Monthly Archives: October 2014

Demi Bayar Jasa Untuk Jadi Polwan Gadis Bali Ini Rela Ditiduri Sampai Hamil


Beberapa waktu lalu ada kasus seorang Polisi Wanita (Polwan) asal Bali berinisial GS yang ketahuan hamil padahal sedang menjalani pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN) di Mojokerto, Jawa Timur. GS mengaku hamil karena membayar jasa atas lolosnya dari tes masuk Polwan di Bali.

Informasi yang didapat dari sumber di Polda Bali, hasil pemeriksaan GS di Propam SPN Mojokerto terbukti GS sudah hamil jalan 4 bulan. “Kecurigaan awal, setelah menjalani pendidikan selama 4 bulan, terlihat ada gelagat dan postur tubuh GS yang aneh,” ujar sumber ini, Senin (20/10) di Polda Bali.

Dari hasil pemeriksaan, GS yang juga anak salah seorang PNS di Polda Bali ini mengakui telah disetubuhi oleh seorang perwira berpangkat Aiptu yang bertugas di Polres Badung, Bali. Ironisnya, hubungan intim itu dilakukan bukan lantaran suka sama suka, tetapi atas dasar balas jasa karena dianggap berhasil meloloskan dirinya lulus tes Polwan.

GS juga menyebutkan bahwa saat itu dipanggil untuk alasan pembekalan persiapan lakukan SPN di Mojokerto. “Katanya sempat ada unsur ancaman untuk mau melayani. Jika tidak mau, akan diajukan untuk coret namanya,” kata sumber ini meyakinkan.

Terkait cerita tersebut, Kapolres Badung, AKBP Komang Suartana dikonfirmasi mengakui tentang anggotanya yang dituduhkan oleh GS. Bahkan kebenaran itu, diperkuat dengan pernyataan dari Aiptu GM bahwa benar dirinya menyetubuhi GS.

“Yang bersangkutan langsung kita periksa setelah kami menerima laporan dari Polda Jatim. Sementara ini baru sebatas mengakui melakukan persetubuhan, soal ada ancaman yang tuduhkan oleh korban (GS) masih kita dalami,” terang Suartana.

Benar saja, hasil penyelidikan ini akhirnya terungkap Aiptu GM yang bertugas di Polres Badung mengakui sudah meniduri GS sebelum mengikuti pendidikan di Mojokerto. Namun demikian, perwira yang bertugas di Polres Badung, Bali, ini belum menyebutkan berapa kali dirinya menyetubuhi Calon Polwan ini hingga hamil.

“Sejauh ini hasil pemeriksaan dari Propam, dia (GM) mengakui pernah menyetubuhi. Dan itu tidak ada unsur paksaan atau ancaman,” Kata Kapolres Badung, AKBP Komang Suartana.

Keterangan dari Aiptu GM nantinya akan dikonfrontir dengan keterangan GS. “Benar tidak hanya sekali atau berkali-kali. Juga soal ancaman, itu akan kita lihat nanti saat kita temukan keduanya,” kata Kapolres Badung, via telepon.

Hasil pemeriksaan terhadap GM, dia tidak mengakui bahwa kehamilan GS akibat ulahnya. GM menuding ada orang lain selain dirinya. “Dia (GM) membantah menghamili,” imbuh Suartana, dan meyakinkan bahwa apa yang dituduhkan GS bila terbukti benar adanya maka secara kode etik GM akan dicabut dari jabatannya sebagai anggota Polri.

Sementara itu, terkait hal ini istri GM dikabarkan kabur pulang ke kampung halamannya. Sementara itu, orangtua GS yang sempat syok hingga dirawat inap di Rumah Sakit, menuntut agar GM dipecat. Karena selain sudah memberikan uang puluhan juta juga sudah merenggut masa depan anaknya yang bakal terancam di coret dari calon Polwan.

Makna Seragam Putih Menteri Jokowi Tanpa Desain Menurut Desainer


Desainer Musa Widyatmodjo memberikan pandangannya tentang makna seragam yang digunakan oleh para calon menteri kabinet Presiden Joko Widodo. “Seragam itu memberikan gambaran khusus kepada masyarakat,” kata Musa saat dihubungi, Ahad, 26 Oktober 2014.

Menurut Musa, setiap baju memiliki makna tertentu bagi orang atau komunitas pemakainya. Sebab, busana adalah salah satu bentuk komunikasi kepada publik. Untuk makna menggunakan seragam pada kabinet, kata Musa, hal itu merupakan bentuk kerja sama satu tim antara Presiden, Wakil Presiden, dan para pembantunya. “Seragam bermakna mereka sudah berada dalam satu tim yang solid,” kata Musa.

Selain itu, seragam menjadi makna perkumpulan yang memiliki paham sama antara satu dan lainnya. Hal itu sama seperti yang dilakukan beberapa korporasi. “Korporasi menggunakan seragam pasti ada tujuan dan maknanya,” kata Musa.

Menurut Musa, warna putih memiliki arti netral, bersih, dan berhati-hati. Seseorang yang menggunakan baju putih niscaya akan berhati-hati dalam melakukan aktivitas karena dikhawatirkan menodai baju putihnya. Walhasil, orang yang memakai baju putih biasanya orang yang hati-hati serta tidak selebor. Musa pun berharap kabinet Jokowi bisa bekerja sesuai makna baju putih yang dikenakannya.

