Kini Berobat Di Puskesmas Hanya Berbiaya 2000 Rupiah


Sedang sakit tapi kantong kering? Jangan khawatir, Anda cukup mengeluarkan Rp 2.000 saja untuk berobat. Di mana? Di puskesmas terdekat. Hanya dengan Rp 2.000 pasien bisa berkonsultasi dengan dokter dan mendapat obat. Murah meriah.

“Hanya pasien yang tidak ada BPJS atau yang dari daerah yang membayar Rp 2.000 setiap kali datang,” ucap Icah Sumiarti, Fungsional Umum TU Puskesmas Mampang, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Senin (8/12/2014).

Bagi mereka yang mengikuti program BPJS tentu bisa berobat gratis. Prosedur mendapatkan layanan kesehatan di puskesmas juga mudah. Cukup menunjukkan fotokopi Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau Kartu Jakarta Sehat atau ASKES atau JKN, juga kartu kunjungan puskesmas, dan mengambil nomor antrean.

Siti Nurjanah (37), adalah salah satu warga yang mengaku sejak lama datang ke puskesmas jika sedang sakit. “Harganya murah dan pelayanannya juga bagus, pelayanannya tidak ada bedanya antara pasien yang pakai BPJS dan KJS, dokternya tidak jutek. Malah saya yang disuruh cepat-cepat memasukan anak saya ke ruang rawat inap saat anak saya terkena tifus tahun lalu,” ucap Siti yang sedang mengantre di poli umum Puskesmas Mampang.

Siti mengaku sudah berobat ke puskesmas yang dulunya hanya bertingkat dua, hingga kini sudah bertingkat lima. Selain memiliki gedung yang lumayan bagus, Puskesmas Kecamatan Mampang sudah tersertifikasi ISO. Bahkan puskesmas ini rencananya akan menjadi RS tipe D. Untuk itu, petugasnya wajib bersikap ramah dan selalu tersenyum.

Sesuai Perda No 2 Tahun 2005 pegawai negeri juga tidak boleh merokok di lingkungan tempat kerjanya. 100 Petugas Puskesmas Mampang juga telah melakukan komitmen dengan Menteri Kesehatan untuk tidak merokok. “Kesepakatan itu bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang diperingati pada 12 November 2014 lalu, dengan begitu PNS akan takut tunjangan kinerja daerah (TKD) akan dipotong,” terang Icah.

Puskesmas yang berada di belakang Polsek Metro Mampang ini sempat memiliki program bantuan untuk menaikan gizi penderita TB pada tahun 2010-2011. Menurut Endro Prabowo, perawat pasien TB, program tersebut merupakan bantuan kepada pasien TB dari WHO melalui Departemen Kesehatan kepada puskesemas. Setiap bulannya pasien dan perawat pasien TB mendapat beras sejumlah 10 kilogram setiap datang konsultasi

“Kalau dulu memang pasien yang dilihat dari kalangan kurang mampu akan diberi uang supaya gizinya terpenuhi, tapi sekarang pasien TB yang mendapatkan bantuan itu tidak lagi mendapat bantuan tersebut dan hanya mendapat susu bubuk full cream sebesar 400 gram 2 kali per satu bulan saja karena memang kami anggarkan,” papar Icah menjelaskan perihal bantuan untuk pasien TB.

Beberapa tahun lalu, Puskesmas Mampang membuka poli akupunktur. Namun sejak dokter yang menggawangi kegiatan meninggal, layanan ini tidak lagi diberikan. Namun demikian saat ini sudah ada niatan untuk memberi layanan akupunktur dan akupresur, sayangnya masih terkendala ruang praktik.

Sebab menurut Icah, meskipun Puskesmas Kecamatan Mampang ini bertingkat 5, tapi luas lahannya hanya 600 meter. Sehingga jika ingin membuka poli akupunktur maupun poli akupresur yang merupakan pengobatan tradisional-komplementer cukup kesulitan.

“Dulu ada poli akupuntur, tetapi sejak dokternya meninggal tidak ada yang melanjutkan meskipun saat itu petugasnya telah ada yang dilatih akupunktur. Saat ini telah dibuka poli baru seperti poli penyakit dalam, dan poli VCT untuk penyandang HIV berkonsultasi, jadi ruangnya tidak cukup,” imbuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s