Categories
Lain Lain

Ribuan Koin China Kuno Ditemukan di Sungai Komering


Ribuan koin kuno ditemukan penambang pasir di Desa Negeri Agung, Kecamatan Buay Pemuka Peliung, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan, pada Sabtu, 18 Oktober 2014. Temuan tersebut diduga merupakan mata uang Cina kuno yang menjadi alat pembayaran pada abad ke-10.

“Hari ini (temuan itu) kami konsultasikan kepada pihak Balai Arkeolog (Palembang),” kata Ketua Jaringan Masyarakat Adat Komering (Jamak) OKU Timur Leo Budi Rachmadi, Rabu, 22 Oktober 2014.

Menurut Leo, ribuan keping koin yang beratnya mencapai 25 kilogram ditemukan penambang pasir di Sungai Komering sekitar pukul 12.00 WIB, Sabtu lalu. Saat itu, warga dikagetkan dengan suara tak lazim yang keluar dari penyedot pasir. Warga setempat makin takjub ketika mendapatkan uang receh berwarna hitam dan kekuning-kuningan.

Saat ini Jamak OKU Timur, sedang menginventarisasi koin Cina kuno itu. Leo Budi mengatakan pihaknya membawa 11 keping koin dengan motif bebeda. Tujuannya meminta pendapat dari para ahli. Selain itu, hari ini mereka akan menemui tokoh Tionghoa untuk memahami hasil temuan itu.

Leo menunjukkan kepingan koin dengan motif berbeda namun dengan ukuran sama. Pada salah satu sisi koin terdapat tulisan Cina. Sementara pada bagian tengah koin terdapat lubang persegi empat.

Dari warnanya cokelat kehitam-hitaman dan kuning kehitam-hitaman, sepertinya koin terbuat dari tembaga dan kuningan. “Tulisan dan warnanya tidak sama dari sampel yang kami bawa ini,” kata Leo.

Categories
Kriminalitas

Sekelompok Remaja Psikopat Lempar Pengendara Motor Hingga Tewas Di Jalan Raya Pondok Kopi


Nina (23) seorang wanita muda tewas akibat terkena lemparan batu dari sekelompok remaja yang sedang nongkrong di depan mini market di Jalan Raya Pondok Kopi RT 02/03 Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Minggu (19/10) dini hari. Nina, jatuh dari sepeda motor setelah terkena lemparan batu dan terseret aspal hingga luka parah di bagian kepala.

Kanit Reskrim Polsek Metro Duren Sawit AKP Chalid Thayib mengatakan, saat kejadian Nina tengah mengendarai sepeda motor dengan memboncengi Lia (17) yang merupakan teman korban. Saat melintas di sebuah mini market di tempat kejadian, ada salah satu anak-anak yang nongkrong di depan mini market tersebut.

Tiba-tiba, lanjutnya, orang yang sedang nongkrong tersebut, melempar batu ke arah korban dan mengenai kepala sebelah kiri korban. Sepeda motor yang dikendarai korban oleng ke kanan dan terjatuh di atas trotoar. “Kepala korban terbentur trotoar dan luka parah di bagian kepala, luka lecet pada tangan dan kaki, sedangkan, kawannya, Lia, mengalami lecet pada siku tangan kanan dan dengkul kaki kanan,” kata Chalid.

Korban, tambahnya, ditolong oleh pengendara mobil pikap warna hitam yang melintas kemudian dibawa ke RS Islam Pondok Kopi. “Tapi akhirnya korban meninggal dunia pada pukul 08.00 WIB pagi,” katanya.

Sementara itu, pihaknya terus menyelidiki dan mencari kurang lebih 5 orang yang nongkrong dan melempar batu saat itu.

Categories
Taat Hukum

Puluhan Oknum Anggota TNI Serbu Pasar Kramat jati Karena Tidak Terima Dinasehati Satpam


Puluhan oknum TNI melakukan penyerangan ke Pasar Induk Kramat Jati, Jalan Raya Bogor, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (20/10/2014) malam. Kejadian diduga berawal dari rasa tidak senang oknum TNI karena ditegur oleh satpam. Mereka ditegur ketika salah jalan, saat hendak ke luar pasar.

“Awalnya sekitar pukul 16.00 (Senin), ada anggota TNI naik mobil dinas, di situ ada tiga orang. Dia salah jalan, mau keluar malah lewat jalan masuk. Akhirnya, ditegur sama satpam,” kata salah satu pedagang yang menolak namanya disebutkan, Selasa (21/10/2014) siang.

Saat ditegur, oknum TNI itu justru membentak satpam tersebut. Ia tidak terima ketika disuruh memutar arah. “Satpam berinisial Al minta mobil itu untuk putar arah. Oknum TNI malah marah-marah, ‘Memangnya kenapa? Saya ini anggota, saya lagi buru-buru’. Namun, Al tetap meminta agar mobil itu memutar balik,” kata pedagang itu.

Mendapatkan perlakuan tersebut, mereka lalu adu mulut. Akhirnya, salah satu oknum TNI turun dari mobil dan memukul Al.

Trauma
Penyerbuan itu menyisakan trauma bagi pedagang. Sebab, mereka menyaksikan langsung aksi mencekam itu. “(Oknum) tentaranya banyak banget. Semua orang di sini hanya bisa ngeliatin doang. Enggak ada yang berani ngebantuin satpam yang dipukulin,” kata salah satu pedagang rokok di kawsan itu yang juga menolak disebutkan namanya.

Terlebih lagi, lanjut pedagang rokok ini, salah satu oknum tersebut mengambil stik golf untuk memukul tukang parkir yang ada di sana. Para satpam dan petugas parkir pun mengalami luka parah. “Mereka semakin marah karena satpam yang pertama kali melarang sudah enggak ada di sini. Sampai ada yang mukulin pakai stik golf. Korbannya bernama Zainal, kena pukul stik golf, luka parah, giginya rontok, mukanya hancur,” katanya.

Akibat luka tersebut, Zainal dilarikan ke Rumah Sakit UKI, Jakarta Timur. Sementara itu, korban lain yang juga mengalami luka adalah Eko, Deni, Dwi, serta petugas parkir bernama Marbun dan Edi.

Diserahkan ke polisi militer
Polisi mengatakan, kasus ini telah ditangani oleh polisi militer salah satu kesatuan TNI. “Kasusnya sudah ditangani kesatuannya, silakan dihubungi,” kata Kapolsek Metro Kramatjati Kompol Handini. Kapuspen TNI Mayor Jenderal Mochamad Fuad Basya mengatakan, institusinya akan menindaklanjuti informasi penyerbuan ini. “Panglima TNI telah memerintahkan penyelidikan, apakah benar kasus tersebut melibatkan anggota TNI,” kata Fuad Basya saat dihubungi.

Jika memang terbukti, kata Fuad, maka oknum TNI tersebut akan langsung ditindak. “Perintah dari beliau, jika memang ada yang terlibat, segera ditindak. Sanksinya pasti akan diberikan,” kata Fuad Basya.

Categories
Transportasi

Daftar 10 Kota Yang Paling Macet Di Indonesia … Bogor Juaranya


Kementerian Perhubungan (Kemenhub) merilis beberapa kota termacet atau lalu lintas terpadat di Indonesia. Peringkat teratas ditempati Kota Bogor, Jawa Barat. Kapuslitbang Darat dan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Yugi Hartiman mengatakan, Jakarta adalah satu di antara beberapa kota yang lalu lintasnya membutuhkan perhatian lebih.

