Kronologi Sukhoi TNI AU Cegat dan Paksa Pesawat Australia Mendarat


Dua pesawat tempur milik TNI Angkatan Udara jenis Sukhoi SU-30 MK2 memaksa sebuah pesawat yang dikemudikan dua warga negara Australia mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, kemarin. Pesawat sipil berjenis Beachcraft 95 berwarna putih itu terbang tanpa izin melintasi wilayah udara Indonesia.

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan pesawat sipil berkode FHRLS DE55 tersebut bertolak dari Darwin, Australia, menuju Cebu, Filipina. Awalnya pesawat bermesin baling-baling ganda itu terdeteksi oleh Satuan Radar 245 Saumlaki di Pulau Yamdena, Maluku Tenggara Barat, sekitar pukul 06.59 WIT.

“Satuan Radar Saumlaki mencoba cek perizinan pesawat, tapi hasilnya nihil,” kata Hadi saat dihubungi, Kamis, 23 Oktober 2014. Satuan Radar Saumlaki lantas berkoordinasi dengan petugas di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, untuk menginterogasi pilot pesawat asing itu melalui kontak radio. Hasilnya sama, kedua pilot pesawat itu tak mengantongi satu pun surat izin melintas di Indonesia.

Sesuai standar tugas TNI AU, Hadi melanjutkan, pesawat tempur dikerahkan untuk mengejar pesawat Beachcraft itu. Dua unit pesawat tempur Sukhoi SU-30 MK2 yang dikemudikan Mayor Wanda, Mayor Fauzi, Letnan Satu Idris dan Letnan Satu Ali pun mengudara dari Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar. Melesat dengan kecepatan tinggi, kedua Sukhoi mengepung pesawat Beachcrat hanya dalam waktu beberapa menit.

Pilot-pilot tempur TNI AU pun meminta pesawat Beachcraft untuk mendarat di landasan terdekat, yakni di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara. Pesawat asing itu mendarat dengan selamat di Bandara Sam Ratulangi sekitar pukul 10.53 WIT. “Di bawah, puluhan prajurit TNI sudah siap mengamankan penumpang pesawat,” kata Hadi.

Usai mendarat, baru diketahui bahwa pesawat itu hanya ditumpangi dua orang, yakni Jacklin Graeme Paul sebagai pilot dan Maclean Richard Wanye sebagai kopilot. Kedua orang itu lantas diperiksa oleh penyidik pegawai negeri Bandara Sam Ratulangi. Penyidik akan menginterogasi tujuan, maksud, dan alasan kedua warga negara Australia itu melintas di Indonesia tanpa izin. “Selanjutnya pesawat asing diamankan di Bandara Sam Ratulangi dan kedua Sukhoi pulang ke markas mereka di Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar,” kata Hadi.

Pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI AD memaksa pesawat Australia jenis BV 95 Beechcraft berkekuatan 101 knot untuk mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado, Rabu, 22 Oktober 2014. Pilot Sukhoi sempat mengunci sasaran pesawat Australia untuk ditembak lantaran menolak mendarat. “Kami sudah lock pesawat itu. Jika ada perintah menembak saya langsung tembak. Tapi alhamdulillah rupanya si pilot takut juga dan akhirnya mau mendarat di Manado,” kata pilot pesawat Sukhoi yang melakukan pengejaran, Mayor Penerbang Wanda Suriansyah, Kamis, 23 Oktober 2014.

Pesawat Australia yang diterbangkan Jacklyn Grame Paul dan Maclean Richard Wayne itu tidak memiliki izin untuk terbang di wilayah udara Indonesia. Pesawat tersebut akhirnya dipaksa mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado setelah dikawal selama empat jam oleh pesawat Sukhoi. Suriansyah mengatakan mereka langsung mencegat pesawat Australia tersebut di wilayah Makassar. Pesawat Australia tersebut langsung diperintahkan untuk mendarat di Ambon sebagai lokasi terdekat setelah terdeteksi dalam radar. Namun, pilot pesawat Australia mengabaikan instruksi tersebut.

Karena menolak mendarat di Ambon, pesawat Australia tersebut langsung dikunci untuk ditembak. “Posisinya ketika saya lock itu ada 250 kilometer sebelah timur tenggara Manado,” kata Suriansyah. Selama empat jam, pesawat jet tempur Sukhoi milik TNI AD mengawal pesawat Australia jenis BV 95 Beechcraft berkekuatan 101 knot, Rabu, 22 Oktober 2014. Pesawat Australia yang diterbangkan Jacklyn Grame Paul dan Maclean Richard Wayne itu dipaksa mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi Manado.

“Terdeteksi pertama kali di Makassar,” kata Komandan Landasan Udara Sam Ratulangi Kolonel Penerbang Hesly Paath, Kamis, 23 Oktober 2014. Menurut Hesly, pesawat tersebut tidak memiliki izin untuk melintas di wilayah udara Indonesia. Karena itu, pesawat tersebut diperintahkan melapor dan mendarat. Namun, perintah tersebut tak diindahkan. Hesly mengatakan setelah empat jam melintas di Ambon, Kupang, dan seterusnya, pesawat Australia itu akhirnya berhasil dipaksa turun di Manado.

Pilot pesawat Sukhoi yang melakukan pengejaran, Mayor Penerbang Wanda Suriansyah, mengatakan jika mereka langsung menghalangi pesawat Australia tersebut ketika dideteksi berada di wilayah Makassar. Menurut Suriansyah, pesawat Australia tersebut awalnya diperintahkan mendarat di Ambon, sebagai lokasi terdekat setelah terdeteksi dalam radar. “Tapi karena psikologis orang Australia yang agak keras kepala, dia tak indahkan permintaan itu,” kata Suriansyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s