Pemda Bekasi dan PU Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Lubang Galian Maut Jalan Alternatif Cibubur Yang Banyak Makan Korban


Wiwin Setiawan, korban terperosok lubang galian pembuatan saluran air di Cileungsi, Cibubur, Jakarta Timur dirujuk ke RS Mitra Keluarga Cibubur. Dia dioperasi tulang belakang. “Operasi tulang belakang atau tulang 11 12. Operasinya pemasangan pen untuk tulang,” ujar Huria, istri Wiwin, melalui pesan singkat, Senin (10/11/2014).

Huria menuturkan, suaminya telah sadar setelah dioperasi pada Minggu (9/11/2014) kemarin pukul 10.00-16.00 WIB. Bahkan Wiwin sudah mengerti bila diajak berbicara. “Alhamdulillah setelah operasi, hari ini sudah sadar. Dalam arti jika diajak ngobrol dia ngerti dan tadi melek lihat saya serta mengenali,” tutur Huria yang terkadang menangis atas kejadian yang menimpa suaminya tersebut.

Wiwin terperosok ke lubang galian di Cileungsi, Cibubur, Jakarta Timur pada Sabtu (8/11) sekitar pukul 05.30 WIB. Wiwin yang diduga sedang mengantuk, menabrak seng pembatas proyek galian hingga jatuh ke dalam lubang sedalam 12 meter. Wiwin pun baru dapat dievakuasi pukul 07.30 WIB oleh petugas Damkar menggunakan crane. Dia langsung dilarikan ke RS Thamrin Cileungsi dengan sejumlah luka di tubuh dan kepala. Kemudian Wiwin dipindahkan ke RS Mitra Keluarga Cibubur.

Lubang galian yang sangat dalam di Jalan Arteri Cibubur tidak dilengkapi pengamanan yang layak. Akibatnya, lima orang telah terjerumus ke dalam lubang, satu di antaranya meninggal dunia. “Harus dilihat siapa yang sedang melaksanakan proyek tersebut, siapa kontraktor yang mengerjakannya,” kata anggota Badan Perlindungan Konsumen Indonesia (BPSK) David Tobing, Minggu (9/11/2014).

Korban terakhir yaitu Wiwin yang terperosok pada Sabtu (8/11/2014) dini hari. Korban terperosok ke dalam lubang setelah menabrak seng. Wiwin masuk ke lubang bersama sepeda motornya dan mengalami luka parah karena terperosok ke dalam lubang yang diperkirakan sedalam 12 meter itu.

Selain kontraktor, pemerintah yang mempunyai proyek tersebut juga bisa digugat. “Kalau itu pekerjaan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan anggaran dari PU, maka PU bisa digugat, begitu pula kontraktornya,” ucap advokat publik itu. Pengerjaan proyek ini juga tidak diberi pengamanan yang layak. Tidak ada lampu penerang saat malam dan papan peringatan yang memadai di lokasi. Lampu baru dipasang usai kecelakaan yang menimpa Wiwin.

“Harusnya suatu proyek sudah harus memikirkan keselamatan sekitar dan sudah ada persiapan untuk menjamin keselamatan itu, termasuk lampu penerangan, rambu-rambu maupun himbauan-himbauan tertulis,” papar David. “Perlengkapannya juga harus kuat, tidak hanya sekedar untuk menutupi proyek. Apalagi yang berhubungan dengan lubang di jalan umum,” sambung David.

Korban Wiwin kini dirawat di ruang ICU RS Mitra Cibubur. Belum diketahui kondisi terakhir Wiwin tetapi diduga kuat mengalami luka yang kritis. “Kalau memang proyek tersebut program Pemda Bekasi, maka pemda bisa dimintai pertanggungjawabannya,” pungkas David.

Proyek galian sedalam 12 meter di jalan Alternatif Cibubur Km 4, Jatisampurna, Kota Bekasi memakan korban. Lubang tersebut merupakan proyek milik kementerian pekerjaan umum. “Setahu saya itu pekerjaan dari kementerian pusat,” ujar Walikota Bekasi Rahmat Efendi saat dikonfirmasi, Senin (10/11/2014).

Menurut Rahmat, lubang tersebut diketahui untuk digunakan sebagai saluran pembuangan air ke Cikeas. Efendi juga mengatakan, berdasarkan keterangan Dinas PU kota Bekasi, proyek itu tidak dilakukan pihaknya. Hal itu dikarenakan lokasi lubang berada di jalan alternatif Cibubur yang diketahui berbatasan dengan wilayah Jakarta Timur, Kota Bekasi, Depok dan Bogor.

