Kisah Edi Palembang Sang Raja Tega Yang Tewas Tertembak Peluru Bertuah


Ada awal, ada akhir. Begitulah proses alami kehidupan. Termasuk hidup manusia. Setelah beberapa tahun malang melintang di dunia kriminal Jawa dan Sumatera, Edi Palembang (38) takluk. Ia tewas setelah digerebek polisi. Nama aslinya Arkadinata. Edi Palembang, Riki, atau Dina, hanya nama alias. Embel-embel Palembang bukan berarti ia berasal dari Palembang (Sumatera Selatan). Tak diketahui bagaimana ia beroleh kata ‘Palembang’ tersebut. Padahal ia lahir dan besar di Solok, Sumatera Barat.

Setelah lepas dari sergapan di berbagai tempat, pada Senin (1/12) kemarin, Edi Palembang takluk oleh 25 personel Polda Riau dan Polda Metro Jaya. Ia tewas dengan 4 luka tembak saat digerebek di Kembangan Jakarta Barat sekitar pukul 04.00 WIB. Ini cerita-cerita tersisa dari perampok berjuluk si raja tega tersebut.

1. Peluru Bertuah
Edi beraksi sadis di Pekanbaru bulan lalu. Saat disergap, ia lolos setelah menembak anggota Polsek Senapelan Aipda Anumerta Harianto Bahari. Perampok yang malang melintang di Jawa dan Sumatera itu tewas dengan peluru milik Aipda Harianto. Bagaimana bisa? “Peluru itu sengaja dititipkan oleh kapolseknya sehingga bertuah dan berhasil menewaskan tersangka,” ujar Kasubdit Jatanras Polda Riau, AKBP Hendri Posma Lubis.

2. Dimakamkan di Kampung Halaman
Setelah menggerebek, polisi langsung memberitahu keluarga Edi. Keluarga pun segera datang ke RS Polri Jakarta Timur, tempat jenazah disemayamkan. Rencananya, hari ini jenazah diterbangkan ke Solok dengan menggunakan pesawat kargo. “Dimakamkan di kampung halamannya,” ujar Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Hariwiyawan.

3. Ilmu Hitam?
Sering terdengar bahwa pelaku kriminal yang sulit ditangkap, kemungkinan memiliki ilmu hitam. Edi pun ‘dituding’ seperti itu. Apalagi ketika ia berhasil lolos dari tahanan polisi beberapa waktu lalu. Benarkah ia memiliki ilmu hitam? Informasi dari kepolisian, Edi lolos dari tahanan dengan mengiming-imingi petugas emas hasil kejahatan. Sang petugas pun diproses. Sedangkan Edi melenggang, lalu beraksi lagi di berbagai tempat. Jadi, ilmu hitam atau licik?

4. Kolaborasi
Dalam aksinya, Edi berkolaborasi dengan adiknya dan beberapa orang lainnya. Saat ini, adik Edi jadi DPO. Pria yang tak disebutkan namanya itu beraksi bersama si kakak di Sumbar dan Jambi. Setelah itu mereka beraksi di Pekanbaru dan menghilang. “Tentu kita akan menghormati dia jika menyerahkan diri, cukup Edi saja (yang ditembak mati),” ancam Kasubdit Jatanras Polda Riau, AKBP Hendri Posma Lubis.

Edi Palembang (38) malang melintang di dunia kriminal selama beberapa tahun terakhir. Daerah operasinya di Jawa dan Sumatera. Perampok sadis ini tinggal nama setelah ditembak mati polisi di Jakarta. Ini secuil kisahnya.

Berdasarkan data di kepolisian, Edi bernama asli Arkadinata. Ia lahir di Solok, Sumatera Barat (Sumbar), bukan Palembang Sumsel seperti julukannya. Terakhir kali ia dibui di Jambi dalam kasus perampokan, tapi kabur sebelum menjalani masa hukumannya.

“Kalau dia tertangkap, selalu bilang jika nanti kalau sudah keluar dari tahanan akan merampok lagi,” kata Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Kompol Hariwiyawan Harun, Senin (1/12/2014). Edi jadi DPO tiga Polda, yakni Jambi, Sumbar, dan Riau. Ia merampok pabrik dan toko emas. Untuk menghindari kejaran polisi, ia hidup nomaden. Mulai dari Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung hingga Jakarta.

Setiap kali digerebek, Edi cs selalu melawan. Bulan lalu, saat digerebek di Pekanbaru, ia menembak anggota Polsek Senapelan Pekanbaru Aipda Harianto Bahari, lalu kabur. Nah, setelah penembakan tersebut, ia terus diburu. Jejaknya terendus di Kembangan, Jakarta Barat. Penggerebekan dilakukan Polda Riau dan Jatanras Polda Metro Jaya. Setelah selalu ‘berulah’, Edi tak berkutik di Jakarta. Dia ditembak dan 2 temannya ditangkap.

“Berdasarkan pengalaman, tersangka selalu menyerang terlebih dahulu, maka dengan sangat terpaksa, tim (polisi) menembak. Akhirnya tersangka tewas,” kata Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo. Ibarat pepatah ‘sepandai-pandainya tupai melompat, ia akan jatuh juga’. Kisah Edi pun begitu. Sepandai-pandainya bersembunyi dan kabur, ia pasti akan tertangkap juga.

