Daftar 18 Puskesmas Di Jakarta Yang Jadi Rumah Sakit Online


Dinas Kesehatan DKi Jakarta bakal segera mengubah status 18 puskesmas menjadi rumah sakit tipe D. Menurut Kepala Dinas, Dien Emawati, 18 puskesmas yang bakal disulap jadi RS itu adalah puskesmas setingkat kecamatan. “Karena fasilitasnya yang dianggap sudah setara rumah sakit,” kata dia, Jumat lalu, 17 Oktober 2014.

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan DKI, 18 puskesmas yang akan berubah status menjadi RS tersebar di lima wilayah kota. Di Jakarta Pusat yakni Puskesmas Kecamatan Johar Baru, Cempaka Putih, Kemayoran, Sawah Besar, dan Menteng. Untuk Jakarta Timur, Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Pasar Rebo, Ciracas. Jakarta Selatan, di Puskesmas Kecamatan Tebet, Kebayoran Lama, Mampang Prapatan, Pesanggrahan, dan Jagakarsa. Sementara, di Jakarta Barat yakni di Puskesmas Kecamatan Kembangan dan Kalideres. Sedangkan di Jakarta Utara, Puskesmas Kecamatan Cilincing, Pademangan dan Koja.

Dien mengatakan, pemilihan 18 puskesmas itu didasari tiga faktor utama sebagai pertimbangan. Pertama, lokasi puskesmas yang berada di daerah padat penduduk. Kedua adalah minat dan kebutuhan masyarakat yang cukup tinggi untuk berobat di puskesmas. Sedangkan pertimbangan ketiga adalah akses publik terhadap rumah sakit.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emawati, menargetkan sistem integrasi Puskesmas dan rumah sakit umum daerah secara online selesai dalam dua bulan ke depan. Saat ini, kata dia, proses pengintegrasian sedang dalam tahap verifikasi. “Sebetulnya tinggal memverifikasi puskesmas mana yang banyak dirujuk ke RSUD Pasar Rebo, Pukesmas mana yang bisa dirujuk ke RSUD Budhi Asih, dan sebagainya,” kata dia seusai menghadiri acara Dokter Award di Balai Kota, Ahad, 21 September 2014. Dien melanjutkan, sistem online itu menjadi satu format untuk sistem rujukan.

Saat ini, kata dia, baru RSUD Tarakan yang menerapkan sistem secara online. Ia menargetkan semua RSUD di Jakarta akan dilengkapi sistem online termasuk rujukan. “RSUD Koja, Cengkareng, Budhi Asih, Pasar Rebo, semuanya akan kami buat jejaringnya,” ucapnya. Dien menuturkan, tujuan pengintegrasian secara online untuk kemudahan pasien dan dokter. Selama ini, pasien masih ada yang mengantre sampai berjam-jam. “Sekarang zamannya IT. Masa orang disuruh antri dari jam 3 pagi,” kata dia.

Dien mengaku program pengintegrasian ini tak memerlukan dana sama sekali. “Komputer di puskesmas sudah banyak. Anggaran cukup untuk koneksi dari Puskesmas saja. Kami nggak ada anggaran.” Dokter Poli Rujukan Puskesmas Tebet, Sri Sudewi, menyayangkan sikap masyarakat Jakarta yang masih meremehkan peranan puskesmas. “Pasien yang datang kadang memilih ingin langsung dirujuk ke rumah sakit begitu diagnosa selesai. Padahal masih bisa ditangani di puskesmas,” katanya, Senin, 22 September 2014.

Menurut Sri, fasilitas kesehatan yang tersedia di puskesmas saat ini sudah sangat lengkap, sehingga bisa menjadi garda depan pelayanan kesehatan masyarakat. “Kami juga tidak bisa sembarangan beri rujukan. Semua harus bisa ditangani di sini dulu,” ujarnya.

Puskesmas kecamatan, tutur Sri, saat ini sudah bisa menangani 144 diagnosis penyakit pasien. Mulai yang paling ringan seperti penyakit kulit hingga penanganan penyakit turunan dari sistem syaraf, psikiatri, mata, telinga, hidung, paru, kardiovaskuler, hepatitis A, ginjal dan saluran kemih, gastrointestinal, dan pankreas. “Puskesmas sekarang juga punya fasilitas rawat inap dan instalasi gawat darurat 24 jam,” katanya.

Sehari-hari, Puskesmas Tebet melayani hingga 500 pasien. Hanya 40 pasien per hari yang diberi rujukan ke rumah sakit umum daerah. “Kalau memang harus dirujuk, harus ke rumah sakit kelas B dulu. Tidak bisa langsung ke kelas A, karena sekarang sistemnya berjenjang,” ujarnya. “Masalahnya, kadang, pasien begitu selesai diagnosa awal inginnya langsung dirujuk ke rumah sakit. Seolah-olah menganggap puskesmas tidak kompeten,” tuturnya

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berencana mengubah puskesmas kecamatan menjadi setara rumah sakit tipe D, sehingga kualitas pelayanan kesehatannya lebih baik. “Sebab di tahun 2025 diprediksi terjadi bonus demografi,” kata Ahok, sapaan akrab Basuki, di hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin, 31 Maret 2014.

Menurut Ahok, pada kurun waktu tersebut hingga 2035 akan terjadi ledakan usia produktif di Indonesia. Untuk mempersiapkan hal tersebut bisa dimulai dari sektor kesehatan dan pendidikan. Langkah ini dilakukan sekaligus mendukung program sistem jaminan sosial nasional. Sebab, salah satu prioritas dari sistem ini adalah meratanya pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

“Nah kami sudah memulai dengan Kartu Jakarta Sehat yang setelah dilihat banyak penggunanya,” kata mantan Bupati Belitung Timur ini. Konsekuensinya, dia melanjutkan, butuh ruang lebih banyak untuk kelas 3. Tujuannya, agar masyarakat miskin juga terlayani. Sebab asuransi nasional ini hanya menanggung perawatan kelas 3. “Makanya kalau rumah sakit kesulitan menambah ruang kelas 3, puskesmas disulap jadi tipe D,” ujarnya.

Kepala Dinas Kesehatan Dien Emmawati mengatakan uji coba akan dilakukan tiga bulan lagi sekitar Juni. “Ada 18 puskesmas kecamatan untuk uji coba,” ujarnya. Jumlah puskesmas di DKI Jakarta ada 348 unit, dengan rincian 340 puskesmas kelurahan dan 44 puskesmas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s