Melestarikan Orangutan di Kapuas Hulu melalui Ekowisata


Siang itu, suasana rumah betang (rumah panjang) Meliau agak lengang. Hanya tampak beberapa anak kecil bermain sambil berlari berkejaran di serambi rumah panjang yang memiliki 13 bilik tersebut. Langkah kami pun langsung menuju salah satu bilik yang dihuni oleh Sodik, yang akan kami gunakan untuk menginap selama berada di rumah betang.

Rupanya saat itu sedang musim menugal (menanam padi). Hampir seluruh warga penghuni pergi ke ladang yang tak jauh dari kampung mereka. Sesuai adat yang berlaku di kalangan mereka, aktivitas menugal tidak boleh ditunda. Kondisi itulah ternyata yang membuat suasana kampung terlihat lengang. Rumah betang di Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu merupakan salah satu hunian masyarakat Dayak Iban.

Untuk menempuh dusun ini, tidak ada akses lain selain jalur air. Dari Kota Lanjak, yang merupakan ibukota kecamatan, perjalanan dimulai dengan menggunakan speed boat atau long boat melintasi Danau Luar, kemudian masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, dan melalui anak Sungai Leboyan. Perjalanan menempuh waktu sekitar 3 jam, dan bisa lebih cepat jika musim air pasang, serta akan lebih lambat di musim kemarau karena harus memutar rute yang masih bisa dilewati perahu.

Dalam perjalanan, kita disuguhkan pemandangan khas beberapa perkampungan nelayan yang bergantung pada hasil sungai, danau dan hutan. Perangkap ikan tradisional pun terhampar di banyak tempat sepanjang sungai yang menjadi koridor Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum tersebut. Di kejauhan tampak hamparan perbukitan yang memanjang mengelilingi, seakan memanggil untuk dihampiri. Salah satunya bukit Peninjau. Ya, di perbukitan itulah salah satu kawasan penyangga taman nasional yang menjadi habitat di mana orangutan (Pongo Pygmaeus pygmaeus) bermukim.

Sejatinya, habitat orangutan yang merupakan hutan heterogen dengan keanekaragaman hayati yang mendukung ketersediaan pakan bagi orangutan, masih banyak menghadapi kendala dalam upaya mempertahankannya. Pendekatan dengan masyarakat yang berpola tanam ladang berpindah sedikit membuahkan hasil. Namun, masih ada ancaman lain yang masih mengganjal, terutama rencana perluasan pembukaan lahan perkebunan yang bisa menghabiskan ratusan hingga ribuan hektar hutan multikultur menjadi tanaman monokultur.

Ancaman Ekspansi Perusahaan Perkebunan
Usaha mempertahankan keaslian kawasan dengan keanekaragaman hayati yang dimiliki merupakan salah satu benteng dalam menghadapi tawaran menggiurkan dari para pengusaha perkebunan, terutama sawit. Kawasan yang berada di koridor dua taman nasional itupun tak luput dari incaran pengusaha. Namun, secara tegas sebagian masyarakat Dusun Meliau menolak kehadiran perkebunan sawit di kampung mereka.

Penolakan mereka bukan tanpa alasan. Sudah banyak contoh kerusakan dan kerugian yang dirasakan warga, terutama perkampungan yang terletak di bagian hilir di luar kawasan penyangga Taman Nasional Danau Sentarum, yang berdekatan langsung dengan Sungai Kapuas.

“Dulu air di kampung mereka melimpah ruah, ikan di danau mereka banyak, hutan mereka juga bagus. Tapi sekarang, air saja mereka harus beli pakai galon, ngantre untuk beli air. Danau mereka mulai kering dan keruh, ikan sudah sulit dicari. Bahkan mayas (orangutan) sudah tidak ada lagi di daerah sana,” ujar Husin, tokoh masyarakat Meliau menggambarkan kondisi kampung lain yang mulai terasa dampak lingkungannya.

Dengan nada tegas, Husin pun melanjutkan ceritanya, dari pengalaman itulah warga di kampungnya tidak ingin bernasib yang sama. Masyarakat berusaha tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan aturan adat serta kearifan lokal yang berlaku. Mereka tidak ingin kehilangan mata pencaharian mereka dari sumber alam yang mereka gunakan sebatas cukup. Aturan adat diperkuat dan tetap menjaga hubungan baik dengan alam yang sudah dibangun oleh leluhur mereka sejak dulu.