Menurut Musa, Presiden Joko Widodo tetap harus menyampaikan makna kemeja putih yang dimintanya untuk dikenakan oleh para pembantunya. “Busana itu bentuk komunikasi kepada masyarakat juga. Seragam ini strategi unik dari Pak Jokowi,” kata Musa.

Presiden Joko Widodo akan mengumumkan susunan kabinetnya pada 26 Oktober sore. Ia pun meminta para calon menterinya untuk mengenakan kemeja putih. Kemeja itu seragam dengan baju yang dikenakan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Daftar Lengkap Nama Menteri Kabinet Jokowi


Presiden Joko Widodo akhirnya mengumumkan kabinet pemerintahannya di Istana Negara, Jakarta, Ahad, 26 Oktober 2014. Dalam kabinet yang dinamai Kabinet Kerja itu, ada 34 nama yang dipilih.

“Pengumuman ini lebih cepat delapan hari dari batas maksimal yang diamanatkan oleh Undang-Undang Kementerian Negara,” kata Jokowi sebelum membacakan nama-nama menteri itu. Berikut ini susunan Kabinet Kerja Presiden Jokowi-Jusuf Kalla periode 2014-2019.

1. Menteri Sekretaris Negara: Pratikno
2. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional dan Bappenas: Andrinof Chaniago
3. Menteri Koordinator Kemaritiman: Indroyono Soesilo
4. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan: Tedjo Edy Purdjianto
5. Menteri Koordinator Perekonomian: Sofyan Djalil
6. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani
7. Menteri Perhubungan: Ignatius Jonan
8. Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti
9. Menteri Pariwisata: Arief Yahya
10. Menteri ESDM: Sudirman Said
11. Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo
12. Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi
13. Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu
14. Menteri Hukum dan HAM: Yasonna H. Laoly
15. Menteri Kominfo: Rudiantara
16. Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi
17. Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro
18. Menteri Negara BUMN: Rini M. Soemarno
19. Menteri Koperasi dan UMKM: A.A. Gusti Ngurah Puspayoga
20. Menteri Perindustrian: Saleh Husin
21. Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel
22: Menteri Pertanian: Amran Sulaiman
23. Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri
24. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono
25. Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup: Siti Nurbaja
26. Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Musyidan Baldan
27. Menteri Agama: Lukman Hakim Saifudin
28. Menteri Kesehatan: Nila F. Moeloek
29. Menteri Sosial: Khofifah Indar Parawansa
30. Menteri Peranan Wanita: Yohanan Yambise
31. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah: Anies Baswedan
32. Menteri Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi: M. Nasir
33. Menteri Pemuda dan Olahraga: Imam Nahrawi
34. Menteri Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi: Marwan Ja’far

Presiden Joko Widodo menunjuk politikus asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Yasonna Hamonangan Laoly, sebagai Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Menteri Hukum dan HAM adalah Yasonna Laoly, seorang politisi profesional dan ahli hukum, berpengalaman dalam hukum, dan saya berharap hukum Indonesia semakin baik di bawah Pak Laoly,” kata Presiden Jokowi saat mengumumkan menteri di halaman Istana Negara, Minggu, 26 Oktober 2014.

Peneliti Indonesia Corruption Watch, Emerson Yuntho, meminta agar penunjukan itu diwaspadai. Jika Menkumham diisi oleh politikus, potensi Kementerian akan dibajak oleh kepentingan politikus sangat mungkin terjadi. ICW mengingatkan beberapa kasus yang melibatkan Menteri Hukum dan HAM asal partai, seperti penggunaan dana rekening Kemenkumham untuk kepentingan pencairan dana Tommy Soeharto.

“Pengumpulan dana partai melalui proyek Sisminbakum atau obral remisi atau pembebasan bersyarat untuk narapidana asal parpol. Jika ini terjadi, citra pemerintah akan kembali suram,” kata Emerson menanggapi pilihan Presiden Jokowi tersebut. Yasonna Hamonangan Laoly adalah politikus asal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara (1999-2004), dilanjutkan sebagai anggota DPR periode 2004-2009 dan diangkat menjadi Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR pada 2013 serta Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR.

Pria kelahiran Sorkam, Sumatera Utara, 27 Mei 1953, itu menamatkan sarjana hukum dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara pada 1978, dilanjutkan ke jurusan sosiologi Virginia Commonwealth University, dan gelar doktornya pada bidang hukum diperoleh dari North Carolina State University pada 1996. Sebelum menjadi politikus, ia menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Nomensen Sumatera Utara pada 1998-1999 dan pernah menjadi pengacara pada 1978-1983.

Yasonna juga mendapat beberapa penghargaan Outstanding Graduate Student Award Virginia Commonwealth University, Amerika Serikat, pada 1986; Alpha Kappa Delta International Sosiology Honor Society 1987 di Amerika Serikat; dan Sigma Iota International Honor Society 1993 juga di AS. Yasonna baru menghadap Jokowi pada Jumat, 24 Oktober, tapi mengelak menyatakan pertemuan itu membahas mengenai menteri dan malah menyatakan dirinya berdiskusi tentang MPR. Ditunjuknya Yasonna semakin mengukuhkan tradisi pemilihan Menteri Hukum dan HAM yang didominasi dari partai politik sejak Reformasi 1998.