Berakhir sudah aksi kriminal Edi Palembang (35). Langkahnya terhenti setelah digerebek polisi. Perampok yang dikenal raja tega ini selalu membawa senpi dan melawan aparat selama beberapa tahun terakhir. Dari mana ia mendapatkan peluru? Disebut-sebut, Edi mendapat pasokan amunisi dari aparat di Jambi. Isunya, dia juga dekat oknum aparat sehingga lolos saat digerebek. Benarkah?

“Apapun informasinya terkait Edi Palembang, tetap jadi masukan bagi kita. Kita memang mendapatkan informasi itu (soal pasokan peluru dari oknum polisi). Nanti kita koordinasi hal itu dengan Polda Jambi,” kata Direskrim Umum Polda Riau, Kombes Arif Rachman Hakim, Senin (1/12/2014).

Dari tangan Edi, polisi mengamankan 4 pucuk senpi. Terdiri dari pistol FN, senjata laras panjang, dan satu pistol rakitan dengan dengan 36 butir peluru. “Dugaan soal dipasok dari oknum itu tetap kita selidiki. Kita akan bekerjasama dengan Polda Jambi. Kita belum mendapatkan informasinya secara lengkap. Apalagi ini kan tidak wilayah kita, jadi memang harus ada koordinasi lebih lanjut,” kata Kombes Arif.

Soal komunikasi Edi dengan oknum polisi, Kombes Arif juga mengatakan hal serupa. “Pokoknya semua dugaan itu tetap akan kita koordinasikan. Karena ini kan melibatkan tiga provinsi, Sumbar, Jambi dan Riau,” kata Kombes Arif. Edi Palembang (35) licin bak belut. Tiap kali digerebek, ia berhasil lolos. Perampok berjuluk raja tega ini akhirnya takluk dalam kepungan 25 personel polisi.

Bulan lalu, Polda Riau menggerebek Edi cs di kawasan Senapelan, Pekanbaru. Bukannya tertangkap, Edi malah menembak anggota Polsek Senapelan Aipda Harianto Bahari. Aipda Harianto gugur. Polisi pun memburu perampok yang bernama asli Arkadinata itu. Pekan lalu, mereka menyergap Edi bersama 4 rekannya di Sarolangun, Jambi. Saat itu, Edi berada di rumah makan di jalan lintas timur.

“Mereka berlima melawan dan terjadi kontak senjata. Dia berhasil kabur,” kata Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Hariwiyawan. Perburuan berlanjut. Polda Riau terus memburu. Edi diketahui berada di sebuah kawasan kumuh di Jakarta. Polda Riau berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya. Sebanyak 25 personel gabungan dua polda ini datang ke persembunyian Edi cs di Kembangan, Jakarta Barat.

“Edi ini nekat main tembak-tembakan dengan kita. Makanya seluruh tim yang menggunakan rompi anti peluru. Kita tak mau ambil risiko,” tutur Kompol Hari yang ikut dalam penggerebekan tersebut. Dua teman Edi berhasil dibekuk. Namun Edi ternyata Edi melawan dengan menggunakan pistol. Dar-der-dor, Edi roboh terkena timah panas setelah dikepung 25 polisi. ‘Karier’ di dunia kriminal pria asal Sumatera Barat itu pun tamat.

Saat jejak Edi Palembang terendus, polisi segera mengatur taktik. Sebanyak 25 personel Polda Riau dan Polda Metro Jaya turun tangan. Begini suasana mencekam penggerebekan persembunyian Edi cs di Kembangan, Jakarta Barat tersebut. Awalnya, polisi tak mengetahui rumah persembunyian Edi. Sebab di kawasan kumuh tersebut, ada banyak rumah. Polisi sempat bertanya ke warga sekitar.

“Warga hanya menyebut rumah pojok di kawasan tersebut sering ditempati orang asing,” kata Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru Kompol Hariwiyawan yang turut serta dalam penggrebekan itu. Tim pun mengepung 3 rumah bagian pojok di kawasan tersebut. Mereka menggeledah 3 rumah tersebut. Edi ternyata berada di rumah paling tengah bersama dua rekannya.

“Satu pemilik rumah, satu lagi teman yang mengantarkan Edi dari Lampung ke kawasan itu. Dua orang itu langsung menyerah saat polisi menggerebek,” kata Kompol Hari, panggilan Hariwiyawan. Dalam keadaan terkepung, Edi tak menyerah. Ia berusaha berusaha kabur ke kamar mandi dan mengambil pistolnya. Terjadi baku tembak antara Edi dan polisi.

“Dia melakukan perlawanan dengan senjata. Akhirnya Edi bisa kita tembak. Ada sekitar 4 peluru bersarang di tubuhnya,” kata Kompol Hari. Penggerebekan dilakukan menjelang Subuh, tepatnya pada pukul 04.00 WIB. Sebelumnya, polisi membuntuti Edi dari Sumatera. Saat situasi memungkinkan, mereka menggerebek. Aksi kriminal perampok yang dikenal raja tega itu pun berakhir sampai di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s