Profile Gayatri Wailissa Siswa SMA Yang Mampu Menguasai 13 Bahasa Asing


Gayatri Wailissa (17) pernah tercatat sebagai siswa SMA Siswalima Ambon. Selama menjalani pendidikan di SMA unggulan tersebut, Gayatri diketahui menjadi salah seorang siswa yang paling aktif dan sopan terhadap para guru. Jermia Waas, salah seorang guru di SMA Siswalima, menuturkan, selama bersekolah di SMA tersebut, Gayatri sangat aktif di sekolah. Dia juga sering memberikan motivasi kepada sesama rekan-rekannya dalam berbagai kesempatan.

“Dia (Gayatri) orangnya sangat baik dan sopan. Dia sering memberikan dorongan terus menerus kepada teman-temannya. Itu yang saya tahu tentang sosoknya,” ujar Jermia di taman pemakaman umum (TPU) Taman Bahagia, Sabtu (25/10/2014). Di mata Jermia, Gayatri adalah sosok remaja yang sangat jenius. Tercatat beberapa kali Gayatri mewakili sekolah untuk mengikuti event nasional dan internasional. “Yang sangat berkesan itu saat saya mengantar dia untuk mengikuti lomba pidato yang dilakukan Dinas pendidikan, saya melihat dia berpidato tanpa teks begitu luar biasa sekali,” ujarnya.

“Dia juga tidak pernah bermasalah dengan sesama temannya, mereka saling bersaing untuk mengukir prestasi tapi tidak pernah bermusuhan semua siswa sangat mengenal dan baik dengannya,” ujarnya lagi. Sementara itu, salah seorang sahabat Gayatri, Risti Lorwens, mengatakan, Gayatri adalah sosok yang sangat bersahaja, baik hati dan periang. “Dia (Gayatri) sudah sama seperti keluarga. Kami saling mengenal sejak duduk di bangku SMP Negeri 2 Ambon. Saya sangat sayang sama dia dan tak akan melupakannya,” ujar Risti sambil bercucuran air mata.

Sahabat Gayatri lainnya, Via Purnimas, juga mengatakan hal yang sama. Menurut dia, Gayatri sangat sopan dan baik hati karena itu banyak teman yang senang kepadanya. “Karena kebaikannya itu semua teman-teman sangat suka dengannya. Dia juga selalu memberi motivasi kepada kami. Yang saya ingat, dia selalu mengatakan teruslah bermimpi dan raih cita-citamu dengan tetap berusaha dan berdoa,” kata Via. Kepala Penerangan Kodam XVI Pattimura, Letnan Kolonel Muhammad Hasyim angkat bicara soal kedekatan mendiang Gayatri (17) dengan TNI.

Ditemui di perumahan perwira TNI AD di kawasan Air Salobar, Kecamatan Nusaniwe Ambon, Sabtu (24/10/2014) Hasyim mengatakan sejak tahun 2012 silam Gayatri telah dekat dengan keluarga TNI Kodam XVI Pattimura. “Sejak tahun 2012 saat beliau (Gayatri) jadi duta anak untuk ASEAN dan terkenal karena kemampuan bahasanya itu dia juga memberikan ilmunya itu untuk mengajar ibu-ibu Persatuan Istri Prajurit (Persit) di Kodam,” ujarnya.

Karena sering mengajari ibu-ibu Persit di Kodam dia semakin dengat dengan keluarga TNI, selain itu dia juga menjadi ikon Kodam XVI Pattimura. “Jadi dengan berjalannya waktu hubungan itu semakin erat, dia juga pernah jadi ikon Kodam Pattimura,” ujar dia. Menyoal apakah Gayatri benar anggota BIN, Hasyim mengungkapkan bahwa Kodam Pattimura tidak mengetahui masalah tersebut. Menurut dia, yang menyatakan Gayatri anggota BIN itu adalah orangtuanya.

“Anda tanyakan ke saya sebagai Kapendam, Kodam XVI Pattimura ini tidak tahu sama sekali apakah almarhumah itu anggota BIN ataukah tidak, itu baru pernyataan dari orangtua kita tidak tahu sama sekali,” ujarnya. Dia pun meminta kepada kalangan media agar membangkitkan semangat dan perjuangan para pemuda seperti yang telah dicontohkan mendiang Gayatri selama ini. “Jadi rekan-rekan media tolong jangan lihat yang lain-lain tapi mari kita sama-sama mengajak pemuda-pemuda di seluruh Indonesia seperti yang dilakukan almarhumah baik yang dilakukan di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Daerah Maluku, Brigadir Jenderal Gustav Agus Irianto mengatakan bahwa busana yang dikenakan mendiang Gayatri Wailissa (17) dalam foto yang dibawa saat pemakaman bukanlah seragam BIN. “Itu bukan seragam BIN, kami tidak berseragam,” ujar Gustav di rumah duka, di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014). Menurut dia, baju yang disebut ayah Gayatri sebagai seragam BIN itu merupakan buatan almarhumah sendiri. Bukan seragam BIN.