“Kota yang perlu lalu lintasnya perlu mendapat perhatian seperti itu,” kata Yugi ditemui di diskusi mengenai ERP di Hotel Millenium, Jakarta, Selasa (21/10/014). Dari data Direktorat BTSP Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, rata-rata kecepatan kendaraan di Jakarta berkisar di angka 10-20 km per jam. Sedangkan volume per kapasitas (v/c) rationya mencapai 0,85%.

VC ratio adalah volume to capacity ratio, artinya, volume kendaraan sudah mendekati kapasitas jalan yang ada. Lalu lintas dalam kondisi krusial jika VC ratio mencapai di atas 0,70%, maka kondisinya makin padat/macet. “Kecepatan rendah karena memang kapasitas jalannya belum bisa memenuhi volume lalin yang berjaan itu,” tuturnya. Selain Jakarta, kota-kota penyangga ibukota seperti Bekasi, Depok, Tangerang juga kondisi lalu lintasnya sudah mengkhawatirkan. Juga di Sulawesi seperti Makassar, dan Sumatera seperti Palembang dan Medan. “Ya bisa dikatakan paling macet di Indonesia,” tuturnya.

Berikut daftar kota dengan lalu lintas termacet di Indonesia:

  1. Bogor (15,32 km/jam) VC ratio 0,86
  2. DKI Jakarta (10-20 km/jam) Vc Ratio 0,85
  3. Bandung (14,3 km/jam) VC ratio 0,85
  4. Surabaya (21 km/jam) VC ratio 0,83
  5. Depok (21,4 km/jam) VC ratio 0,83
  6. Bekasi (21,86 km/m) Vc Ratio 0,83
  7. Tangerang (22 km/jam) VC Ratio 0,82
  8. Medan (23,4 km/jam) VC ratio 0,76
  9. Makassar (24,06 km/jam) VC Ratio 0,73
  10. Semarang (27 km/jam) VC Ratio 0,72
  11. Palembang (28,54 km/jam) VC ratio 0,61

Revolusi mental bagi para pengendara di jalan agar tertib aturan digaungkan. Para pengendara mesti digugah agar ikut aturan, tertib, dan tak main terabas saat berlalu lintas. Para pengendara mobil mesti disiplin. Apa langkah Polri guna mewujudkan revolusi mental?

“Tentu bagian dari revolusi mental bisa menjadi bagian dari meretas lahirnya bangsa yang lebih beradab. Kita selalu melakukan kampanye budaya tertib lalu lintas, sejatinya hal itu harus bisa disikapi oleh masyarakat dengan taat hukum, jika kita masih mementingkan ego pribadi, maka tidak akan tertib. Hukum merupakan rekayasa sosial yang harus dijalankan,” kata Karo Penmas Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Jakarta Timur, Rabu (22/10/2014).

Menurut Boy, masyarakat harus selalu berorientasi kepada hukum. Dengan jumlah penduduk 240 juta, hukum harus jadi acuan bersama. “Bukan acuan masing-masing. Memang tidak mudah membangun bangsa yang 250 juta ini. Beda dengan yang 5 juta, tapi perlu kerja keras semua pihak,” tutup dia. Wali kota Bogor Bima Arya memberikan tanggapannya mengenai hasil laporan Kementerian Perhubungan yang menyatakan bahwa Bogor menjadi kota termacet di Indonesia. Menurutnya kesemrawutan infrastruktur yang tak berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk menjadi salah satu permasalahan utama sejak 10 tahun terakhir.

“Itu adalah tren 10 tahun terakhir. Luas tempat terbatas, pembangunan infrastruktur yang tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk, hingga tata ruang yang tidak terkendali,” ujarnya. Selain hal tersebut, Bogor yang menjadi tujuan favorit untuk tempat tinggal dan pariwisata menjadi permasalahan lain yang membuat arus transportasi jalan di kota tersebut semakin macet dari hari ke hari. “Di sisi lain Bogor juga menjadi tujuan favorit, baik untuk tempat tinggal pekerja dari Jakarta, peserta pelatihan maupun wisatawan di akhir minggu,” jelasnya.

Sehingga, lanjut Bima, penyelesaian kemacetan dan pembenahan transportasi publik akan menjadi prioritas utama pemerintah kota ke depannya. Pembenahan transportasi itu akan dilakukan melalui dua tahapan. “Jangka pendek kita urai titik-titik kemacetan antara lain dengan melakukan penertiban kawasan, rekayasa lalu-lintas, hingga penataan PKL. Untuk jangka panjang, kita benahi transportasi umum dengan mengurangi angkot untuk koversi ke angkutan massal yang menyebar ke sentra ekonomi hingga wisata yang ada di pinggir kota,” tutupnya.

“Walau saya agak ragu kalau Bogor lebih macet dari Jakarta atau Bekasi ya,” tambahnya.

nda yang membawa kendaraan pasti sudah banyak melihat ‘keajaiban’ di jalan. Mulai dari pemotor dan pemobil yang melawan arus seperti di cengkareng depan kantor Orang Tua Group, parkir naik trotoar, mobil berhenti sembrangan menurunkan temannya yang numpang hingga mobil masuk jalur transJ, sampai pengendara tak mematuhi aturan lalu lintas melanggar traffic light. Misalnya saja di lampu merah perempatan Jatipadang, Jaksel atau di jalan Ciputat Raya, banyak pemotor bahkan banyak juga pemobil yang tak segan-segan melakukan contra flow. Pembatas jalan dilanggar, akibatnya kendaraan dari arah berlawanan kesulitan melintas.

Banyak pengendara tak sabar ingin cepat-cepat, tapi aturan dan ketertiban tak dipatuhi. Mental menerabas aturan ini yang perlu diubah. Karenanya revolusi mental perlu segera dilakukan di jalan. Bila era Soeharto dikenal dengan nama Gerakan Disiplin Nasional, mungkin sekarang perlu digeber gerakan revolusi mental yang dimulai di jalan.

Masyarakat, utamanya di jalan mesti ditanamkan kesadaran pada yang namanya taat aturan. Jangan asal menerabas, patuhi aturan untuk ketertiban dan keselamatan. Revolusi mental ini bisa dimulai dari diri sendiri. Kalau tidak sekarang kapan lagi!

Categories
Kriminalitas

Punya Suami Bule Suka Selingkuh …. Julaikah Noor Aini Sewa Pembunuh Bayaran Untuk Habisnya Suami Bulenya


Sesosok mayat bule yang kemudian diketahui bernama Robert Kevin Ellis, 60, asal Inggris, ditemukan mengapung di parit sebelah utara Pura Puseh Desa Pakraman Sedang, Kecamatan Abiansemal, Badung, Selasa (21/10) pagi. Mayat bule yang ditemukan terbungkus sleeping bag ini adalah korban aksi pembunuhan sadis, karena terdapat beberapa luka bacok di sekujur tubuhnya. Istri korban, Julaikah Noor Aini, 45, telah ditangkap sebagai tersangka karena diduga menjadi dalang aksi pembantaian suaminya.

Mayat bule Inggris ini tanmpa sengaja ditemukan salah seorang krama subak yang membersihkan parit di ssebelah utara Pura Puseh Desa Pakraman Sedang, Selasa pagi sekitar pukul 08.00 Wita. Saat itu, saksi melihat sleeping bag plastik mengapung di parit. Setelah dicek, ternyata di dalam sleeping bag itu terdapat sosok mayat bule berlumuran darah.

