Pelaku Perampokan Menggunakan Taksi Express Curian dan Tersangkanya Mengaku Supir Blue Bird


Kepolisian telah menangkap tiga orang perampok yang beberapa waktu belakangan beraksi menggunakan taksi putih. Tiga orang itu bekerjasama untuk menggasak harta benda korban yang terjebak menaiki taksi mereka. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto mengatakan, mulanya salah satu pelaku, yaitu Sutrisno, 41 tahun mengendarai taksi untuk mencari penumpang. “Di dalam bagasi, ada tersangka lain yang bisa masuk ke ruang penumpang,” kata dia di Mapolda Metro Jaya Senin 8 Desember 2014.

Tersangka yang ngumpet di bagasi adalah Edward Syah Jaya, 31 tahun. Satu tersangka lainnya, yaitu Jambi ( masih buron) dan Agus Supriyanto, 22 tahun bertugas menguras harta benda korban. Setelah penumpang masuk, Sutrisno terlebih dulu membawa penumpangnya berputar-putar. “Tersangka di bagasi akan keluar ke kursi penumpang setelah diberi kode,” kata Heru. Kode yang dimaksud adalah dengan mengerem dua kali. Tersangka kemudian akan mengancam korbannya menyerahkan harta bendanya. “Pelaku menggunakan juga pistol mainan jenis revolver untuk menakuti korban,” kata Heru. Di tengah jalan, sopir akan menjemput satu tersangka lainnya untuk ikut menggasak harta benda korban. “Rata-rata yang diincar adalah uang di ATM.”

Setelah harta benda korban diambil, kata Heru, para pelaku akan menurunkan korbannya di suatu tempat. “Mereka pun selalu memberi uang Rp 100 ribu kepada korban,” ujarnya. Setelah itu, para pelaku melarikan diri. Komplotan Sutrisno ini sudah melakukan 4 kali perampokan. Semuanya dilakukan di sekitar kawasan SCBD dan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Selain itu, polisi pun masih belum menemukan barang bukti utama berupa taksi curian yang dimodifikasi kemudian digunakan untuk merampok. “Kami sudah minta keterangan dari tersangka. Akan segera kami temukan,” kata Heru.

Penyidik Kepolisian Sektor Setiabudi dibantu Kepolisian Daerah Metro Jaya berhasil meringkus pelaku perampokan di dalam taksi yang terjadi di kawasan Kuningan dan SCBD, Jakarta Selatan, pada akhir November 2014. Kepala Kepolisian Sektor Setiabudi Ajun Komisaris Besar Audie Latuheru mengatakan tersangka diburu dengan modal keterangan korban. Semula, penyidik akan menggunakan sketsa wajah pelaku untuk melakukan pencarian. “Sketsa wajah dipertimbangkan,” ujarnya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan pemburuan tersangka lebih menggunakan keterangan korban yang mengatakan bahwa pelaku masih berusia muda. “Masih berdasarkan keterangan saksi korban,” katanya, Jumat, 5 Desember 2014. Selain itu, menurut data Polda Metro Jaya, modus perampokan di taksi ini mirip dengan modus 16 kasus sama yang terjadi pada 2013. “Kasusnya mirip sekali, jadi kami dalami lagi file-nya, apakah pelaku yang sudah ditahan sudah bebas dan merekrut orang baru,” ujar Rikwanto.

Rikwanto menjelaskan, dari hasil penyelidikan sementara, taksi putih yang digunakan para pelaku untuk merampok bukan bagian dari armada perusahaan Express Group. “Penyidik sudah melakukan pengecekan langsung di pulnya, sopirnya ada dan taksinya juga ada. Jadi, bukan dari perusahan taksi Express,” ujarnya. Menurut dia, pada taksi Express yang asli terdapat pelat baja di bagian bagasi, sehingga orang yang berada di dalamnya tak dapat menembus jok belakang. “Korban yang mengalami kejadian di Kuningan sudah kami pertemukan dengan sopir dan taksinya. Dia bilang pelakunya muda, sedangkan ini sopirnya sudah tua,” ujarnya.

Adapun korban yang mengalami kejadian di SCBD belum dapat dipertemukan dengan sopir karena masih mengalami trauma. “Tapi dua sopir taksi sudah kami periksa, dan saat kejadian mereka tidak sedang berada di lokasi itu,” katanya. Polisi menemukan fakta baru terkait perampokan yang melibatkan armada taksi. Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jakarta, Komisaris Besar Heru Pranoto, mengatakan taksi yang digunakan para pelaku perampokan ternyata hasil curian.

Fakta ini diketahui berdasarkan pengakuan salah satu pelaku, Sutrisno (41). Sutrisno mencuri taksi tersebut pada 21 November 2014 di Karet Kuningan, Jakarta Selatan. Awalnya, Sutrisno hendak menjual taksi berlogo Express itu. “Namun ternyata sulit dijual,” kata dia di kantornya, Senin 8 Desember 2014. Taksi curian tersebut bernomor polisi B 1722 KTB dengan nomor lambung BD 6075. Pencurian tersebut, kata Heru, sempat dilaporkan oleh sopir taksi bernama Supriyadi ke Kepolisian Sektor Setiabudi pada 24 November. Taksi curian tersebut kemudian dimodifikasi oleh pelaku agar bisa digunakan untuk mencuri. “Nomor lambungnya diubah jadi DP 8015 dan bagasinya dilubangi agar bisa masuk ke kursi penumpang,” kata Heru.

Setelah merombak taksi itu, Sutrisno bersama dua tersangka lain yaitu ED (31) dan J (buronan) melakukan perampokan pertama pada 26 November. “Sehari sebelumnya mereka keliling untuk observasi,” kata Heru. Kawasan SCBD Jakarta Selatan kemudian dipilih sebagai lokasi perampokan. Komplotan ST telah melakukan perampokan sebanyak 4 kali. Semua aksinya rata-rata dilakukan di kawasan SCBD dan Mega Kuningan. Menurut Heru, kawasan ini dipilih karena jarang dilewati kendaraan umum selain taksi dan ojek. “Di sini juga kawasan perkantoran,” kata dia. Komplotan ini hanya mengincar penumpang perempuan yang terkesan lemah untuk diincar.

Polisi menangkap 3 pelaku perampokan di dalam Taksi Express hasil curian yang diotaki oleh Sutrisno alias Trisno (41), sopir Taksi Blue Bird. Selain Sutrisno, ternyata tersangka Agus juga merupakan sopir Taksi Blue Bird. “Tersangka AS dan ST adalah sopir yang menurut pengakuannya sopir Blue Bird,” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Heru Pranoto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (8/12/2014). Namun, sejauh ini, polisi baru bisa menemukan bukti-bukti soal identitas sopir Taksi Blue Bird ini dari tersangka Sutrisno saja. Seperti seragam Blue Bird milik Sutrisno dan Kartu Tanda Pengemudi atas nama Sutrisno, disita dari tersangka saat penangkapan.

Tersangka Sutrisno diketahui ditangkap di Sektor 2 Bintaro, Tangerang Selatan, pada Minggu (7/11) pagi lalu, saat sedang menarik penumpang. “ST ini masih punya hubungan keluarga dengan AS,” kata dia. Sementara itu, Heru menambahkan, tersangka Sutrisno saat melakukan aksinya tidak menggunakan seragam dari perusahaan taksi. “Dia pakai baju biasa saja,” imbuhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s