Razia Parkir Liar Dengan Denda 500 Ribu Dapat Banyak Dukungan Dari Pengendara


Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara menggelar razia parkir liar di Jalan Akses Marunda. Razia ini mengakibatkan kemacetan sekitar 2 kilometer ke arah Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran Jakarta. “Ini adalah cara supaya enggak macet lagi,” kata Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara Arifin Hamonangan di Jalan Akses Marunda, Senin, 8 September 2014. Selain karena razia, kemacetan tersebut disebabkan oleh perbaikan gorong-gorong di bahu jalan. Perbaikan itu membuat lajur kendaraan menyempit, padahal volume kendaraan cukup padat.

Proses razia ini juga menarik perhatian para pengendara motor. Beberapa di antaranya meneriakkan dukungan kepada petugas. “Dikempesin saja, Pak,” ujar seorang pengendara sepeda motor. “Kandangin saja, Pak. Biar kapok,” kata pengendara lain. Di sekitar Jalan Akses Marunda, petugas menderek satu truk kontainer ke Tanah Merdeka, lokasi khusus penampungan kendaraan yang terkena razia parkir liar. “Kami kenakan tilang uji kir dan mengecek izin usaha. Kalau dari polisi nanti juga dikenai tilang biru (tilang dengan denda maksimal),” ujar Arifin.

Pemilik truk juga harus membayar retribusi jasa penderekan sebesar Rp 500 ribu per hari dan denda tilang Rp 500 ribu. Jumlah retribusi berlipat ganda setiap hari selama truk itu belum ditebus. Dinas Perhubungan DKI Jakarta menggelar razia parkir liar di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dalam razia hari ini, Senin pagi, 8 September 2014, petugas mengangkut empat mobil yang diparkir di area terlarang.

Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Pusat, Syamsudin, mengatakan mobil yang diderek akan dibawa ke pool di Rawa Buaya, Jakarta Barat. Tak hanya menderek mobil yang diparkir di sembarang tempat, Dinas Perhubungan juga menilang pengemudi mobil yang berhenti sembarangan di bahu jalan. (Baca: Mulai Hari ini, Parkir Liar Didenda Rp 500 Ribu)

“Ada tiga mobil yang ditilang, ada pengemudinya. Kalau tidak ada pengemudinya, kendaraan langsung kami angkut,” ujar Syamsudin, Senin, 8 September 2014. Seorang pengemudi yang memarkir kendaraannya di sekitar Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Aditia Hendrawan, 36 tahun, kesal karena mobilnya diangkut petugas. “Seharusnya jangan langsung angkut, dong! Ada pemberitahuan. Ini enggak sopan sekali,” ujarnya.

Saat mobilnya diangkut, Aditia sedang berada di dalam Hotel Kempinski. Dia mengaku terbiasa parkir di pinggir jalan. Aditia menolak membayar denda sebelum mendapat penjelasan. Dia juga bingung dengan prosedur pengambilan mobilnya. “Saya harus bicara dulu dengan pihak Dishub. Saya enggak mau bayar gitu saja. Kalau peraturannya jelas, baru saya bayar,” ujar Aditia.

Mulai hari ini, pemerintah DKI memberlakukan denda sebesar Rp 500 ribu bagi mereka yang parkir sembarangan. Denda ini berlaku akumulatif. Artinya, jika pelanggar tidak mengambil mobilnya dalam satu hari, maka denda yang dikenakan akan berlipat ganda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s