Siswa SMKN 1 Pamekasan Tewas Dibacok Preman


Sekitar 50 siswa SMKN 1 Pamekasan yang berasal dari Kecamatan Proppo, dilarang masuk sekolah setelah terbunuhnya Febri, salah satu siswa di sekolah itu. Febri tewas dibacok segerombolan preman di depan gedung SMAN 4 Pamekasan, Senin (6/10/2014) kemarin. Wakil Kepala SMKN 1 Pamekasan, Ahmad Subianto, menuturkan, siswa yang berasal dari Kecamatan Proppo, baik laki-laki ataupun perempuan semuanya dilarang masuk sekolah. Larangan tersebut dikirim sebelum para siswa berangkat ke sekolah, Selasa (7/10/2014) melalui pesan pendek berantai kepada seluruh siswa asal Kecamatan Proppo.

Subianto menjelaskan, pelarangan siswa asal Proppo masuk sekolah karena pihak sekolah mendengar kabar bahwa akan ada penyerangan ke sekolah. Bahkan, tersiar kabar yang menjadi sasaran adalah siswa yang berasal dari Kecamatan Proppo. Dugaan sementara, pelaku pembacokan berasal dari Kecamatan Proppo. Namun pihak sekolah belum mengetahui pasti siapa orang Proppo yang dimaksud. “Larangan masuk sekolah bagi siswa asal Proppo tidak dibatasi waktu. Jika nanti situasinya sudah kondusif, maka siswa akan disuruh masuk lagi,” ungkap dia.

Sejak hari ini, SMKN 1 Pamekasan dijaga dua peleton anggota Polres Pamekasan. Penjagaan tersebut menurut Kasubag Humas Polres Pamekasan, AKP Siri Mariyatun, untuk mengantisipasi adanya serangan dari pihak keluarga korban. Setelah terjadi insiden pembacokan yang menyebabkan tewasnya Febri, siswa SMKN 1 Pamekasan, Jawa Timur, kemarin, ancaman penyerbuan ke sekolah itu pun menyebar. Ancaman disebar melalui pesan pendek selular, baik di kalangan siswa dan bahkan aparat kepolisian.

Akibatnya, hari ini, Selasa (7/10/2014), sebanyak dua peleton anggota Polres Pamekasan, disiagakan di lokasi SMKN 1 Pamekasan. Hal itu demi mengantisipasi adanya ancaman penyerbuan, yang kabarnya bakal dilakukan oleh keluarga korban. Kepala sub bagian Humas Polres Pamekasan, AKP Siti Maryatun mengatakan, penjagaan itu semata-mata untuk pengamanan sekolah setelah kejadian. “Kita antisipasi lebih awal khawatir informasi yang beredar itu benar,” kata Maryatun.

Diberitakan sebelumnya, Febri tewas di rumah sakit dr. Slamet Martodirdjo Pamekasan, setelah mengalami luka bacok di pundaknya. Febri dibacok segerombolan preman saat pulang dari sekolahnya, Senin (6/10/2014). Selain Febri, Rispandi, teman Febri, juga dihantam dengan batu oleh para preman. Rispandi dipukul saat menolong Febri. Febri sempat dirawat dengan jahitan di pundaknya sebanyak enam jahitan. Sampai saat ini, pelaku pembacokan masih dalam pengejaran aparat kepolisian Polres Pamekasan.

Febri, siswa SMKN 1 Pamekasan asal Desa Pegantenan, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan dibacok menggunakan pisau oleh segerombolan preman saat pulang dari sekolahnya, Senin (6/10/2014). Akibatnya, Febri mengalami luka di bawah pundak dan tumitnya. Rekan Febri, Rispandi, juga terluka karena dihantam menggunakan batu.

Rispandi menjelaskan, segerombolan orang itu melancarkan aksinya sekitar 100 meter dari depan SMAN 4 Pamekasan. Rispandi dan Febri berjalan ke arah kota Pamekasan setelah jam pulang sekolah karena ada keperluan. “Di depan SMAN 4 saya dan Febri dihadang. Febri ditusuk bagian perutnya, tapi berhasil menangkis hingga pisau pelaku terlempar. Tiba-tiba dari belakang ada pelaku lainnya yang membacok di bawah pundak Febri,” terang Rispandi.

Setelah Febri terkapar, Rispandi hendak menolong Febri. Namun dari belakang ada yang menghantam Rispandi dengan batu hingga terluka. Setelah melukai Febri dan Rispandi, gerombolan yang jumlahnya kurang lebih 10 orang itu kemudian melarikan diri ke arah utara mengendarai sepeda motor. Sementara Febri dan Rispandi dilarikan ke Rumah Sakit dr Slamet Martodirdjo, Pamekasan.

Salah satu teman Febri lainnya yang enggan disebut identitasnya mengaku, Febri sempat ditelepon untuk memberitahukan ada segerombolan preman yang membuntutinya dari belakang setelah keluar dari pintu halaman sekolah. Namun Febri tidak mengangkat panggilan telepon itu. Saat sampai di depan SMAN 4, gerombolan itu langsung menghadang dan mengeluarkan pisau.

Sementara itu, aparat Polres Pamekasan belum ada yang bisa diwawancara. Hingga berita ini ditulis, kondisi Febri semakin kritis. Sedangkan Rispandi tetap sadar dan luka di kepalanya sudah diobati dan dijahit. Ajib (70), ayah kandung Febri, siswa SMKN 1 Pamekasan yang tewas akibat dibacok gerombolan preman pada Senin kemarin, terlihat syok saat didatangi di kediamannya, di Desa Pegantenan, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Selasa (7/10/2014).

Ajib belum tidur sejak pemakaman anaknya selesai tadi malam sekitar pukul 20.30 WIB. Bicaranya ngelantur dan terlihat sangat emosi. “Jangan halangi saya, saya akan bunuh orang yang membunuh anak saya,” ungkap Ajib sambil mondar-mandir di depan rumahnya.

Namun, anggota keluarga Ajib yang lainnya menghalangi upaya Ajib untuk mendatangi rumah pelaku, meskipun belum terungkap siapa pelakunya. “Bicaranya sudah ngelantur. Dia syok kelihatannya,” kata Syamsul, saudara kandung Ajib.

Syamsul berharap polisi segera menangkap pelaku pembunuhan terhadap Febri. Sebab, Febri hanya melerai temannya, Rispandi, pada saat kejadian pembacokan. Namun, yang menjadi sasaran utama berpindah ke Febri. “Kalau informasi yang saya terima, sasaran pembacokan bukan Febri, tapi orang lain,” ungkap Syamsul.

Informasi mengenai kematian Febri sudah sampai ke kakaknya yang kini menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Kepada anggota keluarganya, Ahmad berjanji akan membalaskan dendam adiknya yang mati karena dibacok segerombolan preman. “Pelaku informasinya berasal dari Kecamatan Proppo. Pelaku juga katanya suruhan,” ujar Syamsul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s