Sebelumnya, Muladi dari Partai Golkar menjabat sebagai Menkumham pada 1998-1999, dilanjutkan Yusril Ihza Mahendra dari Partai Bulan Bintang (23 Oktober 1999-7 Februari 2001 dan 9 Agustus 2001-20 Oktober 2004), Mohammad Mahfud Md. dari Partai Kebangkitan Bangsa (20 Juli-9 Agustus 2001), Hamid Awaluddin dari Partai Golkar (2004-2007), Andi Mattalatta juga dari Partai Golkar (2007-2009), Patrialis Akbar dari Partai Amanat Nasional (2009-2011), serta Amir Syamsuddin dari Partai Demokrat (2011-2014).

Pengecualian orang nonpartai hanya diberikan kepada Baharuddin Loppa yang hanya menjabat sekitar empat bulan, yaitu pada 9 Februari-2 Juni 2001, dan Marsilam Simanjuntak yang menjabat hanya sekitar satu bulan, yaitu 2 Juni-20 Juli 2001. Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mengatakan Presiden Joko Widodo dikelilingi oleh orang-orang yang diduga pernah melanggar hak asasi manusia. Bahkan beberapa di antaranya menjadi kandidat calon menteri. Salah satunya Wiranto. Wiranto merupakan mantan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang saat ini menjabat Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat.

“Wiranto diduga terlibat dalam kasus pelanggaran HAM tahun 1998,” kata Natalius saat dihubungi, Sabtu, 25 Oktober 2014. Menurut dia, pelanggaran yang dilakukan Wiranto sama dengan Prabowo Subianto. Wiranto, kata dia, sudah pernah dipanggil Komnas HAM untuk memberi keterangan ihwal dugaan itu, namun mangkir.

Jika terduga pelanggar HAM masuk dalam kabinet Jokowi, kata Natalius, citra masyarakat Indonesia akan tercoreng di dunia internasional. “Ini demi NKRI, jangan sampai pengambil keputusan merupakan orang yang diduga melakukan pelanggaran HAM,” katanya. Apalagi, Indonesia sudah menjadi anggota Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Natalius menyayangkan tak adanya pelibatan Komnas HAM dalam pembentukan kabinet Jokowi. Komnas HAM, kata dia, sudah pernah mengirimkan surat tentang hal tersebut, namun tak mendapat tanggapan. Komas HAM juga berencana terus mendorong Presiden Jokowi agar membentuk pengadilan HAM ad hoc.

Wiranto dan Ryamizard Ryacudu dikabarkan menjadi salah satu calon pembantu Presiden Jokowi selama lima tahun ke depan. Wiranto digadang-gadang menjadi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Adapun Ryamizard, bekas Kepala Staf Angkatan Darat, diduga akan menjabat Menteri Pertahanan.‎ Selain dua nama tersebut, nama mantan Wakil Kepala Badan Intelejen Negara Asad Said Ali juga belakangan dikabarkan masuk dalam bursa calon menteri.

Ihwal Ryamizard Ryacudu dan Asad Ali, Natalius mengatakan kedua calon menteri itu memang tak mendapat catatan khusus dari Komnas HAM. Namun mereka dianggap kurang layak masuk dalam kabinet karena, saat menjabat, ada beberapa kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan hingga kini. “Memang dugaan keterlibatan langsung belum ada, namun saat itu mereka masih menjabat sebagai penyelenggara negara, jadi tak layak.”

Profile Gayatri Wailissa Siswa SMA Yang Mampu Menguasai 13 Bahasa Asing


Gayatri Wailissa (17) pernah tercatat sebagai siswa SMA Siswalima Ambon. Selama menjalani pendidikan di SMA unggulan tersebut, Gayatri diketahui menjadi salah seorang siswa yang paling aktif dan sopan terhadap para guru. Jermia Waas, salah seorang guru di SMA Siswalima, menuturkan, selama bersekolah di SMA tersebut, Gayatri sangat aktif di sekolah. Dia juga sering memberikan motivasi kepada sesama rekan-rekannya dalam berbagai kesempatan.

“Dia (Gayatri) orangnya sangat baik dan sopan. Dia sering memberikan dorongan terus menerus kepada teman-temannya. Itu yang saya tahu tentang sosoknya,” ujar Jermia di taman pemakaman umum (TPU) Taman Bahagia, Sabtu (25/10/2014). Di mata Jermia, Gayatri adalah sosok remaja yang sangat jenius. Tercatat beberapa kali Gayatri mewakili sekolah untuk mengikuti event nasional dan internasional. “Yang sangat berkesan itu saat saya mengantar dia untuk mengikuti lomba pidato yang dilakukan Dinas pendidikan, saya melihat dia berpidato tanpa teks begitu luar biasa sekali,” ujarnya.

“Dia juga tidak pernah bermasalah dengan sesama temannya, mereka saling bersaing untuk mengukir prestasi tapi tidak pernah bermusuhan semua siswa sangat mengenal dan baik dengannya,” ujarnya lagi. Sementara itu, salah seorang sahabat Gayatri, Risti Lorwens, mengatakan, Gayatri adalah sosok yang sangat bersahaja, baik hati dan periang. “Dia (Gayatri) sudah sama seperti keluarga. Kami saling mengenal sejak duduk di bangku SMP Negeri 2 Ambon. Saya sangat sayang sama dia dan tak akan melupakannya,” ujar Risti sambil bercucuran air mata.

Sahabat Gayatri lainnya, Via Purnimas, juga mengatakan hal yang sama. Menurut dia, Gayatri sangat sopan dan baik hati karena itu banyak teman yang senang kepadanya. “Karena kebaikannya itu semua teman-teman sangat suka dengannya. Dia juga selalu memberi motivasi kepada kami. Yang saya ingat, dia selalu mengatakan teruslah bermimpi dan raih cita-citamu dengan tetap berusaha dan berdoa,” kata Via. Kepala Penerangan Kodam XVI Pattimura, Letnan Kolonel Muhammad Hasyim angkat bicara soal kedekatan mendiang Gayatri (17) dengan TNI.