Menurut krama subak yang berasal dari Desa Sedang tersebut, bungkusan sleeping bag yang ternyata berisi mayat itu sebenarnya sudah ada sejak Senin (20/10). Tapi, karena dikira hanya berisi mayat anjing, saksi membiarkannya begitu saja di parit. Namun, karena penasaran, Selasa kemarin bungkusan sleeping bag itu dicek. Ternyata, isinya mayat bule berlumuran darah.

Temuan heboh tersebut pun dilaporkan ke Polsek Abiansemal. Kemudian, petugas Polsek Abiansemal bersama Polres Badung dan Polda Bali terjun ke lokasi untuk melakukan olah TKP dan sekaligus mengevakuasi mayat yang semua tak jelas identitasnya. Dari hasil pemeriksaan di lokasi TKP, diketahui mayat terbungkus sleeping bag tersebut merupakan bule lelaki. Petugas juga menemukan sebuah handphone di sekitar bungkusan mayat.

Hanya berselang beberapa jam, tim gabungan Polres Badung dan Polda Bali berhasil mengidentifikasi mayat bule lelaki, yang kemudian diketahui bernama Robert Kevin Ellis. Bule berusia 60 tahun ini tinggal di Villa Emerald, Jalan Karangsari Blok C 6 Semawang-Sanur, Denpasar Selatan.? Sementara jasad si bule dibawa ke RS Sanglah, Denpasar untuk pemeriksaan lebih lanjut, polisi juga melakukan pemeriksaan di rumah korban. Saat polisi datang, di rumah itu ditemui istri korban, Julaikah Noor Aini. “Istri si bule kaget ketika diberitahu suaminya menjadi korban pembunuhan,” ungkap sumber di kepolisian, Selasa kemarin.

Istri korban yang wanita asal Surabaya, Jawa Timur itu telah dimintai keterangannya terkait kematian tragis suaminya. Dari situ, terungkap korban Robert Kevin Ellis dan Julaikah Noor Aini telah menikah 20 tahun silam. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai dua anak yang salah satunya kini kuliah di Australia. Pasutri beda bangsa Robert Kevin Ellis dan Julaikah Noor Aini diketahui tingal di vila mewah yakni Villa Emerald, Semawang itu sejak 10 tahun terakhir. Vila tersebut sudah dibeli dan sekarang jadi hak milik korban. Berdasarkan pemeriksaan, polisi mencurigai Julaikah Noor Aini terlibat dalam pembunuhan ini.

Perempuan asal Surabaya ini pun telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolres Badung di Mengwi, tadi malam. Sebelum penetapan tersangka istri korban, polisi telah membekuk salah satu pelaku yang diduga sebagai eksekutor pembunuhan terhadap bule Inggris, tadi malam sekitar pukul 19.30 Wita. Pelaku eksekutor berinisial AR ini ditangkap polisi di Pelabuhan Padangbai, Kecamatan Manggis, Karangasem. “Sekarang (tadi malam) pelaku masih dalam perjalanan ke Denpasar,” jelas sumber tersebut kepada NusaBali. Dia menyebutkan, berdasarkan keterangan pelaku eksekutor berinisial AR, terungkap pembunuhan bule Inggris dilakukannya bersama 4 orang lainnya. Polisi pun masih memburu 4 pelaku eksekutor yang buron dan diduga masih berada di Denpasar tersebut.

Hingga tadi malam, polisi masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap tabir pembunuhan yang merenggut nyawa bule Inggris ini. Dari penyelidikan sementara, tidak ditemukan tanda-tanda kalau pembunuhan tersebut dilakukan di rumah korban di Villa Emerald, Semawang.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Badung AKBP I Komang Suartana menyatakan pihaknya masih memburu para pelaku. Perburuan dilakukan oleh tim gabungan Polres Badung dan Polda Bali. “Para pelaku masih diburu,” katanya. Sedangkan istri korban, Julaikah Noor Aini, telah resmi ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan suaminya, karena diduga mendalangi aksi pembantaian tersebut. Sementara itu, jasad bule Inggris korban pembunuhan, Robert Kevin Ellis, telah dibawa ke Instalasi Forensik RS Sanglah, Selasa pagi sekitar pukul 10.30 Wita. Petugas medis pun langsung melakukan otopsi jenazah atas permintaan pihak kepolisian. Berdasarkan hasil otopsi, korban tewas karena mengalami tiga luka robek yang bersifat fatal di bagian leher.

Kepala Bagian Forensik RS Sanglah, dr Ida Bagus Putu Alit SpF, memaparkan selain luka fatal di bagian leher, juga ditemukan memar yang tersebar di anggota gerak atas, pipi, telinga sebelah kanan, serta luka sayatan senjata tajam di dagu. “Ada beberapa luka yang kami temukan pada jasad korban, baik luka karena benda tumpul maupun akibat benda tajam,” ungkap dr IB Putu Alit. Korban diperkirakan tewas dibunuh hari Senin, antara dinihari pukul 04.30 Wita hingga pagi pukul 10.30 Wita

Categories
Kriminalitas

Kronologi Pembunuhan Mayat Yang Disemen Hingga Meledak Di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B No. 154


Masyarakat di lingkungan proyek renovasi rumah Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B, Surabaya, Jawa Timur, tak ada yang mengira, dua kawan karib yang setiap hari tidur satu atap di rumah nomor 154, berakhir dengan pembunuhan. Jasad korban ditanam oleh tersangka dan disemen di bawah paving rumah, yang sedianya akan digunakan Rumah Makan Roti Bonita oleh pemiliknya itu. Kronologis kejadiannya begini, pada Rabu sore (15/10), delapan dari 10 pekerja proyek renovasi rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B, sudah kembali ke rumahnya masing-masing.

Seperti hari-hari biasa, mengisahkan dua pekerja, yaitu Nurhawi alias Awi (23) asal Dusun Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Probolinggo. Serta Nur Hadi Santoso (19) asal Sedaput Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang. Dua kawan karib ini, sehari-hari memang tidur dan bertugas menjaga rumah yang tengah direnovasi tersebut.

Rabu malam sekitar pukul 20.00 WIB, dua kawan karib ini kerja lembur. Saat Awi asyik mengerjakan tugasnya, tiba-tiba, Nur masuk ke dalam, dan kakinya tersandung kabel lampu penerangan hingga lampu padam. Awi marah dan menampar muka Nur empat kali tanpa balas. Pemuda tanggung itu hanya bisa menyimpan sakit hatinya.

Kamis pagi (16/10), kedua kawan karib yang tengah berseteru semalam itu, kembali bekerja bersama delapan rekannya yang lain. Dibawa komando Yanto, sang mandor proyek, para kuli proyek itupun mengerjakan tugasnya masing-masing, hingga sore hari tiba. Ketika seluruh aktivitas di area proyek selesai, kembali hanya mengisahkan Awi dan Nur di lokasi. Sekitar pukul 17.00 WIB, Awi baru saja selesai mandi dan berpakaian. Dengan kemeja lengan panjang warna abu-abu dan sarung warna biru, dia menikmati suasana sore di teras rumah, yang bagian seluruh pagarnya tertutup seng atau plat tipis sehingga tak terlihat dari luar.