Sekretaris Desa Melemba, Antonius Rimau yang juga bermukim di dusun Meliau mengamini apa yang disampaikan Husin. Rimau, sapaan akrabnya, selalu megimbau dan mengingatkan warganya untuk tidak menyalahi dan melanggar kesepakatan konservasi yang dibangun di wilayahnya. Pendampingan dari WWF-Indonesia program Kalimantan Barat yang mulai dirintis sejak tahun 2006 sedikit banyak berhasil mempertahankan keanekaragaman hayati di sepanjang kawasan koridor di kedua Taman Nasional tersebut.

Konflik Orangutan
Berkurangnya ketersediaan pakan orangutan ternyata berdampak pada migrasi dalam usaha mencari makanan. Bahkan orangutan kerap turun ke permukiman untuk mengambil buah-buahan di kebun dan madu. “Beberapa waktu lalu ada orangutan yang ambil madu di tikung (dahan buatan) milik masyarakat,” ujar seorang warga lainnya.

Bagi masyarakat Dayak Iban, orangutan atau mayas (bahasa lokal) pantang untuk dikonsumsi dan dibunuh. “Percuma kalau dibunuh, tidak bisa dimakan, jadi untuk apa kami bunuh, biarkan saja. Mereka juga butuh makan sama seperti kita,” warga lain menambahkan.

Masukknya orangutan ke permukiman masyarakat merupakan dampak dari berkurangnya ketersediaan pakan dan habitat asli orangutan yang mulai terbuka akibat aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan skala besar di sekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum.

Ekowisata
Kelompok Pengelola Pariwisata “Kaban Mayas” merupakan salah satu kelompok yang aktif dalam mengelola ekowisata di Kapuas Hulu yang berdiri sejak tahun 2010. Nama “Kaban Mayas” merupakan bahasa lokal, Kaban artinya kawan atau sahabat, sedangkan Mayas artinya orangutan. Secara harafiah, kelompok tersebut merupakan salah satu ujung tombak dalam menjaga kelestarian ekosistem dan habitat orangutan yang ada di kampung mereka. “Saya menjual orangutan, sungai, danau, dan hutan yang ada di kampung saya ini ke bule-bule,” ujar Sodik beberapa waktu lalu.

Sambil tersenyum, kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Sodik dalam perbincangan siang itu. Jawaban itu terlontar menjawab pertanyaan tentang aktivitasnya sehari-hari. Sodik merupakan ketua Kelompok Pengelola Pariwisata (KPP) “Kaban Mayas” di Meliau yang fokus dalam mengelola ekowisata di kampungnya. Bukan tanpa alasan, orangutan, sungai, danau, dan hutan yang berada di sekitar kampung menjadi menu utama dalam paket perjalanan ekowisata yang ditawarkan dan diminati hingga mancanegara. “Dalam bulan ini hampir tidak putus, silih berganti para tamu datang, baik bule maupun tamu lokal. Hampir tidak ada jeda, tapi harus tetap dilayani,” kata Sodik.

Tujuan tamu yang datang pun tak selalu sama. Ada yang datang sekadar untuk menyalurkan hobi memancing di danau dan sungai. Ada yang datang hanya ingin menikmati suasana tinggal di rumah betang. Dan yang tak kalah seru, banyak yang datang mencoba peruntungan dengan trekking ke bukit untuk bertemu dan melihat orangutan liar di habitat aslinya. Khusus wisata untuk bertemu orangutan, para pemandu mendapat dampingan khusus dari WWF-Indonesia. Sebulan sekali, 2-3 orang warga dilibatkan dalam survei monitoring peluruhan sarang orangutan yang dilakukan oleh staf WWF di Stasiun Riset Satwa.

Albertus Tjiu, Manajer Program Kalimantan Barat WWF-Indonesia mengungkapkan, tujuan dari monitoring yang dilakukan salah satunya adalah melihat peluruhan sarang orangutan. Dari peluruhan sarang, dengan menggunakan rumus perhitungan nantinya akan diketahui populasi orangutan yang berada di beberapa jalur monitoring yang dijadikan jalur trekking.