Ditemui di perumahan perwira TNI AD di kawasan Air Salobar, Kecamatan Nusaniwe Ambon, Sabtu (24/10/2014) Hasyim mengatakan sejak tahun 2012 silam Gayatri telah dekat dengan keluarga TNI Kodam XVI Pattimura. “Sejak tahun 2012 saat beliau (Gayatri) jadi duta anak untuk ASEAN dan terkenal karena kemampuan bahasanya itu dia juga memberikan ilmunya itu untuk mengajar ibu-ibu Persatuan Istri Prajurit (Persit) di Kodam,” ujarnya.

Karena sering mengajari ibu-ibu Persit di Kodam dia semakin dengat dengan keluarga TNI, selain itu dia juga menjadi ikon Kodam XVI Pattimura. “Jadi dengan berjalannya waktu hubungan itu semakin erat, dia juga pernah jadi ikon Kodam Pattimura,” ujar dia. Menyoal apakah Gayatri benar anggota BIN, Hasyim mengungkapkan bahwa Kodam Pattimura tidak mengetahui masalah tersebut. Menurut dia, yang menyatakan Gayatri anggota BIN itu adalah orangtuanya.

“Anda tanyakan ke saya sebagai Kapendam, Kodam XVI Pattimura ini tidak tahu sama sekali apakah almarhumah itu anggota BIN ataukah tidak, itu baru pernyataan dari orangtua kita tidak tahu sama sekali,” ujarnya. Dia pun meminta kepada kalangan media agar membangkitkan semangat dan perjuangan para pemuda seperti yang telah dicontohkan mendiang Gayatri selama ini. “Jadi rekan-rekan media tolong jangan lihat yang lain-lain tapi mari kita sama-sama mengajak pemuda-pemuda di seluruh Indonesia seperti yang dilakukan almarhumah baik yang dilakukan di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Maluku, Brigadir Jenderal Gustav Agus Irianto mengatakan bahwa busana yang dikenakan mendiang Gayatri Wailissa (17) dalam foto yang dibawa saat pemakaman bukanlah seragam BIN. “Itu bukan seragam BIN, kami tidak berseragam,” ujar Gustav di rumah duka, di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014). Menurut dia, baju yang disebut ayah Gayatri sebagai seragam BIN itu merupakan buatan almarhumah sendiri. Bukan seragam BIN.

“Seperti baju di foto itu ya almarhumah sendiri yang menciptakan, itu bukan seragam BIN,” katanya. Sebagaimana diberitakan sebelumya, Gustav mengatakan Gayatri Wailissa tidak pernah direkrut dan mengikuti pelatihan sebagai anggota BIN. Gayatri hanya bercita-cita sebagai angota BIN. “Bukan, dia belum anggota BIN. Dia hanya bercita-cita sebagai anggota BIN, jadi belum sebagai anggota BIN,” kata Gustav.

Gustav menjelaskan, seseorang yang ingin bergabung sebagai anggota BIN harus melalui rekrutmen di Sekolah Tinggi Intelejen (STI). Setiap anggota BIN tercatat. Syarat masuk STI pun minimal harus berusia 18 tahun. “Jadi ada kekeliruan. Karena angota BIN itu rekrutmennya di STI harus lulus SMA usianya 18 tahun,” ujarnya.Sehelai surat berisi pesan bermakna nasihat dari Gayatri ditemukan salah anggota keluarga tepat di bawah bantal tidur almarhumah di mes tempat tinggalnya di Jakarta. Surat tersebut baru ditemukan sesaat setelah Gayatri meninggal dunia.

“Waktu yang kemarin tidak akan kembali lagi dan waktu akan datang tak akan ditemukan lagi, pergunakan waktu itu sebaik baik mungkin. Itu pesan yang dia tulis yang kami temukan di bawah bantal tidur miliknya,” kata ayah Gayatri, Deddy Darwis Wailissa, Sabtu (25/10/2014).

Menurut Deddy, pesan itu ditemukan saat keluarga tengah berkemas setelah Gayatri meninggal dunia. Surat itu ikut dibawa pulang ke rumahnya di Ambon dan saat ini disimpan rapi di dalam lemari. “Suratnya masih disimpan di dalam lemari, masih ada. Kalau menurut saya sebagai ayahnya pesannya itu agar kita sebagai keluarga dapat menghargai waktu dengan sebaik-baiknya,” kata dia. Selain surat tersebut, Deddy mengatakan bahwa putrinya juga pernah menulis pesan di kertas kalau dia bermimpi menjadi orang terkenal dan ingin mengabdikan hidupnya hanya kepada bangsa dan negara.

“Pesan itu waktu dia masih duduk di bangku SMA kelas 2, saya lalu menanyakan kepada dia, bagaimana dengan saya dan ibumu, dia (Gayatri) menjawab kalau ayah dan ibu itu pribadi, tetapi saya ingin mengabdi dan mati demi Negara,” ujarnya. “Dia juga bilang dia ingin suatu saat dia dikenang oleh banyak orang,” katanya.Ayah mendiang Gayatri Wailissa (17), remaja jenius yang mendunia karena kemampuannya menguasai 13 bahasa asing, menuturkan bahwa putrinya pernah bercerita tentang pelatihan bersama Badan Intelijen Negara. Itu sebabnya Gayatri memiliki foto berseragam BIN dan dipasang di rumahnya.