Dia duduk di atas kursi kayu panjang di depan pintu utama rumah. Dari dalam rumah, Nur yang melihat rekannya itu, tiba-tiba teringat kejadian Rabu malam. Sakit hatinya muncul, lalu mengambil paving blok di sekitar lokasi dan menghantam kepala korban tiga kali hingga terjungkal ke lantai bersimbah darah. “Sebenarnya tak ada rencana membunuh, saat melihatnya, sakit hati karena dipukul itu muncul. Sayapun memukulnya dengan paving,” aku Nur di hadapan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta dengan logat Jawa, Minggu sore (19/10).

Kemudian Nur menyeret tubuh Awi yang sekarat masuk dalam rumah. Nafas Awi tersengal dan memuntahkan darah segar membasahi lantai rumah. Nur bingung, hendak diapakan tubuh Awi ini. Sambil terus berpikir, Nur mengambil timba kecil di depan rumah dan diisi dengan semen lalu dicampur dengan air. Semen cair itu, oleh Nur digunakan untuk menyiram darah Awi yang membasahi lantai rumah, dengan tujuan menghilangkan jejak. Kemudian Nur kembali menyeret tubuh Awi masuk ke ruang belakang rumah dan kembali berhenti di situ. Dia kembali berpikir: “Hendak diapain tubuh Awi?”

Dia lalu kembali menyeret tubuh korban yang telungkup menuju pintu samping kiri rumah. Di lorong rumah bekas garasi, Nur terus menyeret tubuh Awi yang masih bernafas dengan cara memegang kakinya. Nur berniat memasukkan tubuh Awi ke lubang septi tank berukuran sekitar 20 x 20 cm. Sayang, lubang itu tak cukup untuk ukuran tubuh Awi. Lubang hanya cukup untuk bagian kepalanya saja. Nurpun kembali menarik tubuh Awi, hingga dada korban terluka karena bergesekan dengan lubang yang terbuat dari semen cor tersebut.

“Karena korban masih bernafas, tersangka kembali memukul korban dengan cangkul hingga tak lagi bernafas (tewas), lalu menanam korban di dekat sapti tank sedalam 30 cm,” terang Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta di lokasi kejadian. Setelah memastikan korban tak bernyawa, tersangka membongkar paving yang sudah tersusun rapi dan menggali tanah, lalu menaruh jasad korban di dalamnya. Setelah itu, tersangka menyemen tubuh korban dan menutupnya dengan tanah lalu memasang kembali paving-paving yang dibongkarnya.

Usai kejadian, tersangka mengemasi barang-barangnya dan membawa handphone korban untuk dijual kepada temannya yang lain seharga Rp 50 ribu. Sebelum melarikan diri, tersangka sempat berpamitan ke pemilik warung di dekat lokasi sekitar pukul 20.00 WIB. Kepada pemilik warung, dia mengaku sudah tidak lagi bekerja dan akan pulang kampung.

Jumat pagi (17/10), Yanto, sang mandor dan delapan pekerja proyek bingung karena pagar rumah terkunci. Yanto menghubungi Awi dan Nur. Handphone Awi tak bisa dihubungi, sedang milik Nur terdengar nada sambung, tapi tak terangkat. Aktivitas terpaksa diliburkan hari itu juga. Hari Sabtu (18/10), selain kerja terakhir, juga jadwal pembagian jatah gaji selama sepekan. Namun, kedua penjaga rumah (Awi dan Nur) tak juga menampakkan batang hidungnya. Terpaksa pintu pagar rumah yang terkunci, atas izin Yanto, dicongkel gemboknya.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Budi, satu dari para pekerja melihat ada kejanggalan pada susunan paving di lorong bekas garasi. Paving yang semula rata, bletat (rusak) membentuk gundukan. Budi lapor ke Yanto dan mengeceknya. Karena ada yang aneh, Yanto melapor satpam perumahan. Sudarsono, satpam yang mendapat giliran jaga waktu itu, bersama satpam perumahan yang lain mendatangi lokasi dan membongkar paving yang janggal tersebut. Mereka melihat ada secarik kain warna biru (sarung korban) menyembul di sela-sela gundukan tanah dan menarik kain tersebut. Saat sebagian kain tercabut, bau busuk ke luar dari dalam tanah. Mengetahui ada mayat terkubur di lokasi, mereka pun melapor ke Polsek Mulyorejo.

akit hati karena dipukul sebanyak empat kali oleh rekan seprofesinya, Nur Hadi Santoso (19) asal Sedaput Bakalan, Sumobito, Jombang, Jawa Timur terpaksa mengakhiri nyawa Nurhawi alias Awi (23) asal Dsn Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Probolinggo. Nur menghabisi nyawa Awi dengan cara memukul kepalanya dengan paving saat duduk di teras depan rumah sekitar pukul 17.00 WIB, pada hari Kamis (16/10).

Tak hanya itu, untuk melampiaskan sakit hatinya, Nur juga memukul Awi dengan cangkul hingga terjatuh bersimbah darah. Karena masih bernafas, Nur menyeret tubuh Awi yang tak berdaya ke halaman samping rumah serta memasukkan ke dalam lubang septic tank yang belum terpakai, hingga meninggal dunia. Kemudian, tersangka mengambil jenazah korban dan menguburkannya di sebelah septic tank sedalam 30 centimeter, lalu menyemennya dan ditutup kembali dengan paving.

Setelah mengubur jenazah korban, sekitar pukul 20.00 WIB, Nur berpamitan pulang ke Jombang kepada pemilik warung yang ada di sekitar TKP. Dikonfirmasi terkait masalah ini, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono masih enggan membebarnya, sebab sore ini (19/10), Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta yang akan menyampaikannya ke media massa. Dia hanya membenarkan soal penangkapan tersangka di rumah orang tuanya di Jombang. “Iya benar sudah tertangkap. Nanti, Pak Kapolrestabes sendiri yang merilisnya,” kata Sumaryono singkat, Minggu (19/10). Sementara itu, hingga saat ini, di lokasi kejadian, pihak kepolisian tengah menggelar pra rekonstruksi di TKP bersama tersangka.

Pelaku pembunuhan mayat disemen dan ditanam sedalam 30 meter di bawah paving rumah di Perumahan Dharma Husada Indah Blok B/154, Surabaya, Jawa Timur, berhasil ditangkap. Pelaku ditangkap di rumah orang tuanya yang kini sudah menikah lagi. Rumah orang tua pelaku itu berjarak sekitar 40-60 kilometer dari rumah pelaku di Jombang. Dikonfirmasi terkait penangkapan pelaku ini, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono membenarkannya. Hanya saja, dia masih enggan mengungkap secara detail proses penangkapan itu.

Alasannya, sore ini (19/10), Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta sendiri yang akan menyampaikannya ke media massa. “Iya benar sudah tertangkap. Nanti, Pak Kapolrestabes sendiri yang merilisnya,” kata Sumaryono singkat, Minggu (19/10). Dan siang ini, polisi juga tengah menggelar rekonstruksi kejadian di lokasi pembunuhan bersama pelaku. Diberitakan sebelumnya, Sabtu siang (18/10) kemarin, Perumahan Dharma Husada Indah Blok B digegerkan penemuan mayat terkubur di bawah paving.

Mayat di bawah paving itu, diketahui bernama Awi asal Probolinggo. Diduga, korban dibunuh rekan seprofesinya sendiri, yang sama-sama diberi tugas menjaga lokasi proyek renovasi rumah di Perum Dharma Husada Indah. Kasus ini terungkap saat paving block yang telah disemen tiba-tiba meledak. Ada ceceran darah sehingga akhirnya mayat bisa ditemukan.