“Ada dua fungsi utama ketika pertama kali berdiskusi dengan masyarakat Dusun Meliau ketika bersepakat memilih dan membangun Stasiun Riset Orangutan ini di Desa Melemba. Kami menyebutnya sebagai Stasiun Pengamatan Satwa Liar Peninjau,” kata Albertus, Jumat (10/10/2014).

Albertus memaparkan, Meliau merupakan salah satu pilot project program ecotourism di Kapuas Hulu. Selain itu dua tempat lainnya yang masuk dalam program adalah adalah Sadap dan Sungulok Apalin. “Stasiun ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan ecotourism di mana salah satu paket unggulan di Meliau adalah pengamatan orangutan dan turis bisa ikut terlibat dalam monitoring orangutan bersama tim monitoring yang dipimpin oleh masyarakat lokal di Meliau dan Sungai Pelaik. Selain itu, melalui stasiun ini kita ingin terus mendorong agar perhatian pemerintah terhadap Meliau tetap terjaga melalui pembangunan fisik. Tahun 2015 Disbudpar kembali menganggarkan pembangunan jembatan dimulai dari Danau Kasim menuju ke Stasiun ini, melengkapi bangunan stasiun yang telah diinisiasi oleh WWF,” katanya.

Dalam penentuan tapak stasiun ini pun tidaklah mudah. Proses melalui diskusi panjang dengan masyarakat Meliau telah merumuskan blue print ‘zona’ di Bukit Peninjau. Tujuan perumusan ini adalah untuk mengakomodir kebutuhan livelihood masyarakat. Bukit Peninjau di masa lalu adalah salah satu lokasi kebun utama mereka. Masih terdapat sisa-sisa kebun lada (sahang), karet, buah-buahan dan tanaman budidaya lainnya. “Idealnya konservasi mencoba mengakomodir sumber penghidupan masyarakat lokal. Inilah ide mengenai pilihan Bukit Peninjau sebagai lokasi stasiun riset dan bagaimana masyarakat berperan di dalamnya,” ujar Albertus.

Selain itu, fungsi utama lainnya adalah terkait dengan penelitian. Di bagian awal diskusi, Bukit Peninjau dinamakan sebagai Stasiun Riset Orangutan, namun kemudian menyesuaikannya menjadi Stasiun Pengamatan Satwa Liar dengan alasan ada banyak satwa lain yang masih bisa dijumpai di kawasan ini. Namun riset utama tetap orangutan dengan menerapkan penelitian jangka panjang di transek-transek pengamatan yang dilakukan oleh masyarakat lokal dengan training sebelumnya.

Dasar pemilihan stasiun di Bukit Peninjau untuk riset orangutan adalah berdasarkan survei menyeluruh di koridor. Data survey WWF tahun 2009 menunjukkan di ketinggian 50–230 mdpl sebaran orangutan adalah 3,88 individu/km2 (hampir sekitar 4 individu/km2). Ini merupakan salah satu populasi yang terbaik di kawasan sekitar Taman Nasional Danau Sentarum.

“Jadi setiap bulan kita monitoring peluruhan sarang di setiap jalur, mulai dari sarang yang baru dibuat hingga yang sudah hancur untuk mengumpulkan datanya. Nah, dari data yang sudah dikumpulkan selama 2 tahun terakhir, misalnya di bulan Januari ternyata orangutannya berada di jalur satu, bulan berikutnya jalur dua dan seterusnya bisa diketahui orangutannya jalan kemana saja,” kata Albert.

Dari informasi tersebut, seyogianya menjadi sumber informasi bagi para pemandu wisata untuk membawa wisatawan. Selain peluruhan sarang, pengamatan buah juga dilakukan untuk mengetahui pergerakan orangutan dalam mencari makanan. “Jadi korelasinya pada musim buah, misalnya kenapa pada bulan Januari orangutan banyak di jalur satu, karena di situ musim buah apa yang menjadi salah satu pakan orangutan, begitu pula untuk bulan berikutnya,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s