Indahnya Panorama Pantai Banten Tapi Minim Infrastruktur


BANTEN bagian selatan menyimpan potensi pariwisata yang amat besar. Pantai-pantai yang memesona berserak di jalur sepanjang lebih kurang 350 kilometer. Namun, buruknya infrastruktur membuat rasa takjub harus ditebus dengan perjalanan melelahkan, lama, dan penuh perjuangan. Di Kabupaten Lebak, pantai-pantai seperti Sawarna, Bagedur, Cihara, dan Binuangeun tengah naik daun. Adapun di Kabupaten Pandeglang, tujuan wisata seperti Pulau Umang, Kampung Paniis, Ciputih, dan Cinibung sudah kondang di dunia turisme.

Tak hanya di tujuan wisata, decak kagum acap kali terlontar saat menyusuri Banten selatan. Pemandangan memukau berupa garis pantai terhampar di sepanjang jalur itu, nyaris tanpa henti. Ombak khas pantai selatan yang bergulung-gulung dengan gradasi warna laut menambah elok panorama. ”Amboi, pemandangannya. Sangat cantik,” ujar Dina (34), wisatawan dari Jakarta yang melewati jalur Banten selatan seusai berkunjung ke Pantai Sawarna, akhir Oktober lalu.

Banten selatan juga tak melulu menyajikan pantai. Goa, pasar ikan, dan gugusan karang besar menjadi daya tarik wisatawan. Goa-goa seperti Lalay, Langir, dan Seribu Candi yang tersebar di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Lebak, membuat wisatawan terpikat. Di Sawarna pula, Karang Taraje yang menyerupai benteng penahan gelombang menarik wisatawan menuju tempat itu saat matahari terbenam.

Adapun pasar ikan di Kecamatan Sumur, Padenglang, serta sentra ikan asin dan Tempat Pelelangan Ikan Binuangeun di Desa Muara, Kecamatan Wanasalam, Lebak, marak didatangi wisatawan saat akhir pekan. Akan tetapi, kekaguman itu harus dibayar dengan perjalanan yang lama dan jauh. Jarak sekitar 240 kilometer (km) dari Jakarta ke Sawarna harus ditempuh hingga 10 jam. Tubuh sering terguncang akibat jalan rusak di sejumlah tempat dan kemacetan pun menghadang.

Di Jalan Raya Bayah-Cikotok dari Kecamatan Bayah hingga Malingping, para sopir harus berhati-hati melintasi jalan yang bergelombang. Lubang cukup dalam juga terlihat di sejumlah titik. Debu mengepul di jalan yang kering. Truk-truk melaju sangat pelan karena pengemudi khawatir kendaraannya terguling.

Sejumlah wisatawan menikmati keindahan pemandangan di Pulau Peucang, Kabupaten Pandeglang, Banten, awal Mei. Pantai di Pulau Peucang yang berpasir putih menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin berenang di air laut yang jernih. Pulau itu juga menjadi habitat berbagai satwa, seperti rusa, biawak, merak, monyet, dan babi hutan. Peucang termasuk dalam Taman Nasional Ujung Kulon.

Ilalang tumbuh di sejumlah pantai yang sangat potensial untuk dijadikan tujuan wisata. Pantai-pantai itu dibiarkan begitu saja. Padahal, pemandangan pesisir Bayah sangat indah. Pantai dengan pasir putih bersih dan gundukan karang terhampar di sana. ”Sayang sekali, peluang pariwisata yang amat besar tak dimanfaatkan. Pantai-pantai sangat cantik, tapi tak diapa-apakan. Jalannya juga setengah mati. Rusak. Bikin capek,” tutur Dina.

Selama perjalanan dari Rangkasbitung menuju Binuangeun melalui Gunung Kencana dan Malingping, pengendara juga harus berhenti lebih kurang lima kali karena jalan sedang diperbaiki. Jalur dengan panjang sekitar 100 km itu harus ditempuh hingga empat jam. Para pengendara harus bergantian untuk melewati jalan tersebut. Perbaikan jalan hanya menyisakan satu jalur yang bisa dilalui. Sementara sejumlah warga yang mengatur arus mobil menyodorkan wadah untuk meminta sumbangan kepada para pengendara yang tengah menunggu giliran melintas.