“Seperti baju di foto itu ya almarhumah sendiri yang menciptakan, itu bukan seragam BIN,” katanya. Sebagaimana diberitakan sebelumya, Gustav mengatakan Gayatri Wailissa tidak pernah direkrut dan mengikuti pelatihan sebagai anggota BIN. Gayatri hanya bercita-cita sebagai angota BIN. “Bukan, dia belum anggota BIN. Dia hanya bercita-cita sebagai anggota BIN, jadi belum sebagai anggota BIN,” kata Gustav.

Gustav menjelaskan, seseorang yang ingin bergabung sebagai anggota BIN harus melalui rekrutmen di Sekolah Tinggi Intelejen (STI). Setiap anggota BIN tercatat. Syarat masuk STI pun minimal harus berusia 18 tahun. “Jadi ada kekeliruan. Karena angota BIN itu rekrutmennya di STI harus lulus SMA usianya 18 tahun,” ujarnya.Sehelai surat berisi pesan bermakna nasihat dari Gayatri ditemukan salah anggota keluarga tepat di bawah bantal tidur almarhumah di mes tempat tinggalnya di Jakarta. Surat tersebut baru ditemukan sesaat setelah Gayatri meninggal dunia.

“Waktu yang kemarin tidak akan kembali lagi dan waktu akan datang tak akan ditemukan lagi, pergunakan waktu itu sebaik baik mungkin. Itu pesan yang dia tulis yang kami temukan di bawah bantal tidur miliknya,” kata ayah Gayatri, Deddy Darwis Wailissa, Sabtu (25/10/2014).

Menurut Deddy, pesan itu ditemukan saat keluarga tengah berkemas setelah Gayatri meninggal dunia. Surat itu ikut dibawa pulang ke rumahnya di Ambon dan saat ini disimpan rapi di dalam lemari. “Suratnya masih disimpan di dalam lemari, masih ada. Kalau menurut saya sebagai ayahnya pesannya itu agar kita sebagai keluarga dapat menghargai waktu dengan sebaik-baiknya,” kata dia. Selain surat tersebut, Deddy mengatakan bahwa putrinya juga pernah menulis pesan di kertas kalau dia bermimpi menjadi orang terkenal dan ingin mengabdikan hidupnya hanya kepada bangsa dan negara.

“Pesan itu waktu dia masih duduk di bangku SMA kelas 2, saya lalu menanyakan kepada dia, bagaimana dengan saya dan ibumu, dia (Gayatri) menjawab kalau ayah dan ibu itu pribadi, tetapi saya ingin mengabdi dan mati demi Negara,” ujarnya. “Dia juga bilang dia ingin suatu saat dia dikenang oleh banyak orang,” katanya.Ayah mendiang Gayatri Wailissa (17), remaja jenius yang mendunia karena kemampuannya menguasai 13 bahasa asing, menuturkan bahwa putrinya pernah bercerita tentang pelatihan bersama Badan Intelijen Negara. Itu sebabnya Gayatri memiliki foto berseragam BIN dan dipasang di rumahnya.

Deddy Darwis Wailissa, ayah Gayatri, mengatakan hal itu saat menyampaikan sambutan keluarga di hadapan ratusan warga yang melayat almarhumah di Aula Kodim 1504 Pulau Ambon, Sabtu (25/10/2014). Selain para kerabat, sahabat, dan undangan lain, sejumlah pejabat daerah dan pejabat militer turut melepas kepergian Gayatri. “Jadi yang jelas bahwa foto Gayatri ini sudah diterima sebagai anggota BIN. Saya perlu menjelaskan ini karena banyak yang bertanya Gayatri itu kerjanya apa dan fotonya itu apa,” ujarnya sambil menunjuk foto Gayatri yang mengenakan seragam BIN.

Deddy mengatakan, sebelum meninggal dunia, Gayatri pernah bertutur bahwa ia sempat mengikuti pelatihan di Markas TNI Angkatan Darat. Selama menjalani pendidikan, kata Deddy, Gayatri mendapat pelatihan sejumlah ketangkasan, seperti keahlian bela diri, menembak, dan menyetir. “Jadi selama tiga bulan itu dia dilatih kungfu, menembak, dan menyetir,” kata Deddy.