Hanya dalam tempo 12 jam, pelaku pembunuhan pekerja proyek renovasi rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B/154, Surabaya, Jawa Timur tertangkap. Tersangka Nur Hadi Santoso (19), asal Desa Sedaput Bakalan, Kecamatan Sumobito, Jombang, akan dijerat dengan pasal berlapis, yaitu Pasal 340, 338, 351 dan 365 KUHP.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Setija Junianta mengatakan, usai mendapat laporan peristiwa pembunuhan di Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B itu, Sabtu sekitar pukul 11.30 WIB, pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap tersangka. Proses penangkapan terhadap tersangka, dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari empat anggota Jatanras Polrestabes Surabaya dan dua personel dari Reskrim Polsek Mulyorejo yang dipimpin Ipda Budianto.

Kali pertama, perburuan dilakukan di rumah tersangka Nur, yaitu di daerah Sumobito. Keberadaan tersangka di Jombang ini, didapat dari keterangan saksi-saksi yang ada di lokasi kejadian. Namun sayang, saat rumahnya disatroni polisi, tersangka tidak di tempat. Informasi yang diperoleh pihak kepolisian, Nur dikabarkan bersembunyi di rumah ayahnya, yang sudah menikah lagi di Dusun Tangkil, Desa Pait, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang.

Setelah menerima informasi itu, tim gabungan tersebut bergegas menuju Malang. Dan sekitar pukul 23.30 WIB, tersangka berhasil dibekuk dan dibawa kembali ke Surabaya. “Tersangka berhasil kita tangkap di tempat persembunyiannya, yaitu di rumah orang tuanya di daerah Kasembon, Kabupaten Malang, pada Sabtu malam,” kata Setija di lokasi kejadian, Minggu (19/10).

Setija melanjutkan, setelah melakukan pembunuhan terhadap rekannya sendiri, yaitu Nurhawi alias Awi (23), warga Dusun Mangga, Sentulan, Kecamatan Batuanyar, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis malam (16/10) lalu, tersangka Nur berpamitan pulang kampung ke pemilik warung di sekitar TKP dan mengaku sudah tidak bekerja lagi di proyek yang ada di lokasi kejadian.

“Sebelum melarikan diri, tersangka sempat berpamitan ke pemilik warung di sekitar lokasi. Tersangka juga masih sempat menjual handphone milik korban ke rekannya yang lain seharga Rp 50 ribu. Kemudian melarikan diri ke Malang, di rumah orang tuanya,” jelas Setija. Motif pembunuhan yang dilakukan Nur terhadap Awi, karena dendam. “Rabu malam, keduanya kerja lembur dan kaki tersangka tanpa sengaja tersandung kabel lampu hingga lampu padam. Korban marah dan memukul tersangka.”

“Selanjutnya, pada hari Kamis sekitar pukul 17.00 WIB, tersangka memukul korban dengan paving. Kemudian pada hari Sabtu, kejadian ini terbongkar dan dilakukan pengejaran,” sambung Setija. Selain mengamankan tersangka, polisi juga menyita barang bukti berupa satu pavling block, satu unit cangkul, baju dan celana korban, sepasang baju milik tersangka, dan satu unit HP milik korban yang dijual tersangka. “Pasal yang akan kita sangkakan adalah Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, 338 KUHP tentang pembunuhan, 351 KUHP tentang penganiayaan dan Pasal 365 KUHP tentang pencurian dan kekerasan,” tegas Setija.

Kasus pembunuhan ini terungkap, saat salah satu pekerja proyek bernama Budi, mendapati paving yang sudah tersusun rapi di lorong bekas garasi sisi kiri rumah bletat (rusak), membentuk gundukan. Peristiwa pembunuhan itupun terungkap. Awi, pekerja proyek renovasi rumah di Dharma Husada Indah I, tewas dibunuh rekan seprofesinya, Nur.

Penemuan mayat terbungkus kain warna biru di bawah paving gegerkan warga Perumahan Dharma Husada Indah Blok B, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/10). Diduga, mayat yang terkubur di rumah nomor 154 yang tengah direnovasi itu adalah Awi asal Probolinggo. Awi sendiri merupakan pekerja bangunan di rumah yang informasinya hendak dijadikan Rumah Makan Roti Bonami oleh pemiliknya. Bersama rekannya bernama Nur asal Jombang, Awi diberi tugas menjaga rumah oleh mandornya yang bernama Yanto.

Namun, menurut satpam perumahan, Sudarsono, kedua orang tersebut sudah tidak terlihat di sekitar rumah pada Kamis malam (16/10) lalu. “Kemudian, pada hari Sabtunya, tadi sekitar pukul 11.00 WIB, mandornya lapor ke satpam perumahan, kalau paving yang dipasangnya bletat (semburat), ada gundukan tanah dan ceceran darah yang sebagian ditutupi dengan semen,” terang Sudarsono di lokasi kejadian.

Sementara Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Hartoyo mengatakan, sebelum penemuan mayat tersebut, pada hari Jumat kemarin (17/10), mandornya yang bernama Yanto sempat menelepon keduanya. Tapi tak tersambung. “Pada hari Kamis, kedua orang ini (Awi dan Nur) masih bekerja. Hari Jumatnya, mereka tidak bekerja, di situ (lokasi kejadian) hanya terlihat delapan pekerja saja. Sempat dicari-cari mandornya, termasuk ditelepon langsung oleh mandornya tapi tidak tersambung,” terang Hartoyo.

Hartoyo juga mengaku masih belum berani menyimpulkan motif kejadian tersebut, termasuk dugaan pembunuhan. “Belum, belum. Masih dilakukan olah TKP. Yang jelas, sampai saat ini, kedua orang tersebut tidak ada, yang terkubur diduga si Awi, sementara teman satunya belum diketahui di mana,” tuturnya. Sementara dari pantau di lapangan, atas kejadian ini, di sekitar lokasi banyak warga yang menonton peristiwa tersebut. Sedangkan pihak kepolisian, hingga sekitar pukul 16.00 WIB masih melakukan olah TKP.

Sebelumnya, warga Perumahan Dharma Husada digegerkan penemuan mayat yang terkubur di bawah paving salah satu rumah di perumahan elit di Surabaya. Polisi masih mendalami kasus penemuan mayat terkubur di bawah paving rumah di Perumahan Dharma Husada Indah I/154, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (18/10). Setidaknya sudah ada 10 orang saksi yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

“Kita masih mendalami kasus ini. Untuk motifnya kita belum tahu. Kita masih meminta keterangan saksi-saksi yang ada di TKP. Ada 10 orang. Semua pekerja bangunan di sini. Termasuk mandor dan pelaksana proyek,” terang Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sumaryono. Penemuan mayat itu sendiri, kata Sumaryono, awal mula diketahui oleh seorang pekerja, bernama Budi, yang kemudian dilaporkan kepada mandor proyek, bernama Yanto.

“Oleh mandornya dilaporkan ke satpam perumahan, yang kemudian dilakukan pengecekan, ternyata ada mayat di bawah paving. Baru setelah itu dilaporkan ke pihak kepolisian,” papar Sumaryono. Sebelumnya, warga Perumahan Dharma Husada Indah I Blok B digegerkan peristiwa penemuan mayat di rumah nomor 154, yang tengah direnovasi. Rencananya, rumah tersebut akan digunakan Rumah Makan Roti Bonami.