Deddy Darwis Wailissa, ayah Gayatri, mengatakan hal itu saat menyampaikan sambutan keluarga di hadapan ratusan warga yang melayat almarhumah di Aula Kodim 1504 Pulau Ambon, Sabtu (25/10/2014). Selain para kerabat, sahabat, dan undangan lain, sejumlah pejabat daerah dan pejabat militer turut melepas kepergian Gayatri. “Jadi yang jelas bahwa foto Gayatri ini sudah diterima sebagai anggota BIN. Saya perlu menjelaskan ini karena banyak yang bertanya Gayatri itu kerjanya apa dan fotonya itu apa,” ujarnya sambil menunjuk foto Gayatri yang mengenakan seragam BIN.

Deddy mengatakan, sebelum meninggal dunia, Gayatri pernah bertutur bahwa ia sempat mengikuti pelatihan di Markas TNI Angkatan Darat. Selama menjalani pendidikan, kata Deddy, Gayatri mendapat pelatihan sejumlah ketangkasan, seperti keahlian bela diri, menembak, dan menyetir. “Jadi selama tiga bulan itu dia dilatih kungfu, menembak, dan menyetir,” kata Deddy.

Hingga berita ini ditayangkan, tengah berupaya mengonfirmasi tentang pelatihan yang dijalani oleh Gayatri dan statusnya di BIN. Gayatri Wailissa meninggal dunia pada Kamis (23/10/2014) di ruang ICU Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, sekitar pukul 19.15 WIB, setelah sempat dirawat selama empat hari di rumah sakit tersebut. Rencananya, jenazah Gayatri diterbangkan ke Ambon, Jumat malam, dan setibanya di sana, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di kantor Kodam XVI Pattimura sebelum dimakamkan.Suasana haru mewarnai proses pemakaman jenazah Gayatri Wailissa (17), remaja jenius asal Ambon yang mendunia karena kemampuannya menguasai 13 bahasa asing. Isak tangis menyelimuti perjalanan jenazah hingga Taman Pemakaman Umum (TPU) Taman Bahagia Ambon, Sabtu (25/10/2014).

Jenazah diberangkatkan dari tempat persemayamannya di Aula Kodim 1504 Kodam XVI Pattimura. Para pelayat tampak bersedih dan tak kuasa menahan tangis begitu jenazah dibawa ke tempat pemakaman. “Dia (Gayatri) tidak meninggal, dia hanya sedang tidur, jadi jangan seperti ini,” kata salah seorang anggota keluarga kepada para pelayat dan sahabatnya yang tersedu-sedu.

Keharuan juga tampak saat proses pemakaman dilangsungkan di TPU Taman Bahagia. Ratusan warga yang menghadiri pemakaman tersebut tak kuasa menahan sedih saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat untuk dimakamkan. “Jangan tinggalkan kita, jangan pergi, katong (kami) sayang kepadamu,” ujar salah satu sahabat Gayatri, Via Purinmas, seraya menangis.

Proses pemakaman Gayatri tak hanya dihadiri sanak keluarga dan para sahabat, sejumlah pejabat daerah dan militer juga hadir dalam pemakaman tersebut.Ayahanda almarhum Gayatri Wailissa, Deddy Darwis Wailissa, menyampaikan permohonan maaf atas nama putri dan keluarganya. Dia juga meminta kepada kawan-kawan Gayatri juga tetangganya agar ikut mendoakan anaknya itu.

“Atas nama orangtua dan keluarga, saya memohon kiranya jika ada kesalahan atau kekeliruan yang telah dibuat anak saya agar dapat dimaafkan semoga dia diterima di sisi Allah SWT,” pinta Deddy, sesaat setelah jenazah dimakamkan di TPU Taman Bahagia di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014). Deddy mengatakan, apabila ada sesuatu yang masih mengganjal dari orang-orang dekat Gayatri, agar dapat disampaikan kepada pihak keluarga setelah pemakaman.

“Kalau anak saya punya janji atau punya utang dan apa saja yang belum terselesaikan agar disampaikan kepada pihak keluarga. Kami ingin anak kami dapat menghadap Tuhan dalam keadaan yang baik,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Deddy juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang selama ini telah membantu Gayatri, baik semasa hidupnya maupun saat Gayatri mengalami sakit. “Rasa terima kasih juga kami sampikan kepada semua pihak yang telah membantu proses pemakaman ini.”

“Kepada Bapak Panglima TNI, bapak Gubernur Maluku, bapak Pangdam XVI Pattimura saya sampaikan banyak terima kasih, semoga bantuannya data diterima Tuhan Yang Mahas Esa,” katanya. Meninggalnya Gayatri Wailissa (17), gadis jenius yang menguasai 13 bahasa asing cukup mengejutkan. Terlebih setelah Ibundanya mengaku bahwa putrinya tersebut adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN) sejak tiga bulan lalu.

Pengamat intelijen Ridlwan Habib mengaku tidak tahu apakah Gayatri tersebut anggota BIN atau bukan. Yang tahu bahwa Gayatri anggota BIN hanya BIN dan orangtuanya. “Silakan tanya ke BIN. Itu yang tahu BIN,” ujar Ridlwan Sabtu (25/10/2014) malam. Ridlwan kemudian menjelaskan bahwa BIN mencari bakat-bakat cerdas untuk dijadikan anggotanya dengan menjaring siswa-siswa SMA berprestasi dari seluruh Indonesia. “Yang diseleksi itu biasanya anak-anak yang mendapat rangking dan pasti anak berprestasi,” ujar Ridlwan.

