Sengketa Pengelolaan Bandara Halim Tunggu Diselesaikan Oleh Jokowi


Pemerintah baru agaknya tak bisa berbulan madu lama-lama. Sudah banyak masalah menumpuk, salah satunya adalah perselisihan antara PT Angkasa Pura II (Persero) dan Lion Group, terkait pengelolaan Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Tri Sunoko bahkan enggan memberikan komentar lebih jauh soal diserahkannya pengelolaan Halim Perdanakusuma pada Lion Group, sebuah grup di industri aviasi di bawah kemudi Rusdi Kirana.

Tri menyerahkan keberlanjutan nasib AP II atas pengelolaan Halim Perdanakusuma pada pemerintah baru. “Kami minta kepada pemerintah, silakan menentukan kebijakan pemerintah, apakah (dikelola) AP II, atau statusnya bagaimana? Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah,” tegas Tri, di Jakarta, Senina (20/10/2014).

Tri bersikukuh AP II mengelola Halim Perdanakusuma berdasarkan peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan berdasarkan izin operasi yang jelas. “Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah. Mending nanya sama pemerintah saja, sama Kemenhub, sama Kementerian BUMN,” imbuh Tri.

Sejauh ini, Tri mengklaim AP II telah merogoh investasi yang sangat besar untuk perawatan Halim Perdanakusuma. Sebagai informasi, AP II, perusahaan pengelola bandara di wilayah Indonesia Barat itu, diberitaakan telah menggelontorkan investasi sekitar Rp 100 miliar per tahun, atau sekitar Rp 3 triliun selama 30 tahun.

Hasrat besar Lion Group mengembangkan Bandara Halim Perdanakusuma tidak hanya membangun infrastrukturnya tetapi juga sekaligus berkeinginan menjadi operator bandara layaknya Angkasa Pura (AP).

Lantas bagaimana nasib operator Halim saat ini yaitu AP II jika Lion mengambil alih pengelolaan bandara?

Direktur Operasional Lion Air, Edward Sirait mengatakan, setelah nanti pemugaran Bandara Halim selesai, Lion bisa saja mengambilalih bandara dan mengelolanya sendiri. Namun, menurutnya, Lion pun siap untuk bekerjasama dengan AP II terkait pengelolaan bandara tersebut.

“Bisa saja kita jalin Bussines to Bussines dengan Angkasa Pura, proyek ini proyek mandiri kami (Lion Group),” ujar Edward di Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Lebih lanjut kata Edward, keputusan Lion berinvestasi untuk pengembangan Bandara Halim sudah sesuai dengan Undang-undang nomer 1 tahun 2009 tentang penerbangan di mana pihak swasta diperbolehkan berinvestasi disektor penerbangan. Jadi, menurut dia, pengambilalihan bandara oleh Lion nanti sudah sesuai dengan peraturan yang ada.

Meskipun demikian, Lion tetap menunggu sertifikat dari Kementerian Perhubungan mengenai izin penggunaan bandara Halim menjadi bandara umum. Untuk urusan lalu lintas udara, Lion pun siap berkoordinasi denangan Air Nav.

“Ini contoh swasta membangun dan mengoperasikan, nah nanti operasinya tergantung Kemenhub. Mirip kalau mau terjang aja,” kata Edward.

Sementara itu, Sekretaris Angkasa Pura II Daryanto mengatakan, pihaknya akan menunggu keputusan lebih lanjut terkait rencana Lion menjadi operator Bandara Halim tersebut. “Sampai saat ini kami masih sebagai operator, nantinya seperti apa ya kami masih menunggu sampai ada keputusan lebih lanjut,” kata Daryanto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s