“Makanya itu lokasi lubangnya di wilayah mana. Kalau tadi saya tanya dengan Kadis PU saya lubang itu diperuntukan saluran pembuangan air, dalam pengerjaan proyek itu ditangani Kementerian PU,” tuturnya. Efendi mengatakan meski proyek itu kewenangan kementerian pusat. Pihaknya akan berkordinasi dengan dinas PU untuk antisipasi peristiwa itu tidak terulang kembali. “Saya sendiri belum dapat laporan secara tertulis akan tetapi saya akan kordinasikan dengan Dinas PU untuk mengecek kebenaraanya,” ungkapnya. Proyek galian sedalam 12 meter di jalan Alternatif Cibubur Km 4, Jatisampurna, Kota Bekasi telah memakan banyak korban. Ironisnya, ketika proyek itu sudah mulai memakan korban tak satu pejabat birokrasi di pemerintah yang bertanggung jawab.

Lubang itu berada di sepanjang badan jalan Alternatif Cibubur. Seharusnya jalan itu dapat dilalui dua lajur kendaraaan, namun akibat proyek tersebut jalan itu hanya dapat dilewati satu lajur. Tak dilengkapi pengamanan yang layak dan hanya ditutupi seng ala kadarnya tentu akan mengakibatkan kondisi jalan itu rawan kecelakaan.

Kecelakaan yang dialami Wiwin Setiawan (31) pada Sabtu (1/11) lalu bukan yang pertama. Sebelumnya sudah terjadi 5 kali kecelakaan di lokasi yang sama. Di mata hukum, sebagai korban Wiwin sebenarnya dapat mengajukan gugatan ke pengadilan.

“Harus dilihat siapa yang sedang melaksanakan proyek tersebut, siapa kontraktor yang mengerjakannya,” kata anggota Badan Perlindungan Konsumen Indonesia (BPSK) David Tobing, Minggu (9/11/2014). Selain kontraktor, pemerintah yang mempunyai proyek tersebut juga bisa digugat. “Kalau itu pekerjaan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan anggaran dari PU, maka PU bisa digugat, begitu pula kontraktornya,” ucap advokat publik itu.

Pengerjaan proyek ini juga tidak diberi pengamanan yang layak. Tidak ada lampu penerang saat malam dan papan peringatan yang memadai di lokasi. Lampu baru dipasang usai kecelakaan yang menimpa Wiwin. “Harusnya suatu proyek sudah harus memikirkan keselamatan sekitar dan sudah ada persiapan untuk menjamin keselamatan itu, termasuk lampu penerangan, rambu-rambu maupun imbauan-imbauan tertulis,” papar David

Dinas PU DKI Jakarta yang berusaha dikonfirmasi membantah jika lubang proyek pengerjaan saluran tersebut menjadi tanggung jawab wilayahnya. “Setelah ditinjau oleh staf Sudin Jakarta Timur ternyata lubang galian itu merupakan pekerjaan saluran milik Pemda Bekasi,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Minggu (9/11). “Ya kalau itu benar pekerjaan milik Pemda Bekasi ya harus bertanggung jawab,” tambahnya. Namun saat konfirmasi yang sama ditanyakan kepada Walikota Bekasi, Rahmat Efendi, ia pun menyangkal jika proyek itu tanggung jawab dari wilayahnya. “Setahu saya itu pekerjaan dari kementerian pusat,” ujar Walikota Bekasi Rahmat Efendi saat dikonfirmasi, Senin (10/11).

Efendi mengatakan keterangan dari Kepala Dinas PU Kota Bekasi jika dirinya tidak memiliki kewenangan atas proyek tersebut. Lantaran lokasi lubang berada di jalan alternatif Cibubur yang diketahui berbatasan dengan wilayah Jakarta Timur, Kota Bekasi, Depok dan Bogor.

“Makanya itu lokasi lubangnya di wilayah mana. Kalau tadi saya tanya dengan Kadis PU saya lubang itu diperuntukan saluran pembuangan air, dalam pengerjaan proyek itu ditangani Kementerian PU,” tutup Rahmat Efendy. Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari Kementerian PU. Lalu siapakah yang harus bertanggung jawab atas proyek ‘lubang maut’ yang telah memakan banyak korban itu? Sementara Wiwin yang menjadi korban terakhir, saat ini masih terbaring lemah di ruang ICU RS Mitra Keluarga Cibubur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s