Anak-anak tersebut kemudian mendapat pendidikan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). “Setiap angkatan sekitar 40-60 anak. Sekolahnya di Sentul, Bogor,” ujarnya. BIN membuat ketentuan, bahwa anak-anak yang lolos seleksi untuk mengikuti pendidikan di STIN BIN itu harus mengubah nama. “Namanya awalnya Agus bisa menjadi Hendra. Nama baru itu untuk nama dia selamanya selama menjadi anggota BIN,” ujarnya.

Ridlwan kemudian menyebut, bahwa siswa STIN BIN tersebut harus sepengetahuan orangtuanya bahwa anaknya akan dididik menjadi anggota BIN. “Jadi yang tahu anak itu BIN atau bukan, hanya ayah dan ibunya. Bisa juga ayah atau ibunya saja. Kakak atau adik tidak ada yang tahu. Bahkan setelah nikah, suami atau istri tidak tahu,” ujar Ridlwan. Untuk Gayatri, yang mengungkap bahwa gadis jenius tersebut adalah anggota BIN adalah ayah dan ibunya. Bahkan sang ayah, sempat menunjukkan foto putrinya memakai baju BIN.

Gayatri Wailissa (17), remaja asal Ambon yang mendunia karena keahliannya menguasai belasan bahasa asing, Kamis (23/10/2014) sekitar pukul 19.15 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Gayatri meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut selama empat hari.

Oleh dokter yang menanganinya, Gayatri didiagnosis menderita pendarahan di otak. Orangtua Gayatri, Dedy Darwis Wailissa, yang dihubungi dari Ambon, Kamis malam, mengatakan, putri kesayangannya itu meninggal dunia setelah empat hari dirawat di ruang ICU di rumah sakit tersebut.

Kritik keras disampaikan anggota DPR RI Mayjen (Purn) TB Hasanuddin atas perekrutan Gayatri Wailissa, gadis berusia 17 tahun yang menguasai 13 bahasa asing namun meninggal dalam usia muda. B Hasanuddin yang pernah menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR RI menyebut, tindakan BIN merekrut gadis muda tersebut sebagai tindakan gegabah dan tidak etis.
“Sangat mengejutkan kalau BIN merekrut pelajar. Itu adalah tindakan gegabah dan dan rawan. Apalagi kalau benar dia sudah dilatih misalnya tindakan yang dianggap rahasia sampai dengan tindakan menggunakan senjata api,” tegas TB Hasanuddin yang juga ahli intelijen di Jakarta, Sabtu (25/10/2014).

BIN dianggap gegabah lantaran yang direkrut adalah mereka yang masih usia belia. Bagi TB Hasanuddin, usia 17 tahun kejiwaannya masih labil dan tidak layak menjadi anggota BIN serta bisa membahayakan. “Itu kan seorang pelajar. Bagaimana kalau kemudian sesudah dilatih itu justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu,” kritiknya.

Apalagi kalau setelah Gayatri meninggal, kemudian pihak keluarga yakni ibunya menyampaikan bahwa putrinya adalah anggota BIN. Bagi TB Hasanuddin, itu adalah bukti pada saat rekrutmen, lingkungan tidak menjadi bahan pertimbangan.
“Berarti BIN gegabah,” lanjutnya. Mengenai prosedur perekrutan anggota BIN, menurut TB Hasanuddin tidak ada yang baku. Namun kalau merekrut anak-anak, itu sangat tidak etis dan rawan. TB Hasanuddin mengakui memang ada pelajar atau mahasiswa yang direkrut BIN untuk membantu tugas-tugas BIN. Namun itu sifatnya hanya sementara sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan tindakan intelijen. Tugas mereka pun hanya menggalang informasi tentang kegiatan tertentu terkait mereka, seperti misalnya demo.

“Tapi kalau merekrut pelajar jadi anggota BIN, itu sangat gegabah dan rawan,'”sambungnya. TB Hasanuddin mengatakan sah saja BIN merekrut orang yang memiliki keahlian menguasai banyak bahasa. Namun yang direkrut tersebut sifatnya harus jangka panjang dan orang yang sudah stabil kejiwaannya. “Jadi tidak mentang-mentang ada orang yang jago bahasa, lalu direkrut begitu saja meski usianya masih belia,” ujarnya. Baginya, merekrut angota BIN itu bebas dan tidak ada aturan namun harus menunjukkan unsur kehatian-hatian agar hal yang bisa merugikan negara atau BIN tidak terjadi.

Burung Hantu Andalan Petani untuk Basmi Hama Tikus


Dinas Pertanian Kabupaten Kudus menilai penggunaan burung hantu sebagai pembasmi alami hama tikus meningkatkan produktivitas panen padi petani. Dalam sehari, satu burung hantu dapat menangkap 10-15 tikus. “Saat ini populasi tikus di wilayah penangkaran burung hantu mulai berkurang,” kata Kepala Dinas Pertanian Budi Santoso, Kamis, 23 Oktober 2014.

Budi daya serta penangkaran burung hantu ini sudah dimulai sejak 2012 dan saat ini telah tersebar di 25 desa di enam kecamatan di Kabupaten Kudus. Rencananya, budi daya dan penangkaran ini akan terus ditambah mengingat banyaknya manfaat yang dirasakan petani. Burung hantu yang dibiakkan merupakan jenis Tyto alba (serak jawa). Jenis burung ini dipilih karena mampu melihat dalam kegelapan. Selain itu, cara terbang burung ini tak menimbulkan suara, sehingga tikus tak menyadari kehadirannya.