Proyek renovasi, dikerjakan 10 pekerja, satu mandor dan pengawas. Dari 12 orang tersebut, dua di antaranya ditugasi tinggal dan menjaga rumah setiap harinya. Dua orang tersebut adalah Awi (28), asal Probolinggo dan Nur (26) asal Jombang. Hari Kamis (16/10), kedua orang tersebut masih terlihat ikut bekerja. Namun, malam harinya, keduanya tidak ada di tempat. Hal ini diungkap, satpam perumahan, Sudarsono, yang biasa ikut nongkrong bersama dua orang tersebut di warung kopi dekat lokasi.

Keesokan harinya, pada hari Jumat, keduanya dipastikan menghilang dari proyek. Yanto, selaku mandor proyek mencari kedua kulinya yang menghilang tersebut. “Mandornya sempat mencari, sempat nelpon juga, tapi tidak nyambung,” kata Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol Hartoyo. Hari Sabtu, rekan korban yang bernama Budi, curiga dengan kondisi paving di lorong sisi kiri rumah. Paving yang sudah tertata rapi rusak dan terdapat gundukan tanah. Budipun melapor ke Yanto.

Sekitar pukul 11.00 WIB, Yanto melapor ke satpam perumahan. Sudarsono dan beberapa satpam yang lain mendatangi lokasi. Sudarsono mengaku, di selah gundukan tanah di antara paving yang sudah rusak, dia melihat kain warna biru (sarung yang dikenakan korban). “Kain saya tarik, dan baunya pun langsung keluar. Kamipun akhirnya lapor ke polisi,” kata Sudarsono. Pada olah TKP yang dilakukan pihak kepolisian, korban Awi tewas karena dihantam benda tumpul di bagian dada dan kepala. Saat tewas korban masih mengenakan kemeja lengan panjang warna abu-abu lorek dan mengenakan sarung warna biru.

“Kondisi korban telungkup. Ada tiga bekas luka di bagian dada dan kepala. Di lihat dari kondisi luka korban, kemungkinan korban di bunuh sekitar dua atau tiga hari. Eksekusi dilakukan di depan rumah kemudian diseret ke belakang rumah. Ini bisa kita lihat dengan bekas ceceran darah,” terang AKBP Sumaryono saat masih berada di lokasi kejadian.

“Setelah itu, korban ditanam di bawah paving sedalam 30 centemiter, kemudian disemen. Setelah itu baru ditutup kembali dengan paving. Tapi kemudian paving ini mbletat (rusak) dan diketahui oleh Budi yang kemudian dilaporkan ke mandornya. Untuk pelaku sendiri, kita sudah mengantongi identitasnya, yaitu inisial N. Kita sedang melakukan pengejaran terhadap tersangka. Mudah-mudahan bisa cepat kita tangkap,” pungkas Sumaryono.

Categories
Perekomonian dan Bisnis

Sengketa Pengelolaan Bandara Halim Tunggu Diselesaikan Oleh Jokowi


Pemerintah baru agaknya tak bisa berbulan madu lama-lama. Sudah banyak masalah menumpuk, salah satunya adalah perselisihan antara PT Angkasa Pura II (Persero) dan Lion Group, terkait pengelolaan Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Tri Sunoko bahkan enggan memberikan komentar lebih jauh soal diserahkannya pengelolaan Halim Perdanakusuma pada Lion Group, sebuah grup di industri aviasi di bawah kemudi Rusdi Kirana.

Tri menyerahkan keberlanjutan nasib AP II atas pengelolaan Halim Perdanakusuma pada pemerintah baru. “Kami minta kepada pemerintah, silakan menentukan kebijakan pemerintah, apakah (dikelola) AP II, atau statusnya bagaimana? Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah,” tegas Tri, di Jakarta, Senina (20/10/2014).

Tri bersikukuh AP II mengelola Halim Perdanakusuma berdasarkan peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan berdasarkan izin operasi yang jelas. “Saya cenderung menunggu keputusan pemerintah. Mending nanya sama pemerintah saja, sama Kemenhub, sama Kementerian BUMN,” imbuh Tri.

Sejauh ini, Tri mengklaim AP II telah merogoh investasi yang sangat besar untuk perawatan Halim Perdanakusuma. Sebagai informasi, AP II, perusahaan pengelola bandara di wilayah Indonesia Barat itu, diberitaakan telah menggelontorkan investasi sekitar Rp 100 miliar per tahun, atau sekitar Rp 3 triliun selama 30 tahun.

Hasrat besar Lion Group mengembangkan Bandara Halim Perdanakusuma tidak hanya membangun infrastrukturnya tetapi juga sekaligus berkeinginan menjadi operator bandara layaknya Angkasa Pura (AP).

Lantas bagaimana nasib operator Halim saat ini yaitu AP II jika Lion mengambil alih pengelolaan bandara?

Direktur Operasional Lion Air, Edward Sirait mengatakan, setelah nanti pemugaran Bandara Halim selesai, Lion bisa saja mengambilalih bandara dan mengelolanya sendiri. Namun, menurutnya, Lion pun siap untuk bekerjasama dengan AP II terkait pengelolaan bandara tersebut.

“Bisa saja kita jalin Bussines to Bussines dengan Angkasa Pura, proyek ini proyek mandiri kami (Lion Group),” ujar Edward di Jakarta, Selasa (14/10/2014).

Lebih lanjut kata Edward, keputusan Lion berinvestasi untuk pengembangan Bandara Halim sudah sesuai dengan Undang-undang nomer 1 tahun 2009 tentang penerbangan di mana pihak swasta diperbolehkan berinvestasi disektor penerbangan. Jadi, menurut dia, pengambilalihan bandara oleh Lion nanti sudah sesuai dengan peraturan yang ada.

Meskipun demikian, Lion tetap menunggu sertifikat dari Kementerian Perhubungan mengenai izin penggunaan bandara Halim menjadi bandara umum. Untuk urusan lalu lintas udara, Lion pun siap berkoordinasi denangan Air Nav.

“Ini contoh swasta membangun dan mengoperasikan, nah nanti operasinya tergantung Kemenhub. Mirip kalau mau terjang aja,” kata Edward.

Sementara itu, Sekretaris Angkasa Pura II Daryanto mengatakan, pihaknya akan menunggu keputusan lebih lanjut terkait rencana Lion menjadi operator Bandara Halim tersebut. “Sampai saat ini kami masih sebagai operator, nantinya seperti apa ya kami masih menunggu sampai ada keputusan lebih lanjut,” kata Daryanto

Categories
Pariwisata

Bule Yang Diberi Kuasa Kelola Pulau Cubadak Usir Masyarakat Di Pulau Cubadak


Video orang asing atau bule hebohkan masyarakat di Sumatra Barat. Dalam video itu nampak beberapa bule di Pulau Cubadak di kawasan Pulau Mandeh, Sumatra Barat, mengusir masyarakat yang hendak mendatangi kawasan pulau. Video yang berdurasi 21 menit 37 detik itu dimuat di youtube oleh akun Watchdoc Documentary Maker . Di dalam video terlihat pengelola kawasan Pulau Cubadak mengusir seorang fotografer dan videografer yang ingin mengabadikan keindahan pulau yang dinilai sebagai Raja Ampat-nya wilayah Barat.

