Kisah Ade Rahmat Yang Bayi Ditahan Rumah Sakit Immanuel Karena Miskin dan Tidak Mampu Bayar Biaya


Ade Rahmat (39) dan Reni Luasiana (27) terus memutar otak demi mendapatkan uang sebesar Rp 17 juta untuk menebus anak mereka yang sebulan lalu dilahirkan di Rumah Sakit Immanuel, Bandung. Kasus ini berawal saat Ade dan Reni tak sanggup membayar biasa persalinan sebesar Rp 9 juta. Kala itu, mereka hanya mempunyai uang sebesar Rp 3,5 juta. Dengan uang itu, hanya Reni yang diperbolehkan pulang, sementara bayi mereka ditahan oleh pihak rumah sakit.

Kini, setelah sebulan berselang, biasa perawatan bayi Ade dan Reni sudah membengkak hingga Rp 17 juta. Mereka pun semakin kesulitan untuk mendapatkan uang sebanyak itu. Penghasilan Ade yang bekerja sebagai tenaga keamanan di salah satu hotel di Bandung tak memungkinkannya untuk mendapatkan dana sebesar itu.

Ade pun sempat memohon kepada manajemen RS Immanuel agar biaya tersebut dapat dicicil. Namun, permohonan itu tak dikabulkan. Menurut Ade, RS baru memberikan izin pembayaran secara mencicil jika Ade bisa mengagunkan sertifikat tanah kepada pihak RS. “Katanya, kalau saya punya sertifikat tanah dan sertifikat tanah itu dijadikan jaminan untuk rumah sakit, baru bayi bisa dibawa pulang dan pembayarannya bisa dicicil,” kata Ade di Bandung, Rabu (5/11/2014).

SKTM
Manajemen RS lantas menyarankan Ade dan Reni untuk mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) demi mempermudah pembayaran tunggakan biaya RS. “Mereka (rumah sakit) sempat ngasih saran ke saya dan istri saya agar mengurus SKTM, memang waktu masuk ke rumah sakit sebulan lalu, saya masuknya jalur umum, tidak pakai Jamkesmas ataupun BPJS,” kata dia.

Ade dan Reni pun sepakat mengurus SKTM di tempat tinggalnya, ke pihak RT, RW, kelurahan, dan kecamatan setempat di Kabupaten Bandung. Kepengurusan SKTM selesai pada hari Selasa, (4/11/2014). “Kemarin (hari Selasa) saya sudah kasih surat SKTM, tapi hasilnya nol, belum ada toleransi apa pun dari rumah sakit,” keluh dia.

“Urus-urus SKTM juga ribet, masih ada biaya ini itu pas urus SKTM di rumah sakit, ada saja yang harus dibayar pas urus-urus itu, saya pusing,” keluh dia. Dia pun sempat berniat mendaftar Jamkesmas dan BPJS, tetapi sudah terlambat mengingat keberadaan mereka di rumah sakit sudah lebih dari tiga hari. “Kalau sudah lebih dari tiga hari, katanya percuma. Kalaupun dibuatkan BPJS atau Jamkesmas percuma, tidak akan bisa digunakan untuk meringankan beban,” kata Ade.

Meski bayinya sudah lahir dengan selamat, pasangan suami istri Ade Rahmat (39) dan Reni Lusiana (27) belum merasa bahagia. Sudah satu bulan lebih, bayi lelaki mereka yang lahir pada 2 Oktober 2014 di RS Imanuel, Bandung, Jawa Barat, itu masih ditahan di rumah sakit. Ade dan Reni belum bisa melunasi biaya persalinan bayi itu. Seiring waktu, biaya perawatan bayi itu pun semakin membengkak, sementara Ade hanya bekerja menjadi petugas keamanan di salah satu hotel di Bandung.

“Sudah sebulan lebih bayi saya ditahan rumah sakit. Saya sedih, sampai sekarang pun bayi saya belum diperbolehkan pulang,” kata Ade saat ditemui di Bandung, Selasa (4/11/2014). “Yang lebih pusing lagi, semakin hari, selama bayi saya ada di rumah sakit, biayanya terus membengkak, bahkan sampai sekarang ini sudah mencapai Rp 17 juta lebih,” lanjut Ade. Menurut Ade, persalinan istrinya berjalan lancar. Tiga hari berada di rumah sakit, Reni dan bayi mereka sudah diperbolehkan pulang. Namun, karena biaya yang dibayar masih kurang, bayi mereka pun ditahan rumah sakit.

“Saya kaget dengar biayanya, mahal sekali. Biaya persalinan Rp 3,5 juta dan saya harus bayar Rp 5,8 juta untuk biaya perawatan bayi saya karena memang bayi saya prematur. Jadi, totalnya yang harus dibayar selama tiga hari Rp 9,3 juta,” tutur Ade. Saat itu, Ade melanjutkan, dia baru bisa membayar Rp 3,5 juta. “Oleh karena itu, istri saya diperbolehkan pulang. Nah, yang Rp 5,8 juta belum bisa saya bayar untuk menebus biaya perawatan bayi,” ujar dia. “Saya kira biayanya tidak akan semahal itu.”

