekening tujuan pembayaran retribusi. Pembayaran retribusi dapat dilakukan di mesin anjungan tunai mandiri Bank DKI, jaringan ATM Bersama/Prima, atau teller Bank DKI. Setelah membayar, Akbar melanjutkan, pelanggar harus menyerahkan bukti pembayaran yang telah diverifikasi untuk menebus kendaraannya. “Kendaraannya tak akan dikembalikan jika tak membawa bukti pembayaran,” ujarnya.

Dengan berbekal bukti tersebut, Akbar menuturkan, pemilik kendaraan dapat mendatangi salah satu pool kendaraan milik Dinas Perhubungan di Rawa Buaya, Tanah Merdeka, atau Pulogebang. Ia menyarankan warga turut berperan aktif melaporkan lokasi-lokasi parkir liar ke nomor telepon (021) 3457471. “Semua pihak harus terlibat,” ujar Akbar.

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit, menganggap penerapan kebijakan penarikan retribusi dari pelaku parkir liar oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih terlalu dini. “Sekarang pemerintah belum menyediakan lahan parkir atau angkutan umum sebagai konsekuensi pelarangan parkir liar di badan jalan,” kata Danang ketika dihubungi, Ahad, 7 September 2014.

Danang setuju dengan kebijakan yang tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2012 tentang Retribusi Daerah tersebut. Hanya, pemerintah harus mengimbanginya dengan pengadaan lahan parkir. “Meskipun parkir merupakan tanggung jawab dari pemilik bangunan, luas lahan parkir sekarang belum cukup. Pemerintah perlu memikirkan alternatif lahan parkir lain,” ujarnya. Penertiban parkir liar dengan metode derek akan dimulai pada Senin, 8 September 2014. Uji coba akan dilakukan di lima lokasi, yaitu Tanah Abang, Kalibata City, Marunda, Beos, dan Jatinegara. Kendaraan yang terjerat bakal dikenai biaya retribusi Rp 500.000 per hari.

Sementara itu, pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan optimistis pengenaan retribusi yang besar bagi pemilik kendaraan yang sembarangan memarkir mobilnya akan efektif menekan praktek parkir liar. “Kalau dijalankan dengan konsisten, saya optimistis. Kalau hanya ancaman kosong, saya pesimistis,” katanya. Menurut dia, ketidakberhasilan pelarangan parkir liar selama ini disebabkan oleh inkonsistensi pemerintah dalam melaksanakan peraturan. “Jika sudah dikeluarkan aturannya, jangan sampai ada bocor atau negosiasi terselubung di lapangan,” ujar Azas.

Ia mengaku khawatir akan tingginya peluang penyelewengan dalam aturan tersebut. “Semakin berat sanksi dan semakin besar nominalnya, maka peluang bocor atau negosiasi di lapangan itu besar,” kata Azas.Karena itu, untuk mendukung pelaksanaan tersebut, Azas melanjutkan, diperlukan kontrol yang ketat. Kontrol tersebut dapat dilakukan melalui sistem berbasis elektronik, seperti electronic traffic law enforcement. “Kalau hanya sekadar membayar di ATM seperti sekarang, sementara pengawasannya manual, ya, akan sulit melakukan kontrol. Sebaiknya pelaksanaannya menggunakan sistem elektronik seluruhnya,” kata Azas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s