Bahkan keberadaan burung hantu ini akan dimasukkan dalam peraturan desa (perdes). “Hal ini untuk menjaga populasi burung predator tikus,” kata Budi. Peraturan desa ini berisi larangan memburu burung hantu dan menggunakan perangkap tikus yang dialiri listrik. Camat Undaan, Mundhir, setuju peraturan desa itu dibuat untuk melindungi populasi burung hantu. Saat ini masih ada perburuan burung hantu di desanya. “Dengan adanya perdes ini, kami jadi bisa melindungi populasinya. Tapi dari jauh hari Kami sudah memberitahukan warga untuk tidak membeli burung dari para pemburu,” kata Mundhir.

Sejauh ini, penggunaan burung hantu sebagai predator tikus terbukti efektif. Di kecamatan Undaan, kelompok petani yang memanfaatkan burung hantu mengatakan mengalami peningkatan jumlah panen. “Setelah adanya burung hantu selama dua tahun ini, jarang terlihat ada tikus menyerang tanaman petani,” kata Mundhir. Di Kecamatan Undaan ada tiga desa yang memanfaatkan burung hantu sebagai pembasmi tikus. Yakni Desa Undaan Lor, Undaan Tengah, dan Karangrowo. Menurut Mundhir, pembiakan burung hantu ini sangat didukung petani karena selama ini serangan hama tikus mengkhawatirkan petani.

Saat ini sudah puluhan ekor burung hantu yang dibiakkan. Selain itu juga dibuat rumah burung hantu di sekitar kawasan pertanian warga yang mengundang kedatangan burung hantu liar. “Jumlahnya jadi bertambah,” katanya.

Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus menilai penggunaan burung hantu sebagai pembasmi alami hama tikus meningkatkan produktivitas hasil panen padi para petani. Dalam sehari, satu ekor burung hantu dapat menangkap 10-15 ekor tikus. “Saat ini populasi tikus di wilayah penangkaran burung hantu mulai berkurang,” kata Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Budi Santoso, Kamis, 23 Oktober 2014. Dengan adanya manfaat burung hantu tersebut, Budi mengatakan, keberadaan hewan ini akan dimasukkan ke dalam peraturan desa guna menjaga populasinya. Peraturan desa ini berisi larangan memburu burung hantu dan melarang penggunaan perangkap tikus beraliran listrik.

Kini, sebanyak 25 desa di enam kecamatan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, telah menerapkan budi daya burung hantu sejak 2012. Rencananya budi daya dan penangkaran ini akan terus ditambah karena banyak manfaat yang dirasakan petani padi. Burung hantu yang dikembangbiakan merupakan jenis Tyto alba. Jenis burung ini dipilih karena mampu melihat di kegelapan. Selain itu, cara terbang Tyto alba tak menimbulkan suara, sehingga tikus-tikus itu tidak mendengar kehadirannya.

Sejauh ini, penggunaan burung hantu sebagai predator tikus terbukti efektif. Di Kecamatan Undaan para kelompok petani yang memanfaatkan burung hantu mengaku mengalami peningkatan jumlah panen. “Setelah adanya burung hantu selama dua tahun ini, jarang terlihat ada tikus menyerang tanaman petani,” kata Camat Undaan Mundhir. Di Kecamatan Undaan ada tiga desa yang memanfaatkan burung hantu sebagai pembasmi tikus. Di antaranya Desa Undaan Lor, Undaan Tengah, dan Karangrowo. Menurutnya adanya pengembangbiakkan burung hantu ini sangat didukung oleh petani karena selama ini serangan hama tikus cukup mengkhawatirkan.

Mengenai peraturan desa terkait dengan penangkaran burung hantu, Mundhir sangat setuju. Aturan ini akan melindungi jumlah populasi burung hantu karena masih ada perburuan burung hantu di sekitar desanya. “Dengan adanya peraturan desa ini, kami bisa melindungi populasi burung hantu dan memberitahukan warga agar tidak membeli burung hantu dari para pemburu,” kata Mundhir.

Menikmati Tingkah Laku Geisha di Kyoto


pa yang ada di benak kita mendengar kata Geisha? Perempuan penghibur tradisional Jepang ini tidak sama dengan konsep wanita penghibur modern. Di Kyoto, kita bisa melihat mereka di waktu malam dan memang bikin penasaran. Pada Sabtu malam (18/10/2014) menjelajah daerah Gion di Kyoto. Ini adalah kawasan di mana terdapat Geisha. Bahkan bisa dibilang Geisha aslinya dari Kyoto, kota yang pernah menjadi ibukota Jepang.

Dari depan Kuil Yasaka Shrine, kami berjalan menyusuri Shijo Dori, dari situ kami belok kiri ke Jalan Hanamikoji Dori. Suasananya bagaikan Kyoto di masa silam. Kanan dan kiri jalan ada kedai-kedai tradisional yang disebut Ochaya, penandanya adalah lampion merah.

Di sela-sela kedai ini ada gang-gang kecil di mana para Geisha tinggal. Lantas bagaimana menjumpai mereka? Gampang, tunggu saja. Itu yang kami lakukan bersama sekitar puluhan wisatawan lain yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Hawa musim gugur yang mulai dingin menusuk tulang, kami tahan-tahan saja.