Ade mengaku sudah berupaya pinjam ke sana-kemari untuk mendapatkan uang Rp 5,8 juta. “Saya dapat pinjaman uang Rp 1,5 juta. Saya bilang gini ke pihak rumah sakit, ‘Ini saya ada uang Rp 1,5 juta, tetapi saya pengin bawa bayi pulang, nanti sisanya dicicil’, tetapi ditolak rumah sakit.”

Menurut Ade, rumah sakit tersebut bersikukuh bahwa bayi hanya bisa dibawa pulang ketika semua biaya perawatan sudah dibayar. “Katanya, enggak bisa, tetap bayi harus ditahan kalau urusan administrasi belum selesai. Kalau bayi mau dibawa (tetapi biaya belum lunas), saya harus menyimpan jaminan,” ujar dia.

Ade mengatakan, jaminan yang bisa diterima pun hanya sertifikat tanah. “Jangankan sertifikat tanah, keluarga saya saja masih ngontrak. Motor yang biasa dipakai untuk kerja juga masih cicilan. Kalau motornya sudah lunas mah bisa saya jual untuk menebus anak saya. Gaji saya sebulan juga cuma Rp 1 juta, gimana mau cukup?”

Meski demikian, Ade mengaku tak menyerah mencari pinjaman dan mendapatkan tambahan Rp 1 juta. Namun, uang itu tetap tak cukup untuk membawa bayinya pulang. Hampir sepekan bayi berada di rumah sakit, Ade dikagetkan lagi dengan tagihan baru biaya perawatan. “Saya kaget, beberapa hari kemudian, biayanya sudah lebih dari Rp 10 juta,” sebut dia.

“Saya mohon ke rumah sakit agar bayi saya segera dibawa pulang saja karena kalau didiamkan di rumah sakit biayanya terus nambah, tetapi rumah sakit enggak ngasih. Mereka minta biaya dilunasi atau nyimpan jaminan berupa sertifikat tanah.” Ade mengaku bingung bagaimana cara mendapatkan uang untuk menebus bayi itu. Waktu pun berjalan. Hingga Selasa, sudah lewat sebulan bayinya tertahan di rumah sakit yang berlokasi di Jalan Kopo, Bandung, tersebut.

Hingga hari ini, Ade masih berupaya mencari pinjaman uang. Belum ada konfirmasi dari Rumah Sakit Imanuel atas cerita Ade ini. Ade Rahmat (39) mengaku rela mengorbankan organ tubuhnya untuk dijual agar uangnya bisa dipakai untuk menebus bayinya yang kini ditahan di Rumah Sakit Immanuel, Jalan Kopo, Bandung, Jawa Barat. “Saya siap jual organ tubuh saya demi nebus bayi saya,” ucap Ade, Rabu (5/11/2014) siang.

Ketika ditanya organ tubuh apa yang mau dijual, ia menjawab, “Organ tubuh yang mana aja yang laku dijual,” ujarnya. “Ginjal kayaknya mau saya jual,” kata Ade lagi. Ade mengaku terpaksa berbuat senekat itu sebab dia tak punya cara lain lagi untuk mendapatkan uang demi menebus bayinya. “Soalnya sudah mentok masalah biaya. Barang-barang di kontrakan enggak ada yang bisa dijual. Jaminan sertifikat rumah juga enggak ada. Uang enggak ada. Pinjaman juga enggak ada. Ya terpaksa saya mau melakukan ini,” ujar dia.

Seperti yang telah diberitakan, warga Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu kini dirundung masalah. Dia harus menebus bayi lelakinya yang sudah satu bulan ditahan di RS Immanuel. Ade dan istrinya, Reni Lusiana (27), belum mampu menyelesaikan proses administrasi perawatan bayinya, yang kini biayanya sudah membengkak hingga Rp 17 juta.

Biaya yang semula harus dibayar Ade dan istrinya ialah Rp 9,3 juta. Jumlah itu merupakan biaya persalinan dan perawatan ibu dan bayi selama tiga hari di rumah sakit. Berbagai usaha telah dilakukan Ade dan Reni untuk mencari uang tersebut. Ade mengaku sudah mengupayakan pinjaman, tetapi belum beruntung hingga hari ini. Di sisi lain, Ade merasa pihak rumah sakit seolah “mencekiknya” dengan pembengkakan biaya yang kini terjadi. Toleransi dari pihak rumah sakit pun tidak ada.

Ade yang sehari-hari bekerja sebagai satpam di salah satu hotel di Bandung ini mengaku akan terus berikhtiar mencari uang demi anaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s