Menikmati Tingkah Laku Geisha di Kyoto


pa yang ada di benak kita mendengar kata Geisha? Perempuan penghibur tradisional Jepang ini tidak sama dengan konsep wanita penghibur modern. Di Kyoto, kita bisa melihat mereka di waktu malam dan memang bikin penasaran. Pada Sabtu malam (18/10/2014) menjelajah daerah Gion di Kyoto. Ini adalah kawasan di mana terdapat Geisha. Bahkan bisa dibilang Geisha aslinya dari Kyoto, kota yang pernah menjadi ibukota Jepang.

Dari depan Kuil Yasaka Shrine, kami berjalan menyusuri Shijo Dori, dari situ kami belok kiri ke Jalan Hanamikoji Dori. Suasananya bagaikan Kyoto di masa silam. Kanan dan kiri jalan ada kedai-kedai tradisional yang disebut Ochaya, penandanya adalah lampion merah.

Di sela-sela kedai ini ada gang-gang kecil di mana para Geisha tinggal. Lantas bagaimana menjumpai mereka? Gampang, tunggu saja. Itu yang kami lakukan bersama sekitar puluhan wisatawan lain yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Hawa musim gugur yang mulai dingin menusuk tulang, kami tahan-tahan saja.

Menunggu Geisha harus sabar. Biasanya sambil menunggu taksi lewat. Geisha datang dan pulang dari kliennya naik taksi atau mobil, biasanya semua diatur oleh maminya. Nah, kebetulan ada sebuah taksi berhenti, dan seorang Geisha turun. Wajahnya bermake up putih maksimal. Jeprat! Jepret! Wisatawan yang kebetulan dekat posisinya bisa memfoto. Namun Geisha cepat menghilang masuk ke dalam gang atau ke dalam kedai menjumpai kliennya.

Teman saya mengobrol sambil menunggu Geisha adalah Miyako. Perempuan cantik ini menjadi penjaga pintu sebuah kedai. Dari Miyako, saya mempelajari banyak hal. “Geisha yang asli itu sendalnya bakiak. Kalau sendal karet dia masih Maiko (calon Geisha-red),” kata Miyako. Menurut Miyako, Geisha memang tinggal di gang-gang kecil di kawasan Gion. Kadang tamu mereka menunggu di kedai atau Geisha dibawa ke tempat lain.

“Tapi kamu nggak bisa sembarangan masuk ke kedai,” kata Miyako dengan bahasa Inggris patah-patah. Ah, saya baru ingat. Kedai tradisional semacam ini sangat menjunjung tinggi privasi tamunya. Anda bisa menjadi tamu sebuah kedai jika sebelumnya diajak oleh orang yang sudah menjadi pelanggan di kedai itu. Semacam member get member.

Beberapa tamu keluar dari dalam kedai. Bajunya necis dengan jas serta dasi. Mereka menuju ke sebuah mobil yang sudah menunggu. Mami sang Geisha menyusul untuk melepas tamunya pergi dengan salam membungkuk. Sejujurnya saya tidak tahu persis apa yang dilakukan Geisha bersama kliennya. Tapi jangan membayangkan yang aneh-aneh dulu. Geisha bukan lady escort dalam istilah modern. Aspek kultural melekat terus pada Geisha, ketika bertemu klien mereka menghibur dengan cara menyanyi, berbincang dan menemani para tamunya.

Usai mengucap selamat tinggal untuk Miyako, kaki ini saya bawa melangkah kembali ke Jalan Shijo Dori, bagian kota Kyoto yang lebih modern dengan aneka lampu reklame, mobil dan bus hilir mudik. Ini kontras dengan kawasan Geisha yang bernuansa zaman dulu.

Tak disangka saya melihat seorang Geisha dibawa sejumlah pria ke sebuah sedan mewah berwarna hitam yang parkir di pinggir jalan. Entah kenapa mobil sedan ini tidak masuk ke Jalan Hanamikoji Dori. Saya menatap kamera di tangan. Hingga beberapa saat lalu, rasanya saya hanya menjadi seorang paparazzi yang menunggu selebriti lewat. Tapi mungkin Geisha juga sudah biasa dengan wisatawan yang menjeprat-jepret foto tatkala mereka lewat.

Ah, Geisha memang membikin penasaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s