Darpius, seorang tokoh masyarakat adat setempat menceritakan pengalamannya selama membawa wisatawan Indonesia maupun masyarakat lokal yang ingin mengunjungi Pulau Cubadak. Ketika kapal pembawa rombongan merapat ke Pulau Cubadak, nampak Darpius berusaha meminta izin ke seorang bule yang sedang bermain bersama anaknya di dermaga. “Kita orang lokal, paham disini seperti apa. Biasanya diberi izin sebentar, paling lama setengah jam,” kata Darpius.

Di video tersebut memperlihatkan juga beberapa wisatawan asing sedang berjemur di pantai mengenakan bikini, ada juga yang sedang duduk-duduk hanya mengenakan pakaian seadanya, aktivitas di pulau itu cenderung sepi.
Penolakan sempat terjadi ketika seorang videografer sedang mengambil gambar aktivitas. Ada juga seorang bule lelaki yang tiba-tiba teriak dari kejauhan dan melarang aktivitas tersebut.

“Jangan buat foto begitu, minta izin dulu,” kata seorang bule di kapal tersebut. Kejadian pengusiran dialami seorang fotografer ketika sedang mendokumentasikan keindahan pulau itu. Ia dihampiri oleh seorang perempuan bule yang diduga membawa gelas berisi bir, yang kemudian disebut sebagai pengelola pulau. Ia mengaku diusir karena tidak ada izin.

“Tadi saya ambil gambar, tapi dilarang. Padahal saya ambil pondok aja, bukan orang, tapi dilarang,” kata juru kamera tersebut. Darpius kemudian menanggapi. Ia tak melarang jika ada yang kurang puas terhadap pengelola, ia pun mengakui pengelola saat ini kurang ramah.

“Silakan di ekspose saja, yang sekarang memang kurang ramah, (padahal) yang pemilik lama ramah,” kata Darpius. Tak lama kemudian, pengelola tersebut kemudian nampak menghampiri Darpius. Ia kemudian mengingatkan tidak boleh ada dokumentasi di pulau tersebut tanpa izin dari dia.

“Kalau yang saya tidak setuju jangan, pergi sekarang!” hardik pengelola tersebut sembari pergi membelakangi Darpius. Darpius kemudian mengutarakan kekecewaannya. Ia menilai pengelola saat ini sudah merasa pulau itu miliknya, bukan disewakan. “Kalau dengan mister Nani (pengelola sebelumnya) tidak, tapi pengelola sekarang merasa ini milik dia, pemerintah harus bersikap,” kata dia.

Wakapolda Pun Diusir. arpius menilai ulah bule pengelola itu berani mengusir masyarakat dan wisatawan lokal karena punya beking. Ia pun bercerita sebelumnya ada juga pejabat tinggi yang diusir oleh pengelola. “Dia lakukan ini juga pernah ke wakapolda, pernah diusir, petinggi di sini juga pernah diusir,” kata Darpius.

Meski kesal dengan pengelola, Darpius sadar kesalahan bukan hanya ada di pihak pengelola semata. Ia menilai ada pembiaran dari masyarakat yang membuat pengelola arogan terhadap. “Dia juga tidak bisa kita salahkan, masyarakat bisa juga disalahkan karena lakukan pembiaran. Dia harusnya tahu ini milik negara, bukan pribadi. Jangan biarkan tamu-tamu lain komplain lalu imej disini jadi tidak baik,” papar Darpius.

Tidak untuk Dijual
Masyarakat setempat mengingatkan, status pulau tersebut adalah hak ulayat masyarakat adat, tidak bisa diperjualbelikan. Tanah dan pulau tersebut hanya diperbolehkan disewa untuk dipergunakan, itupun ada beberapa persyaratannya selama tidak melanggar adat setempat.

Meski begitu, ada alasan mengapa bule di kawasan Pulau Mandeh mengusir warga. Pengakuan seorang penjaga pulau mengutarakan alasannya. “Istilahnya orang awak yang datang melihat orang bule berjemur itu kaget, matanya sampai melotot, kan orang sini tidak biasa melihatnya. Gara-gara itu tidak bisa masuk lagi,” kata seorang penjaga pulau.

Categories
Pencinta Lingkungan

Jakarta Alami Masa Transisi Ke Musim Hujan Bulan Oktober


Setelah panas terik sebulan terakhir, mendung dan hujan mulai turun di wilayah selatan Jakarta dan sekitarnya pada Senin (13/10) kemarin. Pertengahan Oktober akan menjadi masa transisi musim kemarau ke musim penghujan. Soal masa transisi itu disampaikan Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG Kukuh Ribudiyanto.

“Kalau kita lihat klimatologi, untuk daerah Depok, Cibinong arah selatan itu awal musim penghujannya bulan Oktober pertengahan. Kalau Jakarta awal November,” kata Kukuh, Selasa (14/10/2014). Tanda-tandanya akan dimulai dengan adanya hujan lokal. Proses transisinya juga tidak merata, tetapi lebih didahului dari wilayah selatan lalu ke utara.

“Intensitasnya cenderung hujan lokal, tidak terlalu luas,” jelas Kukuh. Terhadap masa transisi, Kukuh menginnatkan tentang potensi hujan badai. “Justru perlu diwaspadai adalah angin kencang dan puting beliung. Mungkin kalau daerah kemiringan yang cukup tinggi, habis kemarau dia kering terus ada hujan lebat, perlu waspada ada tanah longsor,” ucapnya. Kukuh menambahkan, untuk suhu Jakarta minggu ini akan berkisar diangka 33-34 derajat Celcius. Suhu ini beberapa derajat lebih kecil dibanding dua hari sebelumnya yang berada di angka 36 derajat.

“Suhunya relatif berkurang,” kata Kukuh.

Cuaca cerah hingga berawan diperkirakan akan terjadi di Jakarta sepanjang hari ini. Walau begitu, potensi terjadi hujan ringan masih ada. Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Selasa (21/10/2014), wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat dan Jakarta Barat diperkirakan akan berawan sepanjang hari. Sementara hujan dengan intensintas ringan diperkirakan mengguyur Kepulauan Seribu dan Jakarta Selatan di siang hari.

Untuk wilayah Jakarta Timur diprediksi hujan akan mengguyur menjelang malam hari. Demikian juga yang diprediksi akan terjadi di Depok dan Bogor yang turun hujan sejak siang sampai malam hari. Sementara itu wilayah Tangerang akan diguyur hujan ringan pada siang hari saja. Sedangkan wilayah Bekasi cuaca diperkirakan mendung sepanjang hari.

Dalam beberapa hari terakhir, suhu di Jakarta pada siang hari begitu panas. Udara kering serta sengatan matahari terasa berlebihan. Mengapa cuaca panas di Jakarta begitu ekstrem? Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG, Kukuh Ribudiyanto mengatakan, di sebelah utara Papua, ada siklon tropis. Tekanan udara ini akan menarik uap air ke arah siklon.

Di langit Jakarta, kata Kukuh, sebenarnya sudah beberapa kali tertutup oleh awan. Namun karena adanya siklon tropis itu, maka uap air tidak sampai berubah bentuk menjadi hujan. “Panasnya karena nggak ada awan atau uap air. Radiasi matahari jadi maksimal karena nggak ada daya serap atau filter istilahnya,” kata Kukuh saat berbincang, Minggu (12/1/2014).

Keberadaan pohon seharusnya bisa menangkal radiasi sinar matahari yang masuk ke bumi. Namun semakin berkurangnya pohon, sedikit pula radiasi yang terserap. Musim kemarau ini diprediksi akan berakhir mulai pertengahan Oktober hingga November. Depok dan Jakarta Selatan akan menjadi wilayah yang pertama kali disapa oleh hujan.

