Kisah Batu Konglomerat di Jabal Magnet


Di sela-sela aktivitas salat arbain di Masjid Nabawim, para jamaah haji Indonesia diajak jalan-jalan ke Jabal Magnet. Para jamaah haji terpukau dan kagum dengan kekuasaan Allah di Jabal Magnet, karena ada kisah batu konglomerat di Jabal Magnet.

Jabal Magnet adalah fenomena alam yang terkenal, berada 30 Km di utara Madinah. Dari Kota Madinah, Jabal Magnet bisa ditempuh dengan perjalanan darat selama 30 menit. Jabal Magnet hampir sama dengan gunung-gunung lain di Tanah Suci, yaitu penuh pasir dan bebatuan. Namun, fenomena magnet di sana menjadi daya tarik umat muslim yang berkunjung ke Tanah Suci.

Salah seorang jamaah haji loter 16 dari embarkasi Surabaya yang mengunjungi Jabal Magnit yang juga seorang ahli geologi berbagi kisah dengan wartawan yang memantau aktivitas jamaah di gundukan magnet raksasa ini. Dia berkisah tentang asal-usul jabal magnet yang kemungkinan besar dulunya adalah magma gunung berapi.

“Dari pengamatan sepintas, Jabal Magnet ini kemungkinan dulu produk gunung api bawah laut,” kata sang jamaah, Eddy Mahardjo, yang tak lain adalah dosen di Fakultas Teknik Geologi Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya, sembari mengamati Jabal Magnit, Minggu (14/9/2014).

Karena itu banyak sekali batuan ditemukan di jabal magnit. Batuan tersebut sangat kaya akan campuran mineral.

“Di sini banyak sekali terjadi batuan-batuan yang campur aduk dan juga batuan bekunya. Batuan beku itu ada kemungkinan mengandung mangnet besi-besinya. Jadi ada kemungkinan daya tarik mobil-mobil tadi itu karena ada magnet besi-besi yang terkandung dalam batuan,” katanya sembari menunjukkan gumpalan batu berwarna cokelat kemerah-merahan dengan kilauan putih di beberapa sisinya.

Nah dalam bahasa geologi, batuan tersebut dikenal dengan batuan konglomerat. Tentu saja tidak ada hubungannya antara nama batuan ini dengan kemampuan mistis batuan. Ini batuan kelihatan sekali campur aduk atau semacam batuan yang campuraduk menjadi satu ini namanya batuan konglomerat,” katanya.Sembari memegang batuan konglomerat, Eddy lantas menganalisis bentuk Jamal Magnet yang terpecah-pecah sampai puncaknya.

“Kemudian kalau kita lihat di tepi, ada pecah-pecah itu ada collumnar jointing. Jadi pecah-pecah karena pecah perut. Suatu proses magma menuju ke atas dan kemudian memanas mendingin sehingga dia terpecah-pecah menjadi seperti itu,” katanya. “Jadi ada kemungkinan batuan ini tercampur menjadi satu dulu terendah di bawah laut kemudian terangkat di atas,” ungkapnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s