Hingga berita ini ditayangkan, tengah berupaya mengonfirmasi tentang pelatihan yang dijalani oleh Gayatri dan statusnya di BIN. Gayatri Wailissa meninggal dunia pada Kamis (23/10/2014) di ruang ICU Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta, sekitar pukul 19.15 WIB, setelah sempat dirawat selama empat hari di rumah sakit tersebut. Rencananya, jenazah Gayatri diterbangkan ke Ambon, Jumat malam, dan setibanya di sana, jenazah akan disemayamkan terlebih dahulu di kantor Kodam XVI Pattimura sebelum dimakamkan.Suasana haru mewarnai proses pemakaman jenazah Gayatri Wailissa (17), remaja jenius asal Ambon yang mendunia karena kemampuannya menguasai 13 bahasa asing. Isak tangis menyelimuti perjalanan jenazah hingga Taman Pemakaman Umum (TPU) Taman Bahagia Ambon, Sabtu (25/10/2014).

Jenazah diberangkatkan dari tempat persemayamannya di Aula Kodim 1504 Kodam XVI Pattimura. Para pelayat tampak bersedih dan tak kuasa menahan tangis begitu jenazah dibawa ke tempat pemakaman. “Dia (Gayatri) tidak meninggal, dia hanya sedang tidur, jadi jangan seperti ini,” kata salah seorang anggota keluarga kepada para pelayat dan sahabatnya yang tersedu-sedu.

Keharuan juga tampak saat proses pemakaman dilangsungkan di TPU Taman Bahagia. Ratusan warga yang menghadiri pemakaman tersebut tak kuasa menahan sedih saat jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat untuk dimakamkan. “Jangan tinggalkan kita, jangan pergi, katong (kami) sayang kepadamu,” ujar salah satu sahabat Gayatri, Via Purinmas, seraya menangis.

Proses pemakaman Gayatri tak hanya dihadiri sanak keluarga dan para sahabat, sejumlah pejabat daerah dan militer juga hadir dalam pemakaman tersebut.Ayahanda almarhum Gayatri Wailissa, Deddy Darwis Wailissa, menyampaikan permohonan maaf atas nama putri dan keluarganya. Dia juga meminta kepada kawan-kawan Gayatri juga tetangganya agar ikut mendoakan anaknya itu.

“Atas nama orangtua dan keluarga, saya memohon kiranya jika ada kesalahan atau kekeliruan yang telah dibuat anak saya agar dapat dimaafkan semoga dia diterima di sisi Allah SWT,” pinta Deddy, sesaat setelah jenazah dimakamkan di TPU Taman Bahagia di kawasan Tantui Ambon, Sabtu (24/10/2014). Deddy mengatakan, apabila ada sesuatu yang masih mengganjal dari orang-orang dekat Gayatri, agar dapat disampaikan kepada pihak keluarga setelah pemakaman.

“Kalau anak saya punya janji atau punya utang dan apa saja yang belum terselesaikan agar disampaikan kepada pihak keluarga. Kami ingin anak kami dapat menghadap Tuhan dalam keadaan yang baik,” ujarnya. Pada kesempatan itu, Deddy juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang selama ini telah membantu Gayatri, baik semasa hidupnya maupun saat Gayatri mengalami sakit. “Rasa terima kasih juga kami sampikan kepada semua pihak yang telah membantu proses pemakaman ini.”

“Kepada Bapak Panglima TNI, bapak Gubernur Maluku, bapak Pangdam XVI Pattimura saya sampaikan banyak terima kasih, semoga bantuannya data diterima Tuhan Yang Mahas Esa,” katanya. Meninggalnya Gayatri Wailissa (17), gadis jenius yang menguasai 13 bahasa asing cukup mengejutkan. Terlebih setelah Ibundanya mengaku bahwa putrinya tersebut adalah anggota Badan Intelijen Negara (BIN) sejak tiga bulan lalu.

Pengamat intelijen Ridlwan Habib mengaku tidak tahu apakah Gayatri tersebut anggota BIN atau bukan. Yang tahu bahwa Gayatri anggota BIN hanya BIN dan orangtuanya. “Silakan tanya ke BIN. Itu yang tahu BIN,” ujar Ridlwan Sabtu (25/10/2014) malam. Ridlwan kemudian menjelaskan bahwa BIN mencari bakat-bakat cerdas untuk dijadikan anggotanya dengan menjaring siswa-siswa SMA berprestasi dari seluruh Indonesia. “Yang diseleksi itu biasanya anak-anak yang mendapat rangking dan pasti anak berprestasi,” ujar Ridlwan.