Menunggu Geisha harus sabar. Biasanya sambil menunggu taksi lewat. Geisha datang dan pulang dari kliennya naik taksi atau mobil, biasanya semua diatur oleh maminya. Nah, kebetulan ada sebuah taksi berhenti, dan seorang Geisha turun. Wajahnya bermake up putih maksimal. Jeprat! Jepret! Wisatawan yang kebetulan dekat posisinya bisa memfoto. Namun Geisha cepat menghilang masuk ke dalam gang atau ke dalam kedai menjumpai kliennya.

Teman saya mengobrol sambil menunggu Geisha adalah Miyako. Perempuan cantik ini menjadi penjaga pintu sebuah kedai. Dari Miyako, saya mempelajari banyak hal. “Geisha yang asli itu sendalnya bakiak. Kalau sendal karet dia masih Maiko (calon Geisha-red),” kata Miyako. Menurut Miyako, Geisha memang tinggal di gang-gang kecil di kawasan Gion. Kadang tamu mereka menunggu di kedai atau Geisha dibawa ke tempat lain.

“Tapi kamu nggak bisa sembarangan masuk ke kedai,” kata Miyako dengan bahasa Inggris patah-patah. Ah, saya baru ingat. Kedai tradisional semacam ini sangat menjunjung tinggi privasi tamunya. Anda bisa menjadi tamu sebuah kedai jika sebelumnya diajak oleh orang yang sudah menjadi pelanggan di kedai itu. Semacam member get member.

Beberapa tamu keluar dari dalam kedai. Bajunya necis dengan jas serta dasi. Mereka menuju ke sebuah mobil yang sudah menunggu. Mami sang Geisha menyusul untuk melepas tamunya pergi dengan salam membungkuk. Sejujurnya saya tidak tahu persis apa yang dilakukan Geisha bersama kliennya. Tapi jangan membayangkan yang aneh-aneh dulu. Geisha bukan lady escort dalam istilah modern. Aspek kultural melekat terus pada Geisha, ketika bertemu klien mereka menghibur dengan cara menyanyi, berbincang dan menemani para tamunya.

Usai mengucap selamat tinggal untuk Miyako, kaki ini saya bawa melangkah kembali ke Jalan Shijo Dori, bagian kota Kyoto yang lebih modern dengan aneka lampu reklame, mobil dan bus hilir mudik. Ini kontras dengan kawasan Geisha yang bernuansa zaman dulu.

Tak disangka saya melihat seorang Geisha dibawa sejumlah pria ke sebuah sedan mewah berwarna hitam yang parkir di pinggir jalan. Entah kenapa mobil sedan ini tidak masuk ke Jalan Hanamikoji Dori. Saya menatap kamera di tangan. Hingga beberapa saat lalu, rasanya saya hanya menjadi seorang paparazzi yang menunggu selebriti lewat. Tapi mungkin Geisha juga sudah biasa dengan wisatawan yang menjeprat-jepret foto tatkala mereka lewat.

Ah, Geisha memang membikin penasaran.

KPK Siapkan Sanksi Tegas Buat Tahanan Yang Memiliki HP Dan Bukan Sanksi Buat Penjaga Penjaranya


Minggu lalu KPK melakukan sidak rutin di rutan Guntur dan rutan KPK. Hasilnya, beberapa telepon seluler ditemukan di kamar milik tahanan. KPK menyiapkan sanksi tegas untuk tahanan yang memiliki telepon seluler itu. “Siapapun yang melakukan pelanggaran akan mendapatkan sanksi sesuai derajat kesalahannya,” kata Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto saat berbincang, Jumat (24/10/2014).

Beberapa sanksi bisa diberlakukan kepada para tahanan korupsi yang bandel itu. Salah satu sanksi yang bisa diterapkan adalah mengisolasi tahanan untuk jangka waktu tertentu. Menurut Bambang, sidak yang dilakukan adalah kegiatan rutin. Sidak dilakukan apakah peraturan yang ada telah dijalankan secara konsisten. “Sidak adalah program rutin yang dilakukan di KPK untuk memastikan peraturan di rutan dilakukan secara konsisten,” jelasnya.

KPK akan meneliti siapa saja yang telah melanggar peraturan membawa HP ke dalam rutan. Bahkan, KPK bisa saja melacak pihak-pihak yang berkomunikasi dengan tahanan yang berada di rutan menggunakan HP. “Jumlahnya yang jelas lebih dari satu dan kita akan mendalami,” tegas komisioner bidang penindakan itu.

Berdasarkan keterangan yang terungkap dalam persidangan dengan terdakwa eks Kepala Bappebti Syahrul Raja Sempuna Jaya, dua tahanan di rutan Guntur yang tertangkap basah membawa HP adalah Raja Bonaran Situmeang dan Tubagus Chaery Wardhana alias Wawan. HP itu disimpan dalam tumpukan berkas perkara yang biasanya dibawa oleh para tersangka dan terdakwa di dalam rutan.

Sementara itu, dalam sidak di rutan KPK juga ditemukan beberapa HP di kamar tahanan. Namun, pihak KPK belum mengkonfirmasi siapa pemilik HP yang ditemukan di rutan KPK itu. Dugaan sementara, HP dimasukkan oleh para pembesuk dengan menyelipkannya ke berkas perkara. Oleh karena itu, KPK akan memperketat aturan jenguk. Selain itu, KPK juga telah melarang para tahanan membawa berkas perkara ke dalam rutan.