Categories
Korupsi Pariwisata

Dicari Oknum Imigrasi Bandara Internasional Soetta Yang Mempermalukan Bangsa Indonesia Dengan Memeras Turis Asing


Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kunjungan turis asing terancam tergerogoti oleh ulah oknum di bandara. Rombongan turis Spanyol ini membeberkan modusnya. Sejumlah turis Spanyol menjadi korban praktik korupsi oknum imigrasi saat hendak masuk Indonesia dengan melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta).

“Ini adalah kisah saya dengan petugas imigrasi yang korup di Bandara Internasional Soetta,” tulis Carlos, demikian dia minta namanya dikutip, melalui surat elektronik yang diterima di Den Haag, Jumat (17 Oktober 2014). Membeberkan pengalaman buruknya dalam bahasa Inggris, Carlos menyertakan copy cap imigrasi kapan rombongannya masuk dan kapan keluar, sehingga kementerian terkait dapat memetakan siapa oknumnya yang nakal dan telah mencoreng institusi dan nama baik negara.

Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soetta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB. Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam.

“Kami sudah lelah tapi keluarga saya sangat senang berada di Indonesia, sebuah negara yang saya cintai,” kisah Carlos mengawali ceritanya. Karena perjalanan yang panjang dan melelahkan serta tidak ingin kedua orangtuanya masih harus dua kali antre di bandara, maka dia memutuskan untuk mengurus visa turis di KBRI Madrid, supaya di bandara cukup antre pada meja imigrasi, tak perlu antre untuk Visa on Arrival (VoA).

Perlu diketahui, bahwa dalam dua perjalanan sebelumnya ke Indonesia, Carlos selalu mengurus visa di KBRI Madrid, sehingga dia tahu persyaratan dan prosedurnya, petugas imigrasi akan menanyakan beberapa pertanyaan, memberi cap stempel dan menandatangani visa. “Dan kami sudah membereskan semua surat-surat di KBRI Madrid pada Agustus lalu,” ujar Carlos.

Setelah lebih dari 1,5 jam menunggu, Carlos bersama keluarganya sampai pada meja imigrasi Bandara Soetta yang paling dekat dengan meja VoA. Petugas imigrasi yang melayani mereka adalah pria usia muda. Menurut Carlos, pada saat itu hanya ada 3 meja imigrasi Bandara Soetta yang buka, 2 meja dengan petugas pria dan satu perempuan.

Carlos sangat terkejut ketika petugas ini, setelah melihat paspor dan visa mereka, menanyakan semua surat-surat yang sebelumnya telah dia penuhi persyaratannya dan telah diurus di KBRI Madrid. “Saya sampaikan ke petugas itu bahwa semua surat-surat itu telah saya urus di KBRI Madrid, sehingga kami mendapat visa yang telah disetujui sebelum kami datang ke Indonesia,” papar Carlos.

Petugas itu menanyakan tiket penerbangan kembali (return ticket) ke Spanyol, dan Carlos menunjukkan semua return ticket tersebut kepada dia. Selanjutnya petugas menanyakan reservasi hotel di Indonesia dan Carlos menjelaskan bahwa reservasi itu ada dalam email dan untuk saat ini, baru dari pesawat, dia belum ada kontak internet di Indonesia.

“Saya bersikeras bahwa KBRI Madrid telah memegang semua surat-surat kami yang diperlukan dan mereka telah menyetujui visa kami. Petugas itu kemudian mengatakan ok,” imbuh Carlos. Satu per satu keluarganya mulai mendapat cap stempel dan tanda di paspor mereka. Kecuali satu… “Yang terakhir adalah kakak saya. Petugas meminta saya untuk menyuruh keluarga saya lainnya supaya menjauh dan dia menanyakan lagi tentang reservasi hotel untuk paspor kakak saya,” terang Carlos.

Untuk ketiga kalinya, Carlos menyampaikan bahwa dia tidak memegang surat-surat itu saat ini, semua persyaratan permohonan visa telah dipenuhi dan semua sudah ada di KBRI Madrid, dan mereka telah menyetujui dan menerbitkan visa. “Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48,” rinci Carlos.

Setelah perjalanan panjang dari Madrid selama 20 jam dan berdiri antre di jalur imigrasi serta melihat kedua orangtua kelelahan, Carlos akhirnya memutuskan untuk menyudahi semua ini dan memberi petugas Euro 30 dari sisa uang tunai di sakunya. Carlos mengatakan pada petugas bahwa dia sudah tidak mempunyai uang tunai lagi dan perlu segera membawa kedua orangtuanya ke hotel untuk istirahat.

“Petugas mengambil uang Euro 30 itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya,” demikian Carlos. Kementerian Hukum dan HAM tidak bisa menutup mata atas sinyal-sinyal seperti ini. Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di medsos Spanyol.

Dirjen Imigrasi geram terhadap aksi peras yang dilakukan oleh oknum imigrasi Bandara Soekarno-Hatta terhadap rombongan turis Spanyol yang hendak berlibur ke Indonesia pada 25 September lalu. Kemenkum HAM pun langsung melakukan investigasi mencari petugas yang ‘nakal’ terhadap rombongan turis dari Negeri Matador itu.

“Berdasarkan informasi dan bukti berupa cap tanda masuk dan keluar keimigrasian, kami telah memerintahkan Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta untuk melakukan investigasi dan pemeriksaan lebih lanjut tentang kebenaran informasi tersebut,” ujar Kepala Bagian Humas dan TU Dirjen Imigrasi, Heryanto, dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/10/2014) malam.

Lebih lanjut, dari laporan investigasi sementara pihaknya telah memperoleh profil petugas imigrasi yang memeras Carlos dan rombongan di Bandara Soetta. Heryanto mengatakan, pihaknya tengah melakukan pemeriksaan secara intensif untuk pembuktian yang maksimal. “Apabila terbukti bersalah akan dikenakan tindakan tegas sesuai ketentuan perundangan yang berlaku,” tegasnya.

Sekadar informasi, Carlos mengajak rombongan keluarganya untuk berlibur ke Indonesia dengan pesawat Emirates nomor penerbangan EK356 dari Dubai dan tiba di Terminal Kedatangan 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Kamis 25 September 2014 sekitar pukul 15.40 WIB. Sebelum penerbangan ini, mereka telah menempuh penerbangan Emirates dari Madrid-Dubai dengan total waktu bepergian selama 20 jam. Setelah menanyakan kelengkapan dokumen Carlos dan rombongan, petugas menegaskan pihaknya boleh masuk ke Indonesia apabila membayar sejumlah uang.

“Petugas itu mengatakan bahwa dia harus mendapatkan surat-surat tersebut, tetapi jika saya memberi dia US$ 8 per orang, maka dia akan mengizinkan kakak saya masuk Indonesia. Kami berenam, sehingga jumlah totalnya US$ 48,” rinci Carlos. “Petugas mengambil uang Euro 30 (sisa di dompet Carlos) itu, memberi cap stempel dan memparaf paspor kakak saya. Saya sangat kecewa, tapi sekurangnya saya -dengan memberi uang itu- dapat masuk Indonesia dan mulai menikmati negara asing favorit saya,” demikian lanjutnya.

Cerita pengalaman buruk berurusan dengan imigrasi Indonesia ini telah menyebar luas di media sosial Spanyol.