Anak-anak tersebut kemudian mendapat pendidikan di Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN). “Setiap angkatan sekitar 40-60 anak. Sekolahnya di Sentul, Bogor,” ujarnya. BIN membuat ketentuan, bahwa anak-anak yang lolos seleksi untuk mengikuti pendidikan di STIN BIN itu harus mengubah nama. “Namanya awalnya Agus bisa menjadi Hendra. Nama baru itu untuk nama dia selamanya selama menjadi anggota BIN,” ujarnya.

Ridlwan kemudian menyebut, bahwa siswa STIN BIN tersebut harus sepengetahuan orangtuanya bahwa anaknya akan dididik menjadi anggota BIN. “Jadi yang tahu anak itu BIN atau bukan, hanya ayah dan ibunya. Bisa juga ayah atau ibunya saja. Kakak atau adik tidak ada yang tahu. Bahkan setelah nikah, suami atau istri tidak tahu,” ujar Ridlwan. Untuk Gayatri, yang mengungkap bahwa gadis jenius tersebut adalah anggota BIN adalah ayah dan ibunya. Bahkan sang ayah, sempat menunjukkan foto putrinya memakai baju BIN.

Gayatri Wailissa (17), remaja asal Ambon yang mendunia karena keahliannya menguasai belasan bahasa asing, Kamis (23/10/2014) sekitar pukul 19.15 WIB, meninggal dunia di Rumah Sakit Abdi Waluyo di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Gayatri meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut selama empat hari.

Oleh dokter yang menanganinya, Gayatri didiagnosis menderita pendarahan di otak. Orangtua Gayatri, Dedy Darwis Wailissa, yang dihubungi dari Ambon, Kamis malam, mengatakan, putri kesayangannya itu meninggal dunia setelah empat hari dirawat di ruang ICU di rumah sakit tersebut.

Kritik keras disampaikan anggota DPR RI Mayjen (Purn) TB Hasanuddin atas perekrutan Gayatri Wailissa, gadis berusia 17 tahun yang menguasai 13 bahasa asing namun meninggal dalam usia muda. B Hasanuddin yang pernah menjabat Wakil Ketua Komisi I DPR RI menyebut, tindakan BIN merekrut gadis muda tersebut sebagai tindakan gegabah dan tidak etis.
“Sangat mengejutkan kalau BIN merekrut pelajar. Itu adalah tindakan gegabah dan dan rawan. Apalagi kalau benar dia sudah dilatih misalnya tindakan yang dianggap rahasia sampai dengan tindakan menggunakan senjata api,” tegas TB Hasanuddin yang juga ahli intelijen di Jakarta, Sabtu (25/10/2014).

BIN dianggap gegabah lantaran yang direkrut adalah mereka yang masih usia belia. Bagi TB Hasanuddin, usia 17 tahun kejiwaannya masih labil dan tidak layak menjadi anggota BIN serta bisa membahayakan. “Itu kan seorang pelajar. Bagaimana kalau kemudian sesudah dilatih itu justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu,” kritiknya.

Apalagi kalau setelah Gayatri meninggal, kemudian pihak keluarga yakni ibunya menyampaikan bahwa putrinya adalah anggota BIN. Bagi TB Hasanuddin, itu adalah bukti pada saat rekrutmen, lingkungan tidak menjadi bahan pertimbangan.
“Berarti BIN gegabah,” lanjutnya. Mengenai prosedur perekrutan anggota BIN, menurut TB Hasanuddin tidak ada yang baku. Namun kalau merekrut anak-anak, itu sangat tidak etis dan rawan. TB Hasanuddin mengakui memang ada pelajar atau mahasiswa yang direkrut BIN untuk membantu tugas-tugas BIN. Namun itu sifatnya hanya sementara sesuai dengan kegiatan yang sedang dilakukan tindakan intelijen. Tugas mereka pun hanya menggalang informasi tentang kegiatan tertentu terkait mereka, seperti misalnya demo.

“Tapi kalau merekrut pelajar jadi anggota BIN, itu sangat gegabah dan rawan,'”sambungnya. TB Hasanuddin mengatakan sah saja BIN merekrut orang yang memiliki keahlian menguasai banyak bahasa. Namun yang direkrut tersebut sifatnya harus jangka panjang dan orang yang sudah stabil kejiwaannya. “Jadi tidak mentang-mentang ada orang yang jago bahasa, lalu direkrut begitu saja meski usianya masih belia,” ujarnya. Baginya, merekrut angota BIN itu bebas dan tidak ada aturan namun harus menunjukkan unsur kehatian-hatian agar hal yang bisa merugikan negara atau BIN tidak terjadi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s