Di sejumlah ruas jalan, lubang-lubang menganga mengganggu kenyamanan perjalanan. Kendaraan harus direm dan melintas perlahan. Kondisi serupa dialami para pengendara yang menuju Banten selatan melewati rute Pandeglang, Saketi, hingga Malingping. Pengelola usaha di tempat-tempat wisata di Banten selatan harus menanggung semua keluhan konsumen. Sudah berkali-kali permintaan agar jalan rusak segera diperbaiki, tetapi kondisinya tak banyak berubah. Kunjungan diyakini melonjak jika infrastruktur baik.

Mulyadi Sopian (27), pemandu wisata di Kampung Paniis, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Pandeglang, mengatakan, ia rata-rata menemani lima rombongan wisatawan per bulan. Jumlah wisatawan tiap rombongan lebih kurang 25 orang. Biasanya lama kunjungan mereka dua hari. Honor Mulyadi sebesar Rp 100.000 per hari. Namun, dia kerap menerima keluhan dari wisatawan mengenai buruknya infrastruktur. Jika infrastruktur mulus, kunjungan itu diyakini meningkat menjadi delapan rombongan per bulan.

Pantai Cinibung, di Desa Kertajaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.
Selepas Kecamatan Labuan (Pandeglang) menuju Kecamatan Sumur, sebagian jalan rusak. Kondisi jalan semakin parah menjelang Kampung Paniis. Jalan berbatu dengan lebar sekitar 4 meter. Saat berpapasan dengan sepeda motor saja, pengemudi mobil harus bersusah payah mengendalikan kendaraannya agar tak bersenggolan.

Potensi wisata
Asep (25), pegawai Ciputih Beach Resort, Desa Kertamukti, Kecamatan Sumur, mengungkapkan, jalan menuju penginapannya hanya berupa jalur berbatu-batu. Kendaraan harus melaju pelan-pelan atau dengan kecepatan sekitar 20 km per jam saja. Padahal, banyak wisatawan yang mengagumi keindahan Pantai Ciputih.

Di Kecamatan Sumur terdapat desa-desa dengan potensi wisata, seperti Sumberjaya, Tamanjaya, dan Kertamukti. Sumberjaya adalah lokasi perahu bertolak ke Pulau Peucang. Sementara di Tamanjaya, para wisatawan biasa berkeliling dengan kapal untuk menikmati laut yang masih bersih dan menanam terumbu karang.

Dalam pertemuan media yang diselenggarakan pengelola Tol Tangerang-Merak, PT Marga Mandalasakti (MMS), di Tangerang, Banten, pertengahan Juni lalu, terungkap, infrastruktur yang buruk menyebabkan banyaknya obyek daya tarik wisata (ODTW) di Banten tak bisa dikembangkan. Banten memiliki 204 ODTW. ”Hanya 100 ODTW yang berpotensi untuk dikembangkan. Sebagian besar ODTW yang tak berpotensi berada di Banten selatan,” kata Presiden Direktur PT MMS Wiwiek D Santoso.

Diskusi bertema ”Memotret Dinamika Masyarakat dan Pemerintahan di Provinsi Banten” hasil kerja sama harian Kompas dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten di Serang, akhir September lalu, membahas ketimpangan infrastruktur Banten utara dan selatan.

Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno mengakui, pembangunan di Banten utara lebih pesat. Semua kawasan industri di Banten utara memicu pengadaan infrastruktur terpusat di wilayah itu. Di Banten terdapat delapan program strategis nasional yang umumnya dilaksanakan di utara.

Berdasarkan data Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Banten, paling tidak 163 km jalan di Banten selatan rusak. Di wilayah itu terdapat 347 km jalan provinsi, dengan 145 km di antaranya rusak. Adapun panjang jalan nasional di Banten selatan 128 km, dengan 18 km di antaranya rusak.

Masjid di Kampung Lor di Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten, Sabtu (20/10/2011). Kampung ini sempat selamat dari sapuan tsunami letusan Gunung Krakatau 1883. ”Semua jalan provinsi (ditargetkan) sudah dalam kondisi baik pada 2016. Alokasi dana konstruksi perbaikan jalan Rp 1,1 triliun,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Tata Ruang Banten M Husni.

Menurut Husni, Pemprov Banten ingin memperbaiki semua infrastruktur, termasuk di Banten selatan, untuk menunjang sektor pariwisata. Namun, perbaikan dilakukan secara bertahap, seperti di jalur Saketi (Pandeglang) hingga Malingping (Lebak) dengan panjang jalan rusak mencapai 50 km.

”Total panjang jalan penghubung dari Banten tengah ke selatan itu 61 km. Perbaikan direncanakan selesai sebelum akhir tahun 2014 dengan anggaran Rp